Mengantar Riana

Mengantar Riana
Bab 30 Kecewa


__ADS_3

Suasana pernikahan yang semula normal kini mulai gaduh karena kehadiran empat orang berseragam polisi yang tiba-tiba masuk ke dalam areal pernikahan.


Keempat polisi itu datang bukan sebagai tamu dari keluarga mempelai, melainkan mereka akan menjemput seorang tersangka pembunuhan disana.


Para tamu undangan yang berada di sana masih bertanya-tanya siapakah tersangka yang akan dijemput oleh polisi itu.


Pengantin wanita yang awalnya berada di pelaminan kini telah turun dan masuk kedalam rumah, cukup lama para tamu undangan dibuat penasaran siapakah yang akan dijemput oleh polisi itu.


Tiba-tiba terdengar suara tangis histeris dari dalam rumah, bahkan sepertinya pengantin wanitanya kini pingsan.


Tak lama kemudian keempat polisi itupun keluar dari dalam rumah, dua orang polisi dibelakang mengapit seorang tersangka, tangannya diborgol kebelakang.


Kini para tamu undanganpun telah mengetahui, siapa sebenarnya yang disebut terasangka itu, dialah pengantin pria, orang yang mereka kenal selama ini dan bahkan orang yang tak pernah mereka duga sebelumnya.


Para tamu undangan kini sudah mulai kasak-kusuk, ada yang turut prihatin bahkan ada yang sengaja merekam kejadian itu dengan ponsel mereka untuk dijadikan konten.


Raka hanya bisa pasrah dan menunduk saat dirinya kini digelandang oleh polisi. Rasa sesal dan sedih kini menjadi satu. Dia telah membuat keluarganya menanggung malu karena perbuatannya, dia juga telah membuat kecewa pada istrinya, bagaimana tidak, hal ini terjadi disaat hari bahagianya bahkan menjadi tontonan oleh warga dan juga para tamu undangan yang hadir.


Dia hanya mampu menangis dan meminta maaf pada istri dan juga keluarganya terutama mamanya yang jelas merasa terpukul atas semua ini.


Namun menangispun sudah tak ada gunanya, bahkan memohon maaf pun terasa hambar dibanding luka yang telah dia torehkan untuk keluarga besarnya ini.


Raka menatap Fandi, namun Fandi seakan tak merespon tatapan itu. Ya , dia tau, Fandi adalah orang yang lebih merasa kecewa padanya, bahkan dia mungkin sudah membecinya.


Selama beberapa tahun ini dia sudah belajar untuk move on dari Riana, dan dia sudah bisa ikhlas walau tak bisa bersama dengan Riana, karena dia yakin jika suatu hari dia pasti akan dipertemukan dengan jodoh yang terbaik, namun jika awal kepedihannya ini ternyata akibat ulah sahabatnya, apakah dia bisa terima dan memaafkan segala kesalahan teman-temannya itu ?


Mobil polisi itupun meraung pergi, meninggalkan sejuta luka dan air mata, Fandi hanya bisa menatap nanar mobil polisi itu yang kini telah pergi menjauh, perasaannya masih menolak percaya dengan apa yang telah dia saksikan barusan.


Andai waktu bisa diputar kembali, ah sudahlah, mungkin setelah ini Raka bisa mengambil hikmah atas perbuatannya dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik. (Kita doakan saja)


Andin mendekati sahabatnya itu, dia ikut merasakan kesedihannya, dia tahu betapa pedihnya luka hatinya saat ini, karena selama sepuluh tahun ini dia selalu mendampingi Fandi disaat-saat terpuruknya. Dia juga tak menyangka ternyata penyebab dari semua ini adalah para sahabatnya juga.


"Fandi, udah yang sabar, kita doakan semoga Riana bisa tenang sekarang yah !"


Mendengar nama Riana tak terasa setetes air bening itu jatuh dari pelupuk matanya.


Akhirnya merekapun memeilih pergi dan pulang dari sana, tak perduli seperti apa gaduhnya di rumah Raka, mereka sudah tak tertarik untuk mengetahui keadaannya.


Fandi mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sedangkan Andin berada di sebelahnya, Andin melihat Fandi dari ekor matanya, terlihat sesekali Fandi mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


Sungguh bergetar hati Andin melihat semua itu, Andin melihat jam ditangannya sudah menunjukkan waktu dhuhur.


"Fan, kita mampir di masjid yuk, solat dhuhur dulu."

__ADS_1


Ajak Andin, Fandi tak menjawab, namun dia langsung menepikan mobilnya di sebuah halaman masjid yang tak jauh darinya berkendara.


Merekapun turun dan menuju ke tempat wudhu.


