
Lima bulan sudah usia kehamilan Regina. Dan itu artinya hampir empat bulan pernikahan Regina dan Kevin. Dan tiga bulan perjuangan Regina untuk meluluhkan hati Kevin. Dan selama tiga bulan itu, Regina tidak tahu apakah dirinya berhasil atau tidak. Karena selama tiga bulan ini, Kevin melakukan tanggung jawabnya sebagai suami dan menjalankan kewajibannya sebagai suami.
Kevin memberikan uang bulanan setiap awal bulan kepada Regina. Dan hampir setiap malam selama tiga bulan itu mereka tidur di ranjang yang sama dan melakukan kegiatan suami istri.
Dilihat dari aktivitas mereka, Kevin dan Regina sudah seperti suami istri pada umumnya. Dan tiap bulan juga, Kevin rutin menemani Regina memeriksakan kandungan.
Hamil di usia lima bulan, tentu saja perut Regina sudah terlihat buncit. Regina juga sudah bisa merasakan pergerakan janinnya itu. Bahagia, Regina tentu saja bahagia. Regina bahagia bukan hanya karena perkembangan janinnya yang sangat baik. Regina bahagia karena komunikasi antara dirinya dan Kevin perlahan membaik. Sikap dingin Kevin perlahan lahan mencair walau Regina dan Kevin belum seakrab Melati dan Kevin ketika berpacaran.
Sepertinya usaha Regina tidak berakhir sia sia. Kevin terkadang meminta Regina memasak makanan kesukaannya. Hal itu membuat Regina merasa sangat dibutuhkan. Bukan hanya meminta memasak makanan kesukaannya. Kevin juga sudah membawa Regina tidur di kamarnya.
Bukan hanya Regina yang merasa senang dengan perubahan Kevin. Melati juga sangat senang. Melati merasa usahanya juga tidak sia sia. Setidaknya dengan perubahan Kevin, dirinya juga tidak terganggu dengan kehadiran laki laki itu yang diam diam memperhatikan dirinya. Dan dirinya akan terbebas dari berpacaran pura pura dengan Reza.
"Syukur lah Re, semoga pernikahan kalian awet sampai tua ya. Aku turut senang," kata Melati. Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran di dalam mall. Regina menceritakan sedikit tentang perkembangan hubungan mereka kepada Melati.
"Sebenarnya aku kurang enak menceritakan hal ini kepada mu Mel. Maaf ya Mel."
Mengingat Melati adalah mantan kekasih dari suaminya.. Regina merasa tidak enak menceritakan perkembangan hubungannya dengan Kevin.
"Santai saja Re, Kamu tidak salah Re. Jadi fokus lah dengan kebahagiaan kamu."
Regina tersenyum tulus pada sahabatnya. Seperti doa Melati. Regina juga berharap hubungan dengan Kevin semakin membaik. Dan Regina berharap hubungan mereka tidak sekadar tanggung jawab dan kewajiban. Regina berharap suatu hari nanti hubungannya dengan Kevin hubungan suami istri yang berlandaskan cinta.
Pertemuan Regina dan Melati hari ini melegakan hati Regina. Regina bisa melihat jika tidak ada lagi cinta di mata Melati kepada suaminya. Regina akan merasa terbebani menjalani hubungan pernikahan dengan Kevin jika Melati masih mencintai suaminya. Dan jauh di lubuk hatinya, Regina juga berharap Kevin juga bisa perlahan lahan melupakan Melati.
__ADS_1
"Bagaimana hubungan kamu dengan Reza?" tanya Regina. Beberapa minggu ini, Melati tidak sesering dulu memposting kebersamaannya dengan Reza. Kalau dulu Melati bisa memposting foto hampir tiap hari. Dalam satu minggu ini, Melati hanya memposting foto mereka hanya dua Kali.
"Kapan kapan aku cerita ya Mel, sekarang kita makan dulu," kata Melati. Melati tersenyum sambil menyodorkan makanan yang baru saja di antarkan seorang pelayan ke meja mereka.
"Dengan siapa pun kamu berjodoh Mel, aku harap kamu menemukan laki laki yang lebih segalanya dari kak Kevin."
"Ya, semoga saja Re."
"Kamu dan Reza benar benar pacaran kan?"
Melati terbatuk mendengar pertanyaan Regina. Wanita itu menganggukkan kepalanya. Untuk saat ini, dirinya tidak ingin memberitahukan kepada siapapun jika dirinya dan Reza hanya berpura pura berpacaran supaya Kevin bisa mengalihkan hatinya dari Melati. Biarlah, hanya sasa yang mengetahui kebenaran itu. Melati dan Reza memang tidak bisa menyembunyikan hubungan berpacaran pura pura itu dari Sasa sangat gencar mendekati Reza.
