Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 40


__ADS_3

Dua malam tanpa keberadaan Regina di rumah itu, Kevin masih bisa merasakan yang biasa saja. Tapi tidak dengan malam yang ketiga. Malam itu, Kevin merasakan keinginan yang kuat untuk mengelus perut istrinya. Tetapi malam itu, malan yang seakan tidak bersahabat bagi Kevin. Niatnya ingin melihat perut buncit istrinya tapi keinginan itu tidak bisa terlaksana. Regina tidak ada di rumah itu. Dan Kevin merasa bingung pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, muncul keinginan kuat di hatinya untuk mengelus perut istrinya.


Malam itu, Kevin berniat untuk menyusul istrinya. Dia sangat yakin jika Regina pasti di rumah mertuanya. Tapi lagi lagi, alam tidak bersahabat bagi dirinya. Baru saja, Kevin mengambil kunci mobil dari kamarnya. Suara hujan tiba tiba terdengar bercampur kilat dan petir bersahutan.


Kevin terduduk di ruang tamu. Dia berencana akan keluar dari rumah setelah hujan reda. Tapi sampai dua jam menunggu, hujan itu tidak kunjung reda.


Entah mengapa, Kevin sangat ingin mengelus perut Regina malam ini. Dia berencana akan menerobos hujan. Kevin mengambil tas ransel dan memasukkan pakaian kerjanya ke tas tersebut. Melihat arah jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh, Kevin berencana akan menginap di rumah orangtua Regina dan akan berangkat kerja besok pagi dari sana.


Tapi lagi lagi apa yang diinginkan Kevin tidak bisa terlaksana. Di luar, bukan hanya hujan yang deras tapi juga banjir. Untung saja, rumah Kevin jauh lebih tinggi dari jalan sehingga rumahnya tidak terkena banjir. Akan beresiko jika memaksa pergi ke Sana dalam keadaan banjir seperti ini.


"Sial," umpat Kevin. Dia kembali masuk ke rumah dan melemparkan ransel miliknya begitu saja di ruang tamu. Kevin kesal karena cuaca menghambat keinginannya bertemu dengan Regina dan mengelus perut buncit istrinya itu.


Pikiran Kevin dibayangi bayangi dengan kepintaran dan kelucuaan Bella tadi siang. Mengingat putri dari rekannya itu, muncul keinginan Kevin untuk melihat wajah calon anaknya. Ternyata benar, Kevin akhirnya merasakan hatinya menggebu gebu untuk melihat wajah calon anaknya. Kevin bisa merasakan jika dirinya sudah seperti laki laki pada umumnya yang mengebu gebu menunggu kelahiran sang buah hati.


"Putriku pasti lebih cantik dari Bella. Aku kan lebih tampan dari Rudi."


Kevin tersenyum membayangkan wajah putrinya cantik dan mirip dirinya. Dibandingkan dengan Rudi, Kevin memang jauh lebih tampan dari rekan kerjanya itu.


Dan senyum itu hanya bertahan di bibir Kevin hanya hitungan menit. Menyebut janin yang ada di rahim Regina sebagai putrinya. Mengingatkan Kevin akan penolakan demi penolakan dirinya terhadap janin itu. Mulai meminta Regina mengg*gurkan, menolak bertanggung jawab bahkan sampai terakhir dirinya menyentuh perut istrinya atas permintaan Regina. Saat itu, Kevin masih menolak janin itu dalam hatinya.


Ada perasaan sakit di hatinya ketika Kevin mengingat semua sikap buruk pada calon anaknya itu. Kevin berjanji dalam hatinya akan memperlakukan calon anaknya itu lebih baik jika Regina sudah kembali ke rumah itu.


Seperti Bella yang didandani lucu oleu ibunya, Kevin sangat berharap. Regina nantinya mendandani putrinya dengan pakaian yang unik dan hiasan yang lucu.


Sungguh pertemuannya dengan keluarga rekannya dua hari yang lalu sanggup membalikkan hatinya yang awalnya menolak janinnya itu dan kini ingin melihat perut buncit Regina. Yang membuat Kevin semakin gelisah ketika mengingat perkataan Regina yang meminta bercerai karena alasan dirinya yang belum bisa menerima keberadaan janinnya. Kevin merasakan jantungnya berdenyut nyeri.


