
Hari hari yang dilalui Kevin dan Melati tidak seburuk yang dijalani oleh Regina. Apa yang terjadi di malam kelam itu tidak mengganggu kehidupan Kevin sama sekali apalagi Melati. Hanya saja akhir akhir ini, Melati tidak tega meminta bantuan sahabatnya karena Melati tidak tega melihat kondisi Regina yang mudah terserang penyakit.
Tidak seperti Regina yang tersiksa karena masalah itu. Kevin dan Melati justru sedang berbahagia saat ini. Kevin sangat senang karena akhirnya, Melati bersedia diperkenalkan kepada kedua orangtuanya.
Kini disini lah Kevin berada di rumah Melati. Di ruang tamu rumah itu, Kevin menunggu Melati selesai bersiap. Kevin sengaja menjemput kekasihnya itu karena tidak ingin Melati Naik taksi ke rumahnya. Kevin sangat mencintai Melati dan sebagai laki laki yang sedang dilanda asmara. Kevin ingin selalu bersama wanita itu.
"Mas Kevin?" panggil Melati lembut. Dia ingin mendapatkan penilaian akan penampilannya.
"Cantik."
Tidak ada maksud menggombal atas pujian Kevin itu. Melati memang sangat cantik dan pandai menghias wajahnya dan berpenampilan sesuai dengan selera Kevin. Saat ini, Melati memakai dress tanpa lengan dengan warna kuning polos diatas lutut yang menunjukkan lekuk tubuhnya.
Melati tersenyum, dia merasa puas bisa membuat kekasihnya terkesima dengan penampilannya. Sama seperti Kevin. Melati juga sangat mencintai laki laki itu.
"Wanita Masa depan ku. Silahkan masuk."
Melati terkekeh kemudian mengelus pipi Kevin sebentar. Perlakuan Kevin yang membukakan pintu mobil untuk dirinya dan juga gerakan seperti memperlakukan Tuan putri masuk ke dalam mobil. Membuat Melati semakin mencintai laki laki itu. Setiap hari, Melati merasakan cinta semakin besar kepada laki laki yang selalu membuat khayalan nya melambung tinggi.
"Mas, aku takut," kata Melati setelah mobil bergerak. Jujur, dirinya gugup membayangkan pertemuan pertama dengan calon kedua mertuanya. Dia takut, keadaan keluarga dan dirinya yang masih menempuh pendidikan. Tidak akan diterima oleh kedua orangtua Kevin. Selama ini, Kevin sudah mengajak dirinya untuk menikah karena desakan kedua orangtuanya. Melati menolak bukan karena tidak ingin menikah tapi karena merasa rendah diri di hadapan Kevin. Kevin sudah bekerja dan mapan sedangkan dirinya masih berstatus mahasiswa.
__ADS_1
"Apa yang kamu takutkan sayang. Papa dan mama yang meminta kamu diperkenalkan. Bukan kamu yang mendesak kan?"
"Tapi tetap saja aku takut mas. Aku takut, aku bukan calon menantu idaman untuk kedua orang tua mu."
"Kalau kamu setuju menikah. Kamu sudah pasti memenuhi kriteria menantu idaman untuk papa dan mamaku."
"Jangan diburu buru donk mas. Hubungan kita masih bersih tidak ada alasan untuk menikah secepatnya. Lain hal kalau aku sudah hamil duluan. Tanpa diburu pun. Aku pasti mengejar tanggung jawab mu," kata Melati. Meskipun dirinya sangat mencintai Kevin, Melati tidak suka kalau diburu untuk menikah. Selain merasa insecure, Melati juga mempunyai tanggung jawab kepada sang mama. Dia tidak menjamin, Kevin bersedia tinggal di rumah mama Lena jika sudah menikah nanti.
"Jadi dengan seperti itu kamu bersedia menikah secepatnya dengan aku. Kalau begitu ada baiknya kita check in dulu di hotel," kata Kevin sambil menatap Melati dengan tatapan menggoda.
