Mengandung Benih Kekasih Sahabatku

Mengandung Benih Kekasih Sahabatku
Bab 47


__ADS_3

Mungkinkah kesempatan kedua itu ada?. Dan Kevin bisa mendapatkan kesempatan kedua itu. Kevin mengingat jika Regina pernah bercerita jika Regina sangat senang ke desa dimana Nenek itu tinggal. Melihat kedatangan nenek Lisa di rumah itu entah mengapa, Kevin seperti menemukan semangat kembali.


Kevin mendapatkan pukulan demi pukulan dari nenek Lisa tidak lantas membuat Kevin marah atau sakit hati. Justru dia terharu dengan sikap nenek itu kepada dirinya. Persis seperti perlakuan pak Raka sewaktu dia kecil jika berbuat kesalahan. Ketika Nenek Lisa menghentikan pukulannya, Kevin justru mengharapkan pukulan tongkat itu mendarat di tubuhnya. Kevin rela babak belur asal setelah ini, dirinya mendapatkan informasi tentang keberadaan Regina. Kevin benar benar merindukan istrinya itu dengan perut buncitnya. Dia merindukan pergerakan calon anaknya yang terasa di telapak tangannya.


Nenek Lisa menatap wajah Kevin. Tentu saja dia marah melihat wajah Kevin dan mengingat sikap Kevin atas cucunya. Kevin memang tidak bermain tangan. Tapi hati yang tersisa tentu saja membekas di hati sepanjang masa.


Dua bulan Regina di rumahnya. Dua bulan itu juga Nenek Lisa ingin menemui Kevin dan memberikan pelajaran pada laki laki itu. Tapi Regina selalu melarang dirinya. Hingga semalam, nenek Lisa nekad ke kota ini hanya ingin melihat suami dari cucunya itu yang seharusnya dia berangkat hari ini.


Suasana ruangan itu hening karena Nenek Lisa sudah menghentikan pukulannya di tubuh Kevin. Akhirnya naluri nya merasa kasihan pada Kevin yang tidak mengeluh lagi menerima pukulan dari tongkatnya.


Kevin diam, dia berusaha berpikir keras bagaimana dia bisa mendapatkan informasi dari nenek Lisa tentang keberadaan Regina. Kevin sangat yakin jika sebenarnya nenek Lisa mengetahui keberadaan Regina. Sedangkan Nenek Lisa juga diam. Wanita tua itu berusaha menahan diri supaya tidak marah lagi. Dia tidak ingin karena banyak berkata kata akhirnya keceplosan tentang keberadaan Regina.


"Nenek kapan datang. Pasti lelah kan karena perjalanan lama," kata Kevin sok akrab. Nenek Lisa memalingkan wajahnya. Sedangkan Kevin sudah berpindah duduk ke sebelah nenek Lisa.


"Sini nek. Aku massage sebentar."


"Apa itu massage?" tanya Nenek Lisa bingung dengan istilah bahasa inggris itu.


"Begini nek."


Kevin meletakkan tangannya di punggung nenek Lisa kemudian jari jarinya bergerak di Sana. Gerakan jari jari milik Rama yang terstruktur di punggung rama membuat Nenek Lisa merasa enak dengan pijatan itu.


Nenek Lisa membiarkan Rama melakukan itu di punggung karena dia juga merasa lelah dalam perjalanan enam jam dari desa menuju Kota. Sedangkan ibu Tika dan Pak Raka mengajak nenek Lisa berbicara ringan.


"Mengapa nenek sendiri. Apa Rani tidak mau menemani?" tanya ibu Tika setelah mendengar cerita nenek Lisa sejak tiba di kota ini tadi malam hingga tiba di rumah ini.


Nenek Lisa menarik nafas panjang. Kedatangannya ke rumah ini sebenarnya tanpa ijin Pak Bayu dan ibu Siska. Dia datang ke rumah ini hanya bermodalkan alamat yang diberikan oleh Rani secara diam diam. Dan atas pertolongan seorang tetangga yang memesankan ojek online sehingga Nenek Lisa bisa tiba di rumah ini.


"Jangan hanya di punggung sebelah kiri saja. Punggung sebelah kanan juga perlu biar seimbang," kata Nenek Lisa. Posisi duduk Kevin lebih memungkinkan dirinya melakukan pijatan itu di punggung sebelah kiri itu sehingga punggung sebelah kanan terabaikan.


"Siap nenek cantik," jawab Kevin senang. Dia akan berusaha membuat nenek itu dulu senang baru mengajukan permohonannya. Kevin meminta nenek Lisa untuk memperbaiki cara duduknya.