Malam itu, Kevin tidak bisa tidur. Ada rasa khawatir yang menyelinap ke hatinya bahwa Regina akan pergi membawa janinnya menjauh dari dirinya. Meskipun, barang barang Regina masih di rumah itu tidak membuat Kevin merasa tenang.


Ternyata Kevin, bukan hanya menginginkan mengelus perut Regina. Sebagai laki laki yang sudah merasakan bagaimana nikmatnya bergumul di ranjang, ternyata Kevin juga merindukan kehangatan yang diberikan oleh Regina kepada dirinya selama tiga bulan ini. Suasana cuaca yang dingin menginginkan Kevin memeluk bantal hidup. Hal yang wajar bagi laki laki normal yang sudah pernah merasakan nikmatnya bercinta akan merindukan kegiatan ranjang itu.


Sepanjang malam itu, Kevin memikirkan Regina dan calon anaknya. Seandainya tidak ada banjir di luar sana. Kevin akan menerobos malam pekat itu. Tapi sepertinya, Kevin harus belajar bersabar menunggu besok tiba. Sepanjang malam itu, Kevin sulit memejamkan matanya karena pikirannya tertuju pada Regina.


Besok paginya, Kevin bangun cepat karena suara alarm. Pagi ini, Kevin berencana untuk ke rumah orang tua Regina terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.


"Masuk lah nak," kata ibu Siska mempersilahkan Kevin masuk ke dalam rumah. Ibu Siska dan pak Bayu sudah siap berangkat bekerja tapi karena kedatangan Kevin. Baik ibu Siska dan Pak Bayu langsung mengirimkan pesan ke atasan masing masing jika mereka akan terlambat tiba di tempat mereka bekerja.


Melihat kedatangan Kevin di rumah itu. Ibu Siska dan Pak Bayu sudah menebak dua kemungkinan asalan Kevin datang ke rumah itu. Mencari keberadaan Regina atau mengembalikan Regina kepada mereka. Ibu Siska masih mengingat apa yang diceritakan Regina pada dirinya beberapa malam yang lalu tentang Kevin yang masih menginginkan Melati dan belum bisa menerima kehadiran buah hatinya itu.


"Bu, Regina mana?" tanya Kevin begitu tubuhnya mendarat di sofa. Kevin berharap dengan mendengar suaranya, sosok Regina muncul dari salah satu pintu kamar dengan daster tanpa lengan seperti biasanya Regina berpakaian di rumahnya. Kevin sudah mulai mengingat kebiasaan cara berpakaian istrinya itu jika di rumah..

__ADS_1


Ibu Siska menyembunyikan wajah kesedihannya. Salah satu dugaannya akan kedatangan Kevin di rumah itu sudah terjawab dengan pertanyaan Kevin. Itu artinya, Regina meninggalkan rumah dan kini Kevin mencari keberadaan putrinya. Yang membuat ibu Siska sedih. Regina tidak ada di rumah itu. Ibu Siska menyimpan rasa kekhawatiran akan keadaan Regina dengan menatap wajah menantunya dengan sedih.


Pak Bayu juga tidak begitu terkejut dengan pertanyaan Kevin. Mengingat bagaimana Kevin bersedia bertanggung jawab atas kehamilan Regina karena paksaan dari dirinya dan ibu Siska. Pak Bayu sudah bisa menduga jika rumah tangga Regina dan Kevin tidak harmonis. Mengingat hal itu dan mendengar kepergian Regina dari rumah. Muncul penyesalan di hati laki laki itu karena memaksa Kevin bertanggung jawab. Jika tahu seperti ini keadaan saat ini. Lebih baik Regina hamil tanpa suami. Kalau hanya untuk makan dan keperluan janin itu. Pak Bayu dan ibu Siska masih sanggup menggantikan peran Kevin bagi Regina dan calon anaknya itu.


