
"Cinta tidak bisa dipaksakan bukan?. Jadi maafkan aku, Regina jika tidak bisa menjadi suami yang baik bagi mu dan ayah yang baik bagi janin yang ada di dalam kandungan mu. Seperti kamu yang sudah berusaha, aku juga berusaha menerima kamu dalam tiga bulan ini. Tetap saja, cinta ini masih untuk Melati," kata Kevin dalam hati. Tidak ada rasa sedih di hatinya ketika merangkai kata kata itu. Yang ada Kevin merasa bangga karena cinta sucinya pada Melati.
Saat ini, Kevin sedang di kamar Regina. Kevin baru tersadar jika Regina tidak ada di rumah itu setelah melihat makanan yang tadi malam dia lihat di meja makan. Pagi ini, makanan itu juga masih ada di meja makan dalam keadaan basi.
Tadi malam, Kevin pulang lumayan larut malam karena ada masalah di kantornya. Kevin langsung tidur sehingga tidak menyadari jika Regina tidak ada di rumah itu. Dan pagi ini, Kevin sengaja terbangun kesiangan karena hari libur. Dan ketika dirinya hendak membuat sarapan, Kevin merasa heran dengan suasana meja makan dan dapur seperti tadi malam. Kevin menduga jika Regina tidak ada di rumah itu saat ini. Dan dugaannya benar, Regina tidak ada di kamarnya.
Tidak ada niat Kevin untuk mencari keberadaan Regina. Dia sudah menduga jika Regina akan kembali ke rumah orangtuanya. Meskipun mereka masih terikat pernikahan, Kevin akan memberikan kebebasan kepada Regina untuk berbuat apapun. Kevin juga sangat yakin jika Regina hanya untuk berkunjung ke rumah orangtuanya. Nanti, atau besok pasti akan kembali ke rumah itu. Kevin jelas mengingat dirinya dipaksa menikahi Regina demi menyelamatkan dari aib keluarga. Regina pasti masih memikirkan rasa malu jika mereka bercerai dalam waktu dekat ini. Atas keyakinan itulah, Kevin berpikir jika Regina pasti kembali ke rumah itu.
Niat awal ingin keluar dari rumah, kini Kevin memutuskan berdiam diri di dalam rumah. Dia ingin bersantai di rumah tanpa adanya Regina di rumah itu.
Kevin hendak keluar dari kamar itu dan seketika matanya melihat sesuatu yang ada di atas ranjang terselip di bawah bantal. Kevin mengambil benda itu. Ternyata sebuah kalung yang indah yang liontinnya berbentuk love. Kevin mengamati kalung itu. Sepanjang tiga bulan ini kedekatan mereka. Kevin tidak pernah melihat Regina memakai kalung itu.
"Ternyata aku dan kamu sama saja Regina. Kita masih sangat mencintai kekasih Kita masing masing. Ini pasti dari kekasih mu Reza itu kan?"
Kevin menggenggam erat kalung yang liontinnya bertuliskan inisial R itu. Wajahnya mengeras karena merasa Regina tidak sebaik yang ditunjukkan oleh wanita itu selama tiga bulan ini. Jika Regina merasakan sakit hati karena perjuangannya tidak tidak dihargai. Kevin merasa marah karena Regina masih menyimpan pemberian kekasihnya Reza.
"Kamu memakai cincin pernikahan dariku tapi kamu menyimpan kalung pemberian kekasih mu. Wanita apa seperti itu. Pantas saja, aku tidak bisa jatuh hati kepada dirimu. Ternyata ini alasannya. Kamu tidak tulus melakukan kewajiban mu sebagai istri."
Kevin masih menggenggam kalung itu. Selama tiga bulan, dia juga berusaha melupakan Melati dan membuka diri pada Regina dengan menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai suami. Dia berusaha bisa menikmati setiap kegiatan suami istri yang mereka lakukan setiap hari untuk mengalihkan pikirannya dari Melati. Ternyata, meskipun dirinya dan Regina sudah satu tubuh. Cinta itu masih kuat untuk Melati. Kewajiban yang dilakukan oleh Regina baik di meja makan dan di ranjang tidak bisa mengalihkan hati Kevin dari Melati. Terkadang, Kevin juga membayangkan jika wanita yang sedang melayani dirinya adalah Melati.
Seketika Kevin merasa mendapatkan keberuntungan dengan adanya kalung itu. Dengan kalung itu, Kevin mempunyai rencana akan menunjukkan kalung tersebut kepada Melati, kepada kedua mertuanya dan kepada kedua orangtuanya.
