Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 49


__ADS_3

"Aku tidak mau tahu Re, kamu harus sadar secepatnya. Kamu harus menghibur kalau aku sedih," kata Melati lagi. Tidak sanggup rasanya kehilangan Regina. Teman biasa memang ada, tapi hanya Regina yang cocok dijadikan sebagai sahabat.


Melati mengusap air matanya ketika mendengar pintu ruangan itu terbuka. Rani dan ibu Tika muncul di sana.


"Mbak?" sapa Rani. Terlihat wajah adik Regina r kurang enak melihat Melati di ruangan itu. Melati cepat tanggap, jangan sampai Rani dan ibu Tika berpikiran yang tidak tidak pada dirinya.


"Kamu dan Kevin menjaga Regina bersama sama?" tanya ibu Tika curiga. Melati langsung menggelengkan kepalanya. Baru saja, Melati ingin menjelaskan keberadaan di ruangan itu. Ibu dari Kevin itu langsung bertanya dengan wajah yang penuh kecurigaan.


"Tante, aku baru datang. Dan Kevin baru saja pergi ke kantor."


Ibu Tika terlihat kurang percaya, dia mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Entah apa maksudnya berbuat seperti itu.


"Mama kamu masih sakit kan Mel, sepertinya kamu lebih baik fokus menjaga mama kamu. Biarkan kami saja yang fokus menjaga Regina."


Melati tersenyum, dia tahu maksud ibu Tika. Pasti tujuannya untuk memperkecil pertemuan antara dirinya dan Kevin. Ibu Tika tidak tahu, beberapa menit yang lalu. Kevin sudah menyelesaikan masa lalunya dengan Melati di hadapan Regina.


Melati menatap wanita yang pernah memberikan dia restu itu. Sejujurnya, Melati tersinggung dengan perkataan wanita itu. Tapi dia juga tahu, perkataan wanita itu hanya untuk melindungi menantunya. Hanya saja, maksud ibu Tika baik untuk Regina tapi menyakitkan untuk dirinya.


"Tante, tidak perlu khawatir. Selagi Regina masih keadaannya seperti ini. Mungkin aku harus mendapatkan ijin terlebih dahulu jika ingin menemui Regina. Aku sangat berharap dan berdoa dalam setiap tarikan nafas ku. Regina secepatnya sembuh. Dan tante ternyata belum mengetahui tentang banyak hal tentang Kevin. Kevin sudah bisa melupakan masa lalunya Tante. Cintanya kini hanya pada Regina. Jika pun aku bertemu dengan Kevin. Tante jangan takut. Selamanya Kevin hanya masa lalu bagiku," kata Melati.


Dia merasa perlu mengatakan hal itu supaya ibu Tika tidak mempunyai pikiran yang macam macam kepada dirinya. Persahabatannya jauh lebih berarti daripada percintaanya. Jadi, sedikit pun tidak ada niatnya untuk menyakiti Regina.


Terkadang tidak semua perbuatan baik itu dianggap baik. Niat Melati baik mengunjungi sahabatnya tapi ibu Tika kurang baik menyikapi sikapnya.


Tidak ingin berlama lama di ruangan itu. Akhirnya Melati keluar dari ruangan Regina. Dia menatap jauh pada loronh rumah sakit yang sepi itu. Seperti itulah rasa sepi di hatinya sejak Regina putus Komunikasi dengan dirinya.


Melati terus berjalan mencoba mengabaikan suara Rani yang memanggil dirinya.


"Mbak Mel. Tunggu," teriak adiknya Regina itu sambil mengejar Melati. Melati terus berjalan. Suasana hatinya kurang baik karena dia juga bisa melihat tatapan curiga dari Rani.


"Mbak Mel, maaf. Aku percaya padamu mbak," kata Rani. wanita itu menahan tangan Melati hingga akhirnya Melati berhenti.


