
"Ada apa bu?" tanya Pak Bayu penasaran. Pak Bayu malas untuk berdiri karena pak Bayu ingin melanjutkan pembicaraan yang membahas tentang masalah rumah tangga putrinya dengan Kevin.
Sama seperti Pak Bayu. Kevin dan kedua orangtuanya juga terlihat penasaran. Apalagi melihat wajah keriput nenek Lisa memucat dengan tangan yang bergetar.
Bukan saatnya menyembunyikan sesuatu saat ini. Nenek Lisa memberikan layar ponselnya ke pak Bayu kemudian wanita tua itu merosot ke lantai dengan tangisan memanggil nama cucu kesayangannya.
Kevin dan kedua orangtuanya juga akhirnya berebut melihat layar ponselnya itu. Di layar ponsel itu mereka bisa melihat foto yang hampir membuat jantung mereka berdetak berkali kali lipat dari biasanya.
Regina terlihat tergeletak di pinggir jalan. Regina tidak sendiri, ada orang lain yang sama seperti dirinya. Situasi itu memperlihatkan adanya kecelakaan mobil dan Regina bersama orang lain itu adalah korban. Di bawah foto itu ada keterangan lokasi kejadian yang tidak jauh lagi dari kota.
"Regina."
Dengan tubuh yang terguncang, Kevin menyebut nama istrinya. Laki laki itu langsung berlari ke dalam kamar mengambil kunci mobil. Yang ada di pikirannya saat ini bertemu dengan Regina. Pak Bayu terlihat masih terpukul melihat foto itu sedangkan Nenek Lisa sudah meraung raung memanggil namanya cucu kesayangannya itu.
"Ayo, kita berangkat ke lokasi kejadian," kata Pak Raka setelah melihat Kevin memegang kunci mobil. Pak Raka juga sangat shock melihat foto tapi laki laki itu mempunyai pemikiran yang sama dengan Kevin yaitu menemui Regina.
Mengetahui bagaimana terguncang Kevin melihat foto itu, Pak Raka mengambil alih tugas supir. Pak Raka tidak meragukan kemampuan Kevin mengendarai mobil. Tapi dalam suasana hati yang terguncang, Pak Raka tidak mau perjalanan mereka lebih beresiko lagi.
Kevin merasakan mobil bergerak lambat padahal pak Raka sudah membawa mobil itu diatas kecepatan rata rata. Terkadang mereka mendapatkan umpatan dari pengendara lain, tapi pak Raka tidak memperdulikan itu. Dia fokus melihat jalanan supaya perjalanan mereka berjalan mulus.
Di bangku belakang, Kevin terlihat menghubungi beberapa teman yang dia tahu berdomisili di sekitar kecelakaan. Pada panggilan pertama, Kevin tidak mendapatkan informasi apapun karena orang yang dihubungi itu tidak tahu tentang kecelakaan itu. Begitu juga pada panggilan kedua. Kevin tidak mendapatkan informasi apapun.
Entah sudah berapa orang yang dihubungi Kevin termasuk nomor yang mengirimkan foto itu kepada nenek Lisa. Ternyata yang mengirimkan foto itu adalah salah satu tetangga nenek Lisa di desa dan dia mendapatkan foto itu dari media sosial yang sudah banyak dibagikan hingga postingan itu terlihat di beranda media sosialnya.
Kekuatan media sosial itu membuat beritahu kecelakaan itu cepat tersebar. Kejadiannya lebih kurang sekitar dua jam yang lalu. Dan Kevin ingin memastikan apakah istrinya itu sudah mendapatkan penanganan medis atau belum.
Hingga panggilan yang kesekian kalinya, Kevin mendapatkan informasi jika para korban kecelakaan itu sudah dibawa rumah sakit negeri yang ada di pinggiran kota itu.
"Kita langsung ke rumah sakit pa," kata Kevin. Suaranya bergetar ketakutan karena informasi yang dia dapatkan barusan jika ada korban yang meninggal dunia di tempat kejadian. Kevin tidak berani mengkonfirmasi ciri ciri korban meninggal dunia. Di hati dan pikiran, Kevin sangat yakin jika istri dan calon anaknya akan selamat.
Sepanjang perjalanan itu, nenek Lisa tidak bisa menghentikan tangisannya. Selain menyebut nama cucu kesayangannya. Nenek Lisa juga menyesali kedatangan ke kota ini karena Regina sudah melarang nya. Tapi demi bertemu Kevin. Bahkan Nenek Lisa memajukan keberangkatannya. Seharusnya dirinya hari ini berangkat dari desa. Nenek Lisa berangkat dari desa tanpa sepengetahuan Regina. Bisa dipastikan jika Regina sengaja menyusul ke kota berangkat malam dari desa.
