Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 37


__ADS_3

"Melati memang sahabat mu dan juga mantan kekasih dari suami mu. Tapi tetap saja dia orang lain dalam rumah tangga mu bersama Kevin. Jangan mengumbar kesalahan suami mu kepada orang lain. Jika ingin curhat. Curhat lah kepada kedua orangtua dari suamimu. Karena mereka akan menyimpan aib putranya dan jika kedua mertua mu orang tua yang bijak sana. Mereka akan menasehati suami mu. Jangan datang ke rumah mama dan papa nak. Karena kamu sudah menjadi milik dan tanggung jawab suami dan kedua mertua mu. Kecuali kalau kamu sudah resmi bercerai dari Kevin. Otomatis kamu menjadi tanggung jawab kami sebagai orangtua mu."


Begitu terbangun dari tidur pagi hari, Regina langsung memikirkan nasehat mama Siska kepada dirinya tadi malam. Regina pada akhirnya memang butuh teman curhat. Dan tadi malam, Regina menghubungi mama Siska dan menceritakan sedikit tentang masalah yang ada dalam rumah tangganya.


Regina jadi ragu akan niatnya untuk bertemu dengan Melati hari ini. Regina juga tidak ingin keluar dari kamar. Regina masih betah di dalam selimut nya. Pagi ini, dia tidak ingin menjalankan kewajibannya sebagai istri bagi Kevin meskipun itu hanya sekadar menyiapkan sarapan pagi. Sudah cukup perjuangan nya meluluhkan hati Kevin yang dibalas dengan masih menolak janinnya. Regina bukan malaikat yang terus sabar jika disakiti. Dia manusia biasa yang merasakan sakit hati bila disakiti. Yang bisa membalas kebaikan jika orang lain berbuat baik kepada dirinya. Yang bisa menyerah jika perjuangan tidak dihargai.


Samar samar, dia mendengar suara suara gaduh dari arah dapur. Regina menebak jika Kevin sedang menyiapkan sarapannya sendiri. Tidak lama kemudian tercium aroma masakan. Regina juga sudah lapar tapi karena tidak ingin melihat Kevin pagi itu. Regina harus menahan lapar itu.


"Jangan macam macam nak. Kita orang lain bagi dia. Kita disini hanya orang asing," kata Regina pada janinnya yang bergerak aktif di dalam rahimnya. Regina mengelus perutnya, mungkin rasa lapar yang dia rasakan juga dirasakan oleh janinnya itu.


Regina kembali mendadak sedih, dalam keadaan hamil seperti ini seharusnya dirinya dijaga dan diperlakukan sangat baik oleh sang suami. Dijaga hati dan tubuhnya. Tapi ternyata, Regina tidak seberuntung wanita hamil yang ada di luar sana. Wanita hamil biasanya diratukan oleh sang suami tapi Regina justru tidak diharapkan dan janinnya juga tidak diinginkan.


Berjuang dan tidak dihargai ternyata sangat menyakitkan bagi Regina. Membangun rumah tangga itu tanpa cinta ternyata sangat sulit. Mempertahankan rumah tangga tanpa ada keinginan bertahan dari suami ternyata sangat sulit. Regina mengorbankan perasaan dan harga dirinya supaya rumah tangganya bisa bertahan dan langgeng ternyata Kevin tidak tertarik dengan kelangsungan rumah tangganya.


"Sabar ya nak, sebentar lagi kita sarapan. Tunggu dia pergi dulu," kata Regina lagi. Janinnya sudah berhenti bergerak kini perutnya yang sangat terasa mual. Mungkin karena menahan lapar sehingga asam lambungnya kambuh.


Regina menutup mulutnya sambil berjalan pelan ke arah kamar Mandi. Rasa mual itu kembali muncul di pagi hari sebelum Kevin berangkat bekerja biasanya muncul di jam sembilan atau jam sepuluh. Tidak ingin dianggap mencari perhatian. Regina menutup mulutnya sambil memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan.


