Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 42


__ADS_3

Adakah wanita yang menginginkan rumah tangganya hancur atau menginginkan melahirkan anak tanpa suami di sisinya?. Regina tidak menginginkan seperti itu tapi karena keegoisan dan sikap tidak dewasa Kevin membuat Regina mengambil keputusan besar ini. Dirinya sengaja diasingkan oleh kedua orangtuanya untuk supaya menjauh dari Kevin.


Berpisah dengan keluarga dan hidup di daerah yang baru tentu bukan hal yang mudah bagi Regina. Regina harus belajar beradabtasi. Selain itu, fasilitas kesehatan yang minim membuat Regina ragu untuk tinggal di kampung halaman neneknya.


Sepertinya tidak selamanya Regina hidup menderita. Meskipun dirinya harus tinggal jauh dari orangtua dan sahabat. Di tempat yang baru itu. Regina menemukan kenyamanan hidup. Tidak ada yang memandang dirinya rendah karena datang ke rumah sang nenek dalam keadaan hamil tidak didampingi oleh suami.


Hal itu karena Regina dan neneknya tidak menutupi kenyataan sebenarnya tentang Regina. Sang nenek menceritakan keberadaan Regina di desa itu karena menghindar dari suaminya.


"Perjalanan hidup seseorang tidak boleh dihina ataupun diejek. Karena kita tidak tahu seperti apa kehidupan yang kita jalani di hari esok," kata nenek Lisa pada beberapa warga desa yang penasaran karena kedatangan Regina di desa itu dengan perut membuncit.


Nenek Lisa tidak menceritakan sedetail mungkin permasalahan Regina dengan suaminya. Nenek Lisa sengaja berkata seperti itu karena ingin Regina menjalani kehamilan dengan tenang. Nenek Lisa tidak ingin kedatangan Regina di desa itu memperburuk mental cucunya. Sudah menjadi hal yang umum jika seorang wanita hamil tanpa dampingan suami akan dicap buruk. Dan nenek Lisa tidak mau itu terjadi.


"Benar Nek. Jangan kan kehidupan di masa mendatang. Apa yang terjadi pada kita satu jam kemudian saja kita tidak tahu. Ada baiknya sesama warga kampung disini, kita bisa saling memberikan support bagi siapa pun yang sedang menghadapi masalah seperti Regina ini," jawab salah salah satu warga yang ada di rumah nenek Lisa.


Regina dan Nenek Lisa merasa lega mendengar perkataan wanita itu.


"Semoga ada penyelesaian terbaik ya nek, atas masalah yang dihadapi adik Regina ini."


"Kalau butuh bantuan jangan sungkan sungkan ya!"


"Terima kasih semuanya," kata nenek Lisa.


Regina menatap kagum pada neneknya itu. Awalnya, Regina tidak setuju jika mengumbar masalah ke warga sekitar. Ternyata pemikiran nenek Lisa sangat baik untuk kenyamanan dirinya di desa itu. Setidaknya dengan berterus terang seperti ini, orang orang tidak akan memfitnah atau menduga duga sendiri.


Tiga hari di desa itu, Regina benar benar merasa nyaman meskipun terkadang hatinya masih sakit jika mengingat penolakan Kevin akan janinnya.


Hal yang berbeda yang dialami oleh Kevin. Bayang bayang Regina meninggalkan dirinya di depan rumahnya sendiri membuat Kevin tidak tenang. Sudah tiga hari, dirinya berkunjung ke rumah orang tua Regina untuk memohon memberitahukan tentang keberadaan Regina.


"Harusnya, kami yang bertanya kepada mu Kevin. Kamu adalah suaminya, kamu sendiri yang melihatnya pergi. Lalu mengapa kamu datang kemari. Jangan tunjukkan wajah mu jika tidak membawa putri ku ke rumah ini," kata Pak Bayu. Kevin telah menceritakan jika Regina sempat pulang ke rumah.


Pak Bayu berpura pura tidak mengetahui tentang keberadaan Regina. Pak Bayu juga marah hanya melihat wajah Kevin. Melihat Kevin, wajah kesedihan Regina terbayang bayang di benaknya.


"Saat itu, ada dua orang laki laki yang menunggu Regina Pak."