'Ku harap kamu bisa mengambil hikmah dari semua ini Fandi, dan kamu bisa ikhlas, aku hanya ingin melihatmu bahagia!'


Batin Andin, dia sengaja mengajak Fandi ke masjid agar pikiran Fandi bisa tenang, karena dia tahu, semua yang terjadi adalah takdir dari Tuhan dan kita harus kembalikan lagi pada Tuhan.


Andin telah selesai menunaikan sholat dhuhur, nampaknya Fandi masih belum keluar masjid, Andin pun dengan setia menunggu Fandi di teras masjid duduk sambil menyandarkan tubuhnya ditiang masjid, cukup lama Andin melihat Fandi masih duduk didalam masjid, namun Andin tak merasa keberatan walau harus menunggu lama, saking sejuknya suasana di masjid hingga Andin tertidur.


Entah berapa lama dia tertidur tiba-tiba bahunya sudah seperti diguncang seseorang.


"Bangun ! Udah tidur aja !"


Kata Fandi yang sudah duduk disebelah Andin sambil memakai kaos kakinya.


Andin tersadar dari tidurnya, namapak Fandi sudah berada disebelahnya, sekilas dia lihat wajah Fandi nampak lebih fresh, Andin pun tersenyum melihat itu.


"Eh, udah selesai lo !"


Kata Andin sambil mengucek-ucek matanya, sesekali mulutnya masih menguap.


"Yaudah ayok !"


Ajak Fandi.


"Pulang lah, lo mau lanjutin tidur disini, yaudah gue pulang duluan !"


Fandi pun berlalu membuat Andin langsung berdiri mengejarnya.


"Eh Fandi, main ninggal-ninggal aja !"


Sungut Andin setelah bersejajar dengan Fandi, Fandi pun tersenyum pada Andin, melihat itu Andin sangat bahagia karena bisa mengembalikan mood Fandi lagi.


Akhirnya merekapun masuk kedalam mobil dan pulang.


Seminggu kemudian Fandi datang kerumah Andin untuk mengajaknya disuatu tempat.


"Mau kemana sih, kok mendadak begini ?"


Kata Andin saat didalam mobil Fandi.


"Ada deh, nanti juga lo tau !"

__ADS_1


Andin hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan diam selama perjalanan. Fandi menghentikan mobilnya sejenak disebuah rumah makan untuk membeli makanan disana, setelah selesai diapun kembali menjalankan mobilnya, Andin hanya melihatnya dengan heran tanpa mengatakan apa-apa.


Tak lama kemudian Fandi membelokkan mobilnya disebuah kantor polisi.


"Yuk turun !"


Ajak Fandi membuat Andin semakin heran dan bingung.


"Udah gak usah bego gitu mukanya, ayok turun !"


Tanpa menunggu lama lagi Andin pun turun dan mengikuti langkah Fandi masuk kedalam kantor polisi.


Ternyata kedatangan Fandi ke kantor polisi untuk menjenguk Bayu dan Raka yang kini masih ditahan di sel sementara.


Betapa terkejutnya Bayu dan Raka setelah mengetahui siapa yang kini telah menjenguknya.


Bayu dan Raka hanya diam seribu bahasa, mereka hanya menunduk, rasa malu dan sesal menjadi satu dalam benak mereka.


"Udah gak usah sungkan gitu, gue masih sahabat kalian kok, gue kesini cuma pengen tau keadaan kalian, oh iya ini gue bawain makanan buat kalian !"


Ucap Fandi sambil menyodorkan makanan yang barusan dia beli di sebuah rumah makan.


Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari kedua narapidana itu, membuat hati Andin semakin mencelus melihatnya, tak tahan berada disituasi yang mengharu biru itu.


Akhirnya merekapun saling berpelukan dengan suara tangis yang bersahutan. Kata maaf selalu terucap dari mulut Bayu dan Raka, Fandi hanya mengangguk dan membalas pelukan mereka.


Kini tak ada lagi dendam, walau sempat ada rasa kecewa yang mendalam, Fandi sudah bisa menerima kekhilafan mereka, dan memaafkan semua kesalahan mereka.


"Alhamdulillah, udah lega rasanya hati gue !"


Ucap Fandi setelah dia berada di mobil untuk pulang.


"Alhamdulillah, gue juga ikut seneng dengernya !"


Kata Andin sambil mengusap lembut pundak sahabatnya itu.


Betapa senang hati Andin saat ini tak bisa dia gambarkan dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dihatinya terselip doa untuk kebahagiaan sahabatnya ini.


Bersambung....


Semoga kalian suka bab ini.


Jangan lupa like, komen dan subscrabe

__ADS_1


Gift nya juga ya 😆😆😆🙏


Makasihhhh😘😘😘


__ADS_2