Di kamar mandi, Regina mati matian mengeluarkan isi perutnya tanpa bersuara. Di saat seperti ini, sebenarnya Regina butuh perhatian dari sang suami. Tapi jangankan perhatian, Regina bisa memastikan jika Kevin pasti hanya membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Terkadang, Regina muak dengan kehidupan yang dia jalani. Berjuang tidak cukup baginya untuk mendapatkan kebahagiaan. Justru dengan perjuangan nya itu, sakit hati itu terasa sangat sakit karena Kevin tidak memperhitungkan hal itu untuk membuat Regina tetap bertahan menjadi istrinya.


Regina akhirnya bisa mengeluarkan isi perutnya itu. Regina sudah berjanji dalam hati jika di kemudian hari dirinya bisa menjalani kehidupannya hanya bersama dengan putrinya. Di kamar mandi itu, Regina kembali mengelus perutnya itu. Semakin hari, Regina semakin merasakan sayang pada janinnya itu. Dia tidak sabar menunggu waktu untuk lahir.


"Laki laki seperti apa yang tidak bisa menerima dan menyayangi darah dagingnya sendiri. Aku membenci mu kak," batin Regina. Tangannya terkepal karena marah mengingat janinnya itu disebut penghambat kebahagiaan Kevin.


Di luar kamar, Kevin sudah menyantap sarapan buatannya sendiri. Bukan hal yang sulit bagi dirinya menyiapkan sarapan sendiri. Pagi ini, Kevin sengaja bangun lebih awal karena dirinya mencerna dengan baik apa yang dikatakan oleh Regina tadi malam. Dia sudah bisa menebak jika rumah tangga mereka akan kembali ke mode awal pernikahan dimana dirinya selalu menyiapkan sarapan sendiri. Tentu saja hal itu tidak masalah bagi Kevin karena Kevin adalah laki laki mandiri. Jika dirinya tidak memberikan yang diinginkan Regina tadi malam yaitu perceraian karena dia tidak mau menambah beban pikiran kedua orangtuanya. Biarlah dulu seperti ini sampai janin itu lahir.


Kevin sudah membereskan dapur itu seperti semula sebelum berangkat ke kantor. Langkahnya terasa ringan meninggalkan rumah meskipun situasinya sudah berbeda dari tiga bulan terakhir ini. Tidak ada rasa kehilangan atas tidak adanya Regina mengantarkan dirinya hingga ke pintu rumah utama. Sungguh, Kevin merasa biasa saja. Bahkan tadi malam, dia tidur sangat nyenyak, karena apa yang dikatakan oleh Regina tadi malam tidak menjadi beban pikirannya.


Bagi Kevin, Regina masih saja tidak berhak mengatur dirinya. Dan Kevin juga merasa jika Regina juga berhak menentukan apapun dalam hidupnya termasuk jika menyerah dalam pernikahan itu.


Kevin masuk ke dalam mobilnya dan membawa mobil itu bergerak menjauh dari halaman rumah. Tidak ada rasa sedih di hatinya. Yang ada laki laki itu memutar music kesayangannya di dalam mobil. Bagaikan hidupnya bahagia dan berwarna, Kevin mengikuti lirik lagu itu.


Regina keluar dari kamarnya setelah mendengar suara mobil menjauh dari halaman rumah. Rasa lapar dan tidak ingin asam lambungnya bertambah parah membuat Regina ingin mengisi perut secepatnya.


Tiba di meja makan, Regina langsung membuka tudung saji. Benar dugaannya, jika Kevin hanya membuat sarapan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ya ampun, kamu mengapa sangat bodoh Regina," umpat Regina pada dirinya sendiri. Ketika membuka tudung saji itu, Regina berharap ada makanan yang langsung bisa dimakan secepatnya. Mungkin jika Kevin menyisakan makanan sedikit saja di sana. Hatinya akan tersentuh. Ternyata, Kevin memang sedikit pun tidak mempunyai rasa apapun terhadap dirinya.


"Bodoh, Kamu bodoh Regina," kata Regina pada dirinya sendiri.


Wanita itu membuka kulkas dan mengambil bahan bahan makanan yang akan diolahnya pagi ini untuk sarapan dan makan siangnya nanti.


Regina memasak yang sederhana saja. Selain karena lapar. Karena asam lambungnya, Regina harus mengolah makanan sederhana yang cocok untuk lambungnya. Regina memasak sayuran brokoli dan ikan tawar sambal.


