Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 54


__ADS_3

Rasa haru dan bahagia menyelimuti keluarga pak Bayu pagi itu. Mereka berkumpul di rumah sakit di ruangan Regina untuk menyambut kesembuhan Regina yang sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Jika tadi malam, dokter memastikan jika Regina dan putrinya sudah melewati masa kritisnya. Pagi ini, Regina sudah bisa membuka matanya.


Rasa sedih dan rasa khawatir selama beberapa hari ini karena keadaan Regina dan putrinya berangsur hilang dari hati pak Bayu dan ibu Siska melihat keadaan Regina. Meskipun Regina masih terlihat pucat dan lemah. Tapi senyum tipis di bibir wanita itu membuat keluarga sangat yakin jika Regina akan mendapatkan kesembuhan yang sempurna setelah ini.


Sedangkan untuk putri Regina. Bayi itu harus mendapatkan perawatan yang intensive. Selain karena lahir prematur, kondisi kritis sejak dilahirkan membuat bayi itu masih tergantung pada alat alat medis. Pihak keluarga hanya bisa melihat dari dinding kaca pembatas ruangan. Regina juga belum diperbolehkan untuk melihat keadaan janinnya. Selain karena kondisi fisik, mental Regina harus benar benar siap melihat keadaan putrinya.


Rasa optimis akan kesembuhan Regina sedikit terusik dengan ketidak hadiran Kevin di ruangan itu. Sebagai mertua, Pak Bayu dan ibu Siska mengharapkan keberadaan Kevin di ruangan itu untuk menunjukkan keseriusannya memperbaiki pernikahan dengan Regina. Tapi hampir setengah jam mereka berkumpul di ruangan itu. Sosok Kevin tidak kunjung muncul membuat tanda tanya di hati pak Bayu dan ibu Siska.


Pak Raka dan ibu Tika merasakan tanda tanya itu meskipun tidak diucapkan lewat tanda tanya. Melihat gelagat pak Bayu yang berkali kali melihat jam dinding dan pandangannya ke arah pintu sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran laki laki itu.


Pak Raka dan ibu Tika merasa tidak enak. Pak Raka ingin jujur tentang kepergian Kevin tapi masih saja mempertimbangkan banyak hal. Dia takut kepergian Kevin yang mementingkan karir akan menjadi akhir dari pernikahan putranya dan Kevin. Pak Raka tidak menginginkan itu. Dia ingin pernikahan Kevin dan Regina bisa diselamatkan.


Berbeda dengan Pak Raka dan pak Bayu. Ibu Siska dan nenak Lisa tidak henti hentinya mengucap syukur. Perhatian mereka fokus pada Regina sehingga tidak menyadari jika Kevin tidak ada di ruangan itu.


"Kevin ada urusan penting dari kantor, sepertinya hari ini. Kevin tidak bisa berkunjung. Maafkan Kevin ya nak," kata pak Raka.


Laki laki itu sengaja berkata seperti itu lebih dulu sebelum pak Bayu bertanya tentang Kevin.


Regina tidak menunjukkan reaksi apapun mendengar perkataan papa mertuanya itu. Tapi tidak dengan keluarga Regina. Pak Bayu dan ibu Siska terlihat kecewa tapi mereka tidak menunjukkan itu di hadapan Regina. Sedangkan ibu Tika menundukkan kepalanya.


"Pekerjaan juga sangat penting. Kevin memilih menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu karena dengan pekerjaan itu dia menghidupi keluarganya nanti. Yang penting,. Regina sudah sadar. Kevin juga pasti lebih bersemangat menyelesaikan pekerjaannya setelah mengetahui Regina sudah sadar."


Pak Raka merasa terselamatkan dengan jawaban bijak nenek Lisa.

__ADS_1


"Dimana mana keluarga itu adalah prioritas yang paling penting bu. Tapi ya sudah lah. Ada atau tidak ada Kevin di sini sepertinya bukan hal yang penting bagi Regina," jawab ibu Siska ketus.


Karena terlalu kecewa dengan sikap Kevin yang lebih mementingkan pekerjaan daripada Regina. Ibu Siska merasa jika keinginan Kevin memperbaiki pernikahannya masih kurang meyakinkan. Seharusnya di saat seperti ini lah, Kevin menunjukkan keseriusannya di hadapan Regina. Harusnya Kevin mementingkan Regina terlebih dahulu.


Pak Bayu menyenggol lengan istrinya supaya tidak membicarakan hal hal yang bisa mempengaruhi perasaan Regina. Sebagai papa yang baik, Pak Bayu bisa melihat perubahan raut wajah Regina sebelum dan sesudah membicarakan nama Kevin meskipun Regina berusaha memasang raut wajah yang biasa.


"Siska, jangan berkata seperti itu. Bisa jadi, satu atau dua jam lagi Kevin akan berkunjung. Kevin bisa saja mendahulukan pekerjaannya karena dia tahu kita semua ada disini menjaga Regina dan putrinya," kata Nenek Lisa lagi.


"Kita lihat saja nanti. Apa benar seperti yang ibu katakan itu. Jika dia tidak datang hari ini berkunjung. Maka selamanya juga, dia tidak boleh menemui Regina dan cucuku," jawab ibu Siska.