"Aku tidak mau tahu dan tidak mau mendengar alasan apapun. Aku mengantarkan Regina menjadi istrimu. Jika ingin menceraikan putriku. Maka antarkan Regina secepatnya ke rumah ini."


"Pak, aku mohon. Bantu aku mencari keberadaan Regina. Mana tahu, Regina pergi ke rumah salah satu kerabat Pak."


"Kamu memohon mencari Regina kepadaku. Sekarang tanya hatimu, mengapa putriku pergi. Kalau kamu memperlakukan Regina dan calon anak mu layak sebagai istri. Regina tidak mungkin pergi. Kamu mengharapkan dia pergi dari sisimu kan. Sekarang saatnya kamu bisa mewujudkan keinginan mu itu. Pergilah, raih kebahagiaan mu dengan Melati," kata Pak Bayu lagi.


Kevin terdiam. Sejak dirinya menyadari ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya sejak Regina pergi dari rumah. Nama Melati seperti tersisihkan dari hatinya. Dan ketika mendengar nama Melati disebut saat ini, di pikiran Kevin yang ada tetap hanya Regina.


"Aku pergi dulu pak. Mungkin Regina ada bersama Melati saat ini," kata Kevin lesu.


Pak Bayu dan ibu Siska hanya menganggukkan kepalanya. Melihat Kevin seperti itu, tidak ada rasa kasihan di hati kedua orangtua Regina itu. Sakit hati Regina tidak sebanding dengan kegelisahan Kevin saat ini.

__ADS_1


"Ya ampun. Mengapa jadi rumit seperti ini," kata Kevin di dalam mobilnya. Karena tidak mendapatkan keberadaan Regina. Kevin kesal hingga memukul setir mobilnya.


Seharusnya tidak seperti ini. Regina sudah pergi. Seharusnya dirinya semakin tenang dan berbahagia. Dan dirinya bisa meyakinkan cintanya pada Melati. Tapi yang terjadi, Kevin seperti orang yang kebingungan. Karena kebingungan dan kegelisahan yang dia rasakan bersamaan, apa yang ada di pikiran Kevin tidak sejalan dengan apa yang dia lakukan.


Seperti saat ini, di pikirannya hendak ke rumah Melati. Tapi kaki dan tangannya membawa Kevin ke rumah orangtuanya.


"Bagaimana, sudah ada kabar tentang Regina?" tanya pak Raka. Kevin menggelengkan kepalanya dengan lesu.


Laki laki itu menghempaskan tubuhnya ke soda berhadapan dengan kedua orangtuanya.


"Mama yang menyembunyikan Regina kan?" tanya Kevin penuh kecurigaan. Tiba tiba muncul di pikiran Kevin jika kedua orangtuanya sengaja menyembunyikan Regina dari dirinya. Kevin sangat yakin ketika Regina menginap di rumah itu selama tiga hari, Regina pasti sudah menceritakan tentang masalah rumah tangga mereka.


"Mengapa kamu tidak mempercayai mama Kevin. Mama sudah bilang jika Regina tidak datang lagi ke rumah ini," kata ibu Tika dengan kesal. Karena kemarin ibu Tika menceritakan bahwa Regina berada di rumah itu selama tiga hari, Kevin selalu mendesak ibu Tika untuk memberitahukan keberadaan Regina setiap hari laki laki itu datang selama tiga hari ini.


"Jadi, dimana Regina sekarang ma?" tanya Kevin frustasi. Ibu Tika menggelengkan kepalanya melihat sikap Kevin itu. Kevin masih saja terlihat tidak mempercayai dirinya padahal dua hari yang lalu ketika Kevin mencari Regina ke rumah itu. Kevin sudah memeriksa setiap sudut rumah bahkan memeriksa chat antara ibu Tika dan Regina. Hasilnya sudah nihil tapi Kevin masih saja meragukan kedua orangtuanya.


