
Regina melihat kepergian sahabat dan laki laki yang sudah merenggut kesuciannya dari balik tirai. Sebagai wanita yang sudah dirusak dan dihancurkan masa depannya. Dia butuh pertanggungjawaban dari laki laki itu. Dua hari ini dia memikirkan langkah yang harus diambil atas tindakan merugikan yang dilakukan kekasih sahabatnya itu kepada dirinya.
Semakin dia memikirkan semakin tidak tega dirinya melihat kehancuran di wajah sahabatnya itu. Padahal dirinya yang saat ini benar benar hancur. Itulah yang membuat Regina selalu menangis dan menyembunyikan masalah berat itu dari Regina dan keluarganya.
Bukan tanpa alasan Regina menyembunyikan perbuatan Kevin kepada dirinya dari Melati. Melati masih terlihat sering bersedih mengingat kepergian papanya dan Regina bisa melihat jika Melati terlihat tertekan dan terguncang dengan keadaan mama Lena. Regina takut, hal yang menyakitkan akibat perbuatan Kevin bukan hanya membuat sahabatnya itu hancur bisa saja lebih dari itu.
Regina kembali menangis. Masalah ini terlalu rumit untuk dirinya dan Melati. Andaikan laki laki yang merenggut kesuciannya bukan Kevin. Bisa saja saat ini mereka bersama sama meminta pertanggungjawaban dari laki laki itu. Melati tidak diragukan lagi untuk membela dirinya. Tapi yang terjadi kini. Regina hanya bisa menyembunyikan kesedihannya.
Regina ingin marah. Tapi dia tidak bisa melampiaskan kemarahan itu kepada siapapun. Pada Melati tidak mungkin. Pada Kevin tentu saja Regina marah pada laki laki itu. Tapi mengingat laki laki itu mabuk malam itu. Nyali Regina menciut untuk melampiaskan kemarahannya. Dia takut, Kevin tidak mengakui hal itu.
"Re, sudah makan obat?" tanya mama Siska, mama kandungnya Regina. Wanita itu baru saja tiba di rumah dan sengaja minta ijin pulang di jam istirahat untuk memastikan putrinya sudah makan dan makan obat.
"Sudah ma," jawab Regina. Regina menyembunyikan tubuhnya di balik selimut supaya sang mama tidak melihat kondisi wajahnya yang sembab karena baru menangis.
"Sebenarnya obat penyakit itu sangat mudah Re. Makan teratur dan tidak banyak pikiran. Apa pelajaran di kampus sangat sulit sehingga kamu sampai jatuh sakit seperti ini?" tanya mama Siska lagi. Dirinya memang tidak pernah merasakan duduk di perkuliahan. Wanita itu hanya tamat sekolah menengah umum. Jadi dirinya tidak mengetahui tingkat kesulitan pelajaran di perkuliahan.
"Iya ma. Sangat sulit."
Regina berkata pelan. Untuk menutupi number kesedihannya. Regina mengaku sakit perut. Regina terkadang juga pura pura meringis sambil memegang perutnya supaya keluarganya percaya dirinya sakit maag.
__ADS_1
Regina menatap obat maag yang ada diatas meja di kamarnya itu. Papanya langsung sigap membeli obat itu ke apotik ketika dirinya menyebut dirinya sakit maag. Sesayang itu keluarganya kepada Regina tapi wanita itu sanggup menyembunyikan hal besar itu dari kedua orangtuanya. Tentu saja, Regina sama sekali tidak memakan obat itu karena bukan lambung nya yang bermasalah melainkan hatinya.
Lagi lagi Regina hanya mampu menangis setelah mama Siska kembali bekerja. Regina sadar sudah berbohong saat ini. Dan dia berharap selamanya kedua orangtuanya tidak mengetahui kenyataan yang sebenarnya
Tidak ingin larut dalam kesedihan karena Regina sadar. Apa yang sudah terenggut dalam dirinya tidak akan pernah kembali lagi. Akhirnya besok paginya, sesuai perkataannya kepada Melati. Regina kembali masuk kuliah. Kehadiran pagi itu disambut khawatir oleh Reza.
"Re, kamu kemana dua hari ini. Dan ponsel mu juga tidak aktif?" tanya laki laki itu. Regina menatap wajah kekasihnya. Terlihat sorot kekhawatiran di sana dan Regina merasa disayang karena hal itu. Regina akhirnya tersenyum. Bertemu dengan Reza ternyata bisa mengembalikan gairah hidupnya apalagi laki laki itu mengulurkan tangannya memberikan sebatang coklat untuk dirinya. Makanan favorite dikala dilanda masalah seperti saat ini.