Dengan kalung itu, Kevin akan menunjukkan jika Regina juga tidak berniat ingin mempertahankan pernikahan mereka. Regina masih sangat mencintai Reza. Dengan seperti itu, dirinya tidak akan disalahkan oleh Pak Raka dan ibu Tika jika perceraian itu terjadi nantinya.
"Kita memang tidak berjodoh Regina. Lihatlah, bahkan banyak faktor pendukung untuk membuat kita bercerai."
Kevin menyimpan kalung itu di kamarnya sendiri setelah terlebih dahulu memfoto kalung tersebut. Tidak lupa, dia mengunggah foto tersebut di status di applikasi warna hijau miliknya. Dia ingin Melati melihat status itu nantinya. Karena Kevin sangat yakin jika Melati mengetahui jika kalung itu adalah pemberian Reza.
Suasana hati Kevin mendadak berubah setelah berpikir jika keberadaan kalung itu bisa membenarkan perceraian dirinya dan Regina nantinya. Sepanjang membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Kevin bersiul ceria.
__ADS_1
"Bro, pembahasan tadi malam bisa kita lanjutkan hari ini?. Kalau kamu bersedia, kita bertemu di mall dekat kantor."
Kevin membaca pesan dari rekan kerjanya itu. Tadi malam pembahasan mereka terputus karena waktu. Masalah keuangan selama dua bulan terakhir ini memang menguras otak Kevin dan rekan rekan kerjanya.
"Apa tidak bisa di kantor saja hari senin bro. Aku malas keluar rumah," balas Kevin.
"Bisa sebenarnya. Tapi jika kita membicarakan masalah itu dengan semua staf. Letak kesalahannya tidak akan ditemukan. Aku menduga beberapa staf berkomplot melakukan kecurangan," balas rekan Kevin yang bernama Rudi itu.
"Ok, jam berapa?"
"Jam sebelas bro. Aku sekalian bawa anak istri jalan jalan. Bawa saja istrimu. Sekalian makan siang di mall nanti."
"Ok."
Hanya itu balasan singkat Kevin. Ajakan rekannya membawa istri yang terbayang di benak Kevin bukan Regina melainkan Melati. Tapi untuk mengajak Melati dan memanjakan wanita idamannya itu hari ini rasanya tidak mungkin karena Melati bukan seperti wanita yang menjadi korban pada umumnya. Meskipun, Melati tersakiti dengan pernikahan Kevin dan Regina. Wanita itu tidak lantas menuntut dibahagiakan oleh Kevin melainkan menuntut Kevin menerima Regina dan kehamilannya. Mengingat kebaikan Melati, rasa cintanya pada wanita itu rasanya bertambah tambah.
Kevin tiba di mall tempat yang sudah dijanjikan oleh Rudi. Kevin tiba tepat waktu. Di langsung menuju salah satu gerai makanan yang di dalam mall itu.
Sepuluh menit menunggu, Kevin mendapatkan pesan dari Rudi jika dirinya terlambat. Kevin menarik nafas panjang karena kesal. Rekannya itu baru berangkat dari rumah, itu artinya Kevin akan menunggu Rudi paling cepat satu jam. Untung saja, Kevin belum memesan makanan sehingga laki laki itu tidak terjebak di tempat itu.
Kevin berpikir akan lebih baik dirinya menunggu sambil berjalan jalan di dalam mall itu. Kevin keluar dari gerai makanan itu. Kakinya melangkah ke arah toko sepatu. Sejak menikah, Kevin belum pernah membeli sepatu baru. Selagi masih di mall itu. Kevin berencana hendak membeli sepatu.
Langkah Kevin terhenti. Matanya menatap pada dua orang yang juga melihat lihat sepatu di dalam toko itu. Kevin mengenal laki laki itu tapi tidak mengenal wanita yang memegang tangan laki laki itu.
"Reza," panggil Kevin pada laki laki itu. Reza menoleh dan menatap Kevin. Reza bersikap biasa dan melanjutkan kegiatannya melihat lihat sepatu itu. Reza bersikap seakan tidak mengenal Kevin.
Kevin mengeluarkan ponselnya. Dia merasa Hari ini adalah hari keberuntungan dirinya. Setelah mendapatkan kalung yang bisa membenarkan perceraian dirinya dan Regina. Kini dia melihat Reza dengan wanita lain. Kevin merekam Reza dan wanita itu. Dengan video itu. Dia akan bisa membuat Melati putus dari Reza.
"Reza, terima kasih ya," kata Kevin. Kevin sengaja mendekati Reza ketika melihat wanita teman Reza agak menjauh dari Reza.
__ADS_1
"Terima kasih untuk apa?" tanya Reza bingung. Reza menatap heran pada suami mantan kekasihnya itu.
