Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 52


__ADS_3

Depan ruangan Caesar itu menjadi tempat menumpahkan kesedihan keluarga Regina dan Kevin. Pintu ruangan itu belum terbuka yang pertanda tindakan Caesar belum selesai. Kedatangan kedua orangtua Regina dan Nenek Lisa membuat tempat itu dipenuhi isak tangis. Ibu Siska, ibu Tika dan Nenek Lisa, mereka bertiga masih terisak sedangkan pak Bayu berkali kali meninju dinding.


Pak Bayu menggambarkan kesedihan dan kemarahannya sekaligus. Kehilangan calon cucu setelah memperjuangkan banyak hal tentu saja tidak mudah melepaskan janin itu. Dan jika pun dipertahankan maka keselamatan Regina yang menjadi taruhan. Pak Bayu juga tidak tahu harus berterima kasih atau tidak atas keputusan Kevin yang lebih menyelamatkan putrinya dibandingkan dengan menyelamatkan calon cucunya.


Satu jam sudah berlalu sejak Regina dimasukkan ke ruangan itu. Tapi hingga satu jam lebih. Pintu ruangan itu juga belum terbuka. Rasa kesedihan yang menyelimuti hati semua keluarga yang hadir di tempat itu kini berganti rasa was was. Karena sepengetahuan mereka. Caesar biasanya tidak berlangsung lebih dari satu jam apalagi bagi Regina Caesar ini adalah hal yang pertama kalinya.


Di sudut ruangan rumah sakit yang jauh dari depan ruangan Caesar itu. Kevin masih terngiang dengan kata kata Regina ketika meninggalkan rumah. Mengingat kata kata itu, ada keraguan di hatinya untuk bergabung dengan keluarganya. Kevin berpikir jika dirinya jauh dari Regina membuat keadaan istrinya itu membaik. Biarlah dia menjauh untuk sementara meskipun keinginannya untuk berada di sisinya istrinya sangat kuat.


Kehilangan anak tentu saja hal yang menyedihkan bagi setiap orangtua. Begitu juga dengan Kevin. Walaupun dia belum melihat wajah putrinya, kehilangan itu sangat terasa hingga ke relung hatinya. Kehilangan itu bukan lagi karena tidak akan mempunyai seorang putri yang cantik dan pintar seperti Bella putrinya rekan kerjanya Rudi. Tapi kehilangan itu benar benar muncul dari hatinya yang paling dalam.


Kabar tentang Regina dan putrinya belum diketahui secara pasti tapi Kevin juga sudah menangisi kehilangan putri yang pernah tidak diinginkan itu di sudut ruangan rumah sakit itu. Kevin benar benar menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi atas diri Regina Dan calon anaknya.


Kevin mengusap air matanya. Setelah berniat ingin menjauhkan diri dari Regina ternyata hatinya sangat ingin tahu tentang kabar istrinya itu. Sudah hampir dua jam dirinya di sudut rumah sakit itu tapi tak satupun dari kedua orangtuanya mengabarkan tentang Regina dan istrinya. Tentang putrinya, walau berat hati, Kevin sudah berusaha ikhlas melepaskan.


Dengan dada yang berdebar dan kaki yang terasa berat melangkah, akhirnya Kevin meninggalkan sudut rumah sakit itu. Dia benar benar ingin tahu tentang Regina. Tapi yang dia temukan di depan rumah ruangan Caesar itu. Hanya keluarganya yang masih menangis dan Pak Bayu dan Pak Raka duduk lesu di lantai dengan kepala tertunduk.


"Kevin," panggil Nenek Lisa mengisyaratkan laki laki itu untuk mendekat pada dirinya.


Nenek Lisa memperhatikan wajah Kevin yang terlihat sangat sembab. Nenek Lisa dapat melihat ketulusan Kevin menyayangi Regina saat ini.

__ADS_1


"Terima kasih karena membuat keputusan yang tepat meskipun keputusan itu tidak adil bagi calon putri mu. Dia mempunyai hak yang sama dengan Regina untuk bisa tetap hidup. Tapi dia harus dikorbankan demi keselamatan istrimu..Aku tahu ini hal sulit bagi kamu Kevin dan bagi Regina nantinya. Tapi apapun yang terjadi nantinya. Aku mohon bertindaklah demi kebaikan Regina," kata nenek Lisa. Kevin hanya menganggukkan kepalanya meskipun kurang mengerti dengan maksud kalimat terakhir nenek itu.


Jika bertindak demi kebaikan Regina dengan selalu menemani dan mengurus istrinya itu setelah Caesar. Kevin siap akan hal itu meskipun tanpa peringatan dari Nenek Lisa. Dan Kevin bisa menangkap ada maksud lain dari perkataan nenek Lisa tapi tidak bisa menebak maksud tersebut.


Suasana depan ruangan Caesar itu kembali sepi. Meskipun kedua orangtua Regina baru bertemu dengan Kevin sejak Regina dirawat di rumah sakit itu. Tidak ada niat mereka untuk menyapa Kevin atau menanyakan hal yang terjadi pada Regina sehingga bisa mengalami hal darurat seperti itu. Mereka terdiam, seakan malas atau tidak menginginkan Kevin di tempat itu. Kevin menyadari sikap kedua mertuanya itu. Tapi dia memilih tetap duduk di sebelah nenek Lisa dengan kepala tertunduk.


Hingga suara pintu ruangan Caesar yang terbuka membuat mereka serentak mendongak menatap dokter yang sudah berdiri di sana. Tanpa dikomando, mereka serentak beranjak dari duduk dan menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan putri saya dokter?"


