
Di pagi hari, Regina memandangi pepohonan hijau di desa itu. Menikmati pemandangan itu, hati Regina tenang. Setenang hatinya menjalani kehamilan itu menunggu persalinan tiba. Hari ini tidak terasa kehamilan Regina sudah menginjak usia tujuh bulan. Sudah dua bulan dirinya di desa itu. Regina semanis nyaman tinggal di desa itu karena dirinya mendapatkan banyak teman baru. Terkadang teman baru yang seusia nya itu bisa mengusir rasa bosan.
Regina tidak melakukan apapun di desa itu. Dia fokus menjaga kehamilannya karena nenek Lisa melarang Regina melakukan pekerjaan apapun. Bahkan untuk mencuci pakaiannya. Nenek Lisa menggunakan buruh cuci.
Nenek Lisa memang tidak kaya. Tapi hasil panenan kebunnya setiap bulan bisa menghidupi dirinya dan Regina di desa itu. Regina juga tidak pusing pusing memikirkan perlengkapan bayi karena Nenek Lisa sudah mempunyai tabungan untuk itu. Regina merasa bersyukur mempunyai nenek Lisa yang pekerja keras. Berkat wanita tua itu, dia bisa menenangkan pikiran di desa itu. Tapi terkadang Regina juga ingin menangis melihat perjuangan Neneknya itu.
Seharusnya di masa tua seperti saat ini. Nenek Lisa tidak perlu lagi bekerja di kebun. Seharusnya nenek Lisa bisa duduk tenang menikmati masa tua. Tapi nenek Lisa adalah wanita yang bekerja keras dan disiplin. Nenek Lisa berangkat ke kebun di pagi hari dan pulang sore hari.
Seperti pagi hari ini, nenek Lisa baru saja berangkat ke kebun. Langit sudah berubah gelap seperti mau hujan. Menyadari cuaca itu, Regina gelisah di teras rumah neneknya itu. Di saat cuaca seperti ini, Regina ingin neneknya itu di rumah saja. Regina ingin neneknya itu berbalik pulang ke rumah.
"Nek, ini mau hujan, Pulang lah," kata Regina pelan sambil melihat awan gelap yang bergerak cepat tertiup angin. Benar saja, tak lama kemudian terdengar rintik hujan yang awalnya pelan tapi lama lama menjadi deras.
Regina menangis membayangkan neneknya basah kuyup. Melati jarak waktu keberangkatan neneknya tadi. Bisa dipastikan nenek Lisa belum sampai di kebun miliknya.
"Nenek, syukur lah," kata Regina senang melihat kedatangan neneknya yang sudah basah kuyup. Dengan cepat, Regina mengambil pakaian ganti neneknya itu.
"Ini aku buatkan teh untuk Nenek," kata Regina setelah nenek Lisa duduk di kursi kayu dan sudah berganti pakaian.
"Kok hanya satu. Untuk kamu mana?" tanya nenek Lisa.
"Aku sudah minum susu hamil tadi nek," jawab Regina. Nenek Lisa tersenyum. Meskipun tinggal di pedesaan dan sudah tua. Nenek Lisa mengerti akan pentingnya gizi yang seharusnya masuk ke dalam tubuh ibu hamil demi perkembangan janin itu sendiri. Selama dua bulan di desa itu. Nenek Lisa yang memenuhi semua biaya Regina termasuk membeli susu hamil untuk Regina.
"Duduk lah nak," perintah nenek Lisa kepada Regina.
"Ada apa nek."
"Usia kandungan mu sudah menginjak tujuh bulan. Bagaimana dengan acara syukuran tujuh bulanan Regina. Apa kita menyuruh orang tua mu saja ke desa ini atau kita yang ke rumah orangtua mu."
Regina memegang dadanya karena sesak. Tujuh bulanan yang disebutkan Nenek Lisa mengingatkan dirinya akan chat Kevin dengan Pak Raka dimana Kevin menolak mengadakan syukuran tujuh bulanan karena tidak ingin mengadakan pesta yang kedua kalinya dengan wanita yang tidak dia cintai dan anak yang tidak diinginkan.
"Nek, apa acara syukuran tujuh bulanan itu harus?" tanya Regina. Jika tidak harus. Seharusnya tidak perlu melakukan acara itu. Tidak mungkin dirinya mengadakan acara syukuran itu sementara dirinya dan Kevin tidak baik saat ini. Hanya akan menambah pertanyaan bagi orang orang yang diundang jika dirinya mengadakan acara syukuran tanpa didampingi oleh suaminya.
