
'Tut tut tut'
Suara monoton dari sebuah panggilan, Sandra berusaha menghubungi seaeorang lewat gadgednya.
"Assalamualaikum, halo !"
Akhirnya sebuah suara terdengar dari panggilannya.
"Walikum salam, astaga ! Lo nih dari tadi gue telphone lama banget yang mau diangkat ?"
Suara Sandra terlihat sebal, terdengar suara cekikikan dari seberang.
"Sory sayang, abisnya gue capek banget baru datang dari Singapore malam tadi !"
"Aishh ! Iya-iya gue tau dari mama lo, semalem dia telphone gue, bilang kalau lo dah dateng, makanya sekarang gue telphone lo, gue mau minta oleh-oleh dari Singapore."
"Oke sayang, gue tunggu di rumah, gue dah siapin oleh-oleh buat lo, gue tunggu kehadiran lo kerumah !"
"Oke, mumpung gue ambil cuti hari ini, bentar lagi gue on the way kesitu !"
"Iya, gue tunggu mmmuuachhh, asaalamualaikum !"
"Walikum salam Andin sayang !"
Sandra menutup sambungan telephone nya, dia sengaja menghubungi Andin karena Andin baru datang dari berbulan madu dengan Fandi suaminya, dia mau minta jatah oleh-oleh yang dulu pernah Andin janjikan saat hendak berangkat ke Singapore.
Sandra bergegas mengambil kunci mobil dinakas, dia memang saat ini sedang ambil cuti, karena ingin refresing sejenak, kejadian Vivi kemarin benar-benar menguras pikirannya, dan dia berharap tak ada lagi kejadian serupa yang nantinya akan menyeretnya lagi untuk turut memecahkan masalahnya, cukup kemarin saja, dan dia berharap indigonya sudah tak ada lagi. Bagaimanapun dia ingin hidup tenang tanpa di liputi oleh masalah-masalah orang lain yang cukup menguras energi.
Setelah pamit dengan keluarganya, siang itu juga Sandra berangkat kerumah Andin yang jaraknya sekitar lima kilo meter dari rumahnya, Sandra pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sandra begitu fokus mengemudi sambil mendengarkan musik jazz kesukaannya, sesekali dia bersenandung kecil mengikuti lagu yang dia dengar dari tape audio mobilnya.
Terlihat lampu merah menyala di sebuah persimpangan jalan, Sandra menghentikan mobilnya. Suasana jalan cukup padat dan tertib.
Sandra menunggu lampu merah, terhitung tiga puluh detik untuk menjadi hijau, sungguh melelahkan menunggu selama itu, batin Sandra, namun dia masih asik dengan suara musik yang dia dengar.
Namun tiba-tiba Sandra dikejutkan oleh sebuah bayangan hitam melintas didepan mobilnya, Sandra masih belum yakin apa yang dia lihat, karena ini masih siang, tak mungkin dia melihat setan disiang bolong. Mungkin dia hanya berhalusinasi saja.
__ADS_1
Bayangan hitam itupun melintas lagi namun lebih terlihat lagi wujud aslinya. Seperti siluman, kepalanya bertanduk dan tubuhnya dipenuhi bulu berwana hitam, dia nampak menyeringai pada Sandra. Sandra pun langsung beristigfar dalam hati karena terkejut oleh makhluk hitam bertanduk itu.
Makhluk itu nampak melompat-lompat di tengah jalan. Sandra berusaha cuek tak memperhatikan makhluk itu.
Seorang wanita hamil tengah mengendarai sepeda motor di simpangan lain, perutnya terlihat buncit mungkin sudah hamil tujuh bulan.
Tiba-tiba makhluk hitam bertanduk itu menghampiri motor wanita hamil yang tengah melaju itu dan langsung menendang motornya hingga oleng dan terjatuh, dari arah belakang sebuah pic-up melaju kencang dan tak bisa menghindari yang akhirnya menabrak wanita hamil itu. Hingga wanita hamil itupun harus meregang nyawa karena luka parah di bagian kepalanya.
Sandra memekik keras melihat kejadian itu, dia begitu marah pada makhluk hitam bertanduk itu, gara-gara dia wanita hamil itu harus meregang nyawa. Suasana persimpangan jalan itupun ramai oleh orang-orang yang ingin melihat keadaan korban, hingga terjadilah kemacetan dipersimpangan itu. Sandra ingin membantu wanita hamil itu dia sudah membuka pintu mobilnya dan ingin lari kearah korban, namun suara klakson mobil dibelakang mobil Sandra membuatnya urung untuk turun, bagaimana pun Sandra harus memberi jalan pada mereka. Akhirnya Sandra pun memilih untuk terus melajukan mobilnya.
