
Kesedihan dan kesepian itu sangat terasa setelah mama Lena dimakamkan. Melati merasa dirinya hampa dan bersemangat. Seluruh jiwanya seperti ikut terkubur bersama mama Lena. Tidak bisa lagi dirinya melihat wajah sang mama. Dirinya tidak direpotkan lagi mengurus wanita itu. Dan hanya kerinduan yang tinggal di hatinya.
Melati menggenggam tanah yang menutupi tubuh wanita yang melahirkan nya itu. Hari ini dan seterusnya, jika dia ingin melihat wajah sang mama. Dirinya hanya bisa melihat tumpukan tanah itu. Membayangkan hal itu. Tangisan Regina semakin terdengar di area pemakaman itu. Kerabat hanya bisa menghibur tapi tidak langsung membuat Regina merasa terhibur.
Dan sepertinya, Melati memang benar benar bisa menghargai orang orang yang perduli kepada dirinya. Meskipun hatinya dalam keadaan sedih, dia menghargai semua kerabat yang ikut mengantarkan mama Lena ke peristirahatan terakhir.
Melati menurut pada kerabat yang mengajak dirinya untuk segera pulang. Masih dengan suara tangisan dan berat meninggalkan mamanya. Melati akhirnya masuk ke dalam mobil. Tanpa sepengetahuan Melati,. Reza juga Ikut ke pemakaman itu dengan menumpang Mobil lain.
Tiba di rumah, Melati baru menyadari jika Kevin ternyata ikut ke pemakaman. Tapi hal itu tidak mengurangi kesedihan Melati. Di jam sepuluh malam, semua kerabat bersiap meninggalkan Melati di rumah ini tanpa ada yang berniat satu pun untuk menemani Melati di rumah itu melewati malam tanpa mama Lena untuk yang pertama kalinya.
Reza juga tidak bisa berbuat apa apa. Andaikan siang Hari, Reza rela tidak mengikuti perkuliahan asalkan bisa menemani Melati. Tapi ini malam hari, hal yang tidak memungkinkan untuk berduaan di rumah itu meskipun Melati dalam suasana duka. Dengan berat hati, Reza meninggalkan Melati sendirian di rumah itu.
Besok paginya apa yang dialami oleh Melati menjadi perbincangan untuk Rani dan ibu Tika yang sudah tiba di ruangan Regina untuk berjaga.
"Serius kamu Ran, mamanya Melati sudah meninggal?. Kapan?" tanya ibu Tika terkejut. Dia baru mendapatkan berita itu dari Rani.
"Semalam tante, aku pun baru tahu tadi malam dari kak Reza. Tapi mama dan papa juga tidak sempat ke Sana karena berita itu kamu dapat sudah jam sembilan. Mungkin nanti sore mama dan papa ke sana Tante."
Ibu Tika terdiam, ada rasa sedih di hatinya mendengar Melati kehilangan mama Lena. Meskipun begitu, tidak ada niat wanita itu untuk mengunjungi Melati karena dia ingin fokus kepada Regina. Ibu Tika keluar dari ruangan itu. Dia menjumpai seorang perawat di bagian informasi.
"Sus, tadi malam di kamar anggrek, keluarga pasien berjaga sepanjang malam kan," tanya ibu Tika. Dia ingin memastikan jika Kevin tidak meninggalkan Regina demi menghibur Melati.
"Maaf bu, Saya shift pagi. Jadi saya tidak tahu," jawab suster itu. Jawaban yang sangat kurang memuaskan bagi ibu Tika. Wanita itu pergi ke arah lain untuk mencari siapa yang bisa ditanya untuk memastikan bahwa Kevin berjaga sepanjang malam. Hingga ibu Tika berjumpa dengan satpam di lobby rumah sakit. Wanita itu menanyakan hal yang sama tapi tetap saja dirinya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan karena jawaban satpam itu sama dengan jawaban suster. Tidak tahu karena pergantian shift.
Ibu Tika memegang ponselnya dengan erat, dia ragu untuk bertanya akan hal itu ke Kevin sendiri. Dia tidak ingin putranya itu mengetahui jika dirinya masih mencurigai Kevin dan Melati masih berhubungan.
Di dalam ruangan Regina. Tanpa sepengetahuan Rani. Regina membuka matanya perlahan. Selama koma, dia bisa mendengar suara suara secara samar samar di sekitarnya dan tanpa mengenali si pemilik suara tidak terkecuali suara Rani dan ibu Tika yang membicarakan tentang kematian mama Lena.
