Mengantar Riana

Mengantar Riana
Bab 33 Mendadak Indigo


__ADS_3

Sandra berjalan dilorong rumah sakit, kebetulan dia datang dari kantin, tak seperti biasanya dilorong itu begitu sepi, jam baru menunjukkan pukul 18.00 wib. Kebetulan Sandra melewati block melati, dimana block itu nantinya menuju sebuah mushola, disebelah kanan koridor ada pembangunan septiktank yang baru selesai dicor. karena jam menunjukkan waktu sholat magrib.


Tiba- tiba Sandra seperti mendengar sebuah tangisan yang begitu pilu dan lirih, Sandra yang sadar dengan suara tangisan itu pun clingak- clinguk mencari sumber suara itu.


Seorang wanita berpakain OG (Office Girl) duduk bersimpuh dilantai didepan sebuah pantry, suasana saat itu begitu sepi, mungkin semua orang sedang pergi ke mushola.


Sandra menghampiri wanita itu.


"Hai ! Kenapa kau menangis ?"


Wanita itu seketika menghentikan tangisannya, dan menoleh pada orang yang berbicara padanya, wajahnya cukup manis. Sandra tampak tersenyum ramah.


"Aku sedang patah hati !"


Jawab wanita itu membuat Sandra sedikit geli dan terkejut dengan jawabannya, Sandra pun mencoba menghiburnya.


"Patah hati sama pacarmu ya ? memangnya kenapa dia ?"


"Dia selingkuh !"


"Udah jangan ditangisi cowok kaya dia, masih banyak loh cowok diluar sana !"


Seketika wanita itu menggeleng dan mengeraskan tangisannya, membuat Sandra mengerucutkan bibirnya karena tak berhasil membuat wanita itu terhibur.


"Aku hamil !"


Sungguh terkejut Sandra mendengarnya, ada rasa iba pada wanita itu.


"Kenapa bisa sampai segitu mudahnya kamu percaya pada lelaki itu ?"


"Aku mencintainya, dan dia janji akan bertanggung jawab bila terjadi apa-apa denganku, tapi nyatanya dia malah selingkuh, dan memutuskan hubungan kami"


Sungguh alasan yang klise, kebanyakan wanita selalu termakan janji dan bualan lelaki buaya, semakin pecah tangisan wanita itu, membuat Sandra menjadi bingung bagaimana cara meredakan tangisannya.


"Siapa pacarmu itu, apa dia bekerja disini juga ?"


"Iya !"


"Siapa ? Mungkin aku bisa bantu untuk bicara padanya !"


"Tapi aku tak yakin dia akan jujur !"


"Aku akan mengancamnya, jika dia tidak mau jujur, siapa namamu ?"

__ADS_1


"Aku Vivi, pacarku itu adalah seorang perawat, dia bernama Alga !"


Sandra cukup terkejut, karena dia sangat mengenal Alga.


"Kalau begitu ayo ikut aku, kita bicara pada Alga !"


"Aku gak bisa !"


"Kenapa ?"


"Sebenarnya....


...Flashback...


Malam itu Vivi sedang berada di pantry, kebetulan dia sedang sif malam. Tiba-tiba seseorang yang sangat dia kenal datang sambil membawa cangkir untuk membuat kopi, dia adalah Alga seorang perawat yang cukup tampan, dia juga ramah kepada semua cleaning service.


"Sendirian aja Vi !"


Tanya Alga.


"Iya mas, lagi pusing, mau istirahat sebentar."


Keluh Vivi yang saat itu sedang pusing.


"Vi, sebenernya aku mau minta tolong nih, tapi kamunya sedang pusing"


"Bikinin kopi dong ! Kopi sacsetnya habis nih, kalau kopi racikan aku gak bisa ngeraciknya !"


Pinta Alga.


"Oalah, sini biar Vivi yang bikinin mas !"


"Emang gak apa-apa nih Vi, kamunya lagi gak enak badan tuh !"


"Gak apa-apa kok mas.!"


Vivi pun mengambil gelas yang ada di tangan Alga, dan mulai meraciknya, Alga menunggu di kursi panjang yang ada di pantry itu sambil mengamati Vivi yang sedang meracik kopi itu, Vivi memang cukup cantik dan supel, teman-teman sesama cleaning service banyak yang suka pada Vivi, namun Vivi selalu enggan untuk menanggapi mereka. Setelah selesai membuat kopi, Vivi pun memberikan kopi racikannya pada Alga.


