Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 36


__ADS_3

Regina berusaha memaklumi Kevin yang masih menyimpan foto foto Melati di galeri ponselnya. Tidak bisa dipungkiri rasa sakit itu ada. Tapi yang lebih menyakitkan bagi Regina penolakan Kevin akan syukuran tujuh bulanan yang ditawarkan oleh kedua mertuanya. Dalam kolom chat antara Kevin dan pak Raka.


Kevin beralasan tidak bersedia mengadakan syukuran itu karena dia tidak ingin mengadakan pesta dengan wanita yang tidak dicintainya untuk kedua kalinya. Dan yang paling menyakitkan kan. Kevin mengirimkan pesan kepada Pak Raka jika dirinya tidak akan membuat acara syukuran bagi anak yang tidak diinginkan sekaligus penghancur kebahagiaannya.


Tangan Regina bergetar membaca pesan itu. Regina tahu dan sadar jika dirinya dan Kevin tidak saling mencintai. Tapi dia tidak menyangka jika Kevin masih saja tidak menginginkan janinnya.


Mengelus perut Regina hampir setiap malam dan menemani ke dokter kandungan ternyata bukan karena Kevin sudah bisa menerima dirinya. Itu semuanya hanya sebatas tanggung jawab sebagai laki laki.


Regina pernah berpikir jika mengikat Kevin dengan tubuhnya akan bisa mempertahankan pernikahan mereka ternyata tidak. Ternyata, Kevin hanya memanfaatkan dirinya. Regina hanya pelampiasan. Mungkin Kevin menikmati tubuhnya karena merasa rugi jika tidak dinikmati. Seketika, Regina merasa malu dan merasa tidak punya harga diri. Ternyata dirinya hanya sebagai penghibur bagi suaminya.


Jika ditanya apakah Regina sudah mencintai suaminya. Tentu saja jawabannya tidak. Tidak ada sikap Kevin yang bisa membuat dirinya jatuh cinta. Hubungan mereka terlalu datar. Hanya saja, Regina mengabdikan dirinya kepada Kevin. Berusaha memberikan yang terbaik bagi suaminya itu. Dan Regina tidak pernah memikirkan laki laki lain apalagi sampai mencintai dan menginginkan laki laki lain.


Regina keluar dari kamar Kevin. Dia tidak kuasa untuk bertatapan dengan laki laki itu yang ternyata sedikit pun tidak mempertimbangkan pernikahan mereka. Dari sikap Kevin ini sudah sangat jelas jika pernikahan mereka itu akan berakhir dirinya melahirkan nanti. Perjuangan Regina tidak berarti apa apa. Yang ada Regina semakin merasakan sakit hati yang sangat dalam. Regina merasa dirinya seperti orang bodoh.


Di kamar sebelah, akhirnya Regina tidak bisa menahan tangisan. Dalam diam, Regina menangis sambil mengelus perutnya. Janinnya yang malang yang tidak diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri. Janin yang tidak tahu apa apa itu harus mendapatkan penolakan hanya karena wanita yang mengandungnya bukan wanita yang dicintai oleh ayahnya. Yang lebih parah. Janin yang sedang berjuang tumbuh itu menjadi kambing hitam perpisahan Kevin dengan wanita yang sangat dia cintai.


"Regina, Kamu dimana?"


Suara Kevin terdengar. Regina mengusap pipinya. Meskipun mengetahui kenyataan yang menyakitkan itu tidak langsung membuat Regina marah. Dia juga akan menyembunyikan kesedihan hatinya dari Kevin.


"Aku disini kak," jawab Regina dari dalam kamar. Regina berharap dengan berlama lama di kamar itu. Kevin akan makan terlebih dahulu. Ternyata laki laki itu membuka pintu kamar itu.


"Ayo makan."


"Iya kak."


Regina berjalan dengan menundukkan kepalanya. Sesakit apapun hatinya, dia tidak akan menunjukkan kepada suaminya.


Seperti tiga bulan terakhir ini. Regina tetap melayani suaminya. Mereka makan bersama tapi hati mereka tidak bersama. Regina masih terus dengan pikiran tentang penolakan Kevin akan acara syukuran tujuh bulanan itu.


"Kak, aku lelah. Tapi jika kamu tega, tidak apa apa. Lanjutkan saja!"


Regina menolak keinginan suaminya itu. Dia tidak siap melayani suaminya itu di ranjang malam ini. Sebenarnya, dia tidak lelah. Andaikan tidak menemukan chat itu tadi. Dengan senang hati, Regina akan melayani suaminya. Regina juga ingin melihat sejauh mana rasa suaminya itu kepada dirinya. Apakah tega memaksa melayani dirinya atau bisa menahan hasrat itu.