"Terima kasih karena menjadi laki laki yang suka bercabang alias laki laki brengsek. Dengan sikap brengsek mu ini. Melati akan kembali kepadaku," kata Kevin dengan tersenyum. Reza tertawa kecil. Menatap sinis pada laki laki di hadapannya. Dalam hati dia membenci Kevin. Kevin tidak hanya membuat dirinya dan Regina putus karena p*merkosaan yang dilakukan Kevin tapi juga menyakiti Regina dengan tetap mengejar Melati.
Reza mengamati laki laki yang ada di hadapannya. Demi Regina, dirinya dan Melati rela berpura pura pacaran. Reza tentu saja mengetahui perkembangan hubungan Regina dan Kevin dari Melati. Dan mendengar sendiri perkataan Kevin yang akan mengejar Melati kembali membuat Reza merasa sia sia berkorban waktu berpura pura pacaran.
"Kamu masih percaya diri mengejar Melati. Lalu bagaimana dengan Regina?" tanya Reza tenang sambil menatap wajah Kevin.
"Sangat percaya diri. Melihat kamu seperti ini. Melati tidak layak untuk kamu. Pernikahan ku dengan Regina sudah ada kesepakatan. Setelah kami bercerai. Kamu bisa kembali kepadanya. Regina masih sangat mencintai mu. Tenang saja, jika cinta kalian suatu saat nanti bersatu. Janin yang di kandungan Regina tidak akan menjadi beban kamu. Aku akan bertanggung jawab penuh pada anak itu sampai dewasa nanti," kata Kevin. Lagi lagi Reza tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
Reza menilai Kevin memiliki pemikiran yang dangkal. Semudah itu dia mengartikan arti pernikahan di usia yang sudah matang membuat Reza berpikir jika Kevin belum dewasa.
"Melati sudah menghapus memory nya tentang kamu bung. Sadar lah!. Dengan bercerai dengan Regina, jangan kamu berpikir akan mendapatkan Melati. Yang ada kamu akan kehilangan wanita yang baik untuk kedua kalinya. Melati dan Regina itu sama sama wanita yang baik. Jadi perlu kamu ingat, kehilangan Regina sudah pasti kamu akan kehilangan Melati. Tapi kehilangan Melati belum tentu kamu kehilangan Regina. Tentukan pilihan mu bung," kata Reza.
Reza sengaja berkata seperti itu berharap Kevin bisa memahami maksud perkataannya. Meskipun dirinya tersakiti dengan putusnya hubungan diantara dirinya dan Regina..Reza sangat berharap, Regina menemukan kebahagiaannya di dalam pernikahan bersama Kevin.
Reza hendak berbalik untuk menemui wanita temannya tadi tapi tangan Kevin berhasil meraih pundaknya sehingga laki laki itu berhenti.
"Apalagi?" tanya Reza dengan ketus. Dia mengibaskan tangan Kevin dari pundaknya dengan kasar.
"Jangan sok mengajari kamu. Aku akan memperlihatkan video kemesraan mu dengan wanita itu kepada Melati. Jadi jangan sok yakin mendapatkan Melati," kata Kevin. Dia menunjukkan video yang baru saja dia rekam dengan bangga pada Reza.
Kevin berpikir jika apa yang dikatakan oleh Reza tadi untuk menghentikan usahanya untuk mendapatkan Melati.
"Asal kamu tahu ya. Dulu, Aku sangat mencintai Regina. Tapi aku sadar, cinta tidak selamanya harus memiliki. Aku berusaha ikhlas melepaskan dia dari hatiku. Karena aku sadar, dia sudah milik wanita lain. Seharusnya kamu pun seperti itu. Kamu harus sadar sudah menjadi milik Regina. Seandainya, Melati hamil anak laki laki lain. Apakah kamu masih bisa menerima dirinya?. Renungkan itu dalam hati mu. Satu lagi, kamu mau menunjukkan video itu kepada Melati tidak akan mempengaruhi hubungan kami. Karena gadis yang kamu lihat bersama ku tadi adalah adik kandung ku. Jangan hanya umur saja yang sudah tua, tapi pemikiran juga harus dewasa," kata Reza.
Reza meninggalkan Kevin. Reza menarik tangan adiknya itu keluar dari toko sepatu karena tidak ingin bertatapan lagi dengan Kevin.
"Kasihan sekali kamu Regina. Pasti rasanya sangat sakit kan?" kata Reza dalam hati. Dia bisa membayangkan rasa sakit Regina karena sikap Kevin masih sangat menginginkan Melati.
__ADS_1