
Andin terbangun dari tidurnya, dia melihat jam masih menunjukkan pukul dua dini hari, selama Fandi amnesia dia mengalah tidur di sofa yang ada dikamarnya, sedangkan Fandi tidur di tempat tidur. Selain kondisi Fandi yang masih belum sembuh, Fandi juga tak mau berbagi tempat tidur dengan Andin, karena dia masih belum ingat dia sudah menikah dengan Andin.
Andin melihat ranjang yang Fandi tempati nampak kosong, entah dimana Fandi sekarang membuat Andin mencari-cari dimana suaminya itu.
Andin berjalan dikamar mandi kamarnya, mungkin Fandi berada disana, namun tak ada. Akhirnya Andin keluar dari kamar, dia memanggil-manggil suaminya itu namun tak ada yang menyahut membuat Andin sedikit gelisah.
Andin menuruni tangga, suasana rumah nampak sepi, pada jam dua dini hari begini semua anggota keluarga Andin masih tidur.
Nampak diruang tamu Andin melihat Fandi duduk disana sendirian dalam gelap tanpa lampu.
Andin pun menghampiri Fandi setelah menghidupkan lampu ruang tamu.
"Fandi, ngapain kamu duduk sendirian disini ?"
Semenjak hilang ingatan Andin mencoba mengikuti alur pikiran Fandi, dia tak memanggil Fandi dengan sebutan 'Sayang' lagi, dia kini berperan sebagai 'Sahabat' bagi Fandi sama seperti dulu, namun Andin ikhlas dengan semua itu, demi kesembuhan Fandi.
"Fandi, ayo kembali kekamar !"
Ajak Andin, namun Fandi seketika menatap Andin dengan tatapan tajam.
"Kenapa Fandi ?"
Andin heran dengan tatapannya. Yang ditanya tak menyahut, Fandi tetap menatap Andin dengan tatapan tajam, Andin sangat ngeri melihatnya, karena tatapannya seperti ingin membunuh.
Andin tak kuasa ketika tiba-tiba Fandi bangkit dari duduknya sambil terus menatap Andin.
"Fandi ! Apa yang ingin kamu lakukan !?"
Andin sangat ketakutan dan terus berjalan mundur menghindari Fandi yang terus berjalan kearahnya dan seakan menatap dendam ke arah Andin.
"Fandi ! Pleace..! Jangan bercanda !!"
Andin mempercepat langkahnya walau harus melangkah mundur.
Namun tiba-tiba Andin seperti menabrak sesuatu dibelakangnya. Sesuatu yang aneh itu seakan bergerak, Andin begitu ngeri membayangkan sesuatu itu dia menoleh kearah belakang.
Betapa terkejutnya Andin, sesosok hantu wanita berambut panjang tengah menatapnya bahkan menyeringai kearahnya membuat Andin langsung tak bergerak, pingsan.
Sebuah sentuhan lembut menyadarkan Andin, dia kini berada diatas tempat tidur.
"Kamu sudah sadar Din ?"
Nampak wajah Mama terlihat begitu cemas menatap putrinya itu.
"Suamiku mana Ma ?"
Andin berusaha mengembalikan lagi kesadarannya.
"Fandi sedang makan tuh diruang makan, dia yang menemukan kamu pingsan di ruang tamu tadi pagi !"
"Apa ?"
Seketika Andin teringat kejadian mengerikan semalam.
"Tapi Fandi gak apa-apa kan Ma ?"
"Maksud kamu apa sih, kamu yang pingsan kenapa kamu malah tanya Fandi !"
"Ma, semalam aku lihat hantu diruang tamu, terus Fandi juga semalam aneh gitu tatapannya seperti kesurupan !"
"Masa sih, kamu berhalusinasi mungkin Din."
"Beneran Ma, Andin takut banget !"
__ADS_1
Andin mulai menangis.
"Yaudah, kamu tenang aja gak usah takut, ada Mama, sebenernya Mama juga merasa ada sesuatu yang aneh disini !"
Ucap Mama sedikit mengecilkan volume suaranya.
"Ada apa Ma ?"
"Waktu itu...
...Cerita Mama...
Sore itu Mama sedang duduk di ruang keluarga sambil sibuk dengan gadgetnya.
Saat itu Andin dan Fandi sedang tidak dirumah karena sedang kontrol ke Dokter psikiater, untuk menjalani terapi, dirumah hanya ada Mama dan dua orang Bibi pembantu.
'Pranggg...'
Terdengar suara benda jatuh dari arah lantai atas, Mama yang sedang sibuk dengan gadgetnya pun seketika kaget, karena suaranya begitu keras.
"Bi...!"
Mama mencoba memanggil salah satu Bibi pembantu, namun tak ada yang menjawab.
"Pada kemana sih Bibi !"
Tanya Mama pada diri sendiri. Mama yang penasaran dengan suara benda jatuh di lantai atas pun langsung menaiki tangga mencari sumber suara itu.
