Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 25


__ADS_3

Satu minggu menjalani pernikahan dengan Kevin. Regina benar benar tidak merasakan dirinya sebagai istri. Seperti keinginan Kevin. Mereka seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal satu atap. Tidak ada kebersamaan diantara mereka. Kevin sibuk dengan dunianya sedangkan Regina berteman sepi di rumah itu.


Bukan hanya sibuk dengan dunianya. Kevin juga membatasi pergerakan Regina. Hal itu bertujuan supaya Regina tidak bisa bebas bercerita kepada siapapun termasuk Melati. Regina tidak bebas bisa keluar rumah. Bahkan untuk mengurus cuti di kampus. Regina harus meminta bantuan Rani adiknya. Sebenarnya bisa saja, dirinya meminta bantuan Melati. Tapi sejak terungkap kehamilan itu. Hubungannya dengan Melati tidak sehangat dulu lagi. Tidak ada ajakan untuk nongkrong atau belajar bersama. Tidak ada lagi meminta atau menawarkan bantuan. Tidak ada lagi kebisingan ponselnya karena panggilan atau pesan dari sahabatnya itu.


Bukan hanya Regina. Melati juga mengalami hal yang sama. Melati juga merasa kesepian sejak kehamilan Regina terungkap. Melati harus kehilangan dua orang dekat sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Kehilangan Regina dan kehilangan Kevin bukan hal yang mudah bagi Melati. Terbiasa bersama hanya dengan Regina dan Kevin setiap hari membuat Melati kewalahan untuk menemukan teman yang cocok di kampus.


Bukan hanya di kampus. Setelah di rumah juga Melati merasakan sepi. Tidak ada lagi yang mengajak dirinya keluar rumah di akhir pekan atau disaat dirinya butuh hiburan. Melati memang merasakan sangat kehilangan Kevin tapi Melati sudah ikhlas.


Sebenarnya jika Melati mau, dirinya masih bisa menjalin persahabatan dengan Regina. Tapi untuk saat ini Melati sengaja menjaga jarak. Berhubungan dengan Regina hanya akan mengingatkan dirinya akan luka hati karena perbuatan Kevin.


Di kampus, Melati merasa sangat kewalahan menjawab pertanyaan para teman teman satu kelasnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan yang mempertanyakan Regina. Untuk mengatakan Regina saat ini sudah menikah dan sedang hamil muda. Melati merasa tidak sanggup. Regina memang hamil di luar nikah. Tapi Melati tidak mau teman temannya mengetahui hal itu. Jika pun suatu saat nanti teman temannya itu mengetahui Regina sudah menikah. Melati akan memastikan jika hal itu bukan terdengar dari mulutnya.


Bukan hanya pertanyaan tentang Regina yang harus dijawab oleh Melati. Melati juga harus menjawab pertanyaan tentang dirinya yang tidak pernah lagi di antar dan dijemput oleh Kevin. Tapi pertanyaan tentang ini tidak membuat Melati harus menutupi keadaan yang sebenarnya. Melati mengatakan jika dirinya dan Kevin sudah putus. Dan tidak terdengar lagi pertanyaan yang sama setelah Melati mengatakan kejujuran itu.


Yang membuat Melati bingung saat ini, ternyata kabar kehamilan Regina itu terdengar juga diantara teman temannya. Regina sudah menjadi bahan perguncingan di dalam kelas. Melati mendengar samar samar perguncingan itu tapi dirinya tidak berusaha menanggapi. Dia sudah menduga jika kabar itu pasti dari Reza.


"Za, kabar Regina hamil terdengar di antara teman teman. Aku harap kabar itu bukan dari kamu."


Akhirnya Melati menunggu Reza di kursi favoritenya dengan Regina. Reza adalah kakak tingkat mereka. Melati harus menunggu setengah jam demi memastikan apakah kabar itu dari Reza atau tidak. Dan Kali ini Melati sangat berhati hati menyusun pertanyaan kepada laki laki itu. Dia tidak mau kejadian waktu lalu terulang.


"Apa aku terlihat seperti perempuan Mel. Tidak mungkin aku menyebarkan itu karena sejujurnya sampai saat ini. Rasa itu masih ada untuk Regina," jawab Reza jujur. Andaikan Regina diceraikan setelah melahirkan janin itu. Reza akan bersedia menerima Regina kembali. Saat ini Reza sangat menyesal karena langsung marah ketika mengetahui kenyataan tentang kehamilan Regina. Dirinya tidak bisa meminta maaf karena nomornya sudah diblokir oleh Regina. Untuk menjumpai langsung. Reza tidak tahu alamat Regina saat ini.


