Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 53


__ADS_3

Terkadang apa yang kita anggap baik tapi belum tentu baik bagi pandangan orang lain. Begitu juga dengan keputusan yang diambil oleh Kevin. Di saat dirinya harus bersedih dengan keadaan istri dan putrinya. Kevin mendapatkan promosi jabatan di kantornya. Tapi sayang, promosi jabatan itu harus melewati percobaan dimana Kevin diberikan tantangan untuk memperbaiki cabang perusahaan yang hampir bangkrut di luar kota.


Berat bagi Kevin untuk menerima tantangan itu. Lebih baik dirinya tetap di posisi jabatan semula asalkan tetap berada di Kota yang sama dengan istri dan putrinya. Tapi setelah merenung satu malam dan melihat keadaan istri dan putrinya tidak ada perkembangan yang berarti. Akhirnya, Kevin sadar bahwa memang dirinya benar benar tidak dibutuhkan menunggu istri dan putrinya itu. Dengan berat hati, akhirnya Kevin mengambil keputusan menerima tantangan tersebut. Kevin sangat berharap, semoga dengan dirinya menjauh dari Regina. Istri dan putrinya itu mendapatkan kesembuhan.


Dan ternyata keputusan berat yang diambil oleh Kevin semakin terasa berat mendapatkan ijin dari kedua orangtuanya. Pak Raka dan ibu Tika tidak setuju dengan keputusan itu. Ibu Tika semakin yakin jika Kevin benar benar belum berubah dan masih mencintai Melati. Pak Raka berusaha memaksa Kevin untuk membatalkan keputusan yang sudah terlanjur diketahui pihak kantor.


"Papa tidak habis pikir dengan keputusan kamu ini, Kevin. Di saat seperti ini, kamu lebih mementingkan karir. Jika kamu takut dipecat. Papa siap memberikan apa yang kami miliki untuk kamu membuka usaha. Apa kata Pak Bayu dan Ibu Siska setelah mengetahui keputusan kamu ini, Vin?"


Pak Raka berkata sangat pelan dan lesu. Tenaga pak Raka sepertinya sudah hampir habis untuk melampiaskan kemarahannya kepada Kevin. Dari tadi sejak mendengar keputusan dan permintaan ijin dari Kevin, Pak Raka sudah melampiaskan kemarahan dan kekecewaan pada putranya itu.


Sedangkan ibu Tika sudah tidak mampu lagi mengeluarkan kata kata. Amarahnya benar benar memuncak sehingga tidak bisa ditunjukkan lewat kata kata. Ibu Tika sangat kecewa. Wanita itu memposisikan dirinya seperti Regina. Pasti akan semakin sakit hati begitu tersadar mengetahui suaminya lebih mementingkan karir.


Di hadapan dua orangtua itu. Kevin hanya menundukkan kepalanya. Keputusannya sudah bulat tidak bisa diganggu gugat lagi meskipun kedua orangtuanya tidak memberikan ijin, Kevin tetap akan pergi.


"Jika kamu bersikeras mementingkan karir. Papa dan mama tidak akan mewariskan apapun kepada kamu. Kami akan mewariskan apa yang kami miliki pada putri mu itu," kata Pak Raka lagi. Ancaman terakhir yang dia pikir akan membuat Kevin membatalkan keputusannya. Ternyata Kevin menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Pak Raka.

__ADS_1


Pak Raka mengusap wajahnya frustasi. Entah bagaimana dirinya nanti menjelaskan kepada kedua besannya tentang keputusan Kevin ini. Sedangkan dua hari ini saja, Kevin tidak berkunjung ke rumah sakit. Pak Raka sudah kesulitan mencari kata kata membuat alasan ketika pak Raka dan ibu Siska bertanya akan ketidakhadiran Kevin di rumah sakit.


"Tak seharusnya kamu menggantung status Regina jika sikap kamu seperti ini. Penyesalan yang kamu tunjukkan dua bulan ini ternyata hanya kebohongan belaka saja. Seharusnya kamu menceraikan Regina disaat wanita itu meninggalkan rumah. Sikap kamu seperti ini lebih menyakitkan daripada melemparkan gugutan cerai pada Regina."


Tidak henti hentinya pak Raka berusaha menyadarkan Kevin. Tapi laki laki itu tetap pada pendiriannya. Yang membuat pak Raka dan ibu Siska semakin shock, ternyata undangan Kevin malam ini, tidak hanya sekedar minta ijin. Kevin meminta kedatangan orangtuanya ke rumah itu untuk memberitahukan keputusannya. Artinya, Kevin tidak memerlukan ijin dari kedua orangtuanya.


"Kamu jangan gila Kevin, jika kamu mempunyai perasaan sedikit saja. Minta ijin pada kedua mertua mu sebelum pergi," bentak ibu Tika.


