
"Maaf, aku tidak bisa membantu kamu Sa. Jika kamu benar benar mencintai Reza. Maka berjuang sendiri lah. Tapi jika kamu tidak berhasil. Kamu harus bisa menerima kekalahan kamu," kata Melati. Sasa terlihat berpikir mendengar perkataan Melati.
Bukan tidak ingin membantu sesama wanita. Tapi Melati tidak ingin membantu Sasa karena dirinya juga kurang suka dengan sifat agresif Sasa menunjukkan cintanya pada Reza. Lagipula, melihat sikap saja yang bisa berbohong dan berubah sikap hanya dalam hitungan jam membuat Melati tidak nyaman berteman dengan wanita itu. Melati ingin mempunyai sahabat seperti cerminan dirinya. Dan orang itu hanya ada dalam diri Regina. Sasa tidak cocok dijadikan teman apalagi sahabatnya. Sifatnya tidak baik.
"Iihh. Jangan jangan kamu tidak mau membantu aku karena kamu juga suka dengan Reza kan?" tanya Sasa. Wanita dengan centilnya menunjukkan lengan Melati. Melati mengibaskan tangan Sasa tidak suka.
Melati hanya menatap wanita itu dengan datar. Sungguh, Sasa sangat menjengkelkan di matanya. Seharusnya Sasa tidak perlu memaksa dirinya membantu untuk mendapatkan Reza. Sejak Regina menikah, Reza tidak membatasi dirinya bergaul dengan wanita mana pun di kampus itu. Bahkan setahu Melati, Sasa dan Reza juga pernah jalan bareng. Jika Sasa benar benar ingin mendapatkan Reza seharusnya wanita itu mengubah sikap tidak meminta bantuannya seperti hari ini.
Tapi tidak terlihat ada keinginan Sasa untuk mengubah sikap. Sejak mengenal Sasa. Sasa sifatnya masih saja seperti itu. Bersikap murahan pada laki laki incarannya. Bahkan bukan hanya kepada Reza Sasa sangat agresif. Juga ke beberapa laki laki lain. Tapi yang lebih lama bertahan hanya kepada Reza. Sepertinya, Sasa benar benar mencintai Reza.
Sebenarnya hal yang wajar jika Sasa tergila gila kepada Reza. Pembawaan Reza yang humorist dan juga ramah menjadi daya tarik tersendiri bagi laki laki itu di tambah dengan wajah tampan, badannya yang tinggi dan juga kepintarannya.
Sedangkan Sasa, wanita itu juga termasuk wanita yang cantik dengan riasan wajahnya yang selalu cetar ditambah dengan Sasa yang selalu berpakaian modis. Sasa juga bisa mengincar laki laki dengan keadaan ekonominya. Sasa membawa mobil sendiri ke kampus itu. Jika dilihat dari profil sasa, sebenarnya Wanita itu pantas mendapatkan Reza hanya saja cara Sasa memikat laki laki incarannya sangat murahan.
"Kamu salah besar," jawab Melati santai. Dia tidak mempunyai rasa kepada mantan sahabatnya itu. Murni berteman. Kalau pun mereka dekat dalam beberapa bulan ini..Hal itu karena mereka mempunyai misi bersama.
"Kalau kamu benar benar tidak menyukai Reza. Tunjukkan dengan membantu aku mendapatkan laki laki itu. Kamu berani tidak?" tantang Sasa. Melati menarik nafas panjang. Dirinya malas berurusan dengan wanita yang ada di hadapannya ini tapi demi menunjukkan jika dirinya tidak menyukai Reza melebihi batas pertemanan. Akhirnya Melati menganggukkan kepalanya. Asalkan bantuan yang diinginkan wanita itu tidak melebihi batas. Maka tak mengapa bagi Melati. Tapi jika bantuan yang diinginkan Sasa tidak sesuai dengan hatinya. Maka Melati juga akan menolak.
"Beritahu aku apa yang akan aku lakukan," kata Melati akhirnya. Sasa tersenyum manis.
"Katakan pada Reza bahwa kamu dan Lion sudah berpacaran," kata Sasa. Lion adalah laki laki yang sering menggoda Melati di kampus itu. Melati tidak pernah menanggapi Lion karena belum ingin membuka diri dengan laki laki mana pun. Lion juga sudah mempunyai kekasih mahasiswa di kampus itu juga. Yang membuat Melati semakin tidak menyukai Lion. Laki laki itu tidak segan segan menggoda dirinya meskipun kekasihnya ada bersama dirinya.
