
"Kapan laki laki itu datang ke rumah ini Regina. Apa dia tidak mau bertanggung jawab?" tanya pak Bayu marah. Sudah tiga hari sejak mengetahui kehamilan Regina. Laki laki si pemilik benih belum menunjukkan batang hidung karena memang Regina belum berhasil mengatakan kehamilan itu kepada Kevin.
"Aku belum menemui nya Pa. Dia sibuk," jawab Regina beralasan. Regina takut memandang wajah papa dan mamanya karena sejak kehamilannya itu. Pak Bayu dan ibu Siska selalu terlihat murung. Tidak ada senyum di wajah mereka. Hanya raut kelelahan dan kesedihan yang terlihat di sana.
"Waktu tinggal empat hari lagi. Jika kamu tidak berhasil membawa laki laki itu. Jangan salahkan papa yang mendatangi rumahnya," ancam Pak Bayu. Laki laki yang menghamili putrinya itu di pikiran pak Bayu adalah Reza. Karena hanya laki laki itu yang pernah nekad datang mengunjungi Regina.
Regina menganggukkan kepalanya. Dia memang sudah bertekad dalam hati akan mengatakan kehamilan itu kepada Kevin bagaimanapun caranya. Dia tidak akan mau menanggung aib itu sendirian karena dirinya tidak menginginkan hal itu terjadi.
Besok paginya, Regina menjalankan usahanya untuk bisa berbicara empat mata dengan Kevin. Bukan dengan menumpang ke mobil laki laki itu karena hal itu akan membuat Kevin semakin menghindar dari dirinya. Regina merasakan sakit hati karena seenaknya Kevin merencanakan pernikahan dengan sahabatnya tanpa merasa bersalah dengan kejadian malam itu.
Kini, disini lah Regina. Di boncengan motor ojek yang dia sewa untuk membuntuti mobil Kevin. Dia sengaja tidak masuk kuliah untuk melancarkan usahanya. Regina juga sengaja memakai hoodie, masker dan kaca mata supaya Kevin tidak bisa mengenali dirinya. Tentang Melati, Regina tidak mengkhawatirkannya karena dirinya membuntuti motor Kevin setelah mengantarkan sahabatnya itu ke kampus.
Hingga mobil Kevin berhenti di pelataran parkir di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Regina juga meminta motor ojek itu untuk berhenti.
"Kevin," panggil Regina di saat bersamaan laki laki itu menutup pintu mobil. Laki laki itu terkejut hingga mulutnya terdiam melihat keberadaan Regina di area kerjanya. Dia tidak menyangka jika Regina mengikuti dirinya seperti itu. Otaknya berpikir jika apa yang dicurigai kekasihnya benar benar adanya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan kamu. Kamu boleh memilih berbicara disini atau di tempat lain yang aman dari pendengaran orang lain," kata Regina lagi. Dia masih memberikan penawaran kepada laki laki itu untuk menjaga nama baiknya. Bukan tidak mungkin orang lain mendengar jika dia mengatakan hal penting itu di sini.
Kevin masih terdiam dengan tangan yang masih belum menutup pintu mobil dengan sempurna. Laki laki itu seakan tidak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya. Dia terus menatap Regina tanpa berkedip. Hingga suara klakson Mobil miliknya rekan kerjanya yang hendak memarkirkan mobil di sebelah mobilnya membuat Kevin tersadar dari rasa terkejut itu.
__ADS_1
"Masuk lah, kita berbicara di tempat lain," kata Kevin akhirnya. Dia juga tidak akan mau apapun yang dibicarakan oleh Regina terdengar orang lain. Dia membuka pintu mobil belakang mempersilahkan Regina masuk ke dalam mobil.
Mobil itu akhirnya keluar dari area parkir perkantoran itu. Ketakutan yang selama ini memenuhi hati Regina hilang. Regina masih menahan diri untuk berbicara hingga mereka di tempat tujuan.
