
Suasana semakin tak terkendali, Bik Sri yang semula berteriak-teriak karena tubuhnya dukunci oleh santri dari Gus Husein kini mulai bereaksi dengan muntah-muntah dan terus berteriak bahkan muntahannya ia sengaja sembur-semburkan ke segala arah membuat siapa saja yang melihat menjadi jijik dan berasa ingin muntah juga, Mama Andin yang tadinya sudah mulai sadar kini kepalanya mulai berat lagi, Gus Husein masih tak gentar, ia masih tetap menyelesaikan ayat-ayat yang dia baca, hingga akhirnya.
'Bruukkkk'
Bik Sri pun tak sadarkan diri, dia tergeletak lemas dengan kondisi yang acak-acakan. Dan akhirnya Mama Andin pun pingsan juga karena saking sakitnya kepala yang ia rasakan.
"Mama !!" teriak Andin, dia tak tega melihat mama pingsan sambil memegangi kepalanya, nampak sekali pingsannya akibat dari sakit kepala yang ia rasakan.
"Gak apa-apa Din, cepat kamu buat air hangat untuk mengompres Mama mu !"
Ucap Sandra sambil merengkuh Mama Andin di pelukannya. Tanpa berpikir dua kali Andin pun segera pergi ke dapur dan membuat air hangat.
Namun perhatiannya kini tertuju pada sebuah sabuk jimat yang Ki Ageng berikan pada Mama tadi yang diambil oleh Bik Sri, mungkin barusan Bik Sri meninggalkannya tergeletak di lantai karena dia mengalami kesurupan.
Andin pun mengambil sabuk jimat itu, dia punya inisiatif untuk membakarnya, ia sudah mengambil sebuah korek api dan siap membakarnya, dan berharap segala sesuatu yang berbau mistis durumah ini akan musnah dan semua energi negatif yang ada dirumah ini akan pergi jauh-jauh.
Tiba-tiba sebuah tangan mencegah tangan Andin untuk membakar sabuk ajimat itu, Andin sempat ingin berontak namun setelah dia tau siapa yang memegang tangannya itu adalah Fandi dia hanya bisa shock. Dari tadi saat ada kegaduhan dirumahnya Fandi sedang tertidur karena pengaruh obat depresan yang ia minum.
"Sayang apa yang kamu lakukan ?"
Ucap Fandi sambil merebut korek yang Andin pegang. Andin cukup terkejut karena tiba-tiba Fandi memanggilnya sayang.
"Aku ? Aku ingin membakar sabuk ini !"
Ucap Andin sedikit kebingungan dengan perubahan sikap Fandi. Namun tiba-tiba Fandi menarik tangan Andin dan membuat Andin ada di pelukannya.
"Jangan kau lakukan ya, jika kau maksa aku bisa menghabisimu !"
Sungguh Andin terkejut, mendengar ucapan terakhir dari Fandi, seketika Andin menatap wajah Fandi, Andin melihat bahwa dia bukan Suaminya, terlihat dari matanya, suaminya kini ikut kesurupan, yang jelas Andin merasakan dia dalam posisi bahaya saat ini. Andin melihat air yang ia masak tadi untuk mengompres mama sudah mendidih, ia mempunyai ide, tapi dia harus lepas dulu dari cengkraman Fandi saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan membakarnya !"
Ucap Andin sedikit bergetar nadanya, ia berusaha melepaskan diri, namun karena cengkraman Fandi yang begitu kuat Andin pun merasa kesulitan.
"Tapi tolong lepaskan aku dulu, aku harus memberikan air hangat untuk Mama, dia sedang pingsan !" Andin benar-benar memohon. Dan akhirnya Fandi pun melepaskan tangan Andin kemudian Andin pun segera beranjak ke kompor dan mengangkat panci panas itu, dengan sekali gerakan Andin pun menaruh sabuk ajimat itu ke kompor yang masih menyala itu hingga terbakar. Dengan tiba-tiba Fandi pun langsung meronta-ronta seperti kesakitan, Andin yang melihat hal itu hanya bisa menangis karena tak tega melihat suaminya kesakitan namun semua itu Andin lakukan demi kebaikannya, dia berharap semoga dengan ini kehidupannya bisa kembali normal.