"Bayu Dan Siska sama saja tidak mengijinkan aku ke rumah ini karena sudah terlanjur sangat sakit hati kepada putra kalian," jawab nenek Lisa menjawab pertanyaan ibu Tika membuat gerakan Kevin berhenti sebentar. Kevin ingin meminta maaf saat itu juga tapi menyenangkan hati Nenek Lisa belum selesai.


"Maafkan putra kami nek," kata Pak Raka. Nenek Lisa tidak menjawab. Yang ada wanita itu memejamkan matanya menikmati gerakan tangan Kevin di punggungnya. Nenek Lisa tidak bodoh. Dia tahu tujuan Kevin melakukan itu dan Nenek Lisa juga ingin melihat seberapa keras Kevin berjuang untuk mendapatkan Regina kembali.


Hampir satu jam, Kevin melakukan pijatan itu di punggung nenek Lisa. Bukan hanya punggung. Tangan dan kaki Nenek Lisa juga mendapatkan pijitan dari Kevin. Padahal dirinya saat ini kurang enak badan. Tapi Kevin mengabaikan kesehatan tubuhnya demi menyenangkan hati Nenek Lisa.


"Kevin, apa kamu sudah mendaftarkan gugatan perceraian?" tanya Nenek Lisa tiba tiba. Kevin yang sudah selesai mencuci tangannya dari wastafel dapur terdiam dan akhirnya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Nenek, maafkan aku. Aku menyesal menyakiti Regina. Aku ingin menebus kesalahan ku, nek. Aku mohon, beritahu keberadaan Regina saat ini nek," kata Kevin. Laki laki itu sudah bersimpuh di hadapan nenek Lisa. Kevin memegang tangan nenek Lisa menunjukkan keseriusannya dalam meminta maaf.


"Bukan aku yang memberikan maaf kepada mu, Kevin. Hanya Regina. Dan aku rasa Regina sudah memaafkan kamu tapi dia sengaja pergi karena ingin mengakhiri hubungan kalian. Lepaskan Regina, Kevin. Jangan menahan Regina dalam ikatan pernikahan tapi hatimu tidak terikat dengan hatinya," kata Nenek Lisa.


"Aku tidak akan melepaskan Regina sampai kapanpun nek. Aku ingin memperjuangkan Regina dan calon anak kami. Aku memang pernah bodoh. Tapi aku tidak ingin mengulang kebodohan itu."


"Bagaimana kalau Regina tidak mau kembali kepada mu?"


"Aku akan terus berjuang nek."


"Terus berjuang tapi tetap mencintai wanita lain tetap saja bohong."


Kevin menarik nafas panjang. Kata kata Nenek Lisa menyadarkan dirinya akan kesalahannya. Karena membiarkan hatinya terikat dengan Melati membuat Regina tersakiti. Kevin sadar, tidak seharusnya dia seperti itu. Tapi semua sudah terjadi yang ada hanya penyesalan dan Rama berharap penyesalannya berbuah manis nantinya.


Jika ditanya apakah dia sudah mencintai Regina. Sepertinya sudah. Karena hanya wanita itu yang ada di hatinya saat ini. Kenangan mereka selama tiga bulan terus terbayang di pikirannya. Kenangan mereka memang tercipta hanya di sekitar rumah tapi Kevin merasakan kenangan itu sangat indah. Terkadang hubungan mereka memang terlalu kaku dan itu yang membuat kenangan mereka serasa lucu.


Dan yang paling disesal Kevin saat ini, mengapa dirinya harus menolak kehadiran calon buah hatinya itu. Mengingat dirinya pernah meminta Regina menggugurkan janin itu membuat penyesalan Kevin semakin dalam. Kevin mengingat bulan ini adalah bulan ke tujuh istrinya hamil. Dan Kevin juga mengingat dirinya pernah menolak acara syukuran tujuh bulanan yang seharusnya dilakukan bulan ini.


Mengingat itu semua, penolakannya beberapa bulan terbalik dengan apa yang dia rasakan saat ini. Kevin ingin mengadakan acara syukuran kehamilan Regina karena sampai saat ini. Calon anaknya itu masih bertahan hidup di rahim Regina meskipun ayah kandungnya sendiri tidak memberikan kasih sayang.


"Nenek, aku jujur. Yang ada di hati dan pikiran ku saat ini hanya Regina dan calon anakku. Hampir setiap hari, aku mencari keberadaan Regina nek. Usaha ku tidak hanya bertanya kepada kedua mertua ku tapi lebih dari itu. Aku mohon nek, akan aku tunjukkan jika aku benar benar berjuang untuk membahagiakan Regina dan calon anak kami kelak."