Sandra sangat kesal dan marah pada makhluk hitam bertanduk itu, dan yang paling dia sesali kenapa indigonya masih ada, sungguh dia ingin sembuh dari indigonya, dia tak mau melihat hal-hal mengerikan lagi. Kejadian ibu hamil barusan sungguh sangat mengerikan, apalagi Sandra tau penyebab dari semua itu, dan dia hanya bisa melihat tanpa bisa menolong.
Mungkin ini yang namanya takdir, yang tak bisa dihindari, karena bagaimanapun jodoh, rezeki dan umur hanya Tuhan yang maha tahu. Mungkin itu adalah takdir si ibu hamil, dia meregang nyawa dengan cara demikian.
Sandra hanya bisa murung, dia hampir kehilangan konsentrasinya dalam mengemudi gara-gara memikirkan nasib si ibu hamil tadi, cepat-cepat dia beristigfar.
Sandra sudah membelokkan mobilnya disebuah halaman rumah yang cukup besar.
Sandra turun dari mobil dan langsung masuk setelah mengucap salam.
Sandra disambut oleh ibu Andin, alias Tante Sandra sendiri.
"Mana si pengantin baru ?"
Ucap Sandra mencari Andin.
"Ada tuh, dikamar bentar tante panggilin dulu ya !"
Sandrapun langsung duduk di sebuah sofa empuk, dia menjatuhkan tubuhnya dengan keras dan langsung menyandarkan kepalanya yang cukup pening hari ini. Tak lama kemudian Andin datang menghampiri Sandra dengan wajah semringah, Andin nampak memakai hijab.
"Wah, habis dapat hidayah nih dari Singapore ?"
Ucap Sandra sambil terkekeh.
"Iya dong, ini permintaan suami ku, dia mau setelah nikah aku harus pake hijab kalau keluar rumah."
__ADS_1
Andin pun duduk disebelah Sandra.
"Cieee.. Semoga bisa istiqomah deh !"
"Aminn, tumben ambil cuti ?"
"Iya lagi pengen refresing, gue lagi suntuk banget !"
"Suntuk kenapa beb ! Jangan murung gitu dong !"
Akhirnya Sandra pun menceritakan kejadian mistis ketika dirumah sakit kepada Andin, termasuk kejadian mengerikan yang dia alami saat dijalan tadi, Andin begitu terkejut mendengarnya, sesekali Andin nampak menutup mulutnya karena shock, Mama Andin yang baru datang sambil membawa minuman untuk Sandra pun ikut nimbrung mendengar cerita Sandra itu, dia pun sama tak kalah terkejutnya.
"Gimana ya caranya nyembuhin indigo ini, Sandra sudah capek banget !"
Sandra nampak murung dan sedih, Andinpun menghampirinya sambil memeluk Sandra.
"Yang sabar sayang, mungkin ini sudah takdir kamu, kamu menjadi penyelamat bagi mereka yang tak mendapat keadilan !"
Ucap Mama Andin begitu kasihan melihat keponakannya itu harus merasa tertekan.
"Iya kalau kejadiannya seperti yang dirumah sakit, mungkin aku bisa membantu semampuku, namun kalau kejadiannya seperti dijalan tadi, Sandra hanya bisa menonton tanpa bisa berbuat apa-apa, itu yang Sandra sesali tante !"
Tak terasa air mata Sandra menetes.
"Serahkan semua pada Allah sayang, semua yang terjadi atas kehendaknya, Sandra harus percaya itu !"
Sandra hanya bisa mengangguk pasrah mendengar perkataan tantenya itu.
Semilir angin membawa wangi melati tiba-tiba masuk kerumah Andin dan melewati hidung Sandra.
Sekelebat asap putih melintasi pintu membuat Sandra terkejut, dan merasakan tengkuknya berat, dia perhatikan Andin dan tantennya, mereka terlihat tak bereaksi sepertinya, Sandra sudah menduga ada hal mistis lagi namun dia memilih diam tak memberitahukan pada Andin dan tantenya.
Dia hanya bisa memijit-mijit keningnya.
'Ya Allah, sampai kapan indigo ini akan terus terjadi'
__ADS_1
Bersambung.....