Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 27


__ADS_3

Regina berkali kali melihat layar ponselnya. Pesan yang dia kirimkan kepada Melati masih berwarna abu abu. Pada akhirnya, Regina membutuhkan teman curhat untuk mengeluarkan sesak di dadanya. Dan Melati adalah sahabat yang paling mengerti dirinya. Regina memberanikan diri mengajak sahabatnya itu untuk bertemu setelah hampir satu bulan tidak berkomunikasi.


Pikiran Regina menerka neraka mengapa pesannya belum dibaca. Pesan itu sudah terkirim setengah jam yang lalu. Mungkinkah Melati marah kepada dirinya atau mungkinkah Melati tidak ingin melanjutkan persahabatan mereka?.


Pertanyaan itu berputar putar di kepala Regina. Sebenarnya, dia bisa saja langsung ke rumah Melati. Tapi mengingat kisah mereka berdua. Regina tidak mempunyai nyali untuk itu. Bagaimana pun secara tidak langsung dirinya yang menyebabkan Kevin dan Melati berpisah. Regina tahu, perpisahan itu tidak mudah bagi Melati. Regina mengetahui dengan jelas bagaimana Melati sangat mencintai Kevin. Jika akhirnya Melati rela melepaskan Kevin menikahi dirinya, itu adalah keputusan tersulit di sepanjang hidup sahabatnya itu.


Regina tidak mau menduga duga. Regina memastikan bagaimana sebenarnya sikap Melati kepada dirinya. Regina memberanikan diri menghubungi wanita itu. Lagi lagi, panggilannya tidak jawab. Tidak mungkin Melati tidak menjawab panggilan itu karena alasan sedang di dalam ruangan. Seingat Regina, hari ini dan jam segini. Melati tidak ada perkuliahan.


Regina tidak bisa menahan air matanya membayangkan jika Melati tidak membalas dan tidak menerima panggilan karena tidak ingin lagi bersahabat dengan dirinya. Sungguh, berat bagi Regina kehilangan seorang sahabat seperti Melati. Melati adalah definisi persahabatan sejati. Melati tidak egois mempertahankan Kevin atas nama cinta. Tapi wanita itu, dengan rasa kesedihannya merelakan kekasihnya untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak sadar dia lakukan. Adakah sahabat seperti Melati di dunia ini. Regina menebak dalam hati, hanya Melati yang mampu melakukan hal seperti itu.


Regina mengusap air matanya ketika mendengar ponselnya berdering. Regina tertawa dalam tangisannya. Nama Melati tertulis di layar itu sebagai pemanggil membuat Regina kembali bersemangat. Regina senang. Dengan berderai air mata, Regina menerima panggilan itu.


"Halo Re."


Regina tidak langsung menjawab. Wanita itu semakin menangis dalam diam menyadari ketulusan hati sahabatnya. Suara lembut di seberang masih seperti suara lembut sebelum kehamilannya terbongkar.


"Re, kamu baik baik saja?" tanya Melati lagi dari seberang. Perhatian Melati juga masih seperti dulu. Regina semakin menangis sambil menggigit bibirnya. Dia tidak baik baik saja sejak kejadian malam itu hingga hari ini. Tidak ada seorang istri baik baik saja jika dirinya tidak diakui, tidak dihargai dan tidak diharapkan sebagai istri. Yang paling menyakitkan bukan hanya dirinya yang tidak diakui tetapi juga janinnya. Kesedihan terbesar sebagai ibu ketika anaknya tidak diakui bahkan tidak diakui oleh ayah kandungnya sendiri.


"Aku ke rumah mu sekarang Re. Kirim kan alamat mu."


Regina mengirimkan alamatnya. Memang lebih bagus Melati yang datang ke rumahnya daripada mereka bertemu di luar rumah.


Regina tidak menunggu lama, setengah jam kemudian Melati tiba di rumah itu. Regina dapat melihat jika sahabatnya itu masih dan bahkan sangat perduli kepada dirinya. Dua sahabat itu berpelukan melepaskan rindu tidak bertemu selama satu bulan ini. Regina menangis, sedangkan Melati terlihat lebih tegar.


Regina tidak menyembunyikan apapun yang terjadi dalam hidupnya setelah menikah dengan Kevin. Regina menceritakan semuanya tanpa terkecuali termasuk menceritakan kedatangan wanita yang bernama Nadia tadi pagi.


"Re, Kevin memang bukan laki laki pilihan kamu. Tapi kamu dan dia sudah ditakdirkan berjodoh. Kalau boleh memberikan saran, perjuangkan pernikahan kamu Re. Apa artinya kamu menikah tapi anak mu tidak mendapatkan hak. Kalau hanya terhindar dari aib. Kamu bisa bersembunyi beberapa lama. Bagaimana hati kalian bertemu jika kalian berdua sama sama tidak berusaha."