"Sudah tahu jenis kelamin janin mu Re?" tanya Melati di sela sela makan mereka.
"Pasti cantik seperti kamu nanti Re. Aku sangat yakin itu," kata Melati senang.
"Dan dia pasti baik seperti sahabat mamanya."
Regina dan Melati sama sama tertawa kecil.
"Kevin dan kedua mertua mu pasti senang. Kevin kan anak tunggal. Kedua mertuanya pernah bercerita sangat menginginkan cucu pertamanya perempuan Re."
Regina hanya tersenyum. Kedua mertuanya memang sangat senang mengetahui jenis kelamin janinnya. Tapi dia tidak tahu jika Kevin senang atau tidak. Saat USG beberapa minggu yang lalu, reaksi Kevin biasa saja saat dokter mengatakan jenis kelamin janinnya. Kevin tidak pernah menunjukkan sikap berlebihan ketika memeriksakan kehamilan. Bahkan ketika pertama kali mendengar denyut jantungnya janinnya, Kevin hanya terdiam mendengar penjelasan dokter.
__ADS_1
Komunikasi Kevin dan Regina memang membaik tidak seperti di awal pernikahan. Tapi komunikasi mereka terlalu datar. Bahkan Regina tidak tahu di saat kapan suaminya itu senang dan di saat kapan sedang sedih. Hanya saja beberapa terakhir ini, Regina tidak pernah lagi melihat Kevin menahan marah jika Regina memposting kebersamaannya dengan Reza.
Regina dan Melati tidak bisa berlama lama menghabiskan waktu bersama saat ini. Akhir akhir ini, Kevin sudah sering tiba di rumah sebelum jam enam. Dan sebagai istri yang baik Regina harus berada di rumah sebelum suaminya itu pulang. Tadi sebelum keluar, Regina memang sudah minta ijin kepada Kevin keluar bersama Melati hari ini.
Regina tiba di rumahnya tepat di jarum jam angka Lima. Seakan tidak lelah dan perut buncitnya tidak menjadi penghalang. Regina mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua. Tidak lupa, Regina juga membersihkan tubuhnya sebelum Kevin tiba di rumah. Regina tidak mau, Kevin melihat dirinya dalam keadaan acak acakan dan bau bumbu.
"Kak," sapa Regina begitu membukakan pintu untuk suaminya.
"Aku lapar Regina. Kamu sudah masak kan?" tanya Kevin. Mungkin karena kasihan melihat Regina berat dengan perut buncitnya itu. Akhir akhir ini Kevin tidak pernah lagi memberikan tas kerjanya kepada Regina. Kevin sendiri yang menyimpan tas kerjanya itu di tempat biasa.
"Sudah kak. Kakak mandi dulu ya biar segar nanti pas makan," kata Regina. Kevin menurut. Suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Regina mempersiapkan pakaian rumah untuk Kevin.
Kegiatan Regina memilih pakaian Kevin sedikit terganggu dengan getar ponsel milik Kevin yang diletakkan begitu saja di tempat tidur.
Regina mendekati ponselnya itu. Jantungnya berdetak kencang melihat pemanggil di sana. Di layar itu tertulis nama pemanggil nama Nadia. Regina tidak berani menjawab panggilan itu. Dia memandangi layar ponselnya itu yang masih saja bergetar.
Regina memberanikan diri ingin mengetahui sejauh mana hubungan suaminya dengan wanita itu. Regina membuka layar yang tidak terkunci itu. Pertama kali yang dilihat adalah riwayat panggilan. Dan hanya ada satu riwayat panggilan tertera di sana yaitu panggilan tidak terjawab dari Nadia tadi. Itu artinya jika Kevin rutin menghapus riwayat panggilannya.
Tangan Regina terus berselancar melihat galeri foto. Betapa Regina terkejut melihat beberapa foto dirinya dan Melati sewaktu di mall tadi. Ternyata Kevin juga berada di mall yang sama dengan mereka tadi. Tapi mengapa, Kevin membiarkan dirinya pulang naik ojek online.
Regina terus menggeser foto foto itu. Ternyata bukan hanya foto yang tadi saja ada di galeri itu. Foto foto Kevin dan Melati saat masih berpacaran juga masih tersimpan di ponsel itu. Bahkan foto yang bernama Nadia itu satupun tidak ada di dalam galeri itu. Hampir semua foto Melati bersama Kevin di galeri tersebut. Jika ada pun fotonya di galeri tersebut itu karena bersama Melati. Bahkan yang terlihat hanya punggung Regina.
Pikiran Regina melayang layang. Mengapa Kevin bisa berada di mall itu di waktu yang bersamaan dengan dirinya berada di mall tersebut bersama Melati.
__ADS_1
Mungkinkah Kevin sengaja mengikuti dirinya karena mengetahui jika dirinya bersama Melati.