
Regina menangis. Tidak ada gunanya memohon kepada laki laki itu. Dia tidak tahu uang yang akan diberikan laki laki itu untuk membuang janinnya atau mempertahankan janin itu. Apapun maksud dari laki laki itu yang pasti Regina merasa harga dirinya diinjak oleh Kevin.
Regina mengusap air matanya dengan kasar kemudian membuka pintu mobil. Hatinya semakin sakit ketika baru saja kakinya menginjak tanah. Kevin sudah membawa mobilnya pergi. Kevin benar benar tidak mempunyai perasaan. Seharusnya dirinya meminta maaf dan memikirkan solusi terbaik tapi sikap yang ditunjukkan laki laki itu lari dari kenyataan.
Mendapatkan penolakan dari Kevin atas kehamilan itu semakin kuat keinginan Regina untuk mempertahankan kehamilan itu. Tidak ada lagi niatnya untuk membuang janin itu yang ada dirinya sangat kasihan pada janin yang tidak berdosa itu.
Di jalanan sepi itu, akhirnya Regina menjerit sekuat kuatnya. Dia berpikir dengan melakukan seperti itu. Sesak di dadanya akan semakin berkurang ternyata tidak. Regina semakin khawatir. Penolakan Kevin akan benar benar membuat aib di keluarga itu. Membayangkan hal itu, hanya menangis yang dapat dilakukan oleh wanita itu.
Kini, Regina bertekad akan menerima apapun hukuman dari kedua orangtuanya dengan kehamilan itu. Regina sudah siap jika harus diusir dari rumah. Dan mungkin hanya hal itu jalan satu satunya supaya keluarganya terhindar dari aib.
Apa yang dipikirkan oleh Regina hanya sebatas tekad. Ketika dirinya memikirkan bagaimana melanjutkan hidup jika dirinya terusir membuat tekad itu gugur.
Beberapa hari kemudian, apa yang ditakutkan oleh Regina akhirnya terjadi juga. Seperti dugaan Regina sebelumnya. Dirinya benar benar diusir oleh Pak Bayu. Regina bisa kembali ke rumah itu jika membawa laki laki yang menghamili dirinya yang tentu saja hal mustahil untuk saat ini.
Tangisan ibu Siska dan Rani dan juga kemarahan dari pak Bayu mengiringi langkah Regina keluar dari rumah itu. Hidupnya benar benar mengenaskan. Dihamili secara paksa, dan yang menghamili tidak mau bertanggung jawab. Yang lebih parahnya. Regina tidak mendapatkan dukungan dari siapapun. Regina juga tidak yakin jika Melati dan Reza memberikan dukungan kepada dirinya jika mengetahui dia sedang hamil muda.
Tidak ada tujuan lain untuk saat ini selain rumah Melati. Dengan membawa pakaian yang seadanya. Regina menuju rumah Melati. Seperti perjalanan hidupnya yang mengenaskan. Regina merasakan malam itu malam yang paling mencekam sepanjang hidupnya.
Tiba di depan gerbang rumah Melati. Regina terlihat ragu membuka gerbang itu. Berada di rumah Regina akan membuat dirinya akan bertemu dengan Kevin si pria pengecut. Dan tidak ada solusi lain selain menumpang di rumah Melati untuk sementara.
__ADS_1
"Re, kamu datang. Malam malam begini. Apa yang terjadi Re?" tanya Melati. Melihat Regina datang malam malam begini dengan membawa tas. Melati sudah menyimpulkan dalam hati bahwa sahabatnya itu benar benar hamil.
"Biarkan aku masuk dulu Mel," jawab Regina. Sungguh hati, pikiran dan tubuhnya sangat lelah. Saat ini, tubuhnya ingin berbaring karena Regina merasakan tubuhnya kurang enak dan perutnya sedikit kram.
Melati benar benar sahabat yang baik. Setidaknya untuk saat ini. Melihat kondisi sahabatnya, Melati membuat teh hangat untuk Melati bahkan memijit punggung sahabatnya itu.
"Aku tahu kamu sedang masalah Re. Cerita pada ku supaya hati mu lega."
Melati memainkan tangannya di punggung sahabatnya itu. Bukan hanya karena kehamilan itu tubuh Regina melemah ternyata karena masuk angin juga. Hal itu terlihat dari Regina yang berkali kali bersendawa karena pijitan Melati di tubuhnya.
"Masalah ku sangat rumit Mel. Untuk saat ini biarkan aku memendam nya sendiri," jawab Regina.
"Aku sangat mempercayai kamu Mel. Hanya saja, masalah ku ini terlalu rumit dan solusinya tidak ada."
"Setiap masalah ada solusinya. Asal kamu mau berbagi beban."
"Aku hamil Mel."
Regina mengatakan kenyataan itu dengan bibir yang bergetar, suara yang serak dengan mata yang tergenang air mata. Setelah mengucapkan kata kata itu. Melati langsung memeluk Regina. Melati juga ikut menangis. Dia bisa merasakan kesedihan dan luka hati sahabatnya itu.
__ADS_1
"Re."
Hanya itu yang keluar dari mulut Melati. Dia pernah berharap kecurigaannya tidak terbukti ternyata Regina benar benar hamil.
"Tenang Re. Aku akan selalu ada untuk kamu. Sekarang tolong jangan pikirkan apapun selain kesehatan kamu dan janin ini ya," kata Melati. Regina hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa laki laki brengsek itu tidak bersedia bertanggung jawab Re?" tanya Melati lagi. Melati berpikir jika laki laki itu bersedia bertanggung jawab tidak mungkin Regina diusir oleh kedua orangtuanya. Dalam hati, Melati juga menyayangkan sikap pak Bayu dan Ibu Siska. Tidak seharusnya mereka mengusir Regina karena saat ini Regina sedang terpuruk dan butuh penyemangat.
"Tidur lah Re. Besok kita bicara lagi ya."
Regina menganggukkan kepalanya dengan cepat kemudian berbaring di ranjang milik Melati. Dengan cepat dia memejamkan matanya karena dia takut Melati nanti bertanya siapa laki laki yang menghamili dirinya.
Melati keluar dari kamar itu dengan tangan yang terkepal. Siapapun yang menyakiti Regina maka dirinya juga ikut tersakiti. Jika Regina tidak membalas sakit hati itu maka dirinya lah yang akan membalas laki laki pengecut itu.
"Awas kamu Reza. Kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab selagi aku masih sahabat Regina," kata Melati dalam hati. Pikirannya langsung teruju kepada Reza karena laki laki itu yang menjadi kekasih Regina selama ini. Melati sangat marah dan akan membuat perhitungan dengan Reza jika laki laki itu tidak mau bertanggung jawab.
Kemarahan Melati itu tidak hanya terpendam di dalam hati. Melati sudah mengirimkan pesan kepada Reza untuk datang besok pagi ke rumahnya. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Melati itu tanpa sepengetahuan Regina.
Melati berjanji dalam hati harus membuat Reza bertanggung jawab. Jika laki laki itu tidak datang besok pagi. Melati juga sudah berencana akan mendatangi rumah orangtua Reza.
__ADS_1
"Tidak akan kubiarkan kamu hamil tanpa suami Re. Itu janji ku," kata Melati lagi.