Nenek Lisa menarik nafas panjang. Sudah dua bulan Regina ada di desa itu dan selama dua bulan itu juga nenek Lisa mengetahui jika Kevin selalu mencari keberadaan Regina ke rumah Pak Bayu.
Sebagai orangtua, nenek Lisa tentu saja menginginkan pernikahan Regina dan Kevin bisa diperbaiki. Jika masalah Regina dan Kevin ini tidak dibicarakan baik baik dan hanya mengikuti ego antara Regina dan Kevin bisa dipastikan jika perceraian lah akhir dari pernikahan tersebut.
"Sebenarnya tidak harus. Acara syukuran tujuh bulanan itu hanya wadah bagi keluarga besar untuk mendoakan keselamatan ibu dan anak saat melahirkan nanti. Tanpa acara itu pun sebenarnya kita bisa berdoa meminta keselamatan pada Yang Maha Kuasa."
"Kalau begitu, cukup kita berdua saja yang merayakan tujuh bulanan ini nek. Kita berdoa bersama di rumah ini."
"Ya sudah kalau begitu. Tapi Nenek berencana ke kota besok. Apa kamu mau ikut?"
Regina menggelengkan kepalanya dan cepat
Dalam hati, dia juga tidak setuju jika Neneknya itu berangkat ke kota. Dia sudah pernah melarang Nenek untuk tidak ke kota dulu sebelum dirinya melahirkan dan neneknya itu menurut. Entah bagaimana dirinya harus melarang Nenek Lisa untuk tidak ke kota besok karena Regina takut. Neneknya itu akan ke rumah Kevin untuk mencari kalungnya.
"Untuk apa kita ke kota nek. Kita disini saja. Nenek tidak lelah dalam perjalanan enam jam?" tanya Regina. Dia berharap mengingat perjalanan enam jam itu. Nenek Lisa membatalkan niatnya ke kota.
"Nenek bosan hanya melihat pohon pohon hijau di desa ini. Nenek mau cuci mata melihat gedung gedung tinggi," jawab nenek Lisa. Regina terdiam. Sepertinya dia tidak bisa membujuk Nenek Lisa untuk tidak pergi. Mudah mudahan besok, Regina mempunyai alasan untuk membatalkan niatnya neneknya itu.
Di sore hari di rumah Pak Bayu. Kevin sudah duduk di teras rumah itu menunggu kepulangan pak Bayu dan Ibu Siska. Kevin tidak masuk ke dalam rumah karena hanya Rani di dalam rumah. Kevin tidak ingin jika dirinya berduaan di rumah dengan Rani akan menimbulkan fitnah bagi tetangga sekitar.
Hingga sore berganti malam. Kevin masih duduk di teras rumah itu. Berkali kali dirinya memukul kaki atau tangannya karena nyamuk nyamuk nakal mengganggu ketenangan nya menunggu kedua mertuanya.
"Kak, biasanya jika papa dan mama belum pulang jam segini. Mereka lembur kak. Besok saja kakak datang ya," kata Rani dari depan pintu rumah.
__ADS_1
Rani sangat kasihan pada Kevin. Kevin terlihat sangat kelelahan dan bahkan tadi Rani sempat melihat laki laki itu tertidur sebentar di teras rumah itu. Mungkin karena gangguan nyamuk sehingga laki laki itu terbangun.
"Biasanya kalau lembur, bapak Dan ibu jam berapa pulang?" tanya Kevin. Jika kedua mertuanya pulang sekitar satu atau dua jam lagi tidak apa apa dirinya menunggu di teras itu. Kevin berharap kedua mertuanya luluh melihat perjuangan untuk mengetahui keberadaan Regina.
"Sekitar jam sebelas kak. Kakak pulang dulu ya. Banyak nyamuk soalnya. Kasihan kalau kakak harus menunggu sampai empat jam lagi," kata Rani.
Rani benar benar kasihan pada Kevin. Jika dibandingkan pertama kali mengenal Kevin dengan yang sekarang. Kevin jauh lebih kurus dan terlihat tidak terurus saat ini. Wajahnya tidak mulus lagi seperti dulu. Kini wajah Kevin ditumbuhi bulu bulu halus. Sepertinya laki laki itu malas bercukur. Tidak hanya itu. Kevin juga terlihat memakai yang itu itu saja.
"Tidak apa apa Ran. Empat jam sebentar kok," jawab Kevin.
"Jika kakak hanya untuk bertanya keberadaan mbak Regina. Sebaiknya kakak pulang dulu. Papa dan mama pasti belum bersedia memberitahukan itu. Kakak juga pasti lapar dan belum mandi.
