
Tidak mudah melupakan orang yang sangat dicintai. Mulut bisa berkata ihklas tapi tidak dengan hati. Begitu juga dengan Regina dan Melati. Mereka tidak muda saling melupakan apalagi melupakan seseorang yang sudah pernah menjadi tambatan hati. Regina masih sulit melupakan Reza walau sudah berusaha ikhlas begitu juga dengan Melati. Wanita itu juga sulit melupakan Kevin walau berusaha merelakan Kevin untuk sahabatnya.
Hari hari terakhir ini adalah hari yang sulit bagi Regina, Melati, Reza dan juga Kevin. Mereka terpaksa harus terpisah dari pasangan masing masing karena kondisi yang tidak pernah mereka harapkan.
Jika Melati dan Reza lebih muda menata hati tapi tidak dengan Regina dan Kevin. Regina sudah berusaha menerima takdirnya tapi tidak dengan keluarganya. Setelah diabaikan beberapa hari, Pak Bayu dan ibu Siska kembali mendesak Regina untuk membawa laki laki itu ke rumah.
Regina sadar, apa yang dilakukan kedua orangtuanya itu adalah bentuk tanggung jawab dan kasih sayang sebagai orang tua. Tapi Regina juga sadar jika dirinya juga tidak bisa memaksa Kevin untuk menikahi dirinya. Penolakan laki laki itu sudah membuat Regina sakit hati, diremehkan bahkan tidak di hargai. Dan untuk saat ini, Regina merasa aman karena jauh dari orangtuanya. Regina sudah bertekad akan berusaha mandiri supaya bisa menjalani kehamilan itu tanpa bantuan siapa pun baik itu sahabat, keluarga bahkan Kevin.
Regina boleh bernafas lega dan mengabaikan pesan demi pesan orangtuanya yang meminta dia untuk kembali. Bukan karena dendam, Regina tidak mau kembali karena memang sudah berniat untuk menyembunyikan kehamilan itu dari para tetangganya. Tapi ketika Melati mengirimkan pesan kepada dirinya. Regina tidak bisa mengabaikan pesan tersebut. Regina sangat senang. Pesan dari Melati itu seakan awal dari kembali nya persahabatan mereka seperti dulu. Regina berpikir, bersama Melati dirinya akan bisa bertukar pikiran tentang sumber keuangan nya nanti.
Pagi itu, Regina kembali tersenyum setelah hampir satu bulan atau lebih wajahnya sulit tersenyum. Pesan Melati bisa membuat dirinya kembali bersemangat. Sebesar itu pengaruh Melati kepada dirinya.
Kini, Regina sudah bersiap. Sesuai dengan alamat yang dikirimkan Melati untuk tempat pertemuan mereka hari ini. Regina memesan ojek online sesuai alamat itu.
Tiba di alamat itu. Regina terdiam. Lututnya
bergetar. Regina sudah bisa menebak maksud keberadaan kedua orangtuanya bersama Melati di tempat itu. Regina ingin menghindar tapi melihat wajah pak Bayu dan ibu Siska yang sepertinya baru menangis, Regina tidak tega meninggalkan kedua orangtuanya begitu saja.
"Kami sudah mengetahui semuanya nak," kata Pak Bayu sedih. Sebelum kedatangan Regina. Melati sudah menceritakan apa yang terjadi pada Regina sehingga mengandung benih kekasihnya. Penjelasan Melati tentu saja mengubah cara pandang pak Bayu dan ibu Siska kepada putrinya. Melati memang tidak bisa menjaga diri tapi dalam hal ini, apa yang terjadi pada Regina bisa dikatakan sebagai musibah.
Regina menangis. Melihat pak Bayu dan ibu Siska melunak kepada dirinya membuat Regina sangat sedih. Regina merasa sedih karena membalas jerih payah kedua orangtuanya dengan masalah rumit seperti ini.
"Maafkan aku pa, ma."
__ADS_1
Ibu Siska menangis dan menganggukkan kepalanya. Hati wanita mana yang tidak hancur melihat putrinya hamil karena dip*rkosa. Tidak mudah seperti Melati yang harus memendam masalah sendiri yang seharusnya sebagai orangtua mereka bisa memberikan dukungan pada Regina. Untung saja Regina adalah wanita yang kuat kalau tidak bisa saja mereka kini kehilangan Regina.
"Mana laki laki itu?" tanya Pak Bayu. Regina menggelengkan kepalanya karena dirinya memang tidak mengetahui keberadaan laki laki itu.
