
Boleh kah Regina berharap seseorang membantu dirinya dari kata pembohong hari ini. Sungguh dirinya mengharapkan itu. Regina mengelus perutnya. Semakin ada yang tidak menginginkan janin itu. Semakin tumbuh rasa sayang pada janin itu.
Regina menarik nafas panjang dan berusaha tidak menangis lagi. Perkataan Reza hanya ditanggapi wanita itu dengan mengelus perutnya. Hingga tatapannya tertuju pada Kevin yang berdiri di depan pintu dengan pandangan ke arah mereka bertiga.
Sejak kapan laki laki itu disana. Regina pun tidak mengetahuinya. Yang pasti, Melati dan Reza belum menyadari keberadaan laki laki itu.
Regina menghirup oksigen banyak banyak. Kedatangan Kevin di rumah itu tidak membuat Regina lega. Yang ada Regina berpikir akan menghadapi tiga orang sekaligus. Orang yang tidak mempercayai dirinya sama sekali.
Suara hentakan kaki Kevin membuat tatapan Melati mengarah pada laki laki yang dicintai nya itu.
"Maaf Mel,"
Kevin berucap pelan setelah dekat dengan ruang tamu. Laki laki itu langsung mendekati Melati dan memeluknya.
"Katakan Mas. Bukan kamu yang menghamili Regina kan," tanya Melati sambil menatap wajah kekasihnya. Sungguh, dia berharap Kevin mengatakan tidak. Sedangkan Regina tidak mengharapkan jawaban apapun dari laki laki itu. Dia sudah siap jika Kevin mengatakan tidak.
Regina tidak lagi ingin di rumah Melati. Dia sadar dengan kenyataan ini. Hubungan persahabatan dengan Melati tidak akan baik baik lagi. Kejadian malam itu kini bukan hanya menghancurkan dirinya tetapi juga menghancurkan persahabatan dan percintaanya.
Saat ini tidak ada jalan lain di pikiran Regina selain kembali ke rumah orangtuanya dan mengatakan yang sebenarnya. Dia berharap dengan kejujurannya nanti. Pintu maaf untuk dirinya terbuka dan kedua orangtuanya memberikan dukungan apapun kelanjutan dari permasalahan itu. Regina sudah siap menghadapi aib yang sudah di depan mata.
"Maaf Mel, malam itu. Aku tidak sadar melakukan itu dengan sahabat mu."
Regina menghentikan langkahnya yang hendak mengambil tas ke kamar Melati. Kevin mengakui perbuatannya di hadapan Melati dan Reza. Dia menoleh ke arah sepasang kekasih itu dimana Melati berteriak histeris sambil memukul dada Kevin
"Jahat kamu mas. Kamu jahat," teriak Melati. Regina merasakan hatinya teriris melihat kehancuran sahabatnya itu. Dia ingin mendekat dan memeluk sahabatnya itu. Tapi urung dilakukan. Dia sadar, kehancuran hati Melati berhubungan dengan dirinya meskipun dia dalam hal ini termasuk korban.
__ADS_1
Regina meneruskan langkahnya menuju tangga. Niatnya untuk keluar dari rumah itu sudah bulat.
"Pergi kamu Re. Kamu sahabat tidak tahu diri. Dasar pagar makan tanaman. Kamu murahan."
Melati masih saja melampiaskan kemarahannya. Dia masih menyalahkan Regina atas kejadian itu padahal Kevin sudah mengakuinya.
Melihat Regina turun dengan membawa tas, Kevin pun sudah menduga duga dalam hati apa yang terjadi dengan wanita itu. Untuk pertama kalinya. Dia menatap Regina dari atas sampai ke bawah. Kemudian tatapannya tertuju pada perut wanita itu.
Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Bisa dikatakan situasi ini juga sulit untuk dirinya. Mendengar perkataan Reza tentang janin itu. Tidak bisa dipungkiri jika hatinya merasa sakit dan timbul rasa kasihan pada gumpuan darah yang disebut janin itu.
"Pergi kamu Kevin. Nikahi Regina secepatnya."