Mendengar berita kematian mama Lena, keinginan Regina untuk ikut berkomentar sangat kuat. Regina merasakan kelelahan untuk mengeluarkan suara hingga hanya kedua matanya yang bisa di buka.
Regina tersadar dari koma hanya mendengar kematian mama Lena. Di pikirannya hanya Melati yang saat ini pasti sangat sedih. Regina meneteskan air matanya. Dia menatap sekeliling dan melihat adiknya itu yang sedang serius bermain dengan ponselnya.
Regina masih membiarkan dirinya larut dalam kesedihan itu sehingga dirinya terisak sambil menatap langit langit kamar itu. Dia sadar dengan kondisi yang saat ini, dia tidak bisa berbuat apa apa selain berbaring di tempat tidur itu menunggu kesembuhan datang. Regina meraba perutnya, ketika merasakan perutnya masih membuncit, wanita itu merasa lega dalam tangisan.
"Melati."
Akhirnya Regina berhasil menyebut nama sahabatnya itu. Hal itu membuat Rani menegakkan tubuhnya dan sangat senang ketika melihat Regina sudah tersadar dari koma.
"Mbak, akhirnya mbak sadar," kata Rani. Wanita itu memeluk Regina dengan senang. Tangannya langsung mengetikkan pesan kepada kedua orangtuanya untuk mengabarkan kabar bahagia itu.
"Mbak, sebentar ya. Aku panggil dokter," kata Rani lagi. Karena sangat senang, Rani sampai lupa jika ruangan itu dilengkapi alat khusus untuk berbicara dengan suster tanpa keluar dari ruangan.
Ibu Tika tidak kalah senang melihat Regina tersadar dari koma. Wanita itu bahkan sampai meneteskan air Mata terharu. Menunggu Regina selama empat hari koma seperti menunggu satu tahun. Wanita itu terus mengucap syukur sambil mencium wajah menantunya itu dan sesekali mengelus perutnya Regina. Wanita itu semakin senang ketika tangannya merasakan pergerakan janin itu. Ibu Tika merasa lega keadaan Regina yang koma tidak berpengaruh pada janinnya itu.
"Kevin harus tahu jika istrinya sudah sadar," kata ibu Tika sambil menekan tombol panggilan di layar ponselnya. Ibu Tika terlihat tidak sabaran menunggu Kevin menjawab panggilan itu.
"Kemana dia, mengapa tidak diangkat?" batin ibu Tika. Dua kali melakukan panggilan ke nomor Kevin dan dua Kali itu juga panggilan tidak dijawab. Akhirnya, ibu Tika mengirimkan pesan memberitahukan keadaan Regina kepada putranya. Dalam hati, ibu Tika sudah menduga jika Kevin bersama Melati saat ini.
"Perkembangan kesehatan pasien mengalami kemajuan pesat. Pasien tergolong cepat tersadar dari koma jika dibandingkan dengan kasus serupa. Untuk keadaan janin, nanti sore, dokter specialis kandungan yang melakukan pemeriksaan," kata dokter itu. Ibu Tika menganggukkan kepalanya. Penjelasan dokter sudah cukup jelas. Dan kini pikiran hanya tertuju pada Kevin yang belum membaca pesannya.
"Kamu merasakan sakit mbak. Beritahu dokter," kata Rani. Regina hanya menunjuk kepalanya. Kepalanya terasa pusing jika diangkat.
"Itu Hal biasa dialami oleh pasien yang baru tersadar dari koma," kata dokter itu. Rani dan ibu Tika kembali menarik nafas lega.
__ADS_1
"Ma, Melati," kata Regina setelah satu jam tersadar. Rani menatap wajah Regina. Dia ingin memberitahukan tentang kematian mama Lena tapi Rani merasa tidak sanggup mengatakan hal itu karena Regina baru tersadar.
"Jangan pikirkan Melati dulu. Pikirkan kesehatan kamu dan janin mu. Nanti, Rani akan mengabari Melati tentang keadaan mu," kata ibu Tika. Wanita itu semakin kesal kepada Melati karena masih saja berhubungan dengan putranya sedangkan Regina menganggap Melati benar benar sahabat. Bahkan di saat tersadar seperti ini, nama wanita itu yang disebut oleh Melati. Sebegitu tulus Regina terhadap Melati.
Pemikiran ibu Tika masih saja berputar putar tentang hubungan Kevin dan Melati.
