Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 43


__ADS_3

Melati menatap Kevin dengan marah. Dari kata kata ibu Tika. Melati sudah sudah menyimpulkan jika dirinya seperti wanita yang menginginkan laki laki beristri. Melati sudah ikhlas melepaskan Kevin demi mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tapi kedatangan kedua orangtuanya Kevin ke rumahnya membuat Melati tersinggung karena pemikiran Kevin yang menganggap janin yang ada di kandungan Regina adalah penghambat kebahagiaan Kevin.


"Tante, om. Setelah Kevin dan Regina menikah. Berkali kali Kevin menawarkan kebahagiaan kepada ku dengan alasan masih cinta. Tapi tidak sekalipun aku menanggapinya. Jika kedatangan om dan tante ke rumah ini untuk meminta aku menjauhi Kevin. Dari dulu, itu sudah aku lakukan Tante, om," kata Melati.


Setelah mendengar sendiri perkataan demi perkataan ibu Tika. Melati sudah dapat menyimpulkan jika kedatangan mereka di rumah itu untuk menyelamatkan pernikahan Kevin dan Melati.


Melati merasakan hatinya sakit, hanya karena sikap Kevin yang tidak baik memperlakukan istri dan calon anaknya berimbas pada Melati. Mereka tidak tahu pengorbanan seperti apa yang sudah dilakukan Melati demi pernikahan sahabat dan mantan kekasihnya.


"Aku percaya pada kamu Melati dan tante merasa lega mendengar semua perkataan kamu. Kedatangan kami ke mari bukan semata mata ingin tahu tentang seberapa dalam hubungan kamu dengan Kevin di masa lalu dan bagaimana hubungan kamu saat ini dengan Kevin. Kami datang kemari, untuk meminta tolong kepada kamu. Seandainya kamu tahu dimana Regina saat ini. Tolong beritahu kami," kata ibu Tika lagi.


Ibu Tika mengatakan yang sejujurnya, kalau tadi dia mengatakan akan melamar Melati untuk Kevin hanya ingin melihat bagaimana tanggapan putranya itu. Ternyata Kevin tidak terlalu senang dan bahkan keberatan. Ibu Tika sangat yakin jika Kevin sudah mulai ada rasa pada Regina tapi putranya itu belum benar benar menyadarinya.


"Aku tidak tahu dimana Regina tante. Komunikasi kami terakhir satu minggu yang lalu. Regina meminta bertemu tapi dia menggagalkan pertemuan itu," jawab Melati datar. Amarahnya pada Kevin ingin dilampiaskan tapi Melati menghargai pak Raka dan ibu Tika.


Ibu Tika dan pak Raka sama sama menatap wajah Melati seakan melihat keseriusan wanita itu.


"Baiklah, kalau Regina menghubungi kamu. Tolong beritahu kami ya."


Karena terlanjur tersinggung dengan sikap ibu Tika, Melati hanya menganggukkan kepalanya.


"Tunggu Tante, om. Boleh aku berbicara berdua dengan Kevin sebentar?" tanya Melati ketika tiga orang tamunya itu beranjak dari duduknya. Kevin mengerutkan keningnya sedangkan ibu Tika menatap putranya itu.


"Boleh, silahkan. Kevin, kami tunggu di mobil,* jawab Pak Raka. Laki laki itu langsung mendahului langkah ibu Tika yang sepertinya keberatan dengan permintaan Melati itu.


"Tante, tenang saja. Aku tidak akan berbuat di luar batas sebagai mantan kekasih dari Kevin," kata Melati. Melati dapat melihat wajah keberatan yang ditunjukkan oleh ibu Tika.


Kini di ruang tamu itu tinggal Kevin dan Melati. Melati yang sejak tadi menahan amarah merasakan dadanya naik turun dan menatap Kevin dengan gigi yang rapat.


"Aku mau pun Regina. Tidak pantas untuk kamu Kevin. Laki laki yang tidak berperasaan," kata Melati marah. Kevin tidak menjawab. Laki laki itu hanya terdiam dan sesekali menatap wajah Melati.