Entah sadar atau tidak, karena penyesalannya. Nenek Lisa membongkar sendiri jika ternyata Regina bersama dirinya selama dua bulan ini. Kevin dan kedua orangtuanya mendengar jelas perkataan Nenek itu tapi hal itu tidak penting lagi bagi mereka. Yang terpenting saat ini, mereka bisa menemui Regina dalam keadaan baik dan cepat mendapatkan pertolongan medis.
Bukan seperti nenek Lisa yang menangis terus. Ibu Tika hanya mampu terdiam. Sesekali, dia mengusap punggung nenek Lisa yang ada di sebelahnya. Tapi dalam hati, ibu Tika terus berdoa akan keselamatan Regina dan calon cucunya. Terkadang ibu Tika meneteskan air matanya membayangkan keadaan Regina saat ini.
Kevin terguncang tapi otaknya bisa berpikir dengan baik. Setelah mengetahui jika Regina sudah dibawa ke rumah sakit. Laki laki itu tidak langsung terdiam. Dia masih sibuk menghubungi orang orang yang dia anggap bisa memastikan keadaan Regina sebelum mereka tiba di rumah sakit itu.
Kini Kevin terdengar menghubungi seseorang meminta nomor kontak siapa pun yang bekerja di rumah sakit itu. Tidak mudah bagi Kevin mendapatkan nomor kontak tersebut. Kevin harus menghubungi beberapa orang terlebih dahulu baru mendapatkan nomor kontak seorang dokter yang bekerja dan berjaga di rumah sakit itu saat ini.
__ADS_1
"Syukur lah," kata Kevin ketika panggilan ke dokter itu dijawab.
"Dokter Fadil ya!. Dokter, saya Kevin suami dari Regina korban kecelakaan yang sudah dibawa ke rumah sakit tempat dokter bertugas. Sebentar lagi saya akan tiba disana dokter. Aku mohon, tolong berikan penanganan medis kepada istri saya secepatnya dokter. Aku mohon."
Dokter itu membenarkan jika ada korban kecelakaan yang dibawa ke rumah sakit ini dan saat ini sedang ditangani dan sudah ada yang sudah selesai ditangani. Tentu saja, dokter itu tidak tahu yang mana Regina. Dia hanya menjalankan tugasnya tanpa memperdulikan identitas pasien terlebih dahulu karena hampir semua korban kecelakaan itu adalah pasien darurat dan perlu penanganan medis lainnya.
Dan saat ini dokter itu juga sedang bekerja dan terganggu karena panggilan suara dari nomor yang tidak dikenal itu. Bahkan bukan dirinya yang pertama menjawab panggilan itu melainkan perawat yang mendampingi dirinya melakukan pemeriksaan.
"Pa, bisa dipercepat mobil?" tanya Kevin tidak sabar. Perjalanan itu butuh waktu setengah jam lagi supaya tiba di rumah sakit yang mereka tuju tapi Kevin tidak sabaran lagi. Jawaban dokter tadi tidak memuaskan Kevin. Dia ingin melihat kondisi Regina secepatnya.
Tiba di halaman rumah sakit, Kevin keluar dari mobil terlebih dahulu. Dia langsung berlari menuju ruangan rawat darurat karena menurut keterangan dokter Fadil tadi, semua korban kecelakaan masih ditangani.
Benar saja, Lewat pintu kaca, Kevin bisa melihat Regina dengan mata terpejam berbaring di salah satu tempat tidur di ruangan itu. Yang membuat Kevin merasa lega, ada botol infus yang tergantung dekat Regina dan terhubung ke pergelangan tangan istrinya itu.
Kevin ingin masuk tapi belum bisa karena Regina belum dipindahkan ke ruangan inap.
Kevin terduduk di lantai dengan menundukkan kepalanya. Dirinya sangat merindukan Regina dan ingin bertemu dengan istrinya itu selama ini. Dan kini, Kevin sudah bisa melihat istrinya itu tapi dengan keadaan yang tidak diharapkan.
Melihat Regina seperti itu bisa membuat hati Kevin teriris. Dia menginginkan Regina dalam keadaan baik tapi yang terjadi saat ini, Regina dalam keadaan sakit dan belum tahu bagaimana keadaan Regina yang sesungguhnya.