"Terima kasih Rani. Yakinkan ibu Tika jika aku baru datang ke rumah sakit ini. Ada cctv jika dia ingin buktinya."


Hingga dia keluar dari ruangan Regina tadi. Melati bisa melihat jika ibu Tika belum sepenuhnya percaya pada dirinya.


"Iya mbak. Jangan bawa ke pikiran ya," kata Rani. Melati menganggukkan kepalanya.


"Mbak, apa mbak tidak tahu apa penyebab ibu Tika kurang mempercayai mbak Melati?" tanya Rani pelan dan terdengar hati hati.


Melati mengerutkan keningnya. Selama ini dia merasa tidak berbuat macam macam setelah Kevin dan Regina menikah. Bahkan dirinya memberikan semangat kepada Regina dan menghindar dari Kevin. Bahkan hari ini, Kevin sudah menegaskan jika hanya Regina yang ada di hatinya. Tapi mengapa ibu Tika masih saja kurang percaya kepada dirinya?.


"Apa maksud kamu Ran?" tanya Melati bingung.


"Ibu Tika menduga jika mbak Melati masih sulit melepaskan kak Kevin."


"Ya ampun."


Melati sangat shock mendengar kenyataan itu. Rasanya pengorbanan nya tidak dihargai. Di saat semuanya hampir baik baik saja. Dugaan tidak berdasar dari ibu Tika mengacaukan segalanya. Jangan sampai, begitu Regina tersadar. Sahabatnya itu terpengaruh dengan dugaan ibu Tika itu.


Melati meninggalkan rumah sakit itu membawa luka hati yang baru dari dugaan ibu Tika. Meskipun seperti itu. Melati akan mengabaikan dugaan ibu Tika itu. Karena menurut Melati, tidak ada lagi yang harus dia jelaskan kepada ibu Tika karena Kevin sudah mencintai sahabatnya. Biarlah sikap Kevin yang menunjukkan cintanya kepada Regina membuat ibu Tika yakin jika antara dirinya dan Kevin tidak ada lagi hubungan.


Melati tiba di kampus lebih cepat satu jam dari yang dia rencanakan. Andaikan sikap ibu Tika tidak mencurigai dirinya. Mungkin saat ini Melati masih ada di ruangan rawat Regina.


Untuk mengusir rasa sepi, akhirnya Melati mengirimkan pesan kepada Reza untuk datang ke kampus lebih cepat. Melati mengembangkan senyumnya melihat laki laki itu justru datang dari arah perpustakaan.


"Mel, bagaimana kabar Regina?" tanya Reza.


"Kamu ingin menjenguk Regina?. Dia masih koma."


Reza dan Melati duduk bersebelahan di bawah pohon rindang. Pandangannya mereka lurus ke depan. Sapaan para mahasiswa yang dari tadi lewat di depan mereka hanya dibalas dengan senyum. Di hati mereka sama sama merasakan kesedihan karena kondisi Regina yang belum sadar.


"Kamu masih mencintai Regina, Za?" tanya Melati tanpa menoleh. Melati tidak mempunyai maksud apa apa dengan pertanyaan itu. Melati juga sudah mengetahui jika Reza menyukai seorang mahasiswa di kampus itu. Melati hanya memastikan apakah rasa cinta di hati Reza sudah benar benar tidak ada lagi kepada Regina atau tidak. Karena terkadang, banyak laki laki yang membuka diri pada wanita lain tapi masih cinta dengan wanita masa lalunya.


"Apa seorang mantan tidak bisa bertanya kabar mantan kekasihnya?" tanya Reza balik. Reza menduga pertanyaan Melati muncul karena dirinya menanyakan kabar tentang Regina.

__ADS_1


"Bisa. Aku hanya ingin memberitahukan kamu bahwa Kevin sudah mencintai Regina."