Ketika Mama sampai diatas, tak nampak satu bendapun yang jatuh, Mama terus mencari mungkin suara itu berasal kamar Andin, namun Mama tak selancang itu membuka kamar putrinya yang sudah memiliki suami jadi biarlah Mama menunggu kedangan Andin untuk mengecek kamar putrinya itu.
Ketika Mama hendak berbalik untuk turun lagi kelantai bawah, nampak seorang wanita berambut panjang berjalan menuruni tangga membelakangi Mama, Mama yang terkejut dengan adanya wanita itu langsung berteriak memanggil wanita itu.
"Hey, siapa kamu !?"
Teriak Mama namun nampaknya wanita itu tak menggubris teriakan Mama, dan wanita itu terus saja berjalan, Mama pun berusaha mengejar wanita itu hingga nyaris saja Mama terjatuh dari tangga, beruntung Mama begitu kuat berpegangan pada pagar tangga.
Teriakan Mama membuat kedua pembantu dirumah langsung lari terbirit-birit menghampiri Mama.
"Ada apa Nyonya !"
Tanya kedua pembantu itu bersamaan, nqmpak wajah mereka begitu tegang karena terikan Mama.
"Cepat, ada orang masuk rumah !"
Seketika merekapun mengecek seluruh rumah dari pintu, jendela, ruangan-ruangan yang ada dirumah semuanya dicek, namun tak ada kejanggaln, semua jendela masih terkunci dengan rapi, pintu rumah memang tak dikunci, namun didepan ada satpam yang jaga tak mungkin jika wanita itu keluar melewati pintu depan.
"Aman Nyonya, tak ada siapa-siapa dirumah ini.!"
"Ada, barusan aku liat sendiri."
"Seperti apa ciri-ciri orang yang masuk rumah Nyonya ?"
Tanya salah satu pembatu yang bernama Bi Tirah, usianya sekitar lima puluh tahunan.
"Wanita Bi, rambutnya panjang banget, bajunya putih !"
"Subbahanallah, mirip kuntilanak dong !"
Kata Bibi yang satunya, usianya lebih muda dari Bi Tirah, dia bernama Bi Sri.
Mendengar ucapan Bi Sri spontan Mama pun memekik kaget.
"Jangan ngaco deh Bi !"
__ADS_1
"Iya Nya, kalau ciri-cirinya kaya begitu kan mirip sama kuntilanak Nya !"
Sungguh begidik tubuh Mama mendengar ucapan pembantunya itu.
"Sri, kalau ngomong tuh jangan sembarangan, kalau Kuntilanak itu biasanya ketawa cekikikan, itu bisa jadi Sundel Bolong mungkin !"
Mendengar ucapan Bi Tirah bukannya menjadi tenang malah tambah bikin takut Mama.
"Nggak Rah, itu Kuntilanak !"
"Bukan Sri, itu Sundel bolong namanya kalau di kampung ku !"
"Aduhhhhhh cukuppp, kok malah rebutan Kuntilanak sama Sundel Bolong sih !"
Mama pun pergi meninggalkan kedua pembantu itu dengan perasaan dongkol. Walau dalam hatinya merasa takut karena membayangkan kedua jenis makhluk halus itu berada dirumahnya.
...Cerita selesai...
Andin tak bisa menahan tawanya mendengar cerita dari Mama, walau dia juga sedikit ngeri dengan makhluk halus yang masuk kedalam rumahnya.
"Udah dong ketawanya, ihh..!"
Mama terlihat dongkol melihat Andin yang terus tertawa.
"Maaf-maaf Ma, trus gimana ya caranya ngusir Hantu agar gak masuk rumah !"
Mama terlihat berfikir sejenak.
"Harus di ruqiyah, Din !"
"Manggil Ustadz, gitu ?"
"Bisa juga, tapi ruqiyah juga bisa dilakukan sendiri kok, ruqiyah mandiri gitu !"
"Caranya ?"
"Kita harus sering-sering ngaji dirumah !"
Andin hanya manggut-manggut mendengar saran Mamanya itu.
Tak lama kemudian pintu kamar Andin diketuk dari luar, yang ternyata adalah Fandi, Fandi masuk kekamar.
"Kamu udah sehat, Din ?"
Andin menatap raut wajah Fandi, nampak semalam wajahnya begitu tak bersahabat padanya, namun kini wajahnya nampak seperti biasa.
"Fandi, iya makasih udah nolong aku."
Fandi hanya mengangguk.
"Din, apa besok kamu mau menemaniku ?"
"Kemana Fan ?"
Andin nampak bingung.
"Kerumah Riana !"
"Apa ? Maksud aku, kenapa haeus besok, luka mu belum sembuh, kamu denger sendiri kan apa kata Dokter waktu kita kontrol kemarin, kamu gak boleh kecapean Fan !"
Fandi nampak murung.
"Aku janji nanti kalau kamu udah sembuh, kita pasti kesana !"
__ADS_1
Fandi tak menggubris ucapan Andin, diapun berlalu kecewa. Andin hanya menarik nafasnya panjang.
Bersambung....