Dari tadi mogok bicara tapi melihat Kevin sudah mendorong sebuah koper dari kamarnya membuat ibu Tika akhirnya bersuara.


"Tidak ada lagi waktu ma. Malam ini, aku harus berangkat. Aku titip rumah. Jika Regina sudah sadar nantinya. Tolong beritahu padanya. Bahwa rumah ini adalah miliknya juga," kata Kevin. Laki laki itu terus melangkah menuju pintu rumah mengabaikan tatapan marah kedua orangtuanya.


Kata kata itu mengiringi kepergian Kevin dari rumah itu. Kevin tidak lagi menjawab. Dia memasukkan kopernya ke dalam mobil dan berlari ke pintu mobil. Tanpa menoleh kepada kedua orangtuanya yang juga sudah berdiri di depan rumah. Kevin membawa mobilnya pergi.


Ternyata Kevin tidak sanggup juga jika tidak melihat kedua orangtuanya itu sebelum pergi. Dari kaca spion, Kevin dapat melihat sekilas ibu Tika menyandarkan kepalanya ke lengan pak Raka dengan tangisan yang terlihat jelas di wajah wanita itu.

__ADS_1


Bukan hanya kedua orangtuanya yang sedih. Kevin juga sedih karena harus berpisah dengan kedua orangtua yang sangat disayangi nya itu. Jika boleh memilih, Kevin juga tidak mau berpisah dengan kedua orangtuanya apalagi harus berpisah dengan istri dan putrinya. Dia ingin mendengar tangisan pertama putrinya itu. Dia juga ingin melihat Regina tersadar dari kritisnya. Tapi karena kesalahan di masa lalu itu. Kevin akan menerima hukuman ini jika hal ini yang mendatangkan kebaikan dan kesembuhan bagi istri dan putrinya.


Perjalanan malam itu semakin mencekam ketika mobil milik Kevin sudah ke luar dari area kota. Bukan lagi gedung gedung tinggi yang dia lewati dalam perjalanan itu. Kini yang dilewati pohon pohon yang tinggi menambah kesepian di hati Kevin. Perjalanan itu masih panjang. Jika tidak ada kendala, Kevin akan tiba di tempat tujuan jam sebelas siang esok hari. Sebenarnya, pihak kantor menyediakan tiket pesawat untuk keberangkatan Kevin tapi laki laki itu memilih membawa mobilnya karena ingin sendiri.


Kevin benar benar sendirian. Dengan mobil yang membawa dirinya semakin jauh dari kota, Kevin terkadang menitikkan air mata. Hatinya sangat hampa, Kevin benar benar merasa kesepian. Menjauh dari seseorang yang sangat dicintai bukan hal mudah bagi Kevin apalagi dengan situasi rumah tangga mereka yang belum pasti saat ini. Bisa saja setelah Regina tersadar bukan maaf yang akan diterima Kevin melainkan gugatan perceraian.


Membayangkan hal itu, berkali kali Kevin memukul setir mobil karena kesal pada dirinya sendiri. Terkadang Kevin juga menghentikan mobilnya di saat hatinya berdenyut nyeri mengingat semua perbuatan buruknya pada Regina.


"Regina, putriku. Bangun lah. Aku sudah menjauh dari sisi kalian. Orang jahat seperti ku memang tidak pantas untuk kalian berdua," kata Kevin dengan suara yang terisak. Kevin sengaja menghentikan mobilnya entah yang ke berapa kali sepanjang perjalanan itu. Kevin memeluk setir mobilnya seakan akan setir itu adalah istrinya Regina.


Kevin kembali melanjutkan perjalanan. Dirinya merasa lelah karena menyetir sendirian. Jarum jam menunjukkan angka satu dini hari dan Kevin berencana mencari tempat yang aman untuk beristirahat di dalam mobilnya.


Baru saja, Kevin menghentikan mobilnya di depan rumah makan yang buka selama dua puluh empat jam. Kevin merasakan ponselnya bergetar pertanda ada pesan masuk.


"Regina dan putri mu. Sudah melewati masa kritisnya."

__ADS_1


Kevin menangis bahagia mendapatkan pesan dari pak Raka. Kevin mencium foto Regina dan putrinya yang dikirimkan pak Raka barusan. Kevin merasa keputusannya tidak salah. Kevin juga merasa bahagia dengan sikap papanya itu. Ternyata dibalik kata kata marah yang dikeluarkan pak Raka. Ternyata pak Raka masih perduli dengan Kevin sendiri.


Dan apa yang dilakukan pak Raka, itu juga yang membuat Kevin semakin terisak. Ternyata seperti itulah kasih sayang yang nyata dari orangtua. Semarah apapun kepada anaknya masih saja memikirkan anaknya sendiri.


__ADS_2