"Tidak akan," jawab Melati cepat. Dia tidak akan menjatuhkan harga dirinya dengan mengaku sudah berpacaran dengan laki laki pengecut demi membantu teman seperti Sasa. Biarlah Sasa menuduh dirinya menyukai Reza yang penting dirinya tidak membuat kebohongan yang merugikan dirinya. Jika tersebar dirinya mengaku berpacaran dengan Lion. Entah ditaruh dimana nanti wajahnya.
"Oke. Kalau kamu tidak mau. Aku akan katakan pada orang orang. Jika Melati adalah wanita yang dikhianati oleh Regina sahabatnya sendiri. Regina hamil oleh mantan kekasihmu. Dan coba bayangkan tatapan tatapan para mahasiswa yang mengasihani kamu. Kamu menyedihkan Melati. Kamu sengaja mendekati Reza dengan berpura pura pacaran tapi untuk membalaskan dendam mu pada Regina kan."
Melati menatap Sasa dengan nyalang. Darimana Sasa mendapatkan cerita itu karena selama ini, dia menutup rapat masalah itu. Hanya dia dan Reza mengetahui kisah yang sebenarnya. Jika Sasa mengetahui hal itu. Mungkin kah Reza yang bercerita pada wanita itu.
"Daripada kamu mendapatkan cerita itu?" tanya Melati. Dia tidak mau, Regina dicap sebagai sahabat pengkhianat karena kehamilan Regina bukan karena mengkhianati dirinya. Meskipun saat ini Kevin membuat Melati sangat kesal. Tapi Melati juga tidak mau suami dari Regina itu dicap sebagai laki laki pengkhianat. Karena memang, Kevin tidak mengkhianati dirinya. Kehamilan itu terjadi karena tidak sadar.
Melati tidak mau, jika setelah melahirkan nanti, Regina kembali ke kampus akan mendapatkan dirinya menjadi bahan gosip seperti yang disebutkan Sasa tadi. Itu tidak boleh terjadi. Melati tidak ingin ada salah paham antara dirinya dan Regina nantinya. Jangan sampai, Regina berpikir jika Melati yang menyebarkan gosip itu.
"Tidak perlu kamu tahu darimana aku mendapatkan cerita itu. Yang pasti jika kamu tidak mau membantu aku. Aku akan menjawab rasa penasaran para teman teman dengan kehamilan Regina dan identitas suaminya."
Sasa merasa menang karena bisa menekan Reza. Sasa sengaja menyebut nama Regina karena Sasa tahu Melati sangat menyayangi Regina dan Melati tidak akan membiarkan sahabatnya itu menanggung malu.
"Dengar ya, Sa. Regina menikah bukan karena hamil duluan tapi karena dia dan suaminya itu dijodohkan. Jadi jangan mengarang bebas."
Jika kebohongan bisa menyelamatkan Regina dari fitnah maka Melati sudah melakukannya.
__ADS_1
"Jadi jangan mengarang bebas," ulang Sasa menirukan cara berbicara Melati kemudian wanita itu tertawa terbahak bahak.
Melati meninggalkan Sasa sendirian di bawah pohon rindang itu. Dia ingin bertemu dengan Reza sekarang juga. Dia sangat yakin, Sasa mengetahui cerita tentang pernikahan Regina dan mantan kekasihnya itu dari Reza.
Melati sengaja menunggu Reza di depan pintu ruangan laki laki itu. Ternyata, Reza melihat Melati di tempat itu. Ketika mereka saling bertatapan, Reza tersenyum manis dan mengatakan tunggu tanpa suara kepada Melati. Melati yang bisa mengerti gerakan bibir Reza hanya menganggukkan kepalanya.
Sambil menunggu Reza keluar dari ruangan. Melati mencoba menghubungi Regina. Tapi lagi lagi, Melati harus menelan kecewa. Regina tidak menjawab panggilannya dan juga tidak membalas pesan yang dia kirimkan tadi pagi.
"Regina, aku mengkhawatirkan kamu. Kedua mertua dan suami mu mencari kamu ke rumah ku. Mereka sangat mengkhawatirkan kamu Re. Suami pun sangat panik mencari kamu selama tiga hari ini."