"Bagus kalau begitu. Bukankah itu yang kita inginkan. Aku sudah melepaskan Regina dari hatiku Mel. Awalnya memang sulit. Tapi semakin aku membuka diri pada seorang wanita. Regina bisa tergantikan di hatiku. Lagipula untuk apa menyiksa diri mencintai istri orang. Bukan hanya Regina wanita yang cantik dan baik kan?.


"Jangan bilang Kalau Wanita cantik dan baik yang kamu maksudkan itu aku, Za."


Kali ini Melati tertawa. Ternyata selain Regina,. Melati bisa bercanda bebas dengan mantan kekasih sahabatnya itu.


"Emang kamu merasa cantik."


"Kan emang cantik. Buta kalau kamu tidak mengakui aku cantik."


"Sepertinya cantikan Sasa loh Mel."


"Begitu ya!" jawab Melati cemberut membuat Reza tertawa dan mencubit pipi Melati.


Reza menatap wajah Melati. Benar jika wanita yang ada di sebelahnya itu cantik dan mungkin semua laki laki yang ada di kampus itu mengakui jika Melati memang cantik. Tapi bukan hanya kecantikan wajah yang membuat Reza jatuh cinta pada Melati. Tapi juga kecantikan hati wanita itu.


Reza tersenyum. Entah bagaimana nantinya dia mengungkapkan rasa cintanya itu pada Melati yang pasti saat ini Reza ingin terlebih dahulu memapankan diri dan menikmati kebersamaannya dengan Melati sebagai teman. Dan sebagai teman yang mencintai Melati diam diam. Reza akan menjaga wanita idamannya itu dari laki laki iseng yang berusaha mendekati Melati.


Melati tidak tahu, Reza selalu memikirkan dirinya hampir setiap waktu dan mempunyai angan yang indah akan hubungan mereka kelak..


"Kapan kamu punya waktu Mel. Temani aku menjenguk Regina," tanya Reza. Niatnya memang ada mengunjungi Regina tapi dibalik itu dia sengaja meminta Melati menemani dirinya supaya mereka mempunyai banyak waktru bersama. Akhir akhir ini, kebersamaan mereka berkurang karena kesibukan masing masing. Reza sibuk bekerja di malam hari sedangkan Melati sibuk meluangkan waktunya untuk sang mama.


"Aku tidak tahu. Nanti aku kabari kalau aku ada waktu," jawab Melati. Tangan wanita itu sibuk merogoh tasnya karena ponselnya berdering.


Melati menahan nafas sebentar melihat nama pemanggil di ponselnya itu. Nomor pekerja rumahnya yang tidak biasanya menghubungi dirinya jika tahu Melati ada di kampus.


"Ada apa Mel?" tanya Reza. Tangan Melati sudah bergetar memegang ponsel itu tapi tidak juga menjawab panggilan.


"Jawab Mel. Ada apa?. Siapa yang menghubungi kamu itu?" tanya Reza. Akhirnya Melati menjawab panggilan itu bersamaan dengan Sasa yang juga muncul di hadapan Melati dan Reza.


"Cepat pulang Mel," kata pekerja rumah Melati dari seberang.


"Za, aku mau bicara," kata sasa sambil menahan tangan Reza. Reza terdengar berdecak dan menatap Sasa dengan kesal.


Laki laki mana yang tidak kesal mendapatkan perlakuan dari Sasa yang super agresif. Andaikan Reza laki laki playboi , Sasa sudah pasti dalam dekapan Reza saat ini.. Tapi Reza bukan playboi laki laki yang mempermainkan wanita hanya untuk menyalurkan hasrat. Reza adalah laki laki baik yang tidak menilai wanita dari kecantikan wajah. Secantik apapun seorang wanita yang mendekati dirinya tapi jika tidak memiliki kebaikan hati sudah pasti wanita tersebut tereliminasi. Sasa bukan wanita yang mempunyai kebaikan hati. Reza bisa memastikan itu dari sikap Sasa yang sangat egois.


"Bicara apa lagi Sa?" tanya Reza kesal.