Untuk hal makanan tidak masalah bagi Rani. Karena setiap Kevin datang. Mereka selalu menyajikan minuman dan bahkan menawari Kevin untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Kevin sudah memposisikan dirinya sebagai menantu di rumah itu. Dia tidak pernah menolak setiap ditawari minum maupun makan malam.
Tapi untuk menyuruh laki laki itu mandi di rumah itu. Rani tidak akan melakukan itu jika kedua orangtuanya tidak ada di rumah. Pak Bayu dan ibu Siska sudah memperingatkan tidak boleh memasukkan tamu laki laki ke dalam rumah ketika mereka tidak ada. Kejadian yang menimpa Regina membuat pak Raka dan ibu Siska sangat waspada menjaga Rani.
"Rani, bisa bantu kakak tidak. Apapun nanti permintaan mu akan kakak berikan. Tapi tolong beritahu dimana Regina sekarang," kata Kevin.
Rani terdiam mendengar perkataan Kevin. Tentu saja dirinya mengetahui dimana keberadaan Regina saat ini. Tapi kedua orangtuanya sudah melarang keras untuk tidak memberitahukan kepada siapapun.
"Maaf kak. Aku tidak tahu," kata Rani.
"Atau bisa kamu hubungi Regina saat ini. Aku ingin berbicara dengan istriku."
"Kak, mbak Regina sudah mengganti nomornya," kata Rani lagi. Kali ini, Rani tidak berbohong. Satu minggu setelah Regina di desa itu. Pak Bayu meminta Regina untuk mengganti nomor karena takut Kevin bisa melacak nomor itu.
Kevin mengacak rambutnya. Dia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rani. Karena setelah beberapa upaya mencari keberadaan Regina gagal. Kevin juga pernah meminta bantuan salah satu temannya untuk melacak nomor Regina. Ternyata nomor itu tidak terlacak lagi. Kevin terlambat meminta bantuan temannya itu.
"Ran, tolong kakak. Aku benar benar menyesal menyakiti Regina. Aku tidak akan membocorkan pada siapapun jika aku mengetahui keberadaan Regina dari kamu."
Lagi lagi Kevin pulang dengan tanpa hasil dari rumah itu. Rani kasihan tapi tidak bisa membantu Kevin.
Baru saja mobil Kevin keluar dari halaman rumah itu. Sebuah mobil berhenti di depan rumah itu.
"Rani," panggil seseorang dari dalam mobil. Ketika melihat siapa yang memanggil dirinya. Rani berlari senang menuju mobil itu.
"Nenek. Nenek dengan siapa?" tanya Rani.
"Dengan mereka," jawab Nenek Lisa sambil menunjuk orang orang di dalam mobil itu. Rani tidak mengenal satupun diantara mereka karena mereka sama sama penumpang seperti nenek Lisa.
"Mobil siapa yang barusan keluar dari pekarangan rumah ini?" tanya nenek Lisa sambil berjalan menuju rumah. Di sebelahnya. Rani membawa tas dan juga plastic besar berisi oleh oleh nenek Lisa.
"Kak Kevin, suaminya mbak Regina."
"Dia masih sering datang ke mari?"
"Hampir tiap hari nek."
"Antar nenek ke rumahnya sekarang."
"Jangan nek. Aku takut nanti papa marah."
"Nenek yang tanggung jawab."
"Nenek yang tanggung jawab tetap saja aku kena marah. Besok saja kesana jika papa mengijinkan."
__ADS_1
Rani tidak mau bertindak sendiri. Lagipula, nenek Lisa terlihat sangat lelah setelah perjalanan jauh. Dia tidak mau terjadi apa apa pada neneknya itu jika memaksakan diri pergi ke rumah Kevin malam ini juga. Lagipula, Rani juga tidak mengetahui apakah Kevin masih di rumahnya atau kembali ke rumah orangtuanya. Rani sudah menduga tujuan Neneknya ke rumah Kevin pasti untuk memarahi laki laki itu.
Nenek berdecak kesal. Lebih cepat lebih baik dirinya menemui Kevin. Dia tidak ingin lama disini karena dirinya juga mengkhawatirkan Regina yang tidak ada teman di rumah.
Di dalam mobil, Kevin berkali kali bersin. Akhir akhir ini dia sulit tidur di malam hari membuat laki laki itu kurang istirahat. Dan sepertinya karena kurang istirahat itu membuat Kevin mudah terserang flu.
Besok paginya begitu terbangun dari tidurnya. Kevin benar benar merasakan tidak enak badan. Laki laki itu masih bergelung di dalam selimut karena malas beranjak dari tempat tidur. Pagi ini, Kevin bisa bersantai karena kedua orangtuanya menginap di rumah itu. Kevin tidak perlu membuat sarapan sendiri karena sudah ada ibu Tika mempersiapkan sarapan mereka bertiga.