Melati mengirimkan pesan itu kepada Regina. Dia sengaja memberitahukan kekhawatiran kedua mertua Regina dan juga Kevin supaya Regina mengetahuinya. Meskipun Melati melampiaskan kemarahannya tadi malam kepada Kevin. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Melati berharap dengan kepergian Regina saat ini. Kevin menyesali perbuatannya dan bisa menerima Regina dan calon anaknya secara tulus. Melati sangat berharap, Regina menemukan kebahagiaannya dalam pernikahannya dengan Kevin.
"Mel, aku dan kak Kevin akan segera bercerai. Cintanya pada dirimu sangat besar Mel. Cintanya padamu tidak tergantikan oleh apapun termasuk oleh darah dagingnya sendiri. Aku menyerah Mel. Aku sudah ikhlas bercerai dan menjadi seorang ibu tanpa suami. Aku mohon kepada mu Mel, jika kamu masih mempunyai rasa sedikit saja pada kak Kevin. Tolong berikan dia kesempatan. Aku akan lebih lega jika kamu yang mendampingi kak Kevin kelak. Karena aku tahu kamu adalah wanita yang sangat baik dan bisa menerima anakku seperti anakmu nantinya jika suatu saat nanti kak Kevin bisa menerima kehadiran janin ini. Dibandingkan dengan wanita lain."
Melati meneteskan air mata membaca balasan pesan dari sahabatnya itu. Dia sangat yakin ketika menuliskan pesan itu. Regina pasti sedang menangis.
"Re, aku tahu kamu saat ini pasti lagi sedih kan. Dimana kamu Re. Aku ingin memeluk kamu. Jika kamu bercerai dengan Kevin. Jangan harap aku bersedia membuka hati lagi untuk dia. Dia sudah membuat kamu sakit hati. Dan aku sangat yakin, dia juga nantinya yang mengobati sakit hatimu itu Re. Percaya padaku. Kevin sepertinya sudah mulai mencintai kamu. Dia sangat panic. Tapi ada baiknya juga kamu menjauh sementara dari dia. Biar tahu rasa suami mu itu."
Baru saja Melati mengirimkan pesan itu kepada Regina. Seseorang yang tidak diharapkan sudah duduk di hadapannya. Laki laki itu menatap Melati dengan senyum aneh membuat Melati bergidik ngeri melihatnya. Melati mencoba mengabaikan kehadiran laki laki itu dengan fokus pada ponselnya tapi laki Laki itu senang mengganggu Regina. Jadi,. tidak ada pilihan lain selain menghadapi laki laki itu.
"Hai cantik. Lihat abang donk," kata laki laki yang bernama Lion itu. Melati menatap Lion tidak suka tapi dibalas laki laki itu dengan tersenyum dan kemudian menjilat bibirnya sendiri. Sungguh pemandangan yang menjijikkan bagi Melati. Tapi jika dirinya menghindar sudah pasti laki laki itu akan mengikuti dirinya. Jadi lebih baik duduk di tempat itu karena tidak mungkin laki laki itu berbuat senonoh. Jarak tempat duduk Melati dengan ruangan Reza hanya beberapa meter. Reza juga akan bisa melihat dari ruangan itu jika lion berbuat macam macam.
"Pergi saja sendiri. Aku tidak mau ikut dengan mu," jawab Melati ketus. Dasar playboy, sikap ketus Melati tidak membuat laki laki itu marah atau tersinggung. Yang ada laki laki itu tertawa dan berpindah duduk ke sebelah Melati membuat wanita itu spontan bergeser.
"Tidak ada rencana mengikuti jejak sahabatmu yang cantik itu. Menikah karena hamil duluan?" tanya Lion pelan membuat Melati marah. Melati memukul laki laki itu dengan tas ransel miliknya. Melati sudah sangat marah tapi laki laki itu masih saja tersenyum. Pukulan tas dari Melati tidak berarti di tubuh laki laki itu.
"Aku bisa loh, membuat kamu hamil. Tenang saja. Aku juga akan bertanggung jawab kog. Kamu juga akan aku bahagiakan dengan materi berlimpah. Tidak percaya. Coba saja buktikan dengan mau menjadi pacarku," kata Lion membuat Melati semakin marah. Hanya mendengar perkataan seperti itu. Melati sudah merasa direndahkan.