Reza ingin mengejar Melati tapi tangan Sasa yang kuat menahan tangannya membuat Reza hanya bisa menahan kesal. Reza sangat yakin ada sesuatu yang membuat Melati berlari setelah mendapatkan panggilan itu. Reza ingin menemani Melati, memastikan wanita idamannya itu dalam keadaan baik.


"Kita bicara di tempat lain saja, boleh kan Za?"


"Maaf Sa. Aku ada kelas jam sepuluh. Kalau mau bicara. Bicara saja disini."


"Suasananya kurang enak disini Za. Tempat lain saja ya. Di lantai atas saja mau?" tawar Sasa.


Reza menggelengkan kepalanya dengan cepat. Lantai atas yang dimaksudkan Sasa adalah lantai terakhir gedung perkuliahan itu. Di lantai itu hanya ada ruangan praktek komputer. Jika tidak ada yang praktek bisa dipastikan lantai itu sepi. Reza tidak mau diajak ke Sana karena bukan ini yang pertama Sasa mengajak dirinya kesana. Pernah satu Kali, Reza mau. Dan di lantai atas itu. Sasa dengan berani mencium Reza tanpa ijin. Dan kali ini. Reza tidak mau diajak oleh Sasa dengan alasan apapun karena tidak ingin kejadian mencium tanpa ijin itu terulang.


Sasa terlihat kecewa dengan gelengan kepala Reza. Tapi wanita itu masih bisa menyembunyikan rasa kecewa itu dengan tersenyum manis kepada Reza. Sasa ingin terlihat baik dalam keadaan apapun di hadapan Reza karena Sasa sangat ingin mendapatkan Reza bagaimana pun caranya.


"Bagaimana kalau di kantin," tawar Sasa lagi. Kevin menggelengkan kepalanya seakan menegaskan jika mau berbicara sekarang saja dan di tempat itu juga. Reza berusaha melepaskan tangannya dari tangan Sasa tapi semakin kuat wanita itu memerah tangan Reza. Dan bahkan Sasa mendekap tangan Reza hingga tangannya menempel di bukit kenyal milik Sasa.


Reza mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Banyak mahasiswa yang berlewatan dan ada juga yang melihat mereka dengan jijik. Sasa berpikir jika Reza semakin tertarik pada dirinya dengan kelakuanya itu ternyata tidak. Reza semakin jijik kepada Sasa.


Sasa yang berbuat. Tapi Reza yang menanggapi malu. Reza merasa dirinya sudah dinilai negative oleh para mahasiswa lain. Reza menarik tangannya dengan sekuat tenaga hingga dirinya hampir terjatuh.


"Di mobil saja yuk," tawar Sasa lagi.


"Cukup Sasa. Sebenarnya kemauan kamu apa?" tanya Reza. Sungguh Reza tidak dapat lagi menahan amarahnya karena kelancangan Sasa.


"Sederhana saja Za. Aku mau hubungan kita bukan hubungan biasa. Aku sangat mencintai mu Za. Apa sih susahnya membalas cintaku?"


Masih dengan tidak tahu malu, Sasa menyatakan cintanya di tempat umum. Pernyataan cintanya itu sudah di dengar umum dan Sasa tidak perduli akan hal itu. Sasa benar benar tidak mempertimbangkan jika ada penolakan dirinya pasti akan malu. Seharusnya dia belajar dari waktu waktu sebelumnya. Reza selalu menolaknya.

__ADS_1


"Jawaban ku masih sama Sa. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan kamu. Aku tidak mencintai kamu. Aku mau serius kuliah. Dan aku belum mau terikat," jawab Reza dengan menatap marah pada Sasa. Meskipun marah, Reza berbicara dengan suara yang agak pelan. Dia masih mempunyai rasa malu jika penolakannya di dengar oleh umum. Dikejar oleh wanita agresif seperti Sasa tidak membuat Reza bangga yang ada dirinya tidak nyaman.