Melati menatap laki laki yang menjadi kekasih sahabatnya itu. Selama ini Reza dikenal sebagai sosok kekasih yang setia dan mencintai Reza. Regina selalu membanggakan kekasihnya itu. Saat itu Melati merasa jika hanya Kevin laki laki terbaik di dunia ini. Tidak hanya mencintai dirinya. Kevin juga sangat royal kepada dirinya. Berbeda dengan Reza yang hanya mampu memberikan sebatang coklat untuk sahabatnya itu. Hal yang wajar karena Reza masih berstatus mahasiswa.


Kini, Melati merasa Regina yang paling beruntung pernah mempunyai kekasih seperti Reza. Meskipun Reza tidak mampu memberikan materi kepada Regina seperti yang diberikan oleh Kevin kepada dirinya. Melati dapat melihat ketulusan cinta Reza untuk sahabatnya.


"Mereka sudah menikah. Tidak seharusnya kamu menyimpan rasa untuk Regina. Jangan sampai rasa itu membuat rumah tangga mereka berantakan nantinya," kata Melati mencoba menasehati Reza.


"Aku tahu Mel. Aku tidak akan merusak kebahagiaan mereka andaikan mereka benar benar bahagia. Tapi jika Regina tidak bahagia dan dicampakkan, aku siap menerima Regina," kata Reza serius.


"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan kamu dengan laki laki itu?" tanya Reza.


"Putus. Tidak mungkin aku menjadi selingkuhan dari suami sahabatku kan Za?"

__ADS_1


"Apa kamu merasa masih sahabat Regina."


Melati menganggukkan kepalanya. Sampai kapanpun dirinya dan Regina akan tetap bersahabat. Jika keadaannya saat ini tidak lagi sama bukan berarti mereka memutuskan persahabatan itu. Melati sengaja menjaga jarak untuk memberikan ruang dan waktu kepada Kevin dan Regina saling membuka diri tanpa bayang bayang dirinya.


"Kalau di pikir pikir kasihan kita berdua ya Mel. Ditinggal kekasih pas sangat sayang sayangnya."


Melati berusaha tertawa untuk mengusir kesedihan di wajah Reza. Wajah Reza terlihat menyedihkan ketika mengatakan hal itu. Benar saja, Reza bisa tertawa diatas kesedihannya sendiri.


"Yuk, aku traktir kamu makan. Lupa kan kesedihan. Yakin jika suatu saat nanti kita menemukan pengganti mereka," kata Melati. Untuk saat ini hanya dengan Reza dirinya bisa membicarakan tentang Regina karena sama sama tahu keadaan sahabatnya itu saat ini. Dan Melati berpikir jika berdua harus bisa saling menyemangati karena sama sama sakit hati menerima perpisahan dengan kekasih masing masing.


"Tidak ah. Dimana harga diriku sebagai laki laki kalau aku ditraktir seorang wanita."


Melati kembali tertawa. Ternyata apa yang dikatakan oleh Regina tentang laki laki itu benar. Reza tidak mau ditraktir oleh wanita apapun alasannya meskipun Regina mendapatkan rejeki tak terduga.


"Kalau begitu. Kamu yang traktir aku Za. Sesama korban putus cinta kita harus saling menyemangati."


"Boleh, tapi jangan minta makanan yang mahal ya. Soalnya dompet ku terisi masih karena belas kasihan orang tua."


Melati tertawa, wanita itu beranjak dari duduknya dan mereka menuju kantin yang paling dekat dengan gedung kampus. Setengah jam lagi. Melati ada perkuliahan lagi.


Benar saja, Reza meminta Melati memilih jenis coklat yang harga masih puluhan ribu itu.


"Kamu biasanya membeli untuk Regina yang mana?" tanya Melati sambil memperhatikan coklat coklat itu.


"Regina penyuka coklat apapun. Yang bulat, yang batang mau saja dia. Biasanya sih yang ukurannya sedang karena sebatas itu kemampuan uang ku."


"Sepertinya itu kode deh. Aku ngerti Za."


Reza tertawa diikuti oleh Melati juga.


"Kamu sama saja seperti Regina. Cepat tanggap," jawab Reza jujur. Reza tidak malu mengakui itu karena dia menyesuaikan dengan kemampuan uangnya. Reza bukan pelit hanya saja dirinya memperhitungkan antara mentraktir teman atau membeli bensin motornya. Uang terbatas karena belum berpenghasilan.


