
Melati sudah selesai merias wajahnya. Sesuai dengan janjinya dengan Reza. Malam ini Melati akan keluar dengan laki laki itu. Melati menatap wajahnya di cermin. Penampilannya sudah hampir sempurna dengan riasan yang tipis di tambah dengan kaos yang pas badan dengan celana pendek model kulot pendek.
Entah mengapa, Melati tiba tiba merasa ada yang kosong dalam dirinya. Mungkin karena ini yang pertama dirinya keluar malam setelah mengetahui perbuatan Kevin kepada Regina membuat Melati mengenang kebersamaannya bersama Kevin.
Regina memandangi meja riasnya. Di meja itu masih ada parfum pemberian Kevin. Parfum yang dia semprotkan ke tubuh Regina malam itu. Aroma yang menyakinkan Kevin jika wanita yang dia tiduri adalah Melati.
Melati meraih parfum itu Sejak Kevin bukan lagi kekasihnya. Melati tidak pernah lagi memakai parfum itu. Melati mengamati parfum itu. Dulu, setiap dia keluar. Melati memakai parfum itu karena Kevin sangat menyukai aromanya. Tapi malam ini, Melati akan menghilangkan jejak Kevin dalam kehidupannya. Melati berencana akan memberikan parfum itu kepada si Bibi yang bekerja di rumahnya.
Regina membuka pintu rumah setelah mendapatkan pesan dari Reza jika laki laki itu sudah ada di depan rumah.
"Apakah aku terlambat?" tanya Reza dengan senyum manis di wajahnya. Laki laki itu memasukkan tangannya ke saku celana dan bersandar di motornya.
"Belum. Kami on time Za. Ayo berangkat!.
"Tunggu sebentar," kata Reza. Laki laki itu mendekati Melati dan tangan menahan pintu supaya tidak ditutup oleh Melati.
"Mau ngopi dulu di rumah Za?" tanya Melati. Melati terkekeh.
"Iya, biar hemat. Kita kan kencan bohongan. Kan keluar mau numpang foto saja. Jadi ngopi dulu sebelum berangkat. Kopi ada di rumah kan?"
"Tidak ada. Masuk dulu Za, Aku ke warung sebentar beli kopi."
"Ya ampun, sepolos itu dirimu Mel. Aku bercanda. Aku mau minta ijin dulu ke mama kamu mau bawa putrinya kencan bohongan."
Melati tertawa, Melati mempersilahkan Reza masuk ke dalam rumah dan membawa laki laki itu ke kamar mama Lena.
"Ma, Reza mau ngomong ma," kata Melati. Walaupun kesehatan mama Lena tidak menunjukkan perkembangan yang baik. Melati selalu mengajak mama Lena berbicara setiap hari. Wanita itu hanya bisa menatap tanpa menjawab.
"Tante, aku dan Melati keluar dulu ya. Jam sepuluh, Melati pasti sudah di rumah."
Melati tersenyum, meskipun Reza adalah pacar bohongan tapi laki laki itu tahu menghargai orangtuanya. Satu kelebihan Reza dibandingkan dengan Kevin. Sepanjang menjalin hubungan dengan Kevin. Tak sekali pun, Kevin bersikap seperti sikap Reza malam ini sebelum mereka pergi keluar rumah.
"Sebenarnya tanpa permisi juga tidak apa apa Za, toh mama ku tidak bisa menjawab atau bisa saja mama tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan tadi," kata Melati setelah keluar dari kamar mama Lena.
__ADS_1
"Tante Lena memang sakit Mel, tapi ada baiknya setiap kamu keluar rumah harus pamit kepada beliau. Sakit atau sehat, sebagai anak, kamu harus menghargai beliau meskipun dalam hal kecil."
Melati menganggukkan kepalanya. Reza adalah laki laki pujaan sahabatnya Regina. Tidak salah, Regina selalu membanggakan laki laki itu di hadapannya ternyata Reza tidak hanya pintar tapi berakhlak baik. Setelah Regina, maka Sasa yang akan menjadi wanita yang beruntung memiliki Reza nantinya. Akhir akhir ini, Reza dan sasa sangat dekat. Sering jalan bersama dan juga makan bersama di kantin kampus.
"Motor kamu Za?" tanya Melati ketika baru sadar di halaman rumahnya ada motor besar khas motor yang disukai para anak muda.
"Bukan. Minjam punya tetangga."
"Baik banget tetangga kamu Za."
"Ya. Sama baiknya seperti kamu."
"Hush, nanti baik kuping ku kalau kamu memuji." Reza tertawa. Laki laki itu sudah duduk di atas motor besar itu dan Melati sudah bersiap Naik ke atas motor.
Gerakan Melati berhenti. Melati menghembuskan nafasnya berat. Melati menatap tidak suka pada seseorang yang duduk di dalam mobil yang baru saja berhenti tidak jauh dari halaman rumahnya. Laki laki itu adalah Kevin. Dia sengaja lewat dari jalan itu hanya untuk melihat Melati.