"Kamu menanyakan tentang Regina?. Kalian yang tinggal satu rumah. Tapi mengapa bertanya tentang Regina kepada kami?" tanya pak Bayu. Pak Bayu menatap wajah Kevin dengan marah. Membayangkan laki laki yang Ada di hadapannya itu memperlakukan putrinya dengan baik. Ingin rasanya pak Bayu mendaratkan telapak tangannya di wajah Kevin. Tapi pak Bayu berusaha menahan diri. Dia menghargai keperdulian Kevin yang datang ke rumah itu untuk mencari keberadaan Regina


Kevin menatap wajah pak Bayu sebentar kemudian mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah itu. Kevin bisa mengartikan jawaban pak Bayu. Tapi dia tidak percaya jika Regina tidak di rumah itu. Kevin berpikir jika Regina tidak mungkin pergi jauh apalagi sampai pergi ke luar kota. Bisa saja Regina bersembunyi di dalam kamar dan tidak ingin bertemu dengan dirinya.


"Pak, Regina...."


"Cukup. Kamu tidak perlu mengatakan apapun karena aku sudah bisa menebak. Regina pergi dari rumah mu kan?


Kevin menganggukkan kepalanya.


Berat rasanya untuk jujur tapi Kevin harus mengakui kenyataannya. Kedatangannya ke rumah ini untuk mencari Regina. Jika tidak ada di rumah ini, bisa saja Regina pergi ke rumah saudaranya.


"Regina sudah mengambil keputusan yang tepat. Seharusnya sebagai orangtua, Kami tidak perlu memaksa bahkan mengancam kamu untuk bertanggung jawab atas kehamilan Regina kalau hanya membuat kamu tersiksa dalam pernikahan itu. Aku tahu, Regina pasti istri yang buruk sehingga kamu belum bisa menerima dia dan janinnya kan. Regina pasti malas malasan kan. Atau Regina melalaikan tanggung jawabnya sebagai istri kan?"


Kevin tidak tahu harus menjawab apa dengan perkataan Pak Bayu yang berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh Regina selama tiga bulan ini. Kevin mengartikan dalam hati apa yang dikatakan oleh papa mertuanya itu adalah sindiran. Dan kata kata itu juga yang membuat Kevin terbayang dengan kewajiban yang dilakukan Regina secara tulus dalam tiga bulan ini. Kevin sengaja mengusap wajahnya untuk menghindari tatapan tajam pak Bayu.


"Memang cinta tidak bisa dipaksakan Kevin. Dan hatimu pasti tidak bisa berpaling dari Melati kan. Maka hari ini, kami akan berlapang dada menerima Regina kembali sebagai tanggung jawab kami. Kembalikan Regina ke rumah ini, maka dirimu terbebas dari pernikahan neraka itu."


Pak Bayu sudah memikirkan matang matang akan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya. Penderitaan Regina adalah luka batin bagi dirinya. Pak Bayu tidak ingin Regina semakin terpuruk jika melanjutkan pernikahan itu. Regina tidak berharga bagi Kevin. Tapi bagi pak Bayu dan ibu Siska, Regina dan dua anaknya yang lain adalah harta yang paling berharga yang mereka miliki di dunia ini. Begitu juga dengan janin yang ada di rahim Regina. Kehadirannya memang tidak diharapkan di awal, kehadiranya di luar pernikahan. Tapi tetap juga janin itu sangat berharga bagi keluarga pak Bayu.


"Pak..."


"Pergilah Kevin. Kami juga mau pergi bekerja. Jika dalam dua hari ini, kamu tidak mengembalikan Regina ke rumah ini. Maka kami akan melapor ke polisi dengan pasal orang hilang," kata Pak Bayu penuh kekecewaan. Mengetahui Regina pergi dari rumah Kevin, tidak bisa dipungkiri jika hatinya sangat gelisah. Pak Bayu juga memikirkan keberadaan dan keselamatan putrinya itu. Bahkan bisa jadi dirinya yang paling gelisah dan khawatir dibandingkan Kevin.


"Sudah berapa hari, Regina pergi nak Kevin?" tanya ibu Siska dengan terisak. Hati wanita mana yang tidak sakit dan sedih mengetahui rumah tangga putrinya tidak harmonis apalagi sampai putrinya itu pergi dari rumah.