Melati memberikan saran kepada sahabatnya itu. Melati ingin melihat pernikahan Regina dan Kevin bahagia supaya tidak sia sia pengorbanan nya.


"Tapi dia tidak memberikan kesempatan pada ku Mel," kata Regina putus asa. Hatinya sangat sakit mengingat dirinya tidak hanya dihargai tapi dianggap tidak ada di rumah itu. Mereka memang sudah sepakat tidak mencampuri urusan masing masing. Tapi Regina tidak menyangka jika Kevin memperkenalkan statusnya sebagai duda kepada Nadia di saat dirinya masih berstatus resmi suaminya itu.


"Itu artinya kamu harus berjuang. Jika kamu hanya diam menunggu Kevin luluh dan menerima kamu. Percayalah, tidak sampai melahirkan, kamu pasti tidak betah dan akan bercerai secepat mungkin. Sebelum terlambat dan tidak ada penyesalan. Tunjukkan bakti mu kepada Kevin Re. Aku yakin sekeras apapun hati Kevin. Dengan bakti, kesabaran dan kelembutan mu. Dia akan luluh suatu hari nanti. Percaya padaku Re."


"Terima kasih atas saran Mel. Nanti aku coba."


Seperti saran Melati, Regina pun bersemangat untuk meluluhkan hari Kevin. Benar kata Melati. Kevin bukan pilihan hatinya apalagi laki laki yang dia cintai begitu juga sebaliknya. Dirinya bukan wanita pilihan Kevin atau wanita yang dicintai oleh Kevin. Mereka berdua sudah mempunyai pasangan masing masing dan bahkan saling mencintai. Tapi hanya karena kejadian satu malam membuat mereka harus terpisah dari pasangan masing masing dan mereka berdua terikat dalam satu ikatan pernikahan.


Baik Kevin maupun Regina. Bisa mengatakan jika kejadian malam itu adalah sebuah musibah bagi mereka berdua. Dan musibah itu membuat sosok kecil bertumbuh di rahim Regina yang seharusnya disyukuri sebagai berkat.


"Semangat ya Re."


Regina menganggukkan kepalanya. Kedatangan Regina dengan kata kata bijaknya berhasil membuka pikirannya. Seperti saran Melati, dirinya akan menunjukkan buktinya kepada suaminya itu mulai nanti setelah pulang bekerja.

__ADS_1


Buat apa mereka mengikat diri dalam ikatan pernikahan kalau hanya menyiksa diri. Pernikahan itu untuk kebaikan dirinya dan juga janin itu. Dan saran Melati membuat Regina memperjuangkan hak anaknya.


"Boleh aku mengelus perut mu Re?" tanya Melati. Regina menganggukkan kepalanya. Melati mengelus perut sahabatnya itu sambil mengucapkan doa dalam hati. Melati mendoakan anak dari laki laki yang pernah mencintai dirinya itu mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya dalam ikatan pernikahan.


"Kamu sudah makan Mel?" tanya Regina. Dia ingin membalas kebaikan sahabatnya itu dengan memasak makanan kesukaan Melati.


"Belum. Mau masak bersama?" tanya Melati. Regina menganggukkan kepalanya.


"Bahan bahan apa saja yang kamu punya?" tanya Melati. Regina membuka kulkasnya dan menunjukkan isi kulkas itu.


"Duduk saja Mel. Aku yang akan memasak makanan kesukaan kamu," kata Regina. Tapi ternyata Melati tidak tinggal diam. Melati justru meminta Regina untuk menunggu di meja makan. Melati tahu bahwa suasana hati sahabatnya itu belum baik baik saja meskipun dirinya sudah memberikan saran dan semangat berjuang untuk meluluhkan hati Kevin.


"Bumil tenang saja menjadi penonton ya. Chef Melati tidak akan mengecewakan bumil. Bumil cukup memberikan penilaian dan menikmati masakan chef Melati," kata Melati sambil menuntun Regina untuk duduk di meja makan. Regina tidak bisa menolak. Dia menurut akan perkataan sahabatnya itu karena Regina tahu, Melati melakukan itu sangat tulus untuk menghibur dirinya.


Regina memperhatikan gerak gerik sahabatnya yang sangat cekatan memasak makanan itu. Melati mengolah ikan laut itu hanya dengan sambal tomat saja dan mengolah sayuran hijau.


Regina tidak menunggu lama Melati memasak untuk mereka berdua. Melati langsung menggunakan dua kompor sehingga makanan itu cepat tersaji di meja makan.