"Kalau begitu aku harus berusaha keras lagi meraih hati mu ya Za."


"Tidak Sa. Cukup sampai disini. Aku pastikan sampai kapanpun hatiku tidak bisa tertarik kepada mu. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya. Aku sudah mempunyai wanita idaman."


"Apa wanita itu Melati?"


"Kamu tidak perlu tahu siapa wanita itu."


"Dan aku tidak akan membiarkan kamu bersama sama dengan wanita itu."


"Jangan merasa dirimu seperti punya hak atas aku Sa. Jangan buat aku sampai marah. Kamu berhak mencintai siapapun. Tapi kamu tidak boleh memaksakan kehendak kamu. Jika kamu masih terus mengejar aku. Jangan salahkan sikapku di hari esok akan mempermalukan kamu."


"Kamu saja yang payah Za. Apa yang kamu lihat dari Melati. Kebaikannya?. Kamu saja yang tidak pernah mengingat kebaikan ku."


Seketika Reza teringat dengan kebaikan Sasa karena mendengar perkataan wanita itu. Ternyata kebaikan itu hanya untuk menjerat dirinya. Padahal, Reza juga sudah berusaha mengembalikan uang yang pernah dia pinjam dari Sasa. Sasa menolak karena alasan tulus membantu. Ternyata tidak. Saat ini, Sasa seakan mengisyaratkan kebaikannya itu dibalas dengan berhubungan dengan Sasa.


"Sasa, jika uang yang pernah aku pinjam itu yang kamu maksudkan sebagai kebaikan yang pernah aku terima dari kamu. Tenang sa, secepatnya akan aku bayar kembali."


"Seenaknya saja kamu berbicara seperti itu sekarang. Coba kamu berpikir. Jika aku tidak membantu kamu saat itu. Kamu sudah pasti ketinggalan satu semester. Jangan lihat dari nilai uangnya. Tapi seharusnya kamu melihat dari dampak kebaikannya itu."


Reza merasa tidak perlu memperpanjang pembicaraan dengan Sasa. Jika wanita itu pintar dan tanggap. Tidak seharusnya Sasa mengejar dirinya lagi. Reza meninggalkan Sasa di tempat itu dengan berlari ke arah gedung kampus.


Sedangkan Melati harus menahan tangis sepanjang perjalanan. Mengingat kondisi mama Lena, wanita itu sudah menduga duga apa yang terjadi. Meskipun begitu, Melati masih berharap mama Lena berumur panjang karena hanya wanita itu yang dia miliki saat ini.


Tiba di depan rumahnya sendiri. Melati merasa nafasnya tertahan melihat para tetangganya yang keluar masuk ke rumahnya. Kakinya terasa berat melangkah masuk ke rumah itu hingga seorang ibu menyadari keberadaan Melati di depan rumah itu. Sang ibu menghampiri Melati dan menuntun wanita itu masuk ke rumah.


"Melati sudah datang," kata seorang ibu. Melati sudah menangis. Dia sudah berpikir jika hari ini adalah saat terakhir bersama ibunya. Wanita yang bisa bekerja menjaga mama Lena langsung terlihat muncul dari kamar dengan wajah yang menangis.


"Bibi."


"Ibu Lena menunggu kamu Mel," kata wanita itu. Bibi membawa Melati masuk ke kamar mama Lena. Dan pemandangan di kamar itu membuat Melati menangis.


"Mama," panggil Melati pada mamanya yang melihat dirinya dengan sayu dengan nafas satu satu.


"Bibi, ayo kita bawa mama ke rumah sakit. Tolong, siapapun pesan taksi sekarang," kata Melati panik. Para tetangga yang sudah berdatangan di rumah itu hanya bisa menangis.