"Kamu tahu, Regina ingin memberikan yang terbaik kepada mu. Dia tidak perduli dengan segala penolakan kamu sebelum menikah. Dia melakukan kewajibannya sebagai istri dengan baik. Dia melakukan itu bukan karena kebaikan kamu. Regina melakukan itu karena ingin menikahi sekali dalam seumur hidup. Berbeda dengan kamu yang ingin menikah lebih dari satu kali. Kevin, awalnya aku berharap masih bisa berteman dengan kamu setelah pernikahan kamu dengan Regina. Ternyata kamu tidak pantas dijadikan sebagai teman. Mulai hari ini, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal," kata Melati.


Sejak mengetahui jika Kevin adalah ayah dari janin yang dikandung oleh Regina. Berkali kali, Melati kecewa. Kecewa karena Kevin tidak bisa menjaga dirinya hingga kecewa karena sikap Kevin kepada Regina.


Tapi yang paling mengecewakan bagi Melati adalah malam ini. Dimana, Melati mengetahui jika Kevin menyalahkan janin yang belum lahir akan kegagalan percintaanya dengan Melati bukan menyalahkan dirinya sendiri.


"Jika laki laki tidak menyayangi darah dagingnya sendiri, apakah laki laki tersebut layak dijadikan sebagai suami, sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Setelah mengetahui sikap kamu yang seperti itu. Aku sangat mendukung keputusan Regina pergi dari mu. Sebagai sahabat, aku menginginkan yang terbaik bagi Regina."


Lagi lagi Kevin hanya terdiam. Sedangkan Melati pergi dari ruang tamu itu meninggalkan Kevin di sana. Merasa dirinya diusir secara halus, Kevin juga beranjak dari duduknya.


Melati membalikkan tubuhnya memastikan Kevin sudah pergi. Dicintai oleh Kevin sedalam itu tidak membuat Melati merasa berbangga diri. Melati justru sangat kesal akan mantan kekasihnya itu. Dia menilai Kevin belum bersikap dewasa yang terlalu mengagungkan rasa yang pernah ada diantara mereka.

__ADS_1


Besok paginya, Melati terbangun dari tidurnya tidak bersemangat. Kepergian Regina juga menjadi tanda tanya bagi Melati. Regina sudah seperti sahabat rasa saudara bagi dirinya. Regina sudah banyak membantu dirinya. Regina yang mengulurkan tangannya ketika dirinya terpuruk karena kehilangan papa dan penyakit yang di derita oleh mamanya. Melati tidak akan pernah melupakan kebaikan sahabatnya itu sampai kapanpun.


Melati mencoba menghubungi nomor Melati. Panggilan itu terhubung tapi Regina tidak mau menjawab panggilan darinya.


"Mungkin dia butuh waktu sendiri," batin Melati. Regina memang tidak biasa seperti ini. Dalam keadaan apapun, Regina selalu menjawab panggilan atau memanggil balik dirinya. Tapi sampai beberapa menit menunggu, tidak ada panggilan balik dari sahabatnya itu.


"Apa aku ada salah sehingga panggilan ku tidak mendapatkan tanggapan?"


Melati mengirimkan pesan itu ke nomor Regina. Pesan itu sudah centang dua biru tapi tidak Ada tanda tanda Regina membalas pesan itu yang ada Regina langsung offline.


Melati mengerutkan keningnya. Tapi dia berusaha berpikir positive.


Pagi itu, Melati benar benar tidak bersemangat. Entah karena kedatangan Kevin dan kedua orangtuanya tadi malam atau karena pesan dan panggilannya ke Regina tidak mendapatkan tanggapan. Yang pasti, pagi itu, Melati merasa sangat malas. Tapi dirinya tidak bisa berdiam diri di rumah. Melati harus ke kampus karena ada ulangan harian.


Sepanjang menuju gerbang kampus, Melati mendadak tatapan dari mahasiswa mahasiswa. Melati yang empat bulan lalu masih diantar jemput oleh Kevin kini berjalan kaki sendirian dan tanpa Regina di sisinya. Tentu saja hal itu membuat para laki laki merasa mempunyai peluang untuk mendekati Melati. Tapi selama empat bulan ini, Melati benar benar menutup diri dari yang namanya laki laki kecuali Reza karena mereka mempunyai kerja sama berpura pura berpacaran. Dan satu bulan ini. Intensitas pertemuan Reza dan Melati tidak sesering bulan bulan kemarin karena kesibukan masing masing dan menurut Melati, Regina sudah hampir berhasil mendapatkan hati Kevin setelah mendengar cerita dari Regina sendiri. Ternyata cerita Regina berbanding terbalik setelah kedatangan kedua orangtua Kevin tadi malam.