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"


Semua berebutan mengajukan pertanyaan yang hampir sama pada sang dokter. Dokter itu terlihat menarik nafas panjang. Dan kata kata dari dokter tersebut membuat Kevin dan semua yang ada di depan ruangan itu kembali melemas dengan detak jantung yang beraturan. Hati mereka semua seperti diremas. Regina dan putrinya sama sama keadaan kritis.


Kevin dan semua keluarga semakin sedih menyadari jika Regina dan putrinya masih saja diambang antara hidup dan mati. Memilih menyelamatkan Regina ternyata bukan hal yang bagus bagi Regina sendiri. Dokter itu menjelaskan jika Regina sangat bersikeras supaya putrinya diselamatkan meskipun nyawanya sendiri menjadi taruhan sehingga membuat tindakan Caesar itu berlangsung lama dan hasilnya satu pun diantara mereka masih belum mendapatkan kepastiaan.


Tindakan bagi seorang ibu di dunia ini. Mengutamakan keselamatan anak sendiri daripada dirinya sendiri. Pengorbanan seorang istri diantara mati dan hidup untuk membuat status mereka berubah yaitu menjadi orang tua. Kevin masih saja tertunduk lesu. Dengan keadaan Regina dan putrinya diantara mati dan hidup sudah membuat status dirinya berganti yaitu menjadi seorang Ayah. Hal itu membuat hati Kevin semakin hancur dan ketakutan kehilangan satu pun diantara istri dan putrinya itu.


Bagi manusia manusia yang percaya kepada Yang Kuasa. Tentu saja mereka tidak akan menggantungkan harapannya kepada sang dokter. Seperti apapun hasilnya nanti. Kini Kevin dan keluarga hanya menggantungkan harapan mereka akan keselamatan Regina dan putrinya hanya kepada Yang Maha Kuasa. Isak tangis masih terdengar dari mulut mereka tapi dalam hati memohon pertolongan kepada Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Kevin memisahkan diri dari keluarganya itu. Dia masih terbayang dengan perkataan Regina ketika meninggalkan rumah dua bulan yang lalu. Kini sudah bulat tekadnya untuk menjauh dari Regina untuk sementara waktu. Jika tidak menampakkan diri di rumah sakit itu akan membuat keadaan Regina dan putrinya membaik. Maka Kevin tidak akan ikut bersama dengan keluarganya menunggu kabar terbaru dari istri dan putrinya itu.


Kevin keluar dari rumah sakit itu dengan keadaan yang sangat kacau. Dia berencana akan menyendiri di rumah saja. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Kevin mengucapkan doa doa kepada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan Regina dan putrinya.


Dan sepertinya ketulusan Kevin berdoa kepada Yang Kuasa mendapatkan gangguan. Baru saja dirinya memarkirkan mobil di depan rumahnya. Nadia sudah terlihat oleh matanya duduk kursi di depan rumahnya.


"Beb, sudah empat hari aku mencari kamu ke mari. Kenapa nomor ku di blokir?" tanya Nadia tenang dan seakan mereka masih saja menjalin hubungan. Padahal selama dua bulan ini, Kevin selalu menghindar dari Nadia.


Kevin mengusap wajahnya. Sungguh, dia tidak ingin marah saat ini karena Kevin berpikir lebih berguna mendoakan keselamatan istrinya daripada harus membuang tenaga untuk marah kepada wanita cinta pertama nya itu.


"Nadia, sepertinya kamu bukan anak kecil lagi yang tidak bisa mengerti arti penolakan. Aku sudah tidak menganggap ada hubungan dengan kamu Nadia. Jadi stop menghubungi atau mencari aku seperti ini. Tidak ada alasan kamu untuk tetap memaksa aku untuk tetap pada hubungan ini. Karena selain aku adalah laki laki beristri. Aku tidak mempunyai rasa apapun kepada mu."


"Apa kamu melakukan ini karena istri mu itu. Hei Kevin, lihat. Aku lebih cantik dari dia. Aku mandiri bisa mencari uang bukan seperti istri mu itu yang tahunya hanya menengadah kan tangan meminta uang kepada mu. Lagipula, aku sangat mencintai kamu. Dan kita berhubungan karena keinginan kamu."


"Stop, Nadia. Jaga harga diri kamu sebagai wanita. Jika kamu masih saja menampakkan wajah mu di hadapan ku. Jangan salahkan aku berbuat kasar kepada kamu," ancam Kevin. Sungguh dia lelah menghadapi Nadia. Setelah dirinya memblokir nomor baru Nadia bisa dipastikan akan ada lagi nomor baru lagi yang masuk ke ponselnya dari wanita itu.


Wanita yang dijuluki pelakor itu sepertinya mempunyai mental yang baja seperti yang ditunjukkan oleh Nadia saat ini. Tidak ada terlihat di wajah wanita itu jika dirinya tersinggung ataupun marah karena kata kata Kevin. Yang ada wanita itu masih sanggup tersenyum lebar.


"Oke baiklah. Melihat kamu dalam keadaan baik seperti ini. Aku ikut senang. Saat ini aku boleh pergi dari hadapan mu. Tapi besok atau lusa. Aku akan kembali memastikan keadaan mu."

__ADS_1


Kevin menarik nafas lega melihat kepergian Nadia. Kevin berkesimpulan jika wanita itu tidak benar benar mencintai dirinya. Nadia tidak bisa melihat kesedihan pada wajahnya.


__ADS_2