Nenek Lisa menatap wajah Kevin. Dia masih mengingat wajah Kevin saat pernikahan. Wajah Kevin tidak seperti ini. Bobot tubuh Kevin juga tidak seperti ini. Mungkinkah, Kevin seperti ini karena benar benar merasa kehilangan atas Regina?.


Jika ditanya apakah Nenek Lisa menginginkan Kevin dan Regina bisa bersatu lagi. Sebagai orangtua yang sudah lama dan banyak merasakan asam manis kehidupan. Nenek Lisa menginginkan rumah tangga Kevin dan Regina bisa diperbaiki. Karena bagi Nenek Lisa tidak ada yang sempurna di dunia ini termasuk Kevin. Tidak ada rumah tangga yang berjalan mulus tanpa ada masalah. Semua rumah tangga mempunyai cobaan masing masing. Bagi yang tahan dan bisa menyikapi cobaan itu akan memperoleh kebahagiaan sedangkan yang tidak tahan harus rela melepaskan dan memulai hubungan yang baru yang tidak tahu seperti apa.


Melihat sikap Kevin yang memperlakukan dirinya dan juga permintaan maaf Kevin. Sebenarnya nenek Lisa terkesan. Nenek Lisa dapat melihat ketulusan di hati Kevin. Tapi lagi lagi, hal itu tidak membuat Nenek Lisa langsung memberitahukan keberadaan Regina dan langsung memberikan kesempatan kedua pada laki laki itu. Regina yang menjalani seperti apa ke depannya. Dan biarlah Regina yang menentukan sikap melihat penyesalan Kevin nantinya.


"Nenek, tidak tahu keberadaan Regina. Jika kamu ingin menemui Regina. Maka berusaha lah lebih keras lagi," kata Nenek Lisa.


"Benar Kevin. Mama dan Papa sangat berharap. Regina sudah kembali ke rumah bulan ini. Mama ingin merayakan acara syukuran tujuh bulanan itu nak. Itu adalah cucu pertama ku," kata ibu Tika sedih.


Mereka mempunyai materi yang cukup yang bisa diwariskan kelak kepada anak cucu. Untuk merayakan acara syukuran kecil bagi mereka dari segi materi. Ibu Tika merasa sangat bersalah pada calon cucunya itu jika tidak ada acara syukuran tujuh bulanan. Karena di dalam keluarga besar, kerabat bahkan di sekitar tetangganya. Acara syukuran tujuh bulanan itu sangat sering dilakukan.


Yang membuat ibu Tika merasa sedih, di setiap acara syukuran tujuh bulanan yang mengundang dirinya. Ibu Tika selalu memberikan hadiah yang terbaik bagi si calon anak. Tapi tiba pada calon cucunya sendiri. Ibu Tika tidak memberikan apa apa karena kesalahan Kevin.


Dalam hati ibu Tika jangan sampai dirinya tidak memberikan kado special pada calon cucunya itu. Selama dua bulan, bukan hanya Kevin yang berusaha mencari keberadaan Regina. Ibu Tika dan Pak Raka juga sangat berusaha. Sebagai orangtua, mereka merasa bersyukur karena Kevin akhirnya menyesal. Dan ibu Tika berharap rasa syukur itu semakin sempurna dengan menemukan keberadaan Regina.


"Nek, setelah melihat Nenek. Aku sangat yakin jika Regina ada bersama Nenek. Aku mohon nek, Ayo kita temui Regina sekarang juga.

__ADS_1


Nenek Lisa langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bukan mengingkari perkataan Kevin tapi menolak dengan tegas ajakan Kevin itu. Dia tidak mau Regina marah karena dirinya pulang dengan membawa Kevin ke sana. Selain itu, Nenek Lisa juga tidak tahu bagaimana perasaan Regina pada Kevin saat ini. Andaikan Regina pernah menyinggung nama Kevin selama dua bulan ini, atau melihat Regina menangis diam diam. Nenek Lisa akan langsung membawa Kevin ke Sana sekarang juga. Tapi yang terjadi selama dua bulan. Regina tidak menyinggung nama Kevin kalau bukan nenek Lisa yang menyinggung terlebih dahulu.


Nenek Lisa juga bisa melihat, Regina seakan sudah bisa menerima takdir. Sepertinya Regina sudah siap jika melahirkan tanpa dampingan suami dan siap membesarkan anaknya itu kelak tanpa seorang suami di sisinya. Jadi tidak ada alasan Nenek Lisa membawa Kevin langsung kesana.


"Kevin, jangan memaksa Nenek dengan dugaan mu yang belum tentu benar itu. Jika kamu yakin Regina bersama Nenek. Mengapa kamu tidak langsung datang kesana. Kamu tidak tahu kan apa alasan nenek datang ke rumah ini?" tanya Nenek Lisa mengalihkan pembicaraan. Kevin menggelengkan kepalanya.