Melihat kobaran api yang semakin membesar membuat Andin sedikit takut, takut akan kebakaran, namun semakin besar kobaran itu semakin menjerit pula Fandi. Dan yang tak disangka juga, terdengar suara jeritan dari Mama dan Bik Sri juga, mereka kini sudah sadar dan menjerit-jerit. Andin yang kebingungan hanya bisa berteriak meminta tolong.
Mendengar jeritan dari Andin, Sandra pun segera menghampirinya di dapur.
"Andin !!" teriak Sandra melihat kobaran api itu, seluruh sabuk ajimat itupun kini sudah terbakar tak bersisa, Fandi, Mama dan Bik Sri yang tadinya berteriak-teriak kini telah sadar kembali namun mereka masih lemas tak berdaya, kobaran api yang tadinya membesar kini telah dipadamkan oleh Bik Tirah.
Mereka kini telah ditangani oleh tim medis yang sengaja Andin hubungi untuk memeriksa keadaan anggota keluarganya itu dan akhirnya karena melihat kondisi ketiga korban dengan keadaan yang sangat lemas, mereka pun dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih intensif.
Usut punya usut semua yang terjadi itu memang sebuah kesengajaan, semua makhluk halus yang bersarang dirumah Andin itu semua adalah kiriman dari Ki Ageng. Ki Ageng yang telah bersekongkol dengan Bik Sri.
Andin melihat kondisi Bik Sri saat ini yang sedang kritis karena kekurangan cairan, itu menurut dokter yang menangani Bik Sri namun Andin menganggap semua itu adalah azab bagi Bik Sri. Sulit rasanya bisa memaafkan seseorang yang begitu dia anggap keluarga namun ternyata dia malah menjahatinya, bahkan itu suatu kekejaman menurut Andin.
"Keluarga Tuan Fandi !"
"Iya saya isterinya Sust !"
"Tuan Fandi sudah sadar !"
Mendengar hal itu Andin pun langsung berlari kekamar tempat Fandi dirawat dan mendapati Fandi yang kini telah membuka matanya.
"Sayang !" ucap Andin, sedikit ragu, mengingat Fandi yang beberapa bulan terakhir ini selalu bersikap dingin terhadapnya.
"Sayang, aku merindukanmu !" balas Fandi sambil menitikan air mata, mendengar itu Andin langsung menghambur kepelukan Fandi dan menangis di pelukan Fandi, tak lupa ia berucap syukur berkali-kali.
__ADS_1
"Sayang, aku sungguh mencintaimu !"
Kata-kata cinta yang dulu membeku kini seakan mencair bersama air mata yang terus mengalir diantara mereka.
Sandra nampak menemani Mama Andin yang kini sudah mulai tersadar.
"Apa Fandi sudah sadar San ?" tanya Mama Andin pada Sandra.
"Sudah Tante, tuh Andin lagi reonian sekarang, kayanya udah rindu berat mereka berdua !" ucap Sandra sambil terkekeh.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah ! Sandra sendiri kapan mau kasih berita bahagia buat kami ?" ucapan Mama Andin yang terakhir itu membuat Sandra tersedak ludahnya sendiri.
"Apaan sih Tante !" Sandra tersenyum sendiri.
Terdengar suara langkah kaki yang memasuki kamar Mama Andin.
"Keluarga Bu Sriwati !"
Spontan Sandra dan Mama Andin pun menoleh.
"Iya Suster ?"
"Bu Sriwati saat ini sudah meninggal dunia !"
"Innalillahi wa innailaihi roji'un !"
Ucap Mama Andin dan Sandra secara bersamaan, walau ada rasa sakit yang mendalam terhadap mantan ART nya itu Mama tetap memaafkan dengan tulus dan dengan ikhlas menganggap semua itu adalah ujian dari Allah, dan berharap Allah bisa mengampuni segala dosa dari almarhumah.
Bersambung....
__ADS_1