"Apa maksud kamu Mel?" tanya Kevin. Melati semakin kencang memukul dada kekasihnya itu.
"Kamu masih bertanya maksud aku brengsek?. Mengapa kamu tidak jujur dari awal kalau kamu sudah melakukan itu dengan sahabatku. Setelah mengetahui benihmu tumbuh subur di rahimnya. Lalu kamu hanya meminta maaf kepada ku tanpa bertanggung jawab kepada Regina?" tanya Melati dengan suara yang kencang dan menunjuk wajah Kevin.
"Kamu melepaskan aku Mel?" tanya Kevin seakan tidak percaya. Niatnya datang ke rumah itu untuk mengajak Melati jalan jalan tetapi kebenaran akan perbuatannya yang terbongkar.
"Apakah laki laki yang menghamili wanita lain layak untuk dipertahankan mas?. Regina dan janin itu lebih membutuhkan kamu."
Regina menangis sesunggukkan mendengar perkataan demi perkataan sahabatnya itu. Dia sudah berpikiran salah terhadap Melati. Ternyata kata kata yang diucapkan Melati sebelum mendengar pengakuan Kevin hanya bentuk rasa kekecewaan dan kemarahannya. Kini Melati rela melepaskan Kevin demi pertanggungjawaban kepada dirinya.
Melati ternyata tidak egois. Dia tidak buta karena cinta.
"Pergi mas. Bawa Regina pergi dari sini dan temui lah pak Bayu dan ibu Siska. Kamu tahu, Regina bahkan diusir karena perbuatan mu itu?"
__ADS_1
Kevin masih berdiri. Tubuhnya serasa sulit bergerak. Perkataan demi perkataan Melati adalah akhir dari hubungan mereka dan dia tidak menginginkan itu terjadi.
"Mel, kita bisa mencari jalan keluar lain."
"Diam. Jalan keluar seperti apa yang kamu inginkan. Menyuruh Regina membuang janin itu. Jika iya, maka aku akan sangat membenci dan tidak ingin melihat kamu."
"Melati."
Hanya itu yang terucap dari bibir Regina mendengar pembelaan demi pembelaan dari Melati untuk dirinya. Sungguh, dirinya merasa beruntung memiliki sahabat seperti Melati.
"Reza, jangan pergi dulu," kata Melati ketika melihat Reza hendak pergi dari ruang tamu itu. Melati merasa perlu teman sebagai saksi untuk melihat Kevin membawa Regina dari rumah itu. Melati sadar, Regina datang ke rumahnya dan keselamatan sahabatnya itu adalah tanggung jawab nya.
Pikiran Melati terlalu berpikir jauh. Dia tidak ingin dirinya disalahkan jika Kevin membawa Regina dari rumahnya kemudian ditinggalkan begitu saja di jalanan.
"Mas Kevin. Bawa Regina dari rumah ini. Aku dan Reza adalah saksinya. Jadi jangan berpikiran untuk membuat hal hal yang menyakitkan Regina."
Melati sudah terdengar melunak. Seakan dirinya sudah siap ditinggalkan oleh Kevin.
"Baiklah Mel. Aku melakukan ini bukan karena wanita sahabat mu itu. Aku melakukan ini karena menurut dengan perkataan mu. Aku pastikan aku akan tetap memperjuangkan cinta kita," bisik Kevin tepat di telinga Melati.
Melati mendorong tubuh Kevin. Dan Kevin pun menjauh dari Melati kemudian mendekati Regina. Kevin meraih tas Regina tanpa sepatah kata pun.
"Pergilah Re," kata Melati pelan. Regina terlihat ragu untuk pergi.
"Pergilah Re. Jangan sia sia kan pengorbanan ku ini," kata Melati lagi. Regina menganggukkan kepalanya. Kemudian keluar dari rumah itu. Dia tidak tahu seperti apa yang akan dia jalani nantinya tapi yang pasti Regina sangat berterima kasih dengan kerelaan hati sahabatnya itu.
__ADS_1
"Maafkan aku Mel," kata Regina sambil menoleh ke arah rumah sahabatnya itu sebelum masuk ke dalam mobil milik Kevin.