__ADS_1


Ternyata Kevin tidak memaksa. Laki laki itu langsung menghentikan tangannya dan menutup dirinya dengan selimut. Regina bisa melihat kekecewaan suaminya itu karena tidak mendapatkan jatah. Regina tidak perduli. Bahkan malam ini, Regina tidak meminta Kevin mengelus perutnya. Regina masih bersedia tidur di kamar itu karena tidak ingin memperlihatkan kepada Kevin jika dirinya menemukan kenyataan menyakitkan itu.


Besok harinya, Regina masih saja bersikap seperti biasa. Tapi tidak setelah sore hari. Wanita itu sengaja pergi sendirian ke dokter kandungan tanpa Kevin. Sebenarnya jadwal periksa minggu depan. Tapi Regina sengaja memajukan jadwal periksa kehamilan itu supaya Kevin tidak perlu lagi ikut setiap periksa kehamilan di bulan depan hingga janin itu lahir. Selain itu yang membuat Regina memutuskan periksa kehamilan sore hari itu karena akhir akhir ini Regina sering mengalami kram di bagian bawah perut. Untuk janinnya, mulai saat ini, Regina ingin melakukan sendirian.


"Suaminya tidak ikut bu?" tanya dokter setelah Regina duduk berhadapan dengan dokter.


"Suami lagi sibuk dokter," jawab Regina. Regina merasakan jantungnya berdenyut nyeri ketika mengatakan kata suami. Kenyataannya, Regina tidak seperti mempunyai suami. Kevin hanya suami di atas kertas dan di atas ranjang. Kevin bukan seperti suami pada umumnya yang mencintai dan menyayangi istri dan calon anaknya dengan segenap hati.


"Bagaimana pergerakannya?" tanya dokter.


"Agak sering dokter. Dan aku juga sering mengalami kram. Terkadang rasa mual di pagi hari juga masih ada dokter," kata Regina. Kalau biasanya rasa mual muncul di trimester pertama kehamilan tapi tidak bagi Regina. Sampai di kehamilan lima bulan ini, Regina masih merasakan mual.


Regina sudah diperiksa dokter. Menurut keterangan dokter rasa kram itu adalah hal biasa bagi ibu hamil. Rasa mual itu selalu ada karena Regina memiliki riwayat asam lambung.


"Jangan sampai terlambat makan dan banyak pikiran ya bu," kata dokter itu setelah meresepkan obat kepada Regina.


Regina keluar dari rumah sakit itu setelah menebus resep dokter. Sambil menunggu ojek online itu menjemput dirinya. Regina sudah berjanji dalam hati tidak akan memikirkan apapun selain kebaikan untuk janinnya. Bahkan Regina bertekad tidak akan memikirkan hubungan pernikahan itu lagi. Karena tujuan akhirnya sudah pasti yaitu bercerai.


Memikirkan orangtuanya, Regina menetaskan air matanya. Kedua orangtuanya pasti sedih karena tidak ada orangtua yang ingin melihat rumah tangga anaknya hancur.


"Regina."


Regina mengedarkan pandangannya mencari suara yang memanggil dirinya. Suara yang sudah akrab di telinganya tapi sedikit tersamarkan dengan hiruk pikuk jalanan itu. Jalanan sedang macet karena saat itu jam pulang kerja para pekerja. Regina terus mencari ketika panggilan kedua atas namanya terdengar. Regina terkejut, di jalan yang macet itu. Dia melihat mobil Kevin terjebak macet. Mobil Kevin berada di tengah tengah jalan.


Regina mendadak pura pura tidak melihat. Regina melambaikan tangan kepada ojek online yang terlihat sedang kebingungan mencari dirinya. Regina naik ke atas motor itu tanpa memperdulikan teriakan Kevin yang memanggil dirinya dari tengah jalan itu.


Regina tidak mau lagi tertipu dengan perubahan semu yang ditunjukkan oleh Kevin. Lebih baik naik ojek online daripada duduk berdekatan di mobil dengan pria yang tidak menginginkan janinnya. Tidak mengapa jika Kevin belum mencintai dirinya. Tapi Regina tidak terima dengan penolakan Kevin pada janinnya itu. Janin itu darah daging Kevin. Seharusnya tidak ada alasan apapun menolak kehadiran janin itu.


"Mengapa tidak menjawab aku ketika di depan rumah sakit tadi Regina?" tanya Kevin setelah tiba di rumah.


"Nanti, Kita bahas itu kak. Sekarang kita makan malam dulu ya!" kata Regina lembut. Makanan di hadapan Kevin sudah tinggal santap saja karena Regina masih memperlakukan Rama seperti tiga bulan terakhir itu.


Sepertinya Kevin setuju dengan perkataan Regina. Laki laki itu makan dengan lahap dengan masakan Regina meskipun tanpa ada sayuran hijau malam ini.

__ADS_1


"Kak, aku mau membereskan ini dulu. Kakak tunggu di ruang tamu ya. Ada yang ingin aku bicara kan," kata Regina. Kevin terlihat mengerutkan keningnya tapi akhirnya menganggukkan kepalanya.