"Dengar ya singa jantan. Regina menikah karena dijodohkan. Bukan karena hamil duluan. Jika kamu membuka jasa laki laki pembuka praktek menghamili wanita. Bukan aku wanita itu. Tuh Sasa sepertinya butuh kamu. Pergi Sana," usir Melati. Tidak jauh dari mereka di dekat kantor tata usaha. Sasa terlihat memperhatikan lion dan Melati.
Benar dugaan Melati. Regina sedang menangis saat ini ketika membaca pesan dari Melati. Regina tidak langsung senang ketika mengetahui jika Kevin mengkhawatirkan dirinya. Regina sangat yakin, Kevin mencari dirinya karena kehilangan bantal hidup yang memberikan laki laki itu kenikmatan di malam hari.
"Kita berjuang sama sama ya nak. Mama yakin kita berdua bisa melewati cobaan ini. Kamu memang pernah tidak mama harapkan. Itu dulu. Sekarang mama tidak sabaran ingin melihat kamu secepatnya. Memegang tangan mungil mu. Menyanyikan lagu pengantar tidur mu. Kamu adalah segalanya bagi mama, sayang," kata Regina sambil mengelus perutnya.
Regina tertawa sambil mengusap air matanya. Dia senang karena perkataannya ditanggapi sang janin dengan bergerak.
"Jangan sering sering menangis. Nanti anak mu menjadi anak yang cengeng," kata nenek Lisa yang baru muncul di kamar Regina. Regina buru buru mengusap air matanya sampai kering.
"Ujian dalam rumah tangga itu sangat beragam. Nenek juga tidak membenarkan sikap suami mu atas anak itu. Tapi jika segala sesuatunya kami adukan pada Yang Maha Kuasa. Hal yang tidak mungkin bisa terjadi. Daripada menangis, lebih baik kamu berdoa. Menangis tidak akan mengatasi masalah kamu. Tapi berdoa, kamu bisa merasakan kuasa Sang Pemilik Hidup. Sang Pencipta mampu membalikkan hati manusia dalam sekejap. Apapun masalah mu dengan suami mu. Nenek sangat yakin ada penyelesaian yang terbaik."
__ADS_1
Nenek Lisa tidak henti hentinya memberikan semangat dan dukungan pada Regina. Nenek Lisa sudah mendengar secara keseluruhan masalah yang dihadapi Regina mulai dari malam kelam itu hingga dirinya harus ke desa ini. Mendengar cerita dari Regina sendiri. Nenek Lisa merasa lega karena Regina sudah menjalankan kewajibannya sebagai istri. Jika perceraian itu memang harus benar benar terjadi. Kesalahannya tidak di pihak Regina lagi.
Regina menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan perkataan neneknya itu. Dia pernah merasa dirinya tidak adil diperlakukan oleh takdir. Regina bukan orang jahat. Tapi dirinya harus mendapatkan kenyataan hidup yang menyakitkan. Tidak bisa dipungkiri, sejak kejadian malam kelam itu. Regina seakan menjauh dari Pencipta. Dan beberapa hari di desa ini, berkat support dari nenek Lisa. Regina kembali mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dan Regina mendapatkan kenyamanan.
"Aku tidak melihat mu memakai kalung pemberian nenek. Apa kalung itu sudah hilang atau kamu jual?"
Regina mendadak mengingat kalung pemberian nenek Lisa. Kalung yang diberikan Nenek Lisa sewaktu dirinya baru lulus dari seragam putih abu abu waktu itu. Nenek Lisa memberikan kalung itu kepada Regina karena kalung itu pemberian sang kakek kepada nenek Lisa. Tapi karena rasa sayangnya pada Regina Dan inisial nama mereka sama. Nenek Lisa yang mempunyai nama lengkap Relisa memberikan kalung itu kepada Regina.
"Nek, aku tidak tahu dimana kalung itu. Jangan jangan kalung itu terjatuh nek, karena seingat ku. Aku tidak ada memasukkan kalung itu ke dalam koper," jawab Regina panic. Dia tidak enak hati untuk mengatakan hal itu kepada nenek Lisa.