Melati berusaha berjalan santai mengabaikan godaan godaan para mahasiswa mahasiswa yang sedang melewati dirinya.


"Mel, Melati?" panggil seseorang dari arah belakang membuat Melati menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


Sekitar dua puluh meter dari tempat Melati berdiri. Terlihat Sasa berlari kecil menuju Melati.


"Mel, masuk jam berapa?" tanya Sasa. Wanita itu terlihat sangat kelelahan karena berlari.


"Jam berapa pulang?" tanya Sasa lagi.


"Jam sepuluh. Aku ada dua mata kuliah pagi ini."


"Setelah itu kamu tidak ada urusan apapun lagi kan?"


Melati mengerutkan keningnya. Sikap Sasa benar benar berbeda pagi ini. Sok akrab dengan senyum manisnya.


"Aku ingin bersahabat dengan kamu. Kamu mau kan?" tanya Sasa. Tangannya terulur untuk bersalaman. Mau tak mau karena tidak enak menolak, Melati akhirnya menerima uluran tangan Sasa meskipun tidak yakin wanita itu bisa seperti Regina sahabatnya.


"Terima kasih ya Mel. Oya, sebagai awal persahabatan kita, nanti ikut aku ya. Aku mau ke mall cari kado buat Reza. Kamu tahu kan?. Ulang tahun Reza tiga hari yang lalu. Sebagai kekasih baru, aku ingin memberikan kado terbaik yang tidak bisa dilupakan oleh Reza nantinya. Mel, temani aku ya."


"Kamu dan Reza sudah berpa...."


"Iya. Kurang lebih dua minggu. Akhirnya ya, memang aku dan Reza sepertinya memang berjodoh Mel. Melihat Reza dan Regina dulu. Aku sudah pesimis. Tapi ternyata, Regina mengeliminasi dirinya sendiri dengan hamil dengan laki laki yang lain. Jadi aku deh pemenang ya!"


Melati tidak suka dengan perkataan sahabat barunya. Melati melangkahkan kakinya agak cepat supaya Sasa tersinggung di belakang ternyata perempuan itu juga berjalan cepat mensejajarkan langkah dengan Melati."

__ADS_1


"Mel, kamu tahu kan apa barang barang yang disukai Reza. Beritahu aku donk."


"Maaf Sa, aku ada ulangan hari ini. Aku belum ada persiapan. Aku ke ruangan dulu ya. Mau baca baca sebentar," jawab Melati. Apa yang dia katakan bukan sekedar alasan untuk menghindar dari Sasa. Tapi memang itu benar adanya. Tadi malam, dirinya tidak bisa konsentrasi belajar karena kedatangan Kevin dan kedua orangtuanya.


"Yeaah, bentar dulu Mel. Masa sahabat seperti ini. Nanti sepulang kuliah. Kamu mau kan menemani aku ke mall."


"Sepertinya aku tidak bisa Sa. Maaf, kamu pergi sendiri dulu ya. Atau ajak Reza saja. Aku buru buru."


"Melati, tunggu dulu. Aku tidak mungkin ajak Reza. Kan mau buat surprise."


Melati menahan kesal dalam hati. Sikap Sasa terlalu memaksa padahal sudah jelas dirinya menolak ajakan itu.


"Kamu tenang saja. Aku yang bayarin semuanya apapun yang kamu inginkan nanti. Jangan jangan kamu ada rasa sama Reza makanya tidak mau menemani aku kan?"


"Bu..bukan seperti itu Sa. Aku benar benar tidak bisa karena ada urusan lain," jawab Melati sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Lima belas menit lagi, ulangan akan dimulai. Jika tidak ada Sasa bersama dirinya saat ini. Waktu ini bisa dimanfaatkan Melati untuk membaca sebentar.


