
"Kamu menunggu aku. Kangen ya!" kata Reza begitu laki laki itu berdiri di hadapan Melati. Melati menatap laki laki itu dengan malas tapi hal itu tidak menghilangkan senyum di bibir laki laki itu. Yang ada, Reza mengulurkan tangannya hendak mengacak rambut Melati tapi wanita itu cepat menghindar.
"Aku ingin berbicara serius dengan kamu Za," kata Melati.
"Sekarang?"
"Tidak. Tahun depan. Ya, sekarang lah. Jadi untuk apa aku menunggu kamu sampai jamuran kalau berbicara nya tahun depan."
"Ya udah. Ayo. Hilangkan dulu wajah kesal mu. Tambah cantik. Tahu gak?"
Melati mendaratkan pukulannya di lengan Reza yang membuat laki laki itu meringis manja. Melati menarik tangan Reza hingga mereka berdua duduk di bangku yang biasa digunakan para mahasiswa di kampus itu.
"Jujur padaku, Za. Apa yang kamu ceritakan kepada singa betina itu tentang Regina dan Kevin?" tanya Melati serius.
"Singa?. Siapa Singa betina yang kamu maksudkan?" tanya Reza bingung.
"Sasa."
Reza tertawa. Sedangkan Melati masih dengan mode serius nya.
"Aku tidak cerita apapun."
"Bohong."
"Aku serius."
"Kalau kamu tidak cerita. Mengapa Sasa mengetahui Regina hamil dan suaminya adalah Kevin?"
Reza mengerutkan keningnya dan berusaha mengingat apa saja yang sudah dia ceritakan pada Sasa. Ternyata, benar. Dia pernah keceplosan bercerita jika suami Regina itu adalah Kevin tapi tidak menceritakan jika Regina sudah hamil duluan.
"Aku hanya mengatakan jika suami Regina itu adalah mantan kekasih mu. Tidak lebih dari itu."
"Aduh Za, mengapa kamu harus bercerita sama si mulut ember itu. Dia menebak jika Regina hamil duluan. Mudah mudahan dia percaya dengan apa yang katakan tadi," kata Melati panic. Akan ada masalah yang serius timbul jika nanti Regina mengetahui Sasa mengungkapkan jika Regina mengkhianati persahabatannya dengan Melati.
Reza juga terlihat bingung. Dia sudah mengetahui bagaimana Regina menjalani pernikahannya jangan sampai ada masalah lagi karena keceplosan nya.
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Reza.
"Yakin kan kekasih mu itu jika Regina dan Kevin menikah karena dijodohkan oleh orangtua mereka masing masing."
"Siapa yang kamu maksud kekasih ku?" tanya Reza. Bibir Melati mengerucut. Dia malas untuk menyebutkan nama wanita yang dia juluki sebagai singa betina.
"Sasa."
"Eh jangan sembarangan ya Mel. Jangan sampai perkataan mu terdengar pada mahasiswa lain yang membuat mereka beramsusi jika aku dan dia berpacaran. Aku tidak suka."
Melati terdiam. Reza marah hanya karena dirinya menyebut Sasa kekasihnya.
"Maaf, tak kira kamu juga mencintai Sasa seperti dia mencintai kamu," cicit Melati pelan. Melati sudah bisa menebak jika Reza tidak ingin mahasiswa lain beramsusi jika dirinya berpacaran dengan Sasa untuk memuluskan pendekatan nya pada wanita yang dicintai oleh Reza.
"Di maafkan. Tapi jangan sampai diulang lagi."
Reza berkata tanpa ekspresi. Wanita yang sangat agresif seperti Sasa bukan tipe nya. Reza menyukai wanita yang lembut dan baik dan juga bisa menjaga sikapnya di hadapan orang orang. Sasa bukan seperti itu. Sasa orang nya periang dan heboh. Sifat itu tidak masalah bagi Reza selagi tidak merugikan orang lain. Dan satu sifat lagi yang tidak disukai oleh Reza dari Sasa yaitu sifat wanita itu yang tidak sabaran. Sasa tidak sabar melakukan pendekatan kepada dirinya. Hampir setiap ada kesempatan bagi mereka untuk jalan bareng. Sasa selalu menyatakan cinta pada dirinya. Sasa bahkan tidak bisa mengerti dengan penolakan halus yang diberikan oleh Reza.