Regina cepat cepat menyelesaikan pekerjaan di dapur itu supaya cepat pula menyampaikan apa yang mengganjal di hatinya.


"Kenapa harus berbicara disini Regina dan apa yang ingin kamu bicarakan," tanya Kevin. Regina duduk di sofa berseberangan meja dengan Rama. Regina menarik nafas berkali kali.


"Kak, ternyata pernikahan tanpa cinta itu sangat melelahkan dan menyakitkan ya kak. Aku tahu, kakak sangat menderita dan tersiksa menjalani pernikahan ini. Aku tahu, cinta kakak sampai kapanpun hanya untuk Melati. Maafkan aku yang hadir tanpa sengaja menghancurkan impian indah kalian kak."


Regina menjeda perkataannya. Regina menundukkan kepalanya. Dia tidak sanggup bertatapan dengan Kevin yang terus menatap dirinya selama dirinya berbicara tadi.


"Kejar lah kembali cinta mu kak. Jika kamu butuh bantuan untuk meyakinkan Melati akan cinta mu yang tulus dan begitu besar kepada Melati. Aku akan membantu mu kak. Perempuan itu suka dikejar daripada mengejar. Tidak terkecuali dengan aku. Tapi demi janin ini, selama tiga bulan aku sudah mengejar kamu kak. Aku berhasil mendapatkan tubuh mu tapi tidak dengan hatimu. Aku tidak masalah jika aku kamu jadikan budak di ranjang. Aku juga tidak masalah jika kakak belum bisa atau mungkin tidak akan pernah bisa mencintai aku. Tapi aku tidak tahan jika kamu menolak janin ini kak. Janin ini ada karena perbuatan mu. Dia tidak minta dititipkan di rahim ini. Jadi seperti kesepakatan kita diawal pernikahan. Kita akan bercerai setelah janin ini lahir kan?"


Berbicara dengan janinnya. Regina tidak bisa menahan air matanya. Janinnya itu sudah menerima takdir yang keras padahal masih di dalam kandungan. Regina menangis dengan kepala tertunduk tanpa suara dengan bahu yang bergetar. Bagaimana tidak hancur hatinya, Janin yang tidak bisa apa apa disebut sebagai penghancur kebahagiaan Kevin.


Di hadapannya, Kevin juga menundukkan kepalanya. Laki laki itu belum menanggapi sepatah kata apapun atas semua perkataan istrinya. Entah apa yang ada di pikiran laki laki itu. Sikapnya yang tidak berusaha menenangkan Regina sudah cukup bagi Regina jika Kevin tidak mempunyai rasa apapun kepada dirinya termasuk rasa kasihan.


"Aku juga sudah siap jika kita bercerai malam ini kak. Disaat kamu mengucapkan kata talak. Maka saat itu juga aku keluar dari rumah mu ini. Maaf sebelumnya, aku mengetahui penolakan kakak akan janin ini karena aku lancang membuka ponsel mu. Kemarin malam, kontak bernama Nadia berkali kali memanggil. Aku tergerak hati membuka ponsel kakak. Dan kenyataan bahwa kamu belum menginginkan janin ini tertulis disana. Jika sikap ku itu adalah kesalahan, maka ceraikan aku sekarang kak."


Regina kemudian terdiam. Sudah cukup kata kata itu mewakili sakit hatinya. Regina menunggu Kevin bersuara dan menjatuhkan talak kepada dirinya. Tapi laki laki itu terus menundukkan kepalanya. Regina bahkan menunggu hingga hampir setengah jam.


Bukannya memberikan apa yang diinginkan Regina. Kevin justru meninggalkan dirinya di ruang tamu itu tanpa sepatah kata pun. Laki laki itu tidak memberikan kepastiaan. Bahkan Kevin sama sekali tidak meminta maaf atsa kesalahannya. Laki laki itu masuk ke dalam kamarnya dan tidak lama kemudian Regina juga masuk ke dalam kamar. Tapi bukan ke kamar Kevin melainkan ke kamarnya yang dulu.


Regina tidak hanya sekedar berbicara akan membantu Kevin untuk meyakinkan Melati. Malam itu juga Regina mengirimkan pesan kepada Melati. Pesan yang diawali dengan candaan dan Melati membalas dengan candaan pula.


"Mel, Boleh aku datang ke rumah mu besok?" tanya Regina. Akhirnya Regina melakukan panggilan suara kepada sahabatnya itu.


"Boleh donk Re. Jam berapa?.


"Kamu tidak kuliah?" tanya Regina.


"Dosen untuk besok sedang cuti tiga hari ini Re."


Janji bertemu akhirnya disepakati jam sembilan pagi. Regina sudah siap meyakinkan Melati supaya bersedia kembali menerima Kevin.

__ADS_1


__ADS_2