"Ran, mama Lena," kata Regina lagi. Rani menatap ibu Tika untuk meminta persetujuan wanita itu untuk memberitahukan kenyataan yang sebenarnya tentang mama Lena.
"Sebenarnya, tante Lena sudah meninggal mbak."
Regina menatap langit langit kamarnya itu. Dia hanya ingin memastikan suara samar samar yang dia dengar tentang mama dari sahabatnya itu. Seperti kata ibu Tika. Regina ingin fokus dulu akan kesehatannya. Dia tidak bisa menghibur Melati dalam keadaan sakit seperti ini. Dia tidak bisa menemui dan memeluk sahabatnya itu.
Regina berusaha menahan air matanya supaya tidak terjatuh lagi. Dia berusaha berpikir positive jika apa yang terjadi pada mama Lena. Itu merupakan hal yang terbaik bagi mama Lena. Regina sendiri bisa melihat mama Lena sangat tersiksa akan penyakitnya itu.
Regina mengarahkan mata ke pintu ruangan. Dia tentu saja melihat sendiri ibu Tika menghubungi laki laki penanam benih di rahimnya itu. Meskipun dia sudah koma selama empat hari. Regina tidak lupa akan Kevin dan segala perbuatan laki laki itu kepada dirinya. Harapan Kevin supaya Regina tidak lupa ingatan terkabul.
Baru saja, Regina memikirkan laki laki itu. Wajah Kevin muncul di pintu ruangan itu. Laki laki itu tertegun sejenak seperti tidak percaya dengan penglihatannya. Tapi ketika Regina memalingkan wajahnya. Kevin baru percaya jika Regina sudah sadar dari koma. laki laki itu berjalan cepat menuju tempat tidur Regina.
"Sayang, kamu sudah sadar. Terima kasih karena kembali," kata Kevin senang. Rasa cinta yang bersemi di hatinya membuat Kevin mengungkapkan rasa senangnya itu dengan memanggil Regina dengan sebutan sayang.
Kevin tidak memperdulikan sekitarnya. Meskipun ibu Tika dan Rani ada di ruangan itu. Kevin tidak canggung mencium seluruh wajah istrinya itu. Pipi, mata, kening dan Kevin juga mencium bibir istrinya itu sekilas. Setelah puas mencium wajah dan tangan Regina. Kevin juga menyalurkan kasih sayangnya pada sang janin. Kevin mengelus perut Regina dengan lembut kemudian menciumnya.
"Maafkan papa ya nak. Papa sudah jahat kepada mu ya. Papa janji, setelah kamu lahir nanti. Papa adalah orang yang paling sayang kepada mu. Ayo, bergerak nak. Papa ingin merasakan gerakan mu," kata Kevin. Terlihat jelas penyesalan di wajah laki laki itu tapi Regina tidak melihatnya. Wanita itu masih betah memandang dinding bercat putih itu dibandingkan memandang wajah ayah dari janinnya.
"Re, penyesalan ku tidak terlambat kan. Aku minta maaf sayang. Aku benar benar salah dan menyesal. Aku baru sadar setelah kamu pergi. Aku hanya mengharapkan kamu yang menjadi pendamping ku hingga tua. Maafkan aku ya Re," kata Kevin.
Laki laki itu menggenggam erat tangan Regina. Regina terlihat tidak nyaman dengan semua perlakuan Kevin itu tapi tubuh dan mulutnya tidak mempunyai tenaga untuk menolak.
Regina masih sakit hati. Berpisah selama dua bulan tidak lantas dirinya bisa melupakan semua rasa sakit yang karena sikap Kevin. Dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Kevin saat ini tapi itu semua juga tidak langsung membuat Regina percaya.
"Apa sih ma. Aku masih mau bersama Regina," kata Kevin. Dia merasa terganggu dengan ajakan ibu Tika yang harus berbicara di luar ruangan.
"Jangan bilang, kamu mau bersama Regina tapi hati mu masih mengharapkan Melati. Atau jangan jangan kamu baru dari rumah Melati kan?" tanya ibu Tika penuh selidik.
"Ma, antara aku dan Melati itu tidak ada lagi hubungan apapun ma. Jangan memperumit masalah dengan dugaan dugaan mama itu. Jangan sampai Regina mengetahui dugaan mama itu sehingga mempersulit Regina memberikan maaf kepada ku," kata Kevin. Ibu Tika menatap wajah Kevin melihat keseriusan putranya itu.