"Jangan membuat seorang wanita menggantungkan harapan pada mu, Za. Sasa sangat menyukai kamu. Jika kamu tidak ada rasa sebaiknya tolak dengan tegas supaya dia tidak berharap banyak. Sikap mu yang mau didekati sudah memberikan harapan palsu kepada Sasa," kata Melati. Dia memberikan nasehat pada Reza untuk kebaikan laki laki itu dengan wanita yang dicintainya nanti. Tidak tertutup kemungkinan, wanita yang menjadi gebetan Reza akan menolak Reza jika melihat kedekatan Reza dan Sasa.
Reza menarik nafas panjang. Sasa memang seperti ancaman pada dirinya karena dia tidak bisa menolak wanita itu untuk jalan bareng. Sasa pernah membantu dirinya ketika kesulitan membayar uang kuliah. Dan menerima ajakan jalan bareng dari Sasa hanya untuk membalas kebaikan wanita itu.
__ADS_1
"Lalu, aku harus bagaimana Mel. Sudah berkali kali aku menolaknya. Tapi Sasa memang benar benar keras kepala. Setelah mengetahui Regina sudah menikah. Sasa seperti mempatenkan jika aku sudah miliknya," jawab Reza frustasi. Reza benar benar tidak nyaman dengan sikap Sasa. Bukan hanya agresif pada dirinya. Sasa juga mendatangi tiap wanita yang dekat sekedar teman dengan Reza dan memperingatkan supaya tidak dekat dekat dengan Reza.
"Cari pengganti Regina secepatnya supaya dia tidak mempunyai kesempatan lagi mendekati kamu. Kalau dia masih berani mendekati laki laki yang sudah mempunyai kekasih. Dia akan mendapatkan julukan pelakor nantinya."
Reza membenarkan solusi yang dikatakan oleh Melati. Satu satunya untuk menghentikan keagresifan Sasa hanya dengan cara dirinya mempunyai kekasih. Tapi untuk menjalin hubungan baru saat ini. Reza tidak berani mengutarakan rasa cinta nya pada wanita itu.
"Kata Sasa, kamu sudah mempunyai wanita yang kamu cintai. Kenalin donk Za. Aku penasaran dengan wanita itu. Apakah lebih cantik dan lebih baik daripada Regina?"
Melati tersenyum sambil menyenggol lengan Reza mendesak laki laki itu menyebut salah satu mahasiswi yang dia sukai di kampus ini.
"Apa Sasa meminta kamu menjauhi aku?" tanya Reza. Melati menganggukkan kepalanya.
"Tapi aku menolak dengan tegas donk Za. Siapa dia berani mengatur aku. Kecuali jika Sasa benar benar kekasih mu. Aku akan menjauh pelan pelan."
"Jangan katakan itu lagi. Bukan hanya kepada mu dia bersikap seperti itu pada wanita wanita lain juga. Aku benar benar tidak nyaman Mel, bagaimana ini?"
"Ah kamu gak jelas Za. Di kasih solusi masih saja nanya."
Reza menatap Melati. Solusi yang diberikan oleh Melati memang terdengar mudah. Tapi bagi Reza, solusi itu sangat sulit. Dia memang sudah mempunyai wanita yang dia cintai tapi belum tentu wanita itu mencintai dirinya. Karena Reza sadar, dirinya bukan tipe laki laki idaman wanita itu. Reza takut mendapatkan penolakan. Dia ingin memantapkan dirinya terlebih dahulu daripada menyatakan cinta pada wanita.
Tapi sikap Sasa yang meresahkan dirinya membuat Reza ingin cepat cepat menjadikan wanita yang dia cintai itu menjadi kekasihnya.
"Aku tidak yakin jika dia mau menjadi kekasih ku, Mel. Maka nya aku menunggu waktu yang tepat."