"Berbicara lah," kata Kevin dingin. Mereka masih tetap di dalam mobil itu dan Kevin menghentikan mobilnya di area yang sepi yang tidak jauh dari perkantoran Kevin.
Regina menarik nafas panjang. Kata kata yang sudah tersusun di otaknya sejak tadi seakan hilang dari otaknya. Dia tidak tahu harus mengatakan kehamilannya terlebih dahulu atau mengingatkan Kevin akan kejadian malam kelam itu.
"Waktuku cukup berharga. Jika tidak ada yang ingin kamu katakan. Silahkan keluar," kata Kevin lagi. Sikap Kevin sungguh menjengkelkan dan tidak terlihat menjaga perasaan Regina sama sekali.
"Satu bulan yang lalu. Kamu melakukan pemaksaan kepada ku di rumah Melati dalam keadaan mabuk. Dan hasilnya saat ini. Aku sedang hamil."
Kevin terdiam, dia tidak terkejut lagi mendengar perkataan Regina karena dia sudah menduga itu sebelumnya apalagi Melati juga sudah mencurigainya. Kevin juga tidak tahu harus mengucapkan apa karena kehamilan Regina itu bukan keinginannya.
"Mengapa kamu tidak menolak malam itu?" tanya Kevin membuat Regina membulatkan matanya mendengar pertanyaan Kevin. Perkataan itu memang bukan pengakuan tapi dengan perkataan itu. Kevin tidak membantah kejadian itu. Tapi hanya saja, pertanyaan itu seperti menyalahkan Regina. Dia tidak tahu betapa malam itu, Regina meronta melepaskan diri hingga menggigit tangan dan bahunya.
"Apa kamu pikir gigitan dan cakaran di tubuh mu itu bukan bentuk penolakan. Tenaga mu seperti tenaga monster."
Regina balik bertanya. Dia sangat yakin jika setelah tersadar dari mabuknya. Kevin pasti merasakan kesakitan saat itu.
__ADS_1
"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya Kevin dengan nada yang sangat dingin. Kevin bertanya tanpa melihat wajah Regina karena laki laki itu duduk di depan dengan pandangan lurus ke luar Mobil sedangkan Regina duduk di bangku belakang.
"Aku minta kamu bertanggung jawab. Aku hamil anakmu."
"Pertanggungjawaban apa yang kamu inginkan?"
Regina shock mendapatkan pertanyaan itu. Seharusnya laki laki itu tidak perlu bertanya pertanggungjawaban seperti apa karena jawabannya pasti harus menikahi dirinya. Dan untuk mengatakan hal itu. Regina pun merasakan mulutnya terkunci.
"Pertanggungjawaban seperti apa yang kamu inginkan," tanya Kevin ulang. Kali ini, nadanya terdengar kesal.
"Papa meminta aku membawa laki laki pemilik benih ke rumah. Papa ku yang akan memutuskan pertanggungjawaban seperti apa yang harus kamu lakukan terhadap kehamilan ini."
"Aku tidak mempunyai waktu untuk ke rumah mu. Sekarang katakan pertanggungjawaban seperti apa yang harus aku lakukan akan kehamilan itu."
Regina melemas. Jawaban Kevin seperti penolakan akan kehamilan itu.
"Aku rasa kamu cukup dewasa untuk mengetahui pertanggungjawaban seperti apa yang harus kamu lakukan jika benihmu tumbuh di rahim seorang wanita."
"Aku hanya akan tahu pertanggungjawaban seperti apa yang harus aku lakukan jika wanita tersebut wanita yang aku cintai. Aku melakukan hal itu tidak dalam keadaan sadar kan. Jadi harus kah aku menikahi kamu. Itu tidak mungkin karena kita tidak saling mengenal apalagi saling mencintai. Lagipula aku sudah mempunyai seorang kekasih yang harus aku nikahi akhir tahun ini. Berikan nomor rekening mu. Aku hanya bisa bertanggung jawab dengan memberikan uang."
__ADS_1