"Cepatan Naik Mel. Peluk pinggang ku supaya laki laki itu percaya kita pasangan kekasih," kata Reza pelan. Ternyata, Reza juga melihat keberadaan Kevin di sana.
"Peluk Mel."
"Kamu mau curi curi kesempatan ya Za. Awas kamu ya!. Tanpa memeluk pun. Dia pasti percaya kita sudah pacaran. Ayo, jalan!.
Reza tertawa. Dan Melati meninju punggung laki laki itu.
Kevin melihat interksi Reza dan Melati itu. Hatinya memanas. Kevin melampiaskan rasa amarah dengan memegang setir dengan kuat dengan tatapan tajam pada pasangan kekasih palsu itu.
Reza menjalankan motornya bersamaan Kevin hendak turun dari mobilnya. Melihat motor itu langsung melaju kencang. Kevin mengurungkan niatnya turun dari mobil. Laki laki itu pun menjalankan mobilnya dengan kencang karena berniat mengikuti Melati dan Reza.
"Kita kemana nih?" teriak Melati. Jalanan yang sepi membuat Reza leluasa menjalankan motor itu dengan kencang.
Reza tidak menjawab. Saat ini dirinya juga sedang memikirkan tempat yang akan mereka kunjungi. Kevin mengikuti mereka dari belakang. Jika dibandingkan dengan kecepatan motor dengan mobil. Bisa saja, Reza membuat Kevin kehilangan jejak mereka. Tapi Reza sengaja memperlambat laju motornya. Seperti tujuan mereka berpacaran palsu. Reza ingin menunjukkan kepada Kevin jika dirinya dan Melati benar benar mempunyai hubungan.
"Za, dengar tidak?" teriak Melati lagi.
__ADS_1
"Dengar, tapi coba lihat di belakang kamu. Ada mantan mu."
Melati menoleh ke belakang. Ternyata benar, mobil Kevin mengikuti mereka.
"Di depan nanti ambil jalan ke ke kiri ya!" bisik Melati. Melati sengaja berbisik supaya terlihat mesra dari dalam mobil Kevin. Reza menganggukkan kepalanya. Dan tiba di persimpangan, Reza benar benar mengambil jalan ke kiri.
Melati terus mengarahkan Reza. Hingga pada akhirnya Melati meminta Reza untuk berhenti di depan sebuah rumah.
"Rumah siapa ini?" tanya Reza setelah motor berhenti.
"Rumah Kevin dan Regina."
"Apa?" tanya Reza. Dia menoleh ke belakang bersamaan dengan Kevin turun dari mobilnya.
"Ada apa kemari. Mau memamerkan kemesraan kalian?" tanya Kevin sengit.
"Bisa ya. Bisa tidak Vin. Yang pasti kami mau bertamu ke rumah kamu. Bisa kan?"
"Tidak bisa. Pergi dari sini sekarang juga," usir Kevin. Tapi Melati justru turun dari mobilnya. Ponselnya sudah terhubung pada nomor ponsel milik Regina.
"Re, aku di depan rumah mu. Buka pintu mu ya!" kata Melati begitu panggilan tersambung.
"Yuk sayang, Regina memperbolehkan kita bertamu di rumahnya," ajak Melati sambil menarik tangan Reza dengan lembut. Reza tersenyum. Reza merangkul Melati berjalan ke arah pintu rumah Kevin.
Kevin mengepalkan tangannya. Andaikan bukan Melati yang membuat dirinya marah saat ini. Bisa dipastikan cacian dan makian akan keluar dari mulutnya. Rasa sayang yang masih ada di hati Kevin untuk Melati membuat laki laki itu tidak bisa berbuat apapun.
"Mel, kamu datang. Aku senang," teriak Regina. Dia membentangkan tangannya dengan senyum manis di bibirnya. Dan senyum itu memudar menyadari ada juga Reza bersama sahabatnya. Bertemu dengan Melati adalah kerinduannya sedangkan bertemu dengan Reza adalah penderitaannya. Kalau bisa, untuk saat ini Regina tidak ingin bertemu dengan laki laki itu.
"Kak," kata Regina kepada Kevin. Laki laki itu mendekati Regina dan memberikan tasnya. Kevin mencium kening istrinya itu ketika Regina mengambil tas dari tangannya. Kevin sengaja melakukan itu untuk membuat Melati cemburu.
Ternyata Melati tidak cemburu. Melati melihat apa yang dilakukan oleh Kevin kepada Regina dengan tersenyum.
Regina terkejut dengan perlakuan manis suaminya. Sedangkan Kevin benar benar ingin menangis. Dia melihat tatapan Melati tidak seperti yang dulu lagi kepada dirinya. Kevin bisa merasakan jika cinta di mata Melati tidak ada lagi untuk dirinya.
__ADS_1