Mengantar Riana

Mengantar Riana
Bab 21 Kesedihan Andin


__ADS_3

Gedung Rumah Sakit Jiwa


Di sebuah lorong rumah sakit jiwa, seorang suster sedang membawa ransuman untuk pasiennya, ia terus berjalan hingga sampai di sebuah pintu bertuliskan 'Ruang Isolasi', agak ragu dia membuka pintu itu, seharusnya tadi dia mengajak suster yang lain untuk menemaninya ke Ruang isolasi ini, mengingat pasien yang ada didalam memang sering tak terkendali. Ia membuka pelan- pelan pintu itu dimulai dengan membuka kunci gembok, setelah masuk kedalam ruangan suster itu menutup kembali pintunya.


Nampak seorang lelaki tengah terbaring, tangannya terikat, mendengar ada seseorang yang masuk seketika pasien lelaki itu membuka matanya.


"Selamat pagi, maaf ya suster mengganggu, sekarang waktunya sarapan !"


Sapa suster itu dengan sangat ramah, bibirnya tersungging senyum dengan manis.


Pasien lelaki itu hanya diam tak menjawab, tangannya terus bergerak- gerak ingin melepaskan tali yang terikat ditangannya.


"Suster suapin ya, suster bawa ayam goreng loh ! Pasti kamu suka, yuk buka mulutnya !"


Pasien itu nampak tak menggubris ucapan suster itu, tangannya terus bergerak.


"Aku mau mati !"


Ucap lelaki itu sambil terus berontak.


"Tenang ya, jangan banyak bergerak !"


Ucap suster itu, dia paham keadaan pasiennya ini, segera di memencet tombol bantuan yang ada disebelah kiri ranjang.


Tombol bantuan sudah dipencet, namun tiba-tiba.


' Kreeekkk '


Tali yang mengikat tangan pasien terlepas karena saking kuatnya dia berontak.


Suster tersadar akan hal itu, seketika wajahnya pias dan menjauh dari ranjang dan berjalan mundur, pasien lelaki itu kini mulai mendekat.


Suster begitu panik karena bantuan belum datang juga, dia terus berjalan mundur hingga tak sadar ada tembok dibelakangnya, dia sudah terpepet, keringat terus mengalir dari dahi dan dibawah hidungnya, tangannya bergetar.


'Tolong aku Tuhan..!!!'


Teriaknya dalam hati, namun pasien lelaki itu kini sudah ada didekatnya, tangannya menjalar ke bagian dada suster itu, *******-***** bagian inti dadanya, tangannya sudah mau membuka kancing baju suster itu.


"Jangan...!!!"


Teriak suster.


"Diaaammmmmm !!!!"


Teriak lelaki itu di depan wajah suster, aroma badan dan mulutnya begitu menyengat, membuat suster itu mual.


"Jika kamu tidak mau mati diam !"


Suster itu hanya bisa menangis, tubuhnya dihimpit oleh lelaki itu, dan suster itu bisa merasakan ada sesuatu yang keras di antara ************ lelaki gila itu.


Seketika lelaki itu menggendong suster itu dan menghempaskannya diranjang, aroma bau ranjang yang menyengat benar- benar membuat suster itu mual dan muntah.


Lelaki itu sudah membuka seluruh bajunya dan siap menggagahi suster itu, melihat rudal lelaki itu yang sedang mengacung membuat suster itu berteriak histeris.


"Tidaaaaaaakkkkkkk !!!!"


Seketika bantuan pun datang, ada beberapa perawat laki- laki dan juga seorang dokter. Dengan sigap, perawat laki- laki itu menyergap pasien, dan langsung mengunci tubuhnya hingga tidak bisa bergerak, dokter pun menyuntikkan obat penenang kepada pasien hingga pasien itu pun tertidur tak sadarkan diri.


...****************...


Andin berjalan terus menyusuri jalanan desa, matanya terus mengeluarkan air mata mengingat Fandi yang begitu dekat dengan wanita kampung itu, dia terus berjalan hingga mendapati sebuah sungai besar di depannya, seketika dia berteriak kencang disana lalu duduk bersimpuh sambil memeluk kakinya.


"Apa kurangnya gue Fan ?"


Ujar Andin pada diri sendiri.


"Kenapa gue bisa sedalam ini sih sama lo ?"


Andin terus menangis, hingga tak sadar ada seseorang dibelakangnya.

__ADS_1


'eheeemmm'


Mendengar ada seorang yang berdehem dibelakangnya dia pun menghentikan tangisnya dan spontan menoleh.


"Sudah nangisnya ?"


Ucap Fandi lalu duduk bersimpuh disebelah Andin, membuat Andin shock, diapun langsung bungkam seribu bahasa karena malu.


"Kenapa sih lo cengeng banget, udah cengeng manja lagi !"


Kata Fandi sedikit mencibir namun ada senyum dibibirnya. Andin hanya diam tak berkomentar.