"Dia tidak bersama mu Re?" tanya Melati. Lagi lagi Regina menggelengkan kepalanya.
"Jadi beberapa hari ini kamu dimana?" tanya Melati.
Regina akhirnya menceritakan apa yang dialami setelah keluar dari rumah Melati. Regina tidak ingin menutupi hal apapun karena dirinya merasa sahabat dan kedua orangtuanya akan mendukung rencana masa depannya setelah mengetahui perbuatan Kevin kepada dirinya.
"Kita ke rumah orangtuanya sekarang," kata Melati. Kedua orangtua Regina bersamaan menganggukkan kepalanya.
"Apa Mel?. Tidak, tidak perlu," jawab Regina cepat. Dugaannya salah. Ternyata perbuatan minus Kevin kepada dirinya tidak membuat niat kedua orangtuanya surut untuk meminta pertanggungjawaban Kevin.
Di dalam mobil itu, Regina merasakan ketakutan, kegelisahan dan kecemasan bercampur menjadi satu. Jika hanya dirinya ditolak tidak masalah bagi Regina. Tapi bagaimana jika Kevin dan kedua orangtuanya tidak bersedia menerima kedatangan mereka nanti di rumahnya. Itu sama saja dengan mempermalukan dirinya.
Berkali kali Regina meminta maaf dalam hati kepada orangtuanya karena membuat mereka susah dan merendahkan diri di hadapan kedua orangtua Kevin.
Sambutan kedua orangtua Kevin memang tidak terlihat meremehkan atau tidak menghargai mereka. Tapi dengan kedatangan mereka di rumah itu, mereka sudah merendahkan diri untuk mendapatkan pertanggungjawaban dari Kevin.
Regina hanya terdiam melihat sambutan hangat ibu Tika kepada Melati. Sepertinya perkataan Melati sebelumnya. Melati benar benar calon menantu yang direstui.
"Mel, mereka saudara mu?" tanya ibu Tika. Regina dan kedua orangtuanya sudah dipersilahkan duduk sedangkan Melati dan ibu Tika baru saja melakukan cipika cipiki.
__ADS_1
"Kita duduk dulu tante, ada hal yang penting akan kedatangan kami ini. Oya tan, mas Kevin dimana?" tanya Melati sambil menuntun ibu Tika duduk di sofa.
"Kalian berdua belum buat janji sebelumnya?" tanya ibu Tika. Melati menggelengkan kepalanya.
"Ini masih jam kerja mel. Mas mu itu masih di kantor."
"Ya ampun tante. Aku kok bisa lupa ya," kata Melati kemudian tertawa kecil.
"Tolong suruh putra anda cepat pulang," kata Pak Bayu tidak sabar. Menunggu beberapa jam lagi hanya akan menciptakan kecanggungan di antara mereka. Selain itu, Pak Bayu penasaran melihat wajah pria yang menghancurkan masa depan putrinya itu.
"Ada apa ini Pak. Apa ada hal penting yang ingin kalian bicarakan dengan Kevin?" tanya Pak Raka. Melihat cara bicara pak Bayu. Pak Raka sudah bisa menangkap sesuatu yang kurang baik atas kedatangan mereka di rumah nya itu.
"Kalau hanya untuk mempercepat pernikahan Melati. Tidak perlu ada Kevin. Kami siap berdiskusi untuk hal itu saat ini juga," kata ibu Tika sambil tersenyum ke arah Melati. Melati membalas senyuman itu untuk menghargai ibu Tika. Tapi tidak dengan hatinya. Andaikan dirinya bisa menunjukkan kesedihannya di rumah itu. Melati akan melakukan tapi dia tidak bisa karena tidak ingin melihat Regina semakin bersedih. Tangisannya hanya akan membuat Regina ragu melangkah jika Kevin bersedia bertanggung jawab.
"Sebelumnya kami minta maaf atas kedatangan kami yang tiba tiba ini. Kedatangan kami bukan berkaitan dengan Melati melainkan karena putri kami."
Regina semakin menundukkan kepalanya. Sedangkan wajah kedua orangtua Kevin penuh dengan tanda tanya.
"Ada apa ini Pak?" tanya Pak Raka.
"Kevin melakukan p*rkosaan kepada putriku. Dan sekarang dia mengandung."
Wajah kedua orangtua Kevin terlihat menegang mendengar berita yang tidak terduga itu. Hingga Melati menceritakan apa yang terjadi pada antara Regina dan Kevin membuat Pak Raka dan ibu Tika melemas.
__ADS_1