"Awas saja kalau aku tahu kamu mengharapkan wanita itu. Melati yang akan mendapatkan kemarahan ku jika kamu masih saja mengejar dia," ancam ibu Tika.
"Satu lagi, kamu sudah mengetahui mamanya Melati sudah meninggal?" tanya ibu Tika lagi. Kevin terkejut dengan berita itu kemudian Kevin menggelengkan kepalanya. Dia belum tahu berita itu. Sedih, tentu saja Kevin sedih mengetahui kabar itu. Dan untuk menghindari kecurigaan Regina dan keluarganya. Kevin tidak akan menemui mantan kekasihnya itu.
Di saat ibu Tika masih dengan dugaannya tentang Kevin dan Melati. Regina harus menahan rasa sakit yang dahsyat di area bawah perutnya. Rasa sakit itu membuat Regina harus mengeluarkan keringat sebesar biji jagung di saat tubuhnya masih harus berjuang untuk pulih.
"Mbak, apa yang terjadi. Kenapa mbak seperti ini," tanya Rani panik. Regina mengerang kesakitan. Rani berlari panik keluar dari ruangan itu sambil memanggil dokter.
Suara Rani itu terdengar hingga ke telinga Kevin dan ibu Tika. Ibu dan anak itu terkejut Dan langsung berlari ke ruangan Regina.
"Ada apa sayang?" tanya Kevin. Regina masih saja mengerang kesakitan. Kevin sampai menangis melihat keadaan Regina yang sangat menyedihkan. Keringat sebesar biji jagung dengan wajah pucat dan terkadang tubuhnya bergetar karena kesakitan.
"Jangan panik nak. Coba tarik nafas. Sepertinya kamu mau melahirkan," kata ibu Tika. Melihat pergerakan janin Regina yang tidak biasa, ibu Tika menduga jika menantunya itu sudah mengalami Kontraksi.
"Melahirkan ma?. Dalam keadaan sakit seperti ini. Ya ampun. Kasihan sekali kamu sayang," kata Kevin sambil mengusap keringat yang mengalir di pelipis Regina.
Kevin mempersilahkan dokter memeriksa istrinya. Regina harus dibawa keluar dari ruangan itu untuk melakukan pemeriksaan kandungan di ruangan berbeda.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa sayang. Tolong bertahan demi anak kita," kata Kevin.
Baru saja dirinya merasakan kebahagiaan karena Regina sudah tersadar dari koma kini Kevin harus kembali merasakan ketakutan akan keselamatan istrinya dan calon anaknya.
Ketakutan itu akan menjadi jadi ketika dokter memberikan pilihan kepada Kevin untuk memilih siapa yang akan diselamatkan antara Regina atau calon anaknya.
"Tolong dua duanya dokter. Aku sudah menyakiti mereka berdua dan aku ingin menebus kesalahan ku kepada istri dan calon anakku," kata Kevin. Tapi dokter itu hanya menegaskan pilihannya hanya satu.
"Selamatkan ibunya," kata Kevin akhirnya. Biarlah dia menerima kemarahan Regina nantinya karena mengorbankan calon anaknya.
Pilihan yang berat bagi Kevin tapi hatinya memilih Regina untuk diselamatkan. Di depan ruangan Caesar itu. Ibu Tika menangis dengan doa doa didalam hatinya. Sama seperti ibu Tika dan Kevin. Rani hanya bisa memandangi pintu ruangan Caesar itu.
Kevin menjauh dari depan ruangan Caesar itu. Bukan tidak ingin menunggu Regina, tapi Kevin sangat kecewa pada dirinya sendiri. Di sudut rumah sakit yang agak jauh dari depan ruangan Caesar itu. Kevin menangis. Hatinya patah karena sikapnya sendiri. Dirinya benar benar menolak buah hatinya itu. Kalau dulu dia menolak janin itu supaya tidak bersama dengan Regina. Kini dia menolak janin itu karena ingin bersama Regina. Kevin merasa jika dirinya benar benar dipermainkan oleh takdir.
Seketika Kevin mengingat perkataan Regina saat hendak meninggalkan rumahnya.
"Kak, kalau kamu ingin melihat aku selamat melahirkan janin ini. Jangan halangi aku pergi. Tapi jika kamu mengharapkan hal buruk terjadi padaku. Aku akan tetap tinggal di rumah ini. Kamu tahu mengapa kak?. Melihat kamu luka hati ini seperti disiram air cuka. Jadi pilih kak,"
Kata kata Regina itu terngiang di telinganya. Mungkinkah Regina tiba tiba kesakitan karena melihat dirinya?.