Pak Bayu dan Nenek Lisa tidak kalah terpukul melihat keadaan Regina apalagi setelah mendengar keterangan dokter, Regina belum sadarkan diri sejak dibawa ke rumah sakit itu. Regina harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan Kevin langsung setuju dengan pemeriksaan itu. Kevin tidak perduli berapa pun biayanya asalkan Regina bisa selamat dan tersadar dari pingsan itu.
Tidak ada yang menyakitkan yang pernah dialami oleh Kevin selama ini selain melihat keadaan Regina yang masih terpejam. Bahkan perpisahan dengan Melati tidak seberapa menyakitkan jika dibandingkan dengan kesedihan yang dialami oleh Kevin melihat keadaan istrinya.
"Regina, kamu harus kuat sayang. Kita pasti bisa bersama sama lagi," kata Kevin sambil berlari mengikuti istrinya yang didorong oleh dua orang perawat.
Kevin menyentuh wajah Regina. Seketika Kevin menangis menyadari wajah istrinya yang terasa dingin.
Mereka berlima hanya bisa terdiam di ruangan pemeriksaan Regina dengan doa doa yang terucap dari bibir mereka untuk keselamatan dan kesembuhan Regina dan calon anaknya.
Sebagai pihak yang menyebabkan Regina pergi jauh dari kota itu tentu saja Kevin semakin merasa bersalah kepada Regina.
"Apa Siska sudah mengetahui keadaan Regina?" tanya Nenek Lisa lesu pada Pak Bayu. Pak Bayu hanya menggelengkan kepalanya. Karena terguncang, laki laki itu tidak mampu mengeluarkan kata kata.
Nenek Lisa baru saja menghentikan tangisannya. Sama seperti Kevin, wanita tua itu juga merasa sangat bersalah karena terlalu memaksakan diri untuk bertemu dengan Kevin. Andaikan dia tetap menurut di desa mungkin Regina tidak mengalami kejadian ini. Nenek Lisa sudah bisa menebak jika Regina menyusul dirinya ke kota untuk mencegah supaya nenek Lisa tidak menemui Kevin apalagi bertanya tentang kalung itu.
Pak Bayu berpikir jika istrinya ibu Siska tidak mengetahui kecelakaan yang menimpa Regina ternyata tidak. Istrinya itu kini muncul di depan ruangan pemeriksaan itu bersama Melati. Ibu Siska mengetahui kecelakaan itu dari Melati yang mendatangi dirinya di tempat kerja. Lagi lagi, Melati mengetahui kecelakaan ini dari media sosial.
Tidak ada yang menyakitkan bagi seorang ibu selain mengetahui anaknya dalam bahaya. Menyadari Regina dalam keadaan hamil mengalami kecelakaan tentu saja beresiko pada kandungannya.. Pelukan nenek Siska dan ibu Tika pada ibu Siska tidak dapat mengurangi kesedihan wanita itu
__ADS_1
Ibu Siska menangis histeris sambil memukul tubuhnya sendiri. Tidak cukup bagi Regina mengalami p*merkosaan, penolakan bahkan penderitaan dalam pernikahan. Kini Regina harus berjuang antara hidup dan mati karena kecelakaan itu. Takdir memang benar benar kejam pada Regina.
"Apa dokter sudah memeriksa kandungan Regina?" tanya ibu Siska pada suaminya. Lagi lagi Pak Bayu hanya menggelengkan kepalanya. Pak Bayu terlihat sangat terpukul akan kecelakaan yang menimpa Regina itu.
Pertanyaan ibu Siska ternyata membuat mereka yang ada di depan ruangan pemeriksaan itu tersadar. Mereka hanya fokus memikirkan keselamatan dan kesembuhan Regina ternyata ada sosok kecil yang tidak berdaya yang harus dipikirkan.
Mengingat janin yang dikandung Regina itu, Kevin semakin merosot ke lantai. Di pikirannya terbayang penolakan demi penolakan dirinya atas janin itu. Mungkinkah calon anaknya itu mampu bertahan dalam kandungan ibunya yang sedang pingsan?"
Pertanyaan itu muncul di pikiran Kevin. Membayangkan hal buruk yang menimpa calon anaknya. Kevin menggelengkan kepalanya.
Ibu Tika juga merasakan kesedihan yang luar biasa. Regina memang hanya seorang menantu bagi dirinya dan masih hitungan bulan hubungan itu terjadi pada mereka. Meskipun hanya seorang menantu, Ibu Tika sudah jatuh hati pada menantunya. Ibu Tika sangat terkesan dengan kebaikan Regina yang pernah merawat dirinya sewaktu sakit.