"Saatnya makan sehat alami tanpa perasa buatan," kata Melati sambil menata lauk pauk itu diatas meja makan. Regina dilayani seperti ratu. Bahkan hanya untuk mengambil piring, Melati tidak memperbolehkan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Melati setelah Regina mencicip ikan dan sayuran itu.


"Enak," puji Regina karena masakan sahabatnya itu benar benar enak. Tadi dia sudah memperhatikan bumbu apa saja yang sudah dipakai Melati untuk membuat sambal itu.


"Enak."


"Ikan dan sayuran ini adalah makanan kesukaan Kevin," kata Melati membuat Regina berhenti mengunyah dan menatap sahabatnya itu.


Ternyata Melati tidak hanya memberikan saran dan memberikan semangat pada dirinya untuk meluluhkan hati Kevin. Melati juga memberitahukan makanan kesukaan Kevin.


"Kamu bisa memulai perjuangan kamu dengan memasak makanan kesukaan Kevin," kata Melati. Regina menganggukkan kepalanya.


"Mel, terima kasih. Kamu sangat baik. Bagaimana aku membalas kebaikan kamu?" tanya Regina. Entah terbuat dari apa hati sahabatnya itu. Regina berdoa dalam hati, semoga Melati mendapatkan laki laki yang jauh dari Kevin dalam hal apapun.


"Kamu bahagia, aku ikut bahagia Mel. Aku sangat yakin mendoakan sahabat itu bahagia. Doa itu juga akan berbalik kepada diri sendiri."


"Amin," jawab Regina. Regina mengaminkan dirinya dan Melati bisa berbahagia nantinya walau sudah melewati ujian hidup dan juga ujian persahabatan mereka.


Selesai makan bersama, Melati masih saja mengistimewakan sahabatnya itu. Melati tidak ingin sahabatnya itu kelelahan nantinya membereskan dapur itu.


Setelah Melati pergi dari rumah itu. Regina memikirkan apa yang dia lakukan untuk menunjukkan baktinya sebagai istri. Dan Regina sudah menemukan cara tersebut. Sore hari Regina memulai baktinya dengan memasak untuk makan malam sang suami. Meskipun mereka tidak makan bersama. Regina ingin menunjukkan kebolehan nya menyenangkan hati laki laki itu lewat masakan.


Regina merasa puas melihat penataan makanan di ruang tamu itu. Tapi setelah kepulangan Kevin. Regina merasa tidak puas. Regina sengaja menunggu suaminya itu di depan pintu tapi pemandangan di hadapannya membuat Regina merasa tidak dianggap.

__ADS_1


Di halaman rumah, Kevin terlihat membantu seseorang turun dari dalam mobil. Wanita itu adalah Nadia. Melihat pakaian dua pasangan kekasih itu. Sepertinya mereka baru saja berenang. Hal itu terlihat dari pakaian Nadia dan Kevin yang santai tidak seperti pakaian kantor tadi pagi. Ternyata, Kevin bisa meyakinkan wanita itu jika dirinya adalah seorang duda.


Regina berusaha tidak terusik dengan kemesraan dua sejoli itu yang saling merangkul menuju Regina yang menyambut kedatangan suami dan selingkuhannya.


"Sudah pulang kak?" tanya Regina sambil tersenyum manis ke arah suaminya itu. Tangannya terulur mengambil tas kantor yang menggantung di tangan Regina.


Kevin tidak menjawab. Laki laki itu menatap senyum manis istrinya. Kevin tentu saja merasa heran dengan sikap manis istrinya itu. Di sebelahnya Nadia juga bingung. Apa yang diceritakan oleh Kevin berbanding terbalik dengan yang dilihatnya saat ini. Hal itu membuat Nadia bersedia kembali melanjutkan hubungan itu. Nadia merasa dirinya bukan perusak. Dirinya masuk ke dalam hubungan Kevin dengan istrinya di saat memang hubungan pernikahan itu sudah rusak sebelumnya. Nadia merasa dirinya tidak bersalah.


Regina berjalan mendahului sepasang kekasih itu. Seperti istri yang baik. Regina meletakkan tas kerja suaminya itu di tempat biasa.


"Kak, aku sudah memasak makan malam mu. Jangan beli di luar ya," kata Regina lagi. Kevin membulatkan matanya tidak percaya dengan sikap lembut yang ditunjukkan oleh Regina. Kevin menganggap sikap lembut itu adalah penghalang hubungannya dengan Nadia. Sedikit pun, Regina tidak bermuka masam dengan keberadaan Nadia di rumah itu.