"Aku pernah memberikan kalungku sendiri kepada Regina. Sebenarnya aku ingin memastikan kalung itu masih ada atau tidak," kata Nenek Lisa.


Kevin seketika mengingat tentang kalung yang dia dapat di tempat tidur Regina beberapa bulan yang lalu. Dia masih menyimpan kalung itu di kamarnya.


"O iya nek. Jadi kalung itu dari nenek?. Aku menemukannya di tempat tidur Regina. Ada di kamar ku sekarang nek."


"Tolong ambil sekarang, Kevin."


Kevin beranjak dari duduknya dan menuju kamar. Awalnya, Nenek Lisa tidak ingin menyinggung tentang kalung itu tapi karena melihat sendiri keadaan Kevin dan permintaan maaf tulusnya. Akhirnya secara tidak langsung, Nenek Lisa memberikan clue kepada laki laki itu jika Regina benar benar bersama dirinya.


Di dalam kamar, Kevin memandangi kalung itu. Rasa bersalah semakin menjadi jadi. Dia pernah berprasangka buruk ketika melihat pertama kali kalung itu. Kalung yang dia duga sebagai bentuk cinta Regina dan Reza ternyata kalung itu pemberian dari nenek Lisa. Tapi kemudian, Kevin mengerutkan keningnya. Kalung itu kalung milik Nenek Lisa yang diberikan kepada Regina mengapa berinisial R. Bukankah seharusnya huruf L.


"Nek, kok R sih. Nama Nenek kan diawali huruf L."


Kevin sengaja bertanya akan keraguan hatinya itu.


"Ini lihat," jawab Nenek Lisa sambil memberikan kartu tanda pengenal nya kepada Kevin bersamaan dengan suara lantang Pak Bayu yang terdengar dari pintu utama rumah itu.


"Ibu, apa yang ibu lakukan disini. Ayo pulang," kata Pak Bayu. Dia tidak senang karena nenek Lisa berada di rumah Kevin tanpa ada ijin dari dirinya.


"Ayo, lagi pula. Urusan ku sudah selesai disini," jawab Nenek Lisa tenang.


"Nenek, Pak Bayu. Jangan pulang dulu. Kita bicara dulu Pak. Tolong luangkan waktu bapak sebentar," kata Pak Raka cepat. Pak Bayu terlihat diam sedangkan Nenek Lisa kembali duduk. Bagi, Nenek Lisa untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangga Kevin dan Regina harus dibicarakan baik baik oleh kedua belah pihak keluarga.


"Pak Bayu. Nenek Lisa. Sebelumnya, aku dan istri minta maaf yang sebesar besarnya atas kesalahan putra kami Kevin kepada Regina dan calon cucu kita. Demi kebaikan bersama, aku mohon Pak. Berikan kesempatan kepada Kevin untuk meminta maaf kepada Regina. Biarkan mereka berdua yang menyelesaikan permasalahan mereka. Jika mereka bisa berbaikan kembali. Itu yang kami harapkan dan aku juga berharap pak Bayu berharap seperti itu. Tapi, jika pun harus perceraian yang menjadi akhir dari pernikahan mereka. Biarkan mereka bercerai baik baik pak. Ada calon cucu kita diantara mereka. Jika Kevin tidak memberikan pengakuan akan janin itu. Kami sebagai orangtua Kevin mengakui dan menerima janin itu sebagai cucu kami."


Pak Raka berbicara panjang lebar dan semuanya menyimak kata kata Pak Raka itu.


"Pa, Pak Bayu, aku mengakui dan menerima janin itu sebagai anak kandung ku. Aku benar benar menyesal. Aku ingin berbaikan dengan Regina. Aku ingin memperjuangkan rumah tangga kami," kata Kevin. Pak Bayu masih terdiam.


"Tolong Pak Bayu. Beritahu kami keberadaan Regina. Kevin sudah mengakui kesalahannya dan siap memperbaiki dan menebus kesalahannya," kata Pak Raka lagi.


Pak Bayu ingin berbicara tapi dering ponsel milik Nenek Lisa mengganggu pembicaraan itu.

__ADS_1


Nenek Lisa tidak menerima panggilan itu. Dia ingin fokus untuk membicarakan penyelesaian masalah antara Kevin dan Regina. Hingga kemudian terdengar suara notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya. Nenek Lisa membuka layar ponselnya dan membaca pesan tersebut dengan raut wajah yang terlihat jelas berubah.


"Bayu, Ayo pulang," kata Nenek Lisa tenang tapi gerakan wanita tua itu terlihat tergesa.


__ADS_2