
"Milik siapa ini?" tanya Pak Bayu dengan suara yang menggelegar sambil menunjukkan alat test kehamilan di wajah Regina dan Rina adiknya. Regina yang merasa itu miliknya hanya bisa menundukkan kepalanya dengan takut sedangkan Rina bingung dengan pertanyaan papanya itu.
"Emang ini apa pa?" tanya Rina dengan polos. Pertanyaan yang menegaskan jika Rina tidak mengerti akan alat itu. Ibu Siska yang sedari tadi menangis kini mengarahkan pandangannya kepada Regina. Wanita itu seakan yakin jika alat test kehamilan itu milik Regina.
"Rina masuk ke kamar mu," perintah pak Bayu. Dia sudah menemukan pemilik alat test kehamilan itu hanya melihat dan membandingkan sikap yang ditunjukkan oleh putrinya. Dengan wajah bingung, Rina masuk ke dalam kamarnya.
"Regina, jelaskan," kata Pak Bayu pelan. Nada suaranya melemas. Pak Bayu dan ibu Siska menatap putrinya dengan luka yang mendalam.
"Maafkan aku pa, ma."
Tidak ada gunanya membantah atau berusaha lagi menutupi kehamilan itu. Sejak awal, Regina sudah berusaha menutupi musibah yang menimpa dirinya tapi hari ini karena kecerobohan nya membuang alat kehamilan itu di keranjang sampah membuat rahasia yang berusaha dia tutupi harus diketahui oleh kedua orangtuanya saat ini.
"Jadi ini benar milik mu?" tanya ibu Siska dengan suara yang bergetar karena menangis. Dia berharap, Regina mengatakan bahwa alat kehamilan itu bukan miliknya. Tapi permintaan maaf dari putrinya itu sudah menegaskan alat itu miliknya.
Regina tidak menjawab. Wanita itu menangis terisak. Melihat luka di mata kedua orangtuanya. Tentu saja, Regina ikut terluka dan merasa bersalah. Dia juga tidak menginginkan hal seperti ini terjadi pada dirinya tapi yang namanya nasib siapa yang bisa mengelak.
"Jawab Regina," bentak Pak Bayu. Laki laki itu ingin jawaban yang pasti meskipun dia sudah menduga bahwa Regina benar benar hamil.
Regina terkejut mendengar suara pak Bayu yang membentak. Regina sampai menggigil ketakutan melihat amarah pak Bayu yang tidak pernah dia lihat seperti saat ini sebelumnya.
__ADS_1
"Pa, aku tidak menginginkan ini terjadi pada diriku. Ini benar benar musibah."
Plak.
Pak Bayu menarik putrinya dan memberikan tamparan sekali di pipi Regina. Rasa kecewa dan luka hati itu membuat pak Bayu tidak bisa mengontrol diri. Sementara ibu Siska hanya menatap Regina yang mengusap pipinya. Wanita itu tidak bisa membela Regina karena apa yang terjadi pada Regina saat ini adalah kesalahan yang sangat fatal yang membuat aib di wajah mereka.
"Begini balasan mu Regina kepada kedua orang tua mu. Kami bersusah payah mencari uang untuk kebutuhan Kita dan biaya pendidikan kalian bertiga. Tapi balasan mu memberikan aib kepada kami," kata Pak Bayu kecewa. Bagaimana susahnya mencari uang di perkotaan sudah dirasakan oleh pria itu. Pak Bayu berusaha bertahan demi keluarga dan biaya pendidikan anak anaknya. Dia berharap dengan ketiga anaknya bisa menjadi sarjana akan mempunyai kehidupan yang layak. Pak Bayu tidak ingin kehidupan anak anaknya kelak seperti kehidupan mereka saat ini.
"Siapa laki laki itu?" tanya Pak Bayu lagi. Regina semakin menundukkan kepalanya. Bibirnya berat untuk menyebut nama Kevin. Regina sangat pesimis jika Kevin akan bersedia bertanggung jawab akan kehamilan itu. Tadi siang, Regina sudah berusaha untuk memberitahukan kehamilan itu kepada Kevin tapi dirinya tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Kevin mengajak Melati terburu buru pulang dan tidak menoleh kepada dirinya sama sekali.