Acara syukuran tujuh bulanan yang diharapkan bisa dilakukan bulan ini sepertinya jauh dari harapan. Kalau di waktu sebelumnya, ibu Tika dan Pak Bayu pesimis akan bisa merasakan syukuran tujuh bulanan karena Regina belum ditemukan kini yang membuat mereka pesimis keadaan Regina yang belum diketahui.
Kehadiran Melati di tempat itu tidak menari perhatian Kevin. Dia melihat Melati ada di tempat itu tapi Kevin tidak merasakan apapun. Sejak kedatangannya dan kedua orangtuanya di rumah Melati. Kevin tidak pernah lagi menemui atau melihat secara diam diam mantan kekasihnya itu. Di pikiran Kevin yang ada hanya Regina dan calon anaknya itu. Tapi sayang pertemuan seperti ini.
"Tante, jangan menangis lagi. Regina pasti bisa melewati ini. Regina wanita yang kuat," kata Melati menguatkan ibu Siska yang masih menangis. Mereka juga tidak sabar menunggu pintu ruangan itu terbuka dan mendengar kabar baik dari dokter. Melati merasa sangat kasihan kepada ibu Siska yang terus menangis sejak mengetahui kecelakaan itu. Sepanjang perjalanan di dalam taksi. Wanita itu terus menangis dan menyebut nama Regina.
Meskipun hanya seorang sahabat, Melati merasakan kesedihan sama besar dengan kesedihan yang sedang dirasakan oleh Kevin, kedua orang tua Regina maupun kedua mertuanya.
Semua mata tertuju pada pintu ruangan yang sudah dibuka dari dalam. Mereka sontak berdiri semuanya dan mendekati dokter yang berdiri di sana.
"Pasien mengalami benturan yang kuat di bagian kepalanya membuat pasien belum sadarkan diri. Tidak ada luka lain selain di kepala," kata dokter itu menerangkan. Keterangan yang tidak membuat keluarga puas karena Regina masih saja tidak sadarkan diri.
"Lalu bagaimana dengan kehamilannya dokter?" tanya ibu Siska.
"Tidak ada masalah yang serius pada kehamilan pasien. Sampai saat ini masih bisa di pertahankan. Kita doakan pasien secepatnya bisa tersadar."
Keluarga merasa lega mendengar janin Regina tidak mengalami masalah yang serius.
Kevin dan keluarga lain masih setia menunggu Regina di depan ruangan pemeriksaan itu. Ketika Regina hendak dipindahkan ke ruangan inap. Kevin langsung ikut mendorong tempat tidur istrinya itu.
"Tolong, jangan berkerumun masuk ke dalam. Meskipun pasien koma, dia juga butuk ketenangan di ruangannya," kata perawat setelah Regina sudah di ruangan inap.
"Boleh Saya yang masuk terlebih dahulu Sus. Saya ibunya," kata ibu Siska. Perawat itu mengijinkan ibu Siska masuk yang langsung diikuti oleh Kevin. Perawat juga tidak melarang Kevin setelah laki laki itu menyebutkan dirinya suami dari pasien.
"Re, maafkan aku Regina. Aku benar benar menyesal karena menyakiti kalian berdua," kata Kevin sambil memegang tangan Regina sedangkan ibu Siska mencium wajah putrinya itu.
"Regina, sekarang usia kandungan mu sudah tujuh bulanan. Cepat bangun ya nak. Mama sudah tidak sabar membeli perlengkapan bayi mu," kata ibu Siska. Kevin semakin menundukkan kepalanya mendengar perkataan mama mertuanya. Kepalanya yang langsung menatap wajah pucat Regina membuat jantungnya berdenyut nyeri.
__ADS_1
Bukan hanya perkataan mama mertuanya membuat Kevin tertunduk. Kevin merasa malu melihat wajah mama mertuanya. Mendengar kehamilan Regina yang sudah tujuh bulan yang ada di pikiran Kevin penolakannya akan acara syukuran tujuh bulanan.
Andaikan dirinya tidak bodoh menolak acara itu dengan kata katanya yang menyakitkan. Mungkin Regina tidak ada di ruangan itu. Mungkin saat ini mereka sudah sibuk mempersiapkan acara syukuran tujuh bulanan itu. Tapi karena kebodohannya, mereka kini dihadapkan dengan kesedihan karena keadaan Regina.