"Kenapa ? Bisu apa gimana sih, jawab dong !"


Ucap Fandi sambil menggelitiki Andin, spontan Andin pun geli namun pura- pura berontak.


"Apaan sih ! Dah sana pergi sama cewek kampung itu !"


"Jangan gitu dong, dia tuh punya nama, Riana namanya !"


Ucap Fandi, nadanya lembut.


"Bodo amat !"


"Kenapa sih lo ? Jealous ya !"


"Apa sih kurang gue ke lo ?"


"Gak ada!"


"Kenapa lo gak pernah buka hati lo buat gue ?"


"Siapa bilang ?"


"Gue sayang banget ama lo Fan !"


"Bohong ! Sayang lo ama cewek kampung itu !"


"Ya , dia juga gue sayang !"


"Apaan sih lo ! Gue gak mau rasa sayang gue dibagi !"


Pekik Andin dan Fandi pun tertawa.


"Eh dengerin gue, gue sayang ama lo, karena lo sahabat gue."


Seketika hati Andin terasa ngilu, rasa cintanya hanya dibalas sebatas kata sahabat oleh Fandi, namun dia masih bisa bersyukur, karena baru kali ini sikap Fandi mulai melunak terhadapnya.


"Lo mau kan jadi sahabat gue ?"


"Gue pikir-pikir dulu deh !"


"Cieee sombongnya...!!!"


Merekapun tertawa, kini hati Andin mulai membaik, walau hanya dianggap sebatas sahabat.


"Gimana ? Mau gak nih jadi sahabat gue ?"


Andin masih tak menjawab, dia bingung mau menjawab apa walau hatinya sudah merasa sedikit lega dan lapang.


"Udah jangan kebanyakan mikir, kesempatan gak datang dua kali loh !"


"Iihhh... Lo tuh yang sombong, huuu !"


Teriak Andin yang langsung disambut tawa oleh Fandi.


"Jarang- jarang kan gue ngomong gini ke cewe, berarti lo cewe pertama yang gue lamar jadi sahabat gue !"


"Gak usah ngomong lamar segala kali, bikin baper tau gak !"

__ADS_1


"Ya itu urusan lo lah mau baper atau nggak!"


"Nyebelin tau gak sih !"


"Nyebelin atau ngangenin ?"


"Dua- duanya !"


"Ganteng juga ya !"


"Percaya diri banget lo !"


"Iyalah !"


Merekapun kini tertawa bersama, tak ada lagi rasa benci dan dendam dihati Andin, dia begitu bersyukur karena bisa berada didekat Fandi seperti ini dengan perasaan bahagia, dan Fandi pun mulai membuka hatinya walau sebatas sahabat. Andin bertekad akan terus menjaga persahabatan ini walau harus mencintai Fandi dalam diam, karena dia percaya cinta tak harus memiliki dan yang pasti, cinta butuh pengorbanan.


"Fandi !"


"Hmmm !"


"Bolehkah jika suatu saat aku mengharap lebih ?"


"Hanya waktu yang bisa menjawab !"


Andin mengernyitkan dahinya mendengar kata-kata Fandi.


"Tapi aku saranin jangan berharap !"


"Kenapa ?"


"Kerena berharap itu berat, kalau harapan itu tak sesuai keinginan kita nanti bisa- bisa lo mati bunuh diri, gue gak mau sahabat gue mati bunuh diri !"


"Idih... Apaan sih, ngelantur amat ngomongnya !"


Ujar Andin sambil memukul bahu Fandi.


"Aww ! Sakit tau !"


Kata Fandi sambil mengusap- usap bahunya.


"Sory !! Tapi setidaknya boleh gak sekali aja, gue bersandar di bahu lo !"


"Boleh, bersandar aja sini !"


Kata Fandi sambil menepuk- nepuk bahunya. Seketika Andin menyandarkan kepalanya di bahu Fandi, ada perasaan bahagia bercampur haru, hingga setetes air mata membasahi pipinya, Andin langsung mengusapnya karena tak mau Fandi tau.


Sore itu begitu indah dirasakan oleh Andin dan Fandi.


Tanpa disadari Fandi dan Andin nampak Dari jauh seseorang memperhatikan mereka, begitu benci dan cemburu. Bahkan ada dendam didalam hatinya.


'Dasar cowok Playboy, B4jing4n !!! , gak cukup dengan satu cewek , liat aja nanti, akan gue buat lo nyesel nanti'


Diapun pergi meninggalkan tempat itu.


Bersambung....


Hay sahabat Dita Feryza !


Aku mau promo cerpen nih, bergenre misteri



Yuk Jangan lupa mampir di karya aku ya sahabat, dan jangan lupa klik Like dan Coment ya..


Apresiasi kalian adalah semangat bagi author


Makasihhh !!!🙏🙏🙏


Love you all 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2