Mengingat janjinya dengan Melati pagi ini. Regina mengambil ponselnya. Dia membatalkan janji bertemu dengan Melati dengan alasan yang masuk akal. Pagi ini, Regina mendadak ingin mengunjungi ibu Tika karena melihat status mama mertuanya yang tidak kemana mana alias berdiam diri di rumah.


Kedatangan Regina di rumah mertuanya disambut baik oleh mama Tika. Ternyata wanita itu tidak ke kantor karena kurang enak badan.


"Mama sakit apa?. Sudah makan?" tanya Regina. Mama Tika berbaring di sofa panjang dengan wajah yang pucat.


"Tidak selera Regina. Tapi mama sudah minum susu tadi," jawab mama Tika. Wanita itu memejamkan matanya karena rasa yang tidak nyaman di kepala dan perutnya. Kepalanya berdenyut dan perutnya juga sakit.


"Kalau tidak dipaksa makan. Bisa asam lambung loh ma. Asam lambung itu sakit kalau sudah kambuh dan parah. Aku saja yang masih asam lambung ringan kalau sudah terlambat makan bawaanya mual ma. Pokoknya tidak enak."


"Kamu juga asam lambung Regina?" tanya mama Tika. Regina menganggukkan kepalanya.


"Mama asam lambung?. Katanya bisa kambuh karena pemicunya beban pikiran ma. Apa yang mama pikirkan?" tanya Regina. Mama Tika hanya menatap Regina. Sikap Regina sangat hangat kepada dirinya. Regina juga langsung tanggap setelah mengetahui dirinya sakit. Tadi sebelum kedatangan Regina di rumah itu. Ibu Tika memeriksa siapa saja yang melihat statusnya. Ada nama Regina disana. Dan ibu Tika tidak menyangka jika Regina langsung datang mengingat menantunya itu sedang hamil.


Melihat mama mertuanya lumayan lemas. Regina berinisiatif membuat makanan untuk mama mertuanya. Regina membuat bubur karena asam lambung mama Tika sudah lumayan parah.


"Ayo ma, makan!. Sedikit saja yang penting rutin," kata Regina. Perut buncitnya sedikit menghalangi ketika Regina hendak membantu mama mertuanya itu untuk duduk.


"Bagaimana calon cucu ku Regina. Dia sehat sehat saja kan?" tanya mama Tika.


"Sehat Ma," jawab Regina senang. Mungkin karena Kevin tidak pernah memberikan perhatian pada janinnya membuat Regina sangat senang ketika mama Tika menanyakan kabar calon anaknya. Ibu Tika tersenyum. Dia suka dengan sikap Regina dan perhatian menantunya itu.


"Ayo ma. Makan dulu. Biar ada tenaga untuk kita bercerita nanti," kata Regina. Mama Tika membuka mulutnya menerima suapan dari Regina. Kebaikan dan perhatian Regina pada dirinya sangat menyentuh hatinya. Benar lah kata para Orang tua mempunyai anak perempuan itu adalah keberuntungan karena hanya anak perempuan yang sangat perhatian kepada orangtuanya hingga sedetail waktu sakit seperti ini. Kevin memang anak yang baik untuk mereka. Tapi jika sakit seperti ini. Perhatian Kevin hanya sebatas di mulut saja tidak sampai pada tindakan seperti yang dilakukan oleh Regina saat ini. Bahkan Kevin tidak pernah tertarik melihat statusnya di media sosial.


"Biasanya penderita sakit lambung akan cepat lapar. Aku sudah buat bubur lumayan banyak ma. Kalau lapar jangan ditahan ya ma," kata Regina. Mangkok berisi bubur sudah habis kini Regina membantu mama mertuanya itu minum air putih.


"Terima kasih ya Regina," kata mama Tika. Dia menatap wajah Regina dengan sedih.

__ADS_1


"Jangan berterima kasih ma. Ini adalah kewajiban ku sebagai anak," jawab Regina. Wanita itu juga mendadak sedih setelah mengatakan hal itu. Perkataannya barusan mengingatkan dirinya akan status rumah tangganya bersama Kevin. Statusnya sebagai menantu bagi ibu Tika akan otomatis terputus jika mereka bercerai nanti.