"Tapi sampai kapan kamu menunggu waktu itu. Kamu satu tahun lagi loh di kampus ini. Apa kamu tahan dengan sikap Sasa kepada mu selama satu tahun ke depan?" tanya Melati. Reza menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu butuh bantuan aku untuk memuluskan pendekatan mu pada wanita yang kamu cintai itu?"
"Ah Mel, mengapa kamu sangat baik. Tidak perlu Mel. Aku bisa mengatasi itu sendiri."
"Ya sudah. Jangan mengeluh lagi jika Sasa bertingkah yang aneh aneh nanti. Aku duluan ya?"
Sering bersama dan berdekatan membuat Reza mengenali karakter Melati. Melati tidak jauh berbeda dengan Regina. Sama sama baik dan tulus juga sama sama cantik. Bukan hanya itu saja. Melati tidak hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri melainkan memikirkan kebahagiaan orang orang terdekatnya juga.
Reza adalah saksi hidup kebaikan Melati sebagai sahabat. Dimana mana, wanita yang yang mengalami seperti yang dialami oleh Melati dimana kekasihnya menghamili sahabatnya sendiri. Si wanita tersebut akan memposisikan dirinya sebagai korban dan bersikap antogonis. Si wanita akan mati matian mempertahankan kekasihnya dan menyingkirkan si sahabat. Apalagi Kevin adalah laki laki mapan. Pasti banyak wanita yang menginginkan nya.
Tapi tidak bagi Melati. Dia rela melepaskan kekasihnya dengan ikhlas demi mempertanggung jawabkan perbuatannya. Melati juga tidak langsung memusuhi Regina. Yang ada, Melati memberikan dukungan bahkan rela berpura pura pacaran supaya Kevin tidak mengejarnya lagi.
Benar benar kebaikan seorang wanita yang langka. Hal yang wajar jika Reza bisa mengalihkan Regina dari hatinya berganti dengan Melati.
Reza menghembuskan nafasnya. Kalau tidak mengingat tipe laki laki idaman Melati. Dia sudah menyatakan cinta pada wanita itu ketika baru saja menyadari dia sudah mulai jatuh cinta pada Regina. Tapi sepertinya, Reza harus berjuang dulu dengan memapankan dirinya supaya bisa meraih cinta Melati.
Saat ini, Reza sudah memulai usaha kecil kecilan supaya mempunyai modal melamar Melati nantinya.
Di tempat lain di jam makan siang. Kevin merasa kesal dengan wanita yang ada di hadapannya. Saat ini, Kevin berada di sebuah kafe tidak jauh dari kantornya. Dan di hadapannya duduk seorang wanita yang bernama Nadia menuntut penjelasan dari dirinya.
"Mengapa kamu berubah satu minggu ini, Kevin. Kamu tidak membalas pesanku dan tidak menjawab panggilan ku. Ada apa dengan mu?" tanya Nadia sambil menatap kesal kepada Kevin. Mereka bisa duduk di kafe ini karena ancaman Nadia. Nadia akan menemui Kevin di kantornya jika tidak bersedia menemui dirinya di kafe ini.
Kevin membuang pandangannya. Pikirannya benar benar bercabang antara pekerjaan Dan keberadaan Regina kini Nadia menambah beban pikirannya.
"Aku tidak mau dicampakkan begitu saja seperti ini, Kevin. Jangan menyakiti hatiku untuk kedua kalinya," kata Kevin lagi.
"Nadia, hubungan kita tidak seperti hubungan pasangan lainnya. Kalau kita putus komunikasi tidak ada yang dirugikan diantara kita berdua. Hubungan kita sebatas jalan bersama, tidak lebih dari itu. Jadi jangan merasa dicampakkan jika aku tidak mau berhubungan lagi. Mulai hari ini, kamu tidak perlu menghubungi atau mengirimkan pesan kepada ku. Karena aku ingin fokus akan keluarga ku."
"Kevin, aku tidak mau. Kamu sudah berjanji kita akan bersama setelah kamu menceraikan istri mu," jawab Nadia dengan cepat. Dia sudah berharap banyak akan hubungannya dengan Kevin selama beberapa bulan ini walau hubungan mereka sebatas jalan bersama tanpa sentuhan.
Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Niatnya berhubungan dengan Nadia supaya Regina menyerah menjadi istrinya kini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Nadia menuntut janjinya. Sedangkan Regina benar benar menyerah sesuai dengan rencananya dulu. Dan kini, rencana itu yang membuat dirinya hampir gila. Regina pergi dan Nadia bersikeras untuk tetap menjalani hubungan mereka.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah menceraikan istriku, Nadia. Ingat itu. Jadi jangan hubungi aku lagi,". bentak Kevin. Dia tidak sadar berkata keras ketika Nadia menyinggung tentang perceraian. Darahnya mendidih mendengar kata kata perceraian itu. Kevin seakan tidak perduli ketika beberapa pasang Mata menoleh ke arah mereka. Suara keras Kevin menarik perhatian pengunjung lain kafe itu.
Tapi ternyata suara keras Kevin tidak bisa membungkam wanita itu. Nadia tidak takut ataupun diam. Wanita itu justru tersenyum.
"Tidak semudah itu sayang. Aku pernah kehilangan kamu dan aku tidak akan mau kehilangan kamu lagi. Aku sangat mencintai mu. Tidak ada cinta wanita manapun seperti cinta ku kepada mu termasuk istri galak mu itu. Aku tahu, kamu berhubungan dengan aku karena tidak bahagia dengan istri mu itu kan. Kamu mempertahankan pernikahan kamu hanya demi calon anak mu itu kan. Tenang saja sayang. Aku bisa menyayangi anak mu nanti seperti anak kandungku sendiri."
Kevin merasa tertampar mendengar perkataan Nadia itu. Kata kata Nadia berbanding terbalik dengan apa yang di alami selama bersama dengan Regina. Dia tidak pernah memikirkan apalagi menginginkan calon anaknya itu sebelumnya. Hal itu juga yang memicu permasalahan antara dirinya dan Regina. Di saat dirinya ingin melihat calon anaknya itu lahir. Regina benar benar pergi sebelum mereka bercerai.
"Jangan seperti ini Nadia. Aku laki laki beristri. Masih banyak laki laki lajang di luar sana yang bisa kamu jadikan calon suami. Maafkan aku yang pernah memberikan harapan palsu kepada mu. Jujur, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini," kata Kevin benar benar menyesal.
Andaikan dia mengetahui akan seperti ini jadinya. Dia tidak akan menyeret Nadia dalam hidupnya.
"Aku tidak mau. Yang aku inginkan kamu, Kevin. Tidak perduli kamu laki laki beristri dengan banyak anak sekalipun. Aku tetap bisa menerima kamu."
Kevin merasa frustasi dengan sikap wanita yang Ada di depannya itu. Kevin sudah bersikap kasar dan bersikap lembut untuk meminta wanita itu pergi dari sisinya. Tapi Nadia sangat keras kepala. Wanita yang ada di depan nya itu benar benar definisi wanita pelakor yang sesungguhnya.
"Sekarang terserah kamu Nadia. Yang penting aku merasa tidak mempunyai hubungan lagi dengan kamu. Aku akan memblokir nomor mu. Jadi ini pertemuan kita yang terakhir."
Tidak gunanya bersikap lembut dan bersikap kasar kini Kevin bersikap tegas memutuskan hubungan dengan wanita itu.
"Jika seperti itu keputusan kamu. Aku akan memposting foto foto kita berdua di media sosial. Aku hancur karena kamu campakkan maka pernikahan kamu juga hancur karena foto foto itu nantinya."
Kevin menahan amarah melihat sendiri keras kepala Nadia. Pantas saja, dulu kedua orangtuanya melarang Kevin berhubungan dengan wanita itu. Saat itu Kevin menurut. Dan Kevin menggali kuburannya sendiri dengan menjalin kasih kembali dengan wanita itu.
"Kalau sampai kamu melakukan itu. Maka siap siap kamu menerima konsekuensi dari perbuatan mu," ancam Kevin. Merasa tidak ada gunanya berlama lama dengan wanita itu yang hanya membuat kepalanya semakin pusing akhirnya Kevin meninggalkan wanita itu di tempat itu.