"Ih, kok berkata sembarangan sih mas. Gak mau ah. Enak saja menggarap anak gadis orang tanpa menikah."
Kevin terdiam dan memfokuskan pandangannya ke jalanan. Mulutnya tidak berbicara tapi otaknya berpikir lain. Kata menggarap yang diucapkan oleh Melati seperti mengingatkan dirinya ke suatu kejadian yang samar samar dia ingat. Hingga pada akhirnya, Kevin mengingat bayang bayang kejadian malam itu.
"Mel, bagaimana tanggapan mu jika seseorang mengambil paksa kesucian seorang gadis karena mabuk," tanya Kevin. Dia ingin mendengar tanggapan kekasihnya akan hal yang dia lakukan kepada Regina. Kevin memang boleh merasa lega karena sampai saat ini tidak ada tanda tanda Regina meminta pertanggungjawabannya. Tapi tetap saja, Kevin ingin mendengar tanggapan Melati dan dia berharap tanggapan Melati tidak menyalahkan si laki laki.
"Mabuk seperti apa donk mas. Kalau si laki laki dan si perempuan sama sama mabuk. Itu artinya mereka sama sama melakukan tanpa sadar. Dan menurut ku, si laki laki harus bertanggung jawab mas. Apapun alasannya."
Kevin menganggukkan kepalanya karena sependapat dengan perkataan kekasihnya.
__ADS_1
"Jadi kalau hanya si laki laki yang mabuk dan si perempuannya tidak. Bagaimana?" tanya Kevin lagi.
"Kalau seperti itu kejadiannya. Aku sih bingung kasih tanggapan mas. Kan hanya satu pihak yang mabuk. Di perempuan harusnya bisa menolak kan. Karena keadaan sadar."
"Jadi kalau seperti itu tidak perlu tanggung jawab?" tanya Kevin lagi. Dia membenarkan tanggapan Melati. Seharusnya, malam itu sahabat dari kekasihnya itu menolak meskipun dirinya memaksa. Dia tidak sadar jika Kekuatan laki laki yang mabuk lebih kuat dibandingkan dengan laki laki yang sadar. Di tambah dengan otak yang tidak bisa berpikir jernih sehingga merasa buta dan tidak kasihan melihat Regina waktu itu yang terus melawan dan menangis.
"Aku bingung memberikan tanggapan mas," kata Melati.
Kevin kembali terdiam. Entah mengapa, malam ini pikirannya tertuju kepada sahabat kekasihnya itu. Bukan dirinya tidak mengetahui Regina sering menatap dirinya ketika menjemput Melati. Tapi dirinya harus bersikap cuek karena tidak ingin memberikan celah kepada Melati untuk berbicara dengan dirinya.
"Kalau sekali melakukan seperti itu. Bisa jadi gak ya?" tanya Kevin tiba tiba.
"Jadi apanya mas?"
"Maksud aku, si perempuan nya bisa hamil gak jika si laki lakinya dalam keadaan mabuk melakukan hubungan seperti itu."
"Mas, kamu kok bertanya seperti itu sih. Apa kamu melakukan kesalahan seperti itu ketika mabuk?" tanya Melati. Dari tadi, dia merasa bingung dengan pertanyaan Kevin.
"Iya tidak lah sayang. Aku bertanya seperti itu karena salah satu sahabat ku sedang bermasalah karena melakukan pemaksaan seperti itu ketika mabuk. Kini wanita itu hamil dan meminta pertanggungjawaban. Aku hanya meminta pendapat mu saja. Karena sahabat ku itu juga meminta pendapat ku. Aku bingung, makanya aku bertanya kepada kamu."
__ADS_1
Kevin merasa heran dengan jawabannya itu. Setelah mengatakan hal itu. Dia pun berharap jangan sampai sahabat kekasihnya itu mengandung anaknya. Cakaran dan gigitan yang ada di bahu dan lengannya membuat Kevin sangat yakin jika dirinya melakukan pemaksaan itu kepada Melati malam itu. Dia sadar dirinya berbuat tapi tidak berani bertanggung jawab.