"Kevin, jangan berpikir seolah olah kami yang menyembunyikan Regina dari kamu. Kami tidak mengetahui keberadaan Regina. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui. Regina pergi karena sudah sangat sakit hati. Andaikan kesalahan mu masih bisa dimaafkan. Regina pasti menunggu maaf dari kamu. Dan sebagai orangtua. Papa juga sangat kecewa pada kamu Kevin. Dimana mana anak adalah sumber kebahagiaan dan penyemangat kedua orangtuanya. Tapi kamu tanpa perasaan menyebutkan jika janin itu adalah penghambat kebahagiaan. Sekarang, Regina sudah pergi. Ceraikan dia secepatnya supaya kamu bisa menikahi Melati."


"Pa, kami sudah sepakat bercerai setelah anak itu lahir. Jadi tidak ada alasan Regina pergi secepat ini pa."


Plak. Plak


Ibu Tika tidak bisa menahan diri untuk tidak menampar pipi putranya itu.


"Kalau keputusan kamu masih seperti itu. Jadi untuk apa kamu mencari Regina sekarang. Bertahan sampai melahirkan. Itu sangat menyakitkan bagi Regina. Kevin, mengapa hatimu sangat buta Kevin. Mengapa kamu tidak bisa menerima pernikahan kamu dengan Regina adalah takdir. Apa perlu aku berbicara dengan Melati?. Dia kah yang membuat kamu seperti ini, Kevin?" tanya ibu Tika dengan suara yang deras.


"Ayo pa," ajak ibu Tika pada pak Raka yang kelihatan bingung dengan sikap istrinya. Pak Raka menurut.


"Sekarang, Kita ke rumah Melati. Kunci pintunya pa," kata ibu Tika lagi sambil mendorong Kevin menuju mobil pak Raka.


"Untuk apa kita kesana ma?" tanya Kevin. Pak Raka yang mendengar perkataan istrinya, masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil.


"Melamar Melati untuk kamu. Ini kan yang kamu mau?"


"Ma, kok seperti ini sih. Aku kan mencari Regina kemari. Mengapa jadi diajak ke rumah Melati?" tanya Kevin protes.


"Diam. Bukankah yang ada di pikiran kamu. Melati, Melati dan Melati. Regina pergi supaya kamu bisa mewujudkan kebahagiaan kamu bersama Melati. Jadi, jangan buat pengorbanan Regina sia sia."


"Mama, jangan bawa Melati dalam urusan ini ma. Aku bisa menyelesaikan masalah ku sendiri."


"Masuk Kevin. Jangan banyak bicara kamu. Jika kamu bisa menyelesaikan masalah mu tak seperti ini yang terjadi sekarang. Regina tidak akan pergi."


Kini pak Raka yang berbicara dan mendorong tubuh Kevin masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil, Kevin bergerak gelisah. Dirinya memang berencana ke rumah Melati jika sudah pasti Regina tidak ada di rumah kedua orangtuanya. Dan tujuannya ke rumah Melati tentu saja mencari Regina. Dan jika tujuan kedua orangtuanya benar benar melamar Melati untuk dirinya, Kevin tiba tiba merasa masalah akan semakin rumit jika Regina ada di rumah Melati.

__ADS_1


"Ya ampun, harusnya aku senang kan kalau mama dan papa juga berusaha untuk menyatukan aku dan Melati. Tapi mengapa yang aku rasakan seperti ini?" tanya Kevin dalam hati. Kevin semakin bingung dengan perasaannya saat ini. Kalau dulu, dirinya menggebu gebu ingin bertemu dengan Melati tapi saat ini, Kevin justru ingin bertemu dengan Regina.


Sepasang perjalanan itu. Kevin tidak menyimak pembicaraan antara papa dan mamanya. Dia sibuk mengingat malam malam yang dia lalui bersama Regina selama tiga bulan bersama dalam satu ranjang.


Sikap Regina yang tersenyum malu malu setiap mereka selesai melakukan kewajiban suami istri kemudian menarik tangannya untuk mengelus perut istrinya itu. Kevin juga mengingat ketika mereka menonton bersama, Regina tiba tiba menarik tangannya untuk mengelus perutnya yang ternyata saat itu janinnya sedang bergerak. Seketika, Kevin seperti bisa merasakan nyata pergerakan janinnya di tangannya.


Kevin menundukkan kepalanya. Tidak bisa dipungkiri hingga saat ini dirinya menginginkan calon anaknya itu cepat lahir karena dia ingin calon anaknya itu seperti Bella nantinya yang cantik dan pintar.