"Tenangkan dirimu Melati. Mama Lena hanya ingin melihat kamu di akhir hidupnya," kata seorang ibu yang dikenal Melati berprofesi perawat di rumah sakit. Ibu itu juga yang satu minggu ini rutin mengganti infus untuk mama Lena. Sebagai tenaga medis, ibu perawat itu mengetahui jika penyakit mama Lena semakin parah. Tubuhnya sudah menolak apapun yang dimasukkan ke dalam tubuhnya


Melati mendekati mama Lena. Hanya tangan wanita itu yang dapat menggapai wajah Melati dan itu hanya sebentar. Karena tidak lama kemudian tangan itu terkulai lemas bersamaan dengan nafas mama Lena yang terhenti.


Melati menangis meraung raung melihat kepergian mama kandungnya itu. Mulai hari ini, dirinya sudah resmi hidup sebatang kara. Bahkan Regina yang diharapkan bisa menghibur dirinya dalam kesedihan ini tidak bisa melihat mama Lena untuk yang terakhir kalinya.


"Selamat jalan ma," kata Melati pelan sambil menutup mata mama Lena yang belum tertutup sempurna. Melati menciumi wajah mama Lena dan memeluk wanita itu untuk terakhir kalinya.


Berat tapi harus rela dan ikhlas. Di usianya masih muda, Melati harus kehilangan sang mama, orang tua tunggal bagi dirinya sejak papanya meninggal dunia.


Melati harus menghubungi sendiri beberapa kerabat yang masih tinggal satu kota dengan mereka. Melati tidak bisa mengurus sendiri penguburan mama yang sangat dia cintai itu. Dia butuh kerabat dan memang seharusnya semua kerabat harus mengetai kepergian sang mama.


Melati menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan lesu. Air mata masih saja belum bisa berhenti keluar dari kedua matanya. Saat saat seperti ini. Dirinya butuh pelukan dan dukungan sang sahabat. Dan sepertinya, Melati tidak mendapatkan itu dari sahabatnya itu.


"Re, bangun Re. Aku benar benar sendiri saat ini," kata Melati. Di saat kematian mama Lena, Melati masih harus menangisi sahabatnya itu.


"Mel," panggil seseorang membuat Melati menoleh. Reza berdiri tidak jauh dari dirinya. Tadi setelah selesai berbicara dengan Sasa. Reza sangat memikirkan Melati hingga laki laki itu tidak masuk ruangan. Dia memutuskan menyusul Regina ke rumah ini karena Reza berfirasat ada yang terjadi pada mama Lena.


Firasat Reza jauh lebih menyakitkan dari kenyataan yang sebenarnya. Melihat Melati pergi terburu buru, dia berpikir jika mama Lena kritis ternyata wanita itu sudah pergi untuk selamanya.


Reza mendekati Melati dan langsung memeluk wanita itu. Melati membalas pelukan itu. Dia menumpahkan semua kesedihannya di dada Reza. Tidak bisa dipungkiri kedatangan Reza di rumah itu bisa menggantikan Regina.


"Jangan menangis lagi Mel. Melihat kamu sedih dan hancur seperti ini. Aku juga ikut sedih dan hancur Mel. Kita tidak bisa menolak takdir kan. Apapun yang hidup di dunia ini. Jika tiba waktunya akan berakhir dengan kematian juga. Jadi bukan hanya kamu pernah ditinggalkan karena kematian. Semuanya akan mengalami hal itu. Ini yang terbaik untuk mama Lena. Mama Lena tidak merasakan sakit lagi. Jadi kamu harus ikhlas ya!"


Melati menganggukkan kepalanya mendengar nasehat Reza tapi tetap juga hati dan matanya tidak bisa diajak kompromi. Melati masih menangis dan belum rela ditinggalkan sang mama untuk selamanya.


"Kalau menangis bisa membuat kamu lega. Maka menangis lah disini," kata Reza menarik Regina ke pelukan. Dia tidak tega melihat wanita idamannya itu kelelahan karena terisak.

__ADS_1


__ADS_2