"Yeaah. Tidak perlu mengelak kamu Mel. Aku tahu, apa yang kamu lakukan bersama Reza selama ini. Itu adalah trik kamu supaya bisa dekat dekat dengan Reza. Trik lama, tau ga sih."


Dalam hitungan menit, Sasa berubah sikap. Sasa seakan lupa akan tawaran persahabatan dari dirinya tadi. Melati menjadi bingung, seharusnya jika Reza sudah berpacaran dengan Sasa, tidak seharusnya gadis itu kesal dengan penolakan Melati.


"Terserah kalau kamu berpikiran seperti itu Sa. Yang pasti itu tidak benar. Reza sudah menjadi kekasih mu. Lalu apa lagi yang harus kamu takutkan?"


"Aku tidak takut apapun Mel. Reza sudah sangat mencintai aku. Hanya saja, aku tidak ingin kamu dekat dekat lagi dengan Reza setelah ini."


Melati tertawa. Dia merasa heran dengan wanita yang ada di hadapannya. Dia menawarkan persahabatan tapi melarang dekat dengan Reza. Andaikan dirinya dan Reza baru saling mengenal. Melati bisa memaklumi larangan Sasa itu. Melati dan Reza sudah saling mengenal sebelum Regina dan Reza berpacaran.


"Kamu tidak bisa mengatur aku Sa. Aku dekat dengan Reza bukan berarti aku menyukai Reza melebihi batas pertemanan. Tapi jika kamu bisa mengatur Reza supaya tidak dekat dekat dengan aku. Silahkan saja," jawab Melati tenang. Wajah asli Sasa terlihat. Wanita itu terlihat marah dengan wajah yang tenang tapi tangan kanannya terkepal.


Sasa tidak bisa lagi menahan langkah Melati meninggalkan dirinya. Sasa antara lega dan khawatir setelah berbicara dengan Melati pagi ini. Sasa sangat berharap, setelah mengetahui dirinya dan Reza sudah berpacaran. Melati menjauh dari Reza. Dan mendengar sendiri perkataan Melati tadi. Rasa khawatir itu menyelinap di hatinya.


Di dalam ruangan. Melati benar benar sangat kesal. Baru saja dia duduk, sang dosen sudah masuk membuat Melati tidak bisa membaca sebentar.


Melati akhirnya pasrah akan mendapatkan nilai tidak bagus di ulangan Hari ini. Persiapannya tidak ada ditambah dengan soal soal yang sangat sulit. Melati menjawab asal soal soal itu. Yang penting kertasnya tidak kosong.


"Melati, tunggu."


Melati berdecak kesal. Ternyata Sasa sudah menunggu dirinya di depan pintu ruangannya. Melihat berpikir jika Sasa tidak akan menemui dirinya lagi. Ternyata yang dilakukan Sasa melebihi itu. Dari dalam ruangan, Melati sudah melihat Sasa di depan ruangannya. Begitu keluar dari ruangannya. Melati sengaja berpura pura tidak melihat wanita itu.


"Apalagi sih Sa. Membatalkan persahabatan yang kamu tawarkan tadi. Oke aku setuju, memang sebaiknya kita tidak perlu bersahabat," kata Melati. Sasa mendekati Melati. Wajah wanita itu terlihat tenang dan tidak marah.


"Mel, bisa bicara di sana sebentar?" kata Sasa menunjuk bawah pohon besar yang terlihat sepi. Tanpa menjawab, Melati berjalan ke arah tempat itu.

__ADS_1


"Mel, kamu tahu kan. Sudah lama aku mencintai Reza. Putus nya Reza dan Regina adalah peluang besar bagiku mendapatkan Reza. Ternyata tidak, Reza mencintai wanita lain setelah berhasil move on dari Regina. Bantu aku untuk membuat Reza mencintai aku Mel."


"Loh, tadi bukannya kamu bilang kalian sudah berpacaran?" tanya Melati bingung. Sasa menggelengkan kepalanya dengan kepala tertunduk. Dia sengaja membuat kebohongan supaya Melati menjauh dari Reza. Sasa memang tidak tahu persis siapa wanita yang dicintai oleh Reza saat ini. Dan jika Melati bisa membantu dirinya mendapatkan Reza. Maka Sasa ingin memanfaatkan kedekatan Melati dan Reza.


__ADS_2