"Jawab Re, laki laki itu harus bertanggung jawab sebelum perut mu membesar," kata ibu Siska. Sejak menemukan alat kehamilan itu tadi sore, ibu Siska sudah tidak tahan untuk mengetahui siapa laki laki yang menghamili putrinya. Sebelum memanggil Regina dan Rina ke ruang tamu itu. Pak Bayu dan Ibu Siska juga sudah sepakat bahwa solusi dari masalah itu harus menikahkan putrinya dengan laki laki itu.
"Bodoh. Apa laki laki itu tidak bersedia bertanggung jawab. Bawa laki laki itu kemari. Atau kita yang menjumpai laki laki itu di rumahnya," kata Pak Bayu. Sebagai kepala keluarga. Laki laki itu berkewajiban menjaga harga diri dan nama baik keluarganya.
Regina masih menangis. Bagaimana dirinya membawa Kevin ke rumahnya jika laki laki itu saja tidak merasa melakukan hal itu.
"Begini nih, kalau anak gadis tidak dijaga dengan benar. Seenaknya saja memberikan ijin menginap di rumah Melati. Lihat lah ma, buah dari cara mendidik mu ini."
"Loh, papa kok melemparkan kesalahannya semua kepada ku. Regina bukan hanya sekali dua kali menginap di rumah Melati. Sejak mereka di bangku sekolah pa. Mama juga tidak akan mengijinkan Regina ke Sana kalau tidak Melati sendiri yang meminta ijin."
__ADS_1
"Justru disitu letak kesalahannya. Andaikan sejak awal kamu tidak memberikan ijin menginap di rumah orang lain. Mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Sekarang sudah terjadi. Regina hamil. Siap siap kita menanggung malu."
"Kalau seandainya mama tahu akan terjadi seperti ini. Mama juga tidak akan mengijinkan pa. Jangan melemparkan kesalahan hanya kepada ku saja. Seharusnya, papa juga harus menunjukkan keberatan jika tidak senang putri menginap di rumah Melati."
"Harusnya kamu yang lebih memperhatikan mereka. Aku lelah bekerja tapi yang aku dapat seperti ini. Dasar anak tidak tahu diri. Harusnya kamu sadar bagaimana keadaan keluarga kita Regina. Jika belum bisa membahagiakan orang tua sebaiknya jangan sampai menyusahkan."
"Papa jangan berkata seolah olah hanya papa yang bekerja. Aku juga bekerja."
Ibu Siska tidak terima jika dirinya disalahkan dengan masalah kehamilan Regina.
"Lihat Regina. Sebagai anak tertua seharusnya kamu memberikan contoh kepada adik adik mu. Tapi lihat, kamu justru memberikan aib bagi keluarga kita. Seharusnya kamu yang lebih peka melihat perjuangan kami untuk membesarkan kalian.".
Regina hanya mampu mendengar dan menyaksikan perdebatan kedua orangtuanya itu karena permasalahan yang menimpa dirinya. Dia memaklumi kemarahan kedua orangtuanya. Tanpa diingatkan, Regina juga sadar sudah memberikan contoh yang tidak baik kepada kedua orangtuanya.
"Aku memberikan waktu satu minggu kepada mi Regina, untuk membawa laki laki itu ke hadapanku. Jika tidak, silahkan angkat kaki dari rumah ini."
Berat tapi pak Bayu harus mengatakan hal itu. Andaikan tidak memikirkan dosa. Pak Bayu akan melakukan jalan pintas untuk mengatasi masalah itu.
Meskipun di dalam rahim putrinya hanya segumpal darah. Sebagai manusia yang beriman, Pak Bayu tidak akan berani membahayakan janin itu.
__ADS_1
Regina memberanikan diri menatap wajah papanya. Dua pilihan sulit yang harus dia pilih salah satu. Melihat kemarahan dan luka di sorot mata kedua orangtuanya. Regina berjanji dalam hati akan memberitahukan kehamilan itu kepada Kevin bagaimanapun caranya.