Pak Raka dan ibu Tika sama sama menelan ludahnya dengan kasar. Kevin bisa dipastikan tidak akan datang hari ini. Kevin sudah berangkat ke luar kota tadi malam dan pesan pak Raka tidak mendapatkan balasan apapun dari Kevin.


"Maaf, sebenarnya Kevin dimutasi kan keluar Kota. Dan tadi malam baru berangkat ke Sana. Dan sepertinya hari ini, Kevin belum boleh berkunjung," jawab Pak Raka akhirnya jujur. Kedua matanya menatap Regina Dan lagi lagi wanita itu tidak bereaksi apapun.


"Keluar kalian semua. Jika mau berdebat tentang Kevin. Di luar saja. Tinggalkan aku dan Regina," kata nenek Lisa. Wanita itu tidak mau kemarahan ibu Siska menjadi beban pikiran untuk Regina. Regina baru saja sadar dari koma dan seharusnya ibu Siska bisa menjada sikap.


"Keluar," perintah nenek Lisa lagi. Dua pasang suami istri itu akhirnya keluar dari ruangan Regina.


"Pak Raka, apa maksud Kevin dengan sikapnya itu?" tanya Pak Bayu setelah mereka berada di luar ruangan Regina. Pak Bayu tentu saja sangat kecewa dengan tindakan Kevin itu tapi laki laki itu masih bisa menahan lisan karena menghargai kedua orangtuanya Kevin.


"Sungguh, aku dan istri sangat memohon maaf dari pak Bayu dan ibu Siska atas sikap putra kami," kata Pak Raka dengan kepala yang tertunduk lesu.


"Apa dengan sikap Kevin ini. Sebagai kode untuk tidak memperjuangkan pernikahannya dengan putri kami?" tanya Pak Bayu. Pak Raka menggelengkan kepalanya dengan cepat. Pertanyaan pak Bayu menyiratkan seperti menegaskan akan perpisahan Kevin dan Regina.

__ADS_1


"Bukan seperti itu pak Bayu. Kevin pun sebenarnya sangat dilema dengan pilihan antara bersedia menerima mutasi pekerjaan itu."


"Pak Raka. Aku tahu anda hanya berusaha menutupi sikap Kevin yang sebenarnya. Sikap Kevin sudah cukup jelas jika Regina dan putrinya bukan hal yang berarti untuk Kevin. Jadi hari ini juga aku tegaskan. Regina dan putrinya menjadi tanggung jawab kami mulai hari ini. Pak Raka dan ibu Tika tidak perlu repot repot lagi untuk ikut menjaga Regina dan putrinya."


Pak Bayu akhirnya membuat keputusan itu. Dia tidak ingin terlalu berharap akan kehadiran Kevin lagi. Jika seandainya urusan pekerjaan Kevin masih di dalam kota itu masih bisa dimaklum. Memutuskan menerima mutasi ke luar kota, itu artinya Kevin mementingkan pekerjaannya diatas kepentingan apapun termasuk kepentingan keluarga.


"Jangan seperti itu Pak Bayu. Kevin juga terpaksa melakukan ini," kata Pak Raka lagi. Dalam hati, Pak Raka mengumpat sikap keras kepala Kevin yang memilih pergi ke luar kota.


"Apa menurut pak Raka sikap Kevin itu baik. Di saat istri dan putrinya berjuang antara hidup dan mati. Dia justru pergi menjauh. Suami apa seperti itu?"


Pak Raka dan ibu Tika tidak menjawab. Mereka juga tidak menginginkan Kevin pergi.


"Lakukan apa yang terbaik bagi Regina dan cucuku pak Bayu. Jika perpisahan adalah hukuman bagi Kevin. Apapun keputusan kalian, aku percaya karena kalian sangat menyayangi Regina," kata ibu Tika dengan suara yang serak. Memikirkan perasaan Regina, wanita itu juga ikut sakit hati. Dan memikirkan sikap Kevin. Ibu Tika berpikir jika Kevin pantas mendapatkan hukuman dari kedua mertuanya.


Sementara di dalam ruangan Regina. Nenek Lisa menggenggam tangan Regina dengan erat.


"Jika kamu menginginkan Kevin disini. Nenek sangat yakin dia akan pasti segera datang," kata Nenek Lisa. Wanita tua itu ingin mengetahui pikiran Regina tentang ketidakhadiran Kevin di ruangan itu.


"Dia yang tidak ingin ada disini nek. Jadi jangan sangat yakin dengan pemikiran nenek itu."


"Itu artinya kamu dia ingin ada disini kan?" tanya Nenek Lisa lembut dengan senyum manis di wajahnya.


"Aku dan putriku bukan prioritas utama bagi kak Kevin nek. Jadi tidak ada alasan menginginkan dia ada disini."

__ADS_1


"Kamu kecewa karena tidak ada disini kan?" tanya Nenek Lisa lagi. Regina membuang pandangannya. Rasa di hatinya akan Kevin sudah mati rasa. Dia tidak kecewa, sedih ataupun senang dengan tidak adanya Kevin di ruangan itu. Rasa sakit hatinya terlalu dalam sehingga hatinya tidak bereaksi apapun dengan tidak adanya Kevin di ruangan itu.


__ADS_2