"Turun," perintah ibu Tika sambil menyentuh lengannya. Kevin memandang ke arah luar, ternyata benar. Pak Raka dan ibu Tika membawa dirinya ke rumah Melati. Kevin ragu untuk keluar mengikuti kedua orangtuanya yang sudah turun dari dalam mobil.


"Ayo turun. Apakah pujaan hatimu itu yang harus menyuruh kamu turun supaya kamu bersedia turun?" tanya ibu Tika sinis. Kevin akhirnya turun dengan mulut yang komat kamit karena merasa kesal dengan paksaan kedua orangtuanya itu.


Pintu rumah Melati terbuka menampilkan wajah wanita itu di sana. Menyadari siapa tamunya malam itu. Melati mendadak bingung dan mempersilahkan tamunya itu untuk masuk.


"Langsung saja ya Melati. Kita tidak perlu berbasa basi. Kedatangan kami kemari untuk bertanya bagaimana sebenarnya status hubungan kamu dan Kevin saat ini," kata ibu Tika.


Ibu Tika sengaja bertanya seperti itu kepada Melati supaya dirinya tidak salah mengambil keputusan nantinya. Ibu Tika hanya mengetahuinya jika Regina dan Melati adalah bersahabat tapi wanita itu tidak mengetahui bagaimana perjuangan Melati supaya Kevin bisa menerima pernikahannya dengan Regina selama ini.


Melati tentu saja bingung dengan perkataan ibu Tika. Melati menatap wajah tiga tamunya itu bergantian.


"Tante, sejak aku mengetahui jika Kevin adalah ayah dari janin yang dikandung oleh Regina. Sejak saat itu, aku merasa tidak ada hubungan lagi dengan Kevin."


Melati menjawab yang sejujurnya meskipun dia tidak tahu apa yang menjadi alasan Kevin dan kedua orangtuanya datang ke rumahnya.


"Maaf jika pertanyaan tante agak sensitive. Selama kalian berpacaran apakah hubungan kalian masih normal sebatas pacaran pada umumnya?" tanya ibu Tika lagi. Ibu Tika ingin mengetahui seberapa dalam hubungan Kevin dan Melati selama berpacaran dulu. Ibu Tika sudah menduga dalam hati jika hubungan Kevin dan Melati sudah sangat dalam sehingga Kevin merasa bersalah jika tidak menikahi Melati.


"Kami berpacaran normal selayaknya pacaran pada umumnya Tante."


Ibu Tika terdengar menarik nafas lega sedangkan Kevin menundukkan kepalanya.


"Apakah kamu tahu jika Regina pergi dari rumahnya?" tanya ibu Tika.


"Regina pergi Tante?. Aku tidak tahu," kata Melati terkejut.


"Regina sudah pergi selama tiga hari. Dan selama tiga hari itu juga Kevin sangat panik mencari Regina," kata ibu Tika sambil menatap wajah Melati. Ibu Tika ingin memastikan jika apa yang dikatakan Melati jika dirinya dan Kevin tidak berhubungan lagi terlihat di wajah Melati.


Ternyata apa yang dikatakan oleh Melati benar. Tidak terlihat di wajah wanita itu kecemburuaan ketika mengetahui jika Kevin panik mencari keberadaan Regina. Yang ada Melati tersenyum.


"Itu artinya sudah mulai mencintai Regina, tante," jawab Melati.


Kevin seketika memegang dadanya mendengar perkataan Melati itu. Jantungnya berdetak dua kali lipat. Benarkah dia sudah mulai mencintai Regina?. Pertanyaan itu kini muncul di pikiran Kevin.


"Asal kamu tahu Melati, kepergian Regina karena mengetahui Kevin beranggapan jika janin itu adalah penghambat kebahagiaan Kevin dan kamu."


Senyum di wajah Melati hilang. Dia menatap Kevin dengan marah.

__ADS_1


"Kevin, kamu menjadikan aku seolah olah wanita yang tidak berperasaan. Kamu tega pada janin yang belum lahir itu beranggapan seperti itu?" tanya Melati marah.


__ADS_2