"Tiga hari Bu," jawab Kevin dengan pelan. Ada rasa takut dan tidak enak melihat kekhawatiran di wajah kedua mertuanya.


"Sudah tiga hari. Tapi baru hari ini kamu datang mencari nya kemari. Benar benar tidak mempunyai hati kamu Kevin," bentak Pak Bayu. Amarahnya memuncak mengetahui Regina sudah tiga hari pergi dari rumah. Ketakutannya bertambah tambah sedangkan Ibu Siska semakin terisak.


"Nak Kevin. Kami sadar diri akan keadaan keluarga kami. Kamu memang terlalu sempurna buat Regina yang hanya wanita sederhana dari keluarga yang sederhana juga. Mohon maaf, jika kami pernah memaksakan kehendak untuk mempertanggung jawabkan kehamilan Regina. Tapi Kali ini, kami mohon. Bantu kami mencari keberadaan Regina. Setelah hari ini, kami tidak menuntut apapun dari kamu termasuk tanggung jawab akan janin itu. Untuk biaya persalinan hingga membesarkan anak itu, selagi kami masih sehat. Kami yakin bisa bertanggung jawab atas anak itu nantinya."


Hancur sudah hati ibu Siska mendengar putrinya di luaran sana sudah tiga hari. Ibu Siska juga bisa merasakan sakit hati yang dirasakan putrinya itu tapi ibu Siska tidak menyangka Regina akan pergi dari rumah.


Lain hal dengan pak Bayu yang membentak Kevin, ibu Siska justru memohon pada Kevin. Tidak ada yang terpenting bagi ibu Siska selain keberadaan Regina di sisinya.

__ADS_1


Kevin keluar dari rumah kedua mertuanya dengan kepala yang sangat pusing. Ternyata dengan kepergian Regina dari rumahnya tidak membuat dirinya langsung tenang. Yang ada sekarang, Kevin tidak bersemangat untuk pergi ke kantor. Berbangga terbalik dengan keinginannya diawal pernikahan yang ingin menceraikan Regina secepatnya.


Di dalam mobil, Kevin masih memikirkan Regina. Jika Regina tidak ada di rumah mertuanya. Kevin sangat yakin jika Regina bersama Melati saat ini.


"Mel, Regina ada di rumah mu?"


Kevin akhirnya mengirimkan pesan pada Melati. Tapi ternyata, Melati sudah memblokir nomornya. Tidak ada cara lain untuk mencari keberadaan Regina selain mengunjungi rumah Melati.


"Kamu pasti menyembunyikan Regina di rumah ini, Mel. Aku yakin itu. Tolong panggil dia kemari," kata Kevin tidak percaya ketika Melati menjawab jika Regina tidak ada di rumah nya. Kevin memiringkan kepalanya melihat ke dalam rumah. Tidak Ada tanda tanda Regina disana. Tapi bisa saja di lantai dua.?


Melati berdecak kesal. Dia menatap wajah Kevin dengan kesal di saat laki laki itu juga menatap wajah.


"Lihat sendiri jika kamu tidak percaya," kata Melati kemudian membuka pintu lebar lebar mempersilahkan laki laki itu masuk ke dalam rumah.


Kevin menatap wajah Melati sebentar kemudian masuk ke dalam rumah. Suaranya menggelegar di rumah itu memanggil nama Regina. Tapi yang dia panggil tidak juga menjawab atau muncul di hadapannya. Semua kamar dan setiap sudut rumah itu menjadi sasaran pencarian Kevin.


Kevin tidak mendapatkan hasil dari pencariannya di dalam rumah Melati. Laki laki itu sudah memutuskan tidak bekerja saat ini. Di dalam mobil, Kevin kembali memandangi layar ponselnya. Dia melakukan panggilan pada nomor Regina yang baru dia dapatkan dari Melati. Beberapa bulan tinggal satu atap dengan Regina. Tidak pernah dirinya tertarik untuk mengetahui nomor ponsel istrinya itu.