"Beb, kamu bilang. Hubungan kalian tidak baik baik saja. Bahkan kalian menikah karena terpaksa. Tapi mengapa wanita itu melayani kamu dengan baik?" tanya Nadia.


Kevin menjadi bingung. Untuk mengatakan sikap Regina itu adalah yang pertama saat ini. Nadia mungkin saja tidak percaya. Kevin juga berusaha menahan diri untuk tidak berdebat dengan Regina. Kevin tidak akan membiarkan Nadia melihat sisi buruk dirinya. Tapi tidak nanti setelah Nadia pergi dari rumah itu. Kevin sudah memikirkan cara untuk membalaskan perbuatan baik istrinya itu.


Keberanian Regina semakin menjadi jadi. Wanita itu bahkan menarik tangan Kevin hingga ke meja makan. Sebenarnya jika diperhatikan dengan seksama. Regina sangat canggung melakukan hal itu. Tapi seperti perkataan Melati. Regina akan mencoba melaksanakan kewajibannya. Kevin menerima atau tidak. Yang penting Regina sudah mencoba.


"Tadi Melati datang ke rumah ini kak. Dia menceritakan makanan kesukaan kamu dan langsung aku buatkan untuk kamu."


"Melati datang?" tanya Kevin. Laki laki itu membuka mulutnya bersuara setelah mendengar nama Melati. Kini, Regina bisa menebak jika Nadia adalah pelarian suaminya itu. Sesungguhnya, Kevin masih menyimpan rasa untuk sahabatnya itu. Regina bisa melihat perubahan wajah suaminya itu hanya mendengar nama Melati.


"Iya kak. Mbak Nadia. Silahkan duduk," kata Regina sangat lembut. Wanita yang sedari tadi terdiam melihat Regina memperlakukan Kevin akhirnya duduk. Wanita itu mengambil bangku tepat bersebelahan dengan Kevin.


Untuk pertama kalinya. Regina melayani suaminya itu di meja makan disaksikan Nadia sang selingkuhan. Ternyata baik Kevin dan Nadia tidak menyukai sikap Regina. Tatapan Kevin kembali tajam kepada Regina tapi wanita itu pura pura tidak memperhatikan nya.


"Apa maksudnya ini Regina?" bentak Kevin. Piring berisi makanan yang ada dihadapan nya di hempaskan oleh Kevin hingga terjatuh ke lantai dan isinya berserakan. Akhirnya, Kevin tidak menunggu Nadia pulang untuk menunjukkan kemarahannya. Pelayanan Regina di meja makan itu dianggap lancang oleh Kevin.


Regina dan Nadia sama sama terkejut dengan sikap Kevin yang tiba tiba itu. Meskipun begitu, Nadia semakin percaya jika antara Kevin dan Regina memang ada masalah yang rumit. Nadia tidak akan mencampuri urusan kekasih dan istrinya. Tapi Nadia berjanji akan menunggu Kevin akan bercerai resmi.


"Asal kamu tahu kak. Melati yang memberikan aku saran untuk melakukan kewajiban ku pada dirimu. Aku menerima saran itu karena aku anggap baik. Karena aku sadar. Kamu bukan laki laki pilihan ku. Tapi takdir telah mempertemukan kita menjadi jodoh. Takdir tidak hanya mengikat kita dalam pernikahan tapi takdir juga mengikat kita akan kehadiran anak ini. Jika kamu tidak berkenan menerima pelayanan ku. Maka aku akan tetap melakukan ini sepanjang pernikahan kita. Tahu kamu karena apa?. Karena aku tidak mau berdosa."


"Sok baik kamu," jawab Kevin sinis.


"Terserah kamu menilai aku seperti apa. Yang pasti. Aku tidak menginginkan perempuan ini ada disini. Cepat bawa keluar dia dari rumah ini. Aku tidak mau rumah ku dikotori oleh perbuatan m*sum kalian nantinya."


Melihat sikap kasar suaminya. Regina juga tidak segan segan menunjukkan sikap tidak sukanya pada Nadia.


"Berani kamu Regina. Ini rumah ku bukan rumah mu," bentak Kevin.


"Tapi aku istri mu kak Milik suami berarti milik istri. Rumah suami berarti rumah istri bukan rumah selingkuhan. Atau kamu ingin aku memberitahukan apa yang terjadi dalam rumah tangga ini kepada kedua orang tuamu."


Regina tentu saja tidak menyukai sikap Nadia itu. Sudah bisa dipastikan jika Regina tidak menyukai sikap wanita itu. Sudah tahu, Kevin masih beristri tapi bersedia menjalin hubungan dengan laki laki itu.

__ADS_1


__ADS_2