"Kalau kurang sehat, istirahat saja Vin. Minta ijin ke kantor tidak bisa masuk hari ini," kata Pak Raka. Kevin menganggukkan kepalanya. Sebelum keluar dari kamar. Kevin sudah minta ijin ke atasannya jika hari ini tidak bisa masuk bekerja.
"Belum ada kabar tentang Regina?" tanya Pak Raka lagi. Kevin menggelengkan kepalanya dengan lesu.
Pak Raka terlihat menghembuskan nafasnya kasar. Dia mengingat jika bulan ini mereka seharusnya mengadakan acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Regina.
"Kasihan cucu ku. Dia anak pertama dan cucu pertama tapi kelahirannya harus seperti ini. Harusnya dia disayang sayang. Yang ada calon cucu ku seperti terbuang," kata Pak Raka sedih.
Lagi Lagi Kevin merasa tertampar dengan perkataan Pak Raka. Dia membenarkan dalam hati bahwa memang seharusnya calon anaknya itu disayang sejak dalam kandungan. Tapi karena dirinya terlalu sesat di masa lalu membuat calon anaknya menjadi korban. Kevin benar benar merasa menyesal tapi sayang penyesalannya tidak berarti apa apa saat ini.
Kedua orangtua tua Kevin saling berpandangan ketika mendengar suara gedoran pintu keras.
"Kevin, Kevin. Buka pintunya."
Ibu Tika berlari ke arah pintu utama. Wanita itu mengerutkan keningnya melihat wanita tua berdiri di depan pintu rumah putranya.
"Maaf Nenek siapa?" tanya ibu Tika sopan.
"Neneknya Regina. Dimana Kevin?"
"Masuk dulu nek. Aku mamanya Kevin."
Nenek Lisa menerima uluran tangan ibu Tika untuk bersalaman. Nenek Lisa juga tidak menolak ketika ibu Tika menuntun dirinya masuk ke dalam rumah. Hanya satu Kali bertemu ketika pernikahan Regina dan Kevin membuat mereka tidak langsung saling mengenal.
"Nenek sudah sarapan?" tanya ibu Tika sambil membantu Nenek Lisa duduk di sofa. Dari meja makan pak Raka dan Kevin menoleh ke arah sofa yang bisa dilihat dari meja makan.
"Aku kemari bukan untuk sarapan. Aku kemari untuk bertemu dengan Kevin. Mana dia!" kata Nenek Lisa sedikit ketus.
Kevin menemui nenek Lisa karena melihat lambaian tangan ibu Tika memanggil dirinya.
"Ini Kevin nek. Kevin, Nenek ini neneknya Regina," kata ibu Tika.
Nenek Lisa langsung menatap Kevin dengan tajam. Nenek Lisa menarik tongkatnya menjadi panjang. Sebenarnya tanpa tongkat itu, Nenek Lisa masih bisa berjalan. Tapi dia sengaja membawa tongkat itu untuk memberikan pelajaran kepada Kevin.
"Nama cucu ku Regina hah?. Wajah tampan mu tidak setampan hati mu," kata Nenek Lisa sambil mengayunkan tongkatnya hingga mengenai lengan Kevin.
"Aduh."
"Dimana cucu ku. Dimana kamu membuang cucuku?" tanya Nenek Lisa lagi. Tongkat itu berkali kali mendarat cantik di tubuh Kevin membuat laki laki itu mengaduh kesakitan.
Ibu Tika dan pak Raka melihat melihat apa yang dilakukan oleh Nenek Lisa kepada Kevin. Tapi mereka tidak melarang. Mereka memaklumi kemarahan nenek Lisa kepada Kevin. Dan mereka bisa melihat jika pukulan pukulan itu bukan karena dendam. Pak Raka dan Ibu Tika melihat seperti seorang nenek kandung yang menghajar cucunya. Pak Raka bahkan sudah mengarahkan kamera ponselnya ke arah Kevin dan nenek Lisa.
"Mana saraf mu yang bergeser itu biar Nenek perbaiki," kata Nenek Lisa lagi. Saraf yang ditanya tapi tongkat itu mendarat di betis Kevin.
"Ampun nenek. ampun. Maafkan aku. Aku juga sedang mencari keberadaan Regina," kata Kevin.
"Rasa sakit mu ini tidak sebanding dengan penderitaan cucu ku. Aku tidak mau tahu. Cucu ku harus secepatnya kamu temukan."
__ADS_1
"Aku usahakan nek," kata Kevin. Tiba tiba Kevin mengingat cerita Regina tentang Nenek Lisa.