"Kevin, i love you so much," teriak Nadia membuat semua mata mengarah pada Kevin yang melangkahkan kakinya ke luar kafe. Di tempat duduknya, Nadia tersenyum puas. Dia tidak perduli dengan tatapan tatapan aneh yang menatap dirinya. Bagaimana pun caranya, Nadia akan memperjuangkan cintanya pada Kevin. Nadia sudah cinta mati pada laki laki itu.
Kevin mempercepat langkahnya tanpa mau menoleh ke arah Nadia. Jika Nadia berpikir apa yang dia lakukan barusan adalah hal yang paling romantis menyatakan cinta. Bagi Kevin. Itu adalah hal yang paling memalukan sepanjang perjalanan hidupnya. Cara Nadia semakin membuat Kevin muak.
Kevin berlari kecil masuk ke dalam mobil nya. Melihat sikap Nadia yang nekad, Kevin takut jika ancaman Nadia akan memposting foto foto mereka di media sosial akan benar benar ada. Kevin tahu sendiri jika perselingkuhan viral di media social akan membuat dampak buruk bagi pribadi yang viral tersebut.
Kevin tidak memikirkan dirinya sendiri jika foto foto dirinya dan Nadia viral nantinya. Akan ada kedua orangtuanya yang terseret menanggung malu. Tapi yang paling menakutkan bagi Kevin jika Regina melihat foto foto itu nantinya. Mendadak, Kevin memikirkan perasaan Regina.
"Dimana kalian sekarang Regina. Kembali lah, aku mohon. Atau beritahu aku dimana kalian. Aku akan menjemput kamu dan calon anak Kita," kata Kevin dalam hati. Lagi lagi tanpa sadar, Kevin menyatakan kepemilikan atas janin yang dikandung oleh Regina.
Rasanya sangat malas ke kantor ketika baru saja merasakan kejadian yang sangat menjengkelkan. Hal itu dialami oleh Kevin. Tapi mau tidak mau demi sandaran hidup. Kevin harus kembali ke kantor. Dengan malas, laki laki itu melangkah lesu ke dalam ruangannya.
"Di kursi kebesarannya. Kevin duduk bersandar dengan wajah menengadah ke atas dan mata yang terpejam. Dia sangat merindukan Regina saat ini.
"Sepertinya, aku sudah jatuh cinta kepada mu Regina," batin Kevin. Kevin baru menyadari jika hanya ada Regina yang ada di pikirannya saat ini. Kerja tidak bersemangat, makan tak selera hanya memikirkan Regina. Bahkan, nama Melati seperti tidak ada lagi di hatinya.
Kevin merasa menyesal karena terlambat menyadari rasa itu. Andaikan di malam dimana Regina meminta cerai kepada dirinya. Kevin sudah menyadari cinta itu mungkin masalah nya tidak serumit ini.
Pikiran Kevin terganggu dengan ketukan di pintu ruangan nya.
"Pak, ada yang mau bertemu," kata wanita yang hanya menunjukkan kepalanya di depan pintu ruangan itu.
"Suruh masuk," jawab Kevin dengan malas.
Baru saja wanita itu menghilang dari pintu ruangan. Sosok wanita yang dihindari Kevin sudah berdiri di depan pintu ruangan itu.
"Kamu belum makan tadi sayang. Aku sengaja membawa makanan ini demi menjaga kesehatan kamu," kata Nadia sambil tersenyum.
"Sudah letakkan disini. Dan pergilah. Aku mau bekerja," kata Kevin.
Nadia tersenyum senang karena Kevin menerima perhatiannya. Nadia meletakkan makanan itu di meja Kevin dan keluar dari ruangan itu. Bagi Nadia, Kevin bersedia menerima makanan itu sudah cukup baginya hari ini.
__ADS_1
Kevin membuang makanan itu ke tempat sampah setelah Nadia pergi. Dia sengaja berpura pura menerima makanan itu supaya Nadia cepat pergi dari kantornya.