Kedua orangtua Regina dan Nenek Lisa juga tidak kalah sedih mengetahui kenyataan. Niat mereka ingin melihat Regina tersadar dari koma yang ada mereka mendapatkan kenyataan jika calon anaknya akan dikorban demi keselamatan Regina.
Sepertinya hari itu benar benar hari kesedihan. Keluarga Regina dan Kevin bersedih karena keadaan Regina Dan calon anaknya. Melati juga masih bersedih dengan kepergian mama Lena. Jika mengetahui keadaan Regina. Bisa dipastikan, wanita itu juga akan bersedih.
Dan yang membuat Melati bersedih selain kepergian sang mama adalah kedatangan pamannya dari luar provinsi.
Laki laki itu biasa dipanggil dengan paman Rian adik dari papanya Melati. Dia terlambat datang karena berdomisili di luar Kota.
Kedatangannya bukan menghibur Melati Melainkan menambah luka dan kesedihan wanita itu. Paman Rian mengatakan jika papanya Melati semasa hidupnya mempunyai hutang kepada dirinya dan belum dilunasi. Dan sebagai gantinya rumah yang ditempati oleh Melati menjadi penebus hutang dan sampai tamat kuliah, Melati diijinkan tinggal di rumah itu.
"Paman tidak ada bukti. Jadi tidak ada alasan ku memberikan sertifikat rumah kepada paman. Ini adalah warisan satu satunya dari kedua orangtuaku. Jadi aku tidak memberi rumah ini kepada siapapun termasuk paman," kata Melati. Airmatanya belum kering tapi saudara kandung papanya sudah menambah air matanya.
Melati terus mengarahkan pandangannya ke arah pintu rumah. Mengetahui maksud jahat paman dan tantenya. Melati sudah mengirimkan pesan kepada Reza untuk menemani dirinya.
Melihat ambisi paman dan tantenya. Melati takut. Paman dan tantenya itu khilaf dan melakukan kejahatan fisik kepada dirinya. Dengan adanya Reza di rumah itu. Setidaknya ada saksi akan keserakahan paman Rian dan istrinya.
"Jangan keras kepala kamu Indah. Seharusnya kamu bisa membalas kebaikan kami dengan memberikan rumah ini. Kamu juga masih bisa menempati rumah ini," kata paman Rian.
"Kebaikan seperti apa yang paman katakan. Bertahun tahun mamaku Sakit setelah ditinggal papa. Apa kalian pernah memberikan perhatian. Sesudah meninggal kalian muncul tapi bukan menghibur aku tapi mau merampas harta warisan. Papa tidak mungkin bodoh meminjam uang kepada kalian dan tidak membayar," jawab Melati. Dia bukan anak kecil lagi yang gampang ditipu.
"Paman dan tante tidak mau tahu. Rumah ini akan menjadi milik kami. Beberapa tahun ini, kamu boleh menempati seperti rumah sendiri. Tapi tidak setelah kamu sudah lulus kuliah. Kami akan menempati rumah ini."
Melati menatap marah pamannya itu. Saudara rasa orang lain. Orang lain saja bisa seperti saudara tapi paman kandung sendiri menabuh genderang perang kepada dirinya hanya untuk memperebutkan rumah warisan.
"Jika kalian merasa benar. Aku siap bertemu dengan kalian di pengadilan," kata Melati. Hani itu yang dapat dilakukan untuk menantang paman dan tantenya.
"Berani sekali kamu berurusan dengan kami di pengadilan Melati," kata paman Rian marah. Sebagai gadis muda. Melati tentu saja ketakutan melihat wajah dan mata pamannya yang memerah karena marah.
"Ambil sertifikatnya atau kami melakukan kekerasan kepada kamu?" ancam laki laki itu dengan menggebrak meja. Melati sampai terkejut. Paman kandung yang ada di hadapannya terlihat seperti bukan manusia.
"Cepat," bentak paman Rian lagi dengan mata yang melotot. Melati sangat mengharapkan kedatangan Reza saat ini tapi dari pesan yang baru masuk. Reza masih dalam perjalanan.
"Aku tidak tahu dimana sertifikatnya paman," kata Melati mencoba mengulur waktu.
__ADS_1
"Jangan pikir aku bodoh. Selama ini mbak Lena sakit. Pasti kamu yang menyimpan surat surat penting milik saudaraku. Ma, naiklah ke atas. Sertifikat rumah ini pasti disimpan di kamarnya."