"Kalau begitu aku pakai uang ku sendiri," kata Melati. Reza langsung menggelengkan kepalanya. Pantang bagi Reza mengingkari janji yang sudah dibuatnya. Mereka ke kantin ini karena ada kesepakatan bersama jika dirinya akan mentraktir Melati.

__ADS_1


"Mel, sepertinya aku tahu darimana teman teman mengetahui jika Regina sudah hamil," kata Reza sambil mengambil sebatang coklat ukuran sedang dan memberikannya kepada Melati. Sedangkan untuk dirinya, Reza mengambil minuman botol.


"Darimana?"


"Waktu itu, Pak Bayu pernah mencari aku ke kampus ini. Mungkin ada yang mendengar ketika pak Bayu menyebut kehamilan Regina."


Melati mengusap wajahnya. Jika itu terjadi semoga saja teman temannya tidak mendengar jika Regina hamil di luar nikah.


Reza menuntun Melati menuju bangku di luar kantin kampus itu setelah membayar coklat minuman botol itu.


Jika Melati dan Reza sudah bisa tertawa dan berusaha menyembuhkan diri dari luka hati masing masing. Regina harus berjuang sendiri untuk membawa rumah tangganya ke pernikahan yang sesungguhnya.


Sampai saat ini, Kevin masih saja mendiamkan dirinya. Tidak mau berbicara dengan dirinya dan bahkan hampir setiap hari pulang larut malam. Kevin benar benar tidak memberikan ruang dan waktu kepada dirinya untuk berbakti sebagai istri. Selama satu minggu itu, Kevin membawa pakaian kotornya ke laundry dan laki laki itu juga terkadang memasak sendiri makanannya. Regina benar benar tidak dianggap keberadaannya di rumah itu.


Setegar apapun Regina. Mendapatkan suami seperti itu tetap saja Regina sangat sedih. Dia ingin Kevin berbicara dengan dirinya, tapi sepertinya suara laki laki itu terlalu mahal. Regina memang sudah mengetahui sejak awal bahkan ketika masih status kekasih dari Melati bahwa Kevin adalah sosok laki laki yang dingin. Tapi tidak menyangka jika dirinya diabaikan bahkan tidak dianggap seperti satu minggu ini.


"Kak, boleh aku bicara?" tanya Regina takut takut. Regina memberanikan diri menemui Kevin di meja makan pagi ini. Hanya disaat seperti ini kesempatan Regina berbicara pada suaminya itu.


Kevin hanya menoleh sebentar kepada Regina kemudian melanjutkan mengunyah makanan yang sedari tadi sudah ada di dalam mulutnya. Sikapnya benar benar dingin.


"Aku mau minta ijin ke rumah mama kak."


Lagi lagi Kevin tidak menjawab. Kini laki laki itu terlihat memasukkan lagi potongan roti ke dalam mulutnya.


"Hanya satu malam kak. Besok pagi, aku pastikan akan kembali ke rumah ini," kata Regina lagi. Entah mengapa, Regina sangat menginginkan masakan ibu Siska.


"Pergilah!. Kalau sudah pergi jangan kembali lagi."


Regina seperti tersambar petir mendengar perkataan suaminya. Dia tahu dirinya tidak diinginkan dalam pernikahan ini. Tapi mendengar perkataan suaminya itu tetap saja Regina merasakan jantungnya berdenyut nyeri.


"Kenapa kamu membuat posisi ku serba salah kak. Minta ijin, perkataan mu menyakitkan. Tidak minta ijin pasti lebih menyakitkan kan. Jangan menyalahkan aku karena keadaan ini kak. Harusnya kamu sadar, ini terjadi karena pergaulan mu yang salah. Andaikan kalian tidak mabuk mabuk malam itu. Ini tidak akan terjadi. Tapi dengan seenaknya kamu melemparkan kesalahan itu kepada ku," kata Regina marah.


Mencoba bersabar dengan sikap diam suaminya itu tapi sekali berbicara. Kata katanya seperti anak panah yang menancap di ulu hatinya.

__ADS_1


"Oke, baik lah. Aku setuju. Kita akan bercerai setelah anak ini lahir. Dan menunggu waktu itu tiba jangan mengekang aku. Mari kita hidup dengan kebebasan masing masing. Silahkan mengejar cinta Melati. Aku tidak perduli lagi."


Pernikahan itu memang masih satu minggu. Tapi sepertinya Regina sudah menyerah untuk membawa pernikahan itu seperti pernikahan yang sebenarnya. Regina sadar, pernikahan itu tidak akan harmonis dan berjalan langgeng jika hanya dirinya yang berusaha.


__ADS_2