Mama Tika menatap wajah menantunya. Dia juga bisa melihat kesedihan di wajah Regina meskipun wanita itu menampilkan senyum manis jika mereka saling bertatapan. Mama Tika sudah bisa menebak apa yang membuat Regina sedih. Karena dirinya sakit juga karena mengetahui sikap Kevin dalam memandang arti pernikahan.


"Regina, kalau kamu mau cerita. Cerita saja pada mama. Mana tahu mama bisa membantu," kata mama Tika. Mama Tika sengaja memancing Regina untuk menceritakan seperti apa pernikahan yang dijalankan oleh Regina dan Kevin. Selama ini, mereka tidak mau ikut campur akan urusan rumah tangga Kevin dan Regina karena mama Tika dan pak Raka berpikir jika Regina pasti bisa meluluhkan hati Kevin.


"Tidak ada yang mau aku ceritakan ma. Semuanya baik baik saja."


Mengingat nasehat mama Siska. Sebenarnya Regina ingin menceritakan masalah rumah tangganya kepada mama mertuanya. Tapi karena mama Tika dalam keadaan sakit dan tidak ingin membuat wanita itu bertambah beban pikiran. Regina menunda keinginannya.


"Kamu tahu Regina. Mama sakit seperti ini karena mengetahui sedikit masalah dalam rumah tangga kalian," kata mama Tika membuat Regina menatap mama mertuanya.


"Mengetahui apa ma?" tanya Regina. Dia ingin tahu sejauh mana mama mertuanya itu mengetahui seperti apa masalah rumah tangganya.


Mama Tika memegang tangan Regina. Melihat Regina, mama Tika juga bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh Regina. Tapi saat ini apakah yang dia ketahui itu juga sudah diketahui oleh Regina membuat wanita itu tidak ingin mengungkapkan hal apa yang membuat dirinya sampai sakit.


"Mama tidak akan bertambah sakit jika kamu menceritakan masalah rumah tangga mu. Kedatangan mu ke rumah ini sudah bisa meyakinkan mama jika kamu adalah wanita yang baik dan hebat. Jadi jangan takut menceritakan apapun pada mama."


Regina terdiam. Dia memikirkan perkataan mama mertuanya.


"Ma, sampai saat kak Kevin belum bisa menerima keberadaan janin ku."


Mama Tika seketika menarik Regina dalam pelukannya. Mama Tika bisa merasakan bagaimana kesedihan dan sakit hati Regina Jika dirinya saja yang hanya sebagai nenek sangat sedih mengetahui sikap Kevin pada calon cucunya apalagi Regina yang mengandung janin tersebut. Hal itu juga lah yang membuat dirinya sakit saat ini. Ibu mana yang tidak terbebani pikiran jika putranya tidak menyayangi darah dagingnya sendiri.


Regina kembali menumpahkan tangisannya. Bukan mencari simpatik dari mama mertuanya tapi karena hatinya selalu sakit mengingat hal itu.


"Jika keberadaan kamu dan calon cucu mama tidak dianggap penting oleh Kevin. Tinggal lah disini sampai kamu melahirkan Regina," kata mama Tika.


Mama Tika sangat menghargai sikap Regina yang mau berterus terang daripada pergi jauh membawa janin itu dari keluarganya. Mama Tika menilai jika Regina sangat berpikir dewasa. Akan semakin repot urusannya jika Regina pergi jauh.


"Apa aku tidak merepotkan mama dan papa nantinya?" tanya Regina. Sejujurnya, dia juga ingin pergi dari rumah Kevin tapi Regina tidak tahu harus pergi kemana.


"Seorang anak tidak akan pernah merepotkan orangtuanya. Tinggal lah disini. Biarkan, Kevin sendirian di sana. Jika dia tidak menganggap kamu. Percayalah, mama sangat menyayangi kamu dan calon cucu mama. Jika suatu hari hubungan kalian memang harus berakhir. Maka hubungan kita tidak akan pernah berakhir. Janin ini yang menjadi pengikat diantara kita."


Regina menatap wajah mama mertuanya. Regina terharu melihat sendiri ketulusan hati mama mertuanya. Regina akhirnya menganggukkan kepalanya. Tinggal di rumah ini akan lebih baik daripada tinggal di rumah Kevin apalagi pulang ke rumah kedua orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2