"Aku sakit Za."
"Sakit kok ponsel juga tidak aktif Re. Kamu tahu aku sangat mengkhawatirkan kamu. Andaikan kamu tidak datang hari ini. Aku akan nekad mengunjungi rumah kamu."
Regina mengunyah coklat itu sambil menunggu jawaban Reza. Papanya terkenal ketat menjaga pergaulan anak anak perempuannya. Meskipun, Regina sudah duduk diperkuliahan. Papanya belum mengijinkan Regina untuk berpacaran. Kedua orangtua Regina menekankan anak anaknya untuk fokus belajar karena mereka mencari uang sangat kesusahan. Pernah sekali, Reza berkunjung ke rumah Regina di waktu akhir pekan. Dan dengan halus, Pak Bayu menyuruh Reza untuk pulang.
"Demi anak perawan pak Bayu. Seorang Reza akan melakukan apapun untuk mengetahui keadaan kekasihku."
Spontan Regina berhenti mengunyah coklat itu. Kata perawan mengingatkan dirinya akan kejadian malam itu. Dirinya saat ini tidak perawan lagi. Dan jika nantinya Reza mengetahui keadaannya. Apakah laki laki itu mengejar dirinya. Atau dirinya akan dicampakkan begitu saja. Membayangkan hal itu. Regina buru buru pamit ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangan ternyata Melati sudah disana. Senyum wanita itu mengembang melihat kedatangan Regina. Regina mengambil tas dari bangku di sebelahnya karena bangku itu akan menjadi tempat duduj Regina. Hal biasa yang mereka lakukan, siapa pun diantara mereka tiba di ruangan terlebih dahulu akan langsung mempersiapkan tempat duduk supaya mereka duduk bersebelahan.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Regina ketika Melati memberi memberikan kertas double polio kepada dirinya.
"Tugas minggu lalu. Aku tahu kamu pasti belum mengerjakannya sehingga aku membuat double," jawab Melati. Seketika, Regina mengingat tugas tugas itu. Benar, dirinya belum mengerjakan tugas tugas itu karena larut dalam kesedihan.
"Terima kasih Mel," kata Regina. Melati menganggukkan kepalanya senang. Dia merasa bisa membalas kebaikan Regina dengan mengerjakan tugas tugas itu. Melati tidak sadar jika Regina menatap dirinya dengan sedih.
Selama ini, Melati memang sahabat yang pengertian. Mereka berdua saling menerima dan memberi. Sungguh benar benar definisi yang bersahabat yang sesungguhnya. Dan Regina berharap selamanya mereka bersahabat seperti ini.
Sepanjang perkuliahan pagi itu. Regina tidak bisa menyimak pelajaran. Tubuhnya memang berada di ruangan tapi tidak dengan hatinya yang berpetualang memikirkan akhir dari persahabatan dan percintaanya. Sungguh dirinya tidak sanggup kehilangan sahabat seperti Melati dan kehilangan Reza.
Jika menyembunyikan kejadian itu. Dirinya tidak kehilangan sahabat dan kekasih. Maka Regina akan tetap menyembunyikan kejadian itu sampai kapanpun. Kevin hanya orang asing bagi dirinya. Dan dia tidak akan menuntut pertanggungjawaban atas kejadian itu kepada laki laki itu. Regina hanya berharap jejak dari kejadian itu tidak ada dalam hidupnya supaya lebih muda melupakan kejadian itu.
Di jam pulang perkuliahan. Regina kembali bertemu dengan laki laki itu. Sebenarnya dia bisa beralasan kepada Melati dengan pulang lebih cepat tanpa menemani sahabatnya itu menunggu jemputan Kevin. Tapi entah mengapa hatinya terdorong untuk bertemu dengan laki laki itu dan ingin melihat reaksi Kevin melihat dirinya.
"Sayang, langsung pulang yuk," ajak laki laki itu kepada Melati yang duduk bersama Regina di kursi besi di bawah pohon rindang.
"Oke siap. Re, duluan. Da...da.."
Regina menganggukkan kepalanya. Melati bersemangat beranjak dari duduknya kemudian melambaikan tangan kepada dirinya. Lewat ekor matanya. Regina mencuri pandang kepada Kevin. Ternyata laki laki itu tidak melihat dirinya sama sekali. Persis seperti waktu waktu yang lalu sebelum kejadian malam itu. Tidak ada terlihat rasa bersalah di wajah laki laki itu. Regina yakin jika laki laki itu tidak mengingat kejadian malam itu.
__ADS_1