"Tapi kamu tidak membawa koper ke mari. Kalau kamu membawa koper tidak mungkin kamu memakai daster Nenek. Jangan jangan, kalung itu ada di lipatan pakaian kamu," kata nenek Lisa. Ada rasa kecewa terlihat di wajah keriputnya karena Regina tidak bisa menjaga kalung yang sangat berharga itu. Berharga bagi nenek Lisa bukan karena mahalnya tapi berharga karena kalung itu simbol cinta suaminya kepada dirinya. Sengaja dirinya memberikan kalung itu kepada Regina karena dia sadar ajal bisa kapan saja menjemput dirinya.
Regina bergerak gelisah. Dia mengingat jika dirinya terakhir kali memegang kalung itu di malan saat dirinya meminta cerai kepada Kevin. Malam itu, Regina sangat sedih dan merindukan nenek Lisa. Regina mengambil kalung pemberian Neneknya untuk mengurangi kerinduan kepada sang nenek. Regina sangat yakin jika kalung itu kemungkinan besar berada di tempat tidurnya.
"Nenek, bagaimana ini?" tanya Regina. Tidak mungkin dirinya kembali ke rumah Kevin.
"Sudah. Jangan kamu pikirkan. Jika dalam waktu dekat ini, nenek punya waktu. Nenek yang akan mencari di rumah suami mu itu. Nenek juga tidak sabar memukul kepalanya. Mungkin ada sarafnya yang bergeser sehingga bisa bisanya menyalahkan janin yang baru lahir."
Regina tidak gelisah lagi. Yang ada wanita itu tertawa terbahak bahak mendengar perkataan neneknya.
"Bukan suami nek, tapi mantan suami," ralat Regina.
Nenek Lisa menatap wajah cucunya kemudian turun ke perut Regina. Membayangkan Regina menjadi janda di masa muda membuat hatinya berdenyut nyeri. Regina masih mahasiswa dan tidak mempunyai pekerjaan. Membayangkan Regina akan bekerja keras menghidupi anaknya kelak membuat nenek Lisa ingin menangis. Sengaja, Nenek Lisa memalingkan wajahnya supaya Regina tidak melihat air matanya. Nenek Lisa tahu bagaimana keadaan ekonomi putranya pak Bayu. Kalau tidak bekerja keras maka tidak makan.
"Minggu depan, Nenek ke rumah suami mu," kata Nenek Lisa akhirnya. Sungguh, dia tidak sabar bertemu dengan Kevin dan membuat perhitungan dengan laki laki itu. Membayangkan anaknya Regina tumbuh tanpa seorang Ayah membuat amarah Nenek Lisa meledak ledak.
"Jangan buru buru nek. Biarkan aku melahirkan dulu. Baru Nenek mencari kalung itu. Aku mau menjalani kehamilan ini dengan tenang nek. Percaya padaku. Kalung itu tidak akan hilang," kata Regina.
Regina tidak mau jika nenek Lisa nantinya ke rumah Kevin, itu menjadi jalan bagi Kevin menemukan dirinya. Regina ingin benar benar menjalani sisa kehamilan itu tanpa ada beban pikiran. Bertemu dengan Kevin nantinya hanya akan menambah Luka hati padahal dalam beberapa hari ini, dirinya sudah mulai nyaman.
Nenek Lisa tidak menjawab. Dia ingin memberikan pelajaran secepatnya pada suami Regina itu.
"Kevin tinggal sendiri di rumah itu nek. Tidak mungkin dia masuk ke kamar ku. Dia sangat sibuk. Jangan dulu kesana ya nek," bujuk Regina lagi. Dia tahu watak neneknya. Diam berarti menolak.
"Kamu tenang saja. Aku kesana untuk mencari kalung itu bukan untuk memberitahukan keberadaan mu. Jadi jangan larang nenek Re."
"Nenek, kalau Nenek ke Sana. Siapa teman ku di rumah," kata Regina pura pura merajuk. Dia berharap dengan seperti itu. Nenek Lisa tidak jadi kesana. Bukan hanya Regina yang bercerita jika Kevin terus mencari dirinya tapi juga Rani adiknya. Berdasarkan cerita Rani. Hampir setiap sore sepulang kerja, Kevin singgah di rumah orangtuanya untuk menanyakan keberadaan dirinya.
Regina takut jika nenek Lisa ke rumah Kevin dalam waktu dekat ini. Kevin bisa menebak dirinya di desa ini. Karena Regina pernah bercerita kepada Kevin jika dia sangat suka berkunjung ke desa ini sewaktu kecil. Sungguh, Regina belum ingin bertemu dengan Kevin.
__ADS_1