"Nomorku diblokir," kata Kevin dalam hati. Dirinya baru mengetahui nomor Regina baru hari ini tapi nomornya sudah diblokir. Itu artinya selama ini, Regina sudah menyimpan nomor ponsel miliknya.


Kevin membelokkan mobilnya menuju cute arah rumah orangtuanya. Status sang mama yang memperlihatkan dirinya masih harus beristirahat di rumah membuat Kevin ingin mengunjungi sang mama. Tak lupa, Kevin terlebih dahulu membeli buah buahan kesukaan sang mama.


"Kamu tidak bekerja nak?" tanya mama Tika begitu Kevin tiba di rumah itu. Kevin menggelengkan kepalanya dengan lemas.


"Makan buah nya mama. Biar mama cepat sehat," kata Kevin. Mama Tika tersenyum samar. Mama Tika tidak habis pikir dengan sikap Kevin setelah berubah menjadi status suami Regina. Selama ini, Kevin termasuk anak yang baik dan juga penyayang pada dirinya dan juga pada Pak Raka. Tapi mengapa, Kevin tidak mempunyai sikap itu pada istri dan calon anaknya.


"Regina pasti senang mempunyai suami penyayang seperti kamu Kevin. Kamu pasti sering membelikan buah buahan untuk istri


dan calon anak kamu itu kan?" sindir mama Tika membuat Kevin terbatuk batuk. Ibu Tika sengaja menyindir putranya itu karena dirinya juga kesal dengan sikap Kevin yang tidak mengharapkan perjuangan Regina.


Jangan kan membelikan buah buahan. Untuk memberikan perhatian saja, dirinya tidak pernah. Dia mengelus perut Regina hanya karena permintaan istrinya itu. Seketika, Kevin mengingat ketika Regina pernah memakan sisa makanannya.


Kevin menggaruk kepalanya, Sebenarnya dia ingin mengatakan tentang kepergian Regina dari rumah tapi merasa tidak tega karena mendengar bahwa beberapa hari ini mama Tika terserang asam lambung dan baru Hari ini merasa baik.?


"Tiga malam ini, Regina menginap di rumah ini Kevin. Regina yang mengurus mama sehingga bisa merasa lebih baik saat ini. Satu jam yang lalu dia memutuskan kembali ke rumah kalian. Mama sudah tahu permasalahan yang saat ini kalian hadapi. Bersikap lah dewasa Kevin seperti Regina yang bersikap dewasa. Meskipun perceraian itu akan terjadi setelah Regina melahirkan tapi dia menunaikan kewajiban sebagai menantu yang baik. Mama dan papa kamu sudah menahan dia untuk tinggal di rumah ini sampai melahirkan. Tapi dia tahu kewajibannya sebagai istri. Selama menyandang status istri. Regina berkata akan tetap tinggal di rumah yang sama dengan suaminya."


Kevin merasa lega dengan informasi dari sang mama. Kevin juga merasa kagum dengan apa yang telah dilakukan Regina untuk sang mama. Dulu dia berharap Melati akan bisa merawat mamanya di saat sakit seperti ini karena melihat sendiri bakti Melati merawat mama Lena. Ternyata Regina bisa melakukan hal itu untuk mamanya.


"Mama, aku pergi dulu. Jaga kesehatan ya. Aku harus bertemu dengan Regina sekarang juga. Aku sudah mencari Regina kemana mana ternyata dia ada disini," kata Kevin. Laki laki itu meraih tangan mama Tika dan menciumnya. Saat itu juga, Kevin merasa menyesal karena tidak langsung mencari keberadaan Regina ke rumah orangtuanya. KevinDengan setengah berlari, Kevin keluar dari rumah orangtuanya. Dengan kecepatan diatas rata rata, Kevin membawa mobilnya menuju rumahnya.

__ADS_1


"Regina, Regina," panggil Kevin begitu membuka pintu rumah. Tidak ada sahutan. Kevin langsung menuju kamar Regina.


Kevin terkejut, keadaan kamar itu sudah berubah tidak seperti biasanya. Pintu lemari terbuka menunjukkan rak demi rak yang sudah kosong.


__ADS_2