"Ini mas, udah selesai."


"Wah, makasih ya Vi, emmh..! Dari aromanya aja enak banget kayaknya !"


Puji Alga membuat Vivi tersenyum senang.

__ADS_1


Alga pun meminum kopi itu, yang memang rasanya sungguh nikmat, ternyata Vivi jago juga meracik kopi.


"Beneran loh Vi, ini enak banget, kamu jago banget ngeraciknya, kopi racikan pabrik kalah deh sama kopi racikan kamu !"


Puji Alga lagi, membuat pipi Vivi bersemu merah.


"Mas Alga bisa aja deh, kalau muji gak ngira-ngira !"


"Aku gak bohong Vi, beneran ini !"


Kata Alga sambil menyeruput kopinya.


Akhirnya setelah kejadian itu, alga sering datang ke pantry untuk meminta Vivi merakcikkan kopi, dan sering Alga meminta Vivi untuk menemaninya ngobrol di pantry sambil minum kopi racikan Vivi, Vivi sama sekali tak keberatan, dan lama-kelamaan mereka pun semakin dekat karena obrolan itu, dan obrolan yang awalnya adalah sebuah obrolan ringan, lama-lama menjadi saling curhat satu sama lain dan benih-benih cinta pun tumbuh di hati Vivi, tak disangka Alga pun merasakan hal yang sama, karena selalu merasa nyaman saat ngobrol bersama Vivi dia menjadi suka sama Vivi dan mengungkapkan perasaannya pada Vivi. Tak ayal membuat hati Vivi sungguh bahagia karena cintanya ternyata tak bertepuk sebelah tangan dan tanpa ragu pun Vivi menerima cinta Alga itu.


Mereka pun kini memiliki hubungan yang special, selain bertemu di rumah sakit mereka juga sering janjian bertemu diluar saat jam kerja berakhir.


Karena perasaan cinta yang menggebu-gebu tak jarang mereka selalu melakukan 'phisycal touch' yang tak sehat, karena terbuai oleh kata-kata manis dan dilandasi oleh cinta yang menggebu-gebu Vivi pun rela memberikan mahkota berharganya pada Alga, mereka pun sering melakukan hubungan intim di pantry ketika sedang sepi dan kadang di hotel.


Hingga suatu hari Vivi merasa pusing dan ada yang merasa aneh pada perutnya, hidungnya pun semakin peka oleh bau, membuat dia menjadi mual dan sering muntah-muntah. Kerena merasa tidak enak badan, Vivi pun memeriksakan kondisi tubuhnya di rumah sakit tempatnya bekerja.


Bagaikan disambar petir, Vivi mendengar diagnosa dari seorang perawat perempuan itu menyatakan bahwa dirinya kini sedang hamil, entah Vivi bingung harus bagaimana dia mengekspresikan perasaannya, haruskah dia bahagia ataukah dia harus merasa khawatir karena adanya benih diluar nikah di rahimnya.


Tapi satu hal yang pasti Alga harus tau tentang keadaannya ini, dan kini dia berniat untuk menghubungi Alga melalui sambungan telephon agar menemuinya saat ini di pantry. Namun beberapa kali Alga tak menjawab panggilannya, biasanya tak pernah seperti ini. Akhirnya Vivi memilih memberitahukan Alga nanti saja, mungkin saat ini Alga sedang sibuk.


Vivi pun pergi ke kantin untuk membeli makanan ringan, karena saat ini dia sedang ingin nyemil, namun hati Vivi tiba-tiba berdegup kencang karena netranya menangkap seseorang yang sangat dia kenal berada di kantin itu, dia bersama seorang wanita, walau tak ada yang mencurigakan karena mereka hanya sedang makan bareng dikantin, dan semua itu normal tak ada pergerakan yang mencurigakan diantara mereka, namun kenapa hati Vivi rasanya cemburu, bahkan dari tadi Vivi menghubunginya lewat telephon Alga tak menjawab sama sekali. Vivi pun menghampiri mereka dan itu membuat Alga terkejut melihat Vivi berada di depannya saat ini.


"Mas Alga ada disini ? Daritadi Vivi telpon kok gak dijawab, kenapa ?"


"E..em.. Hp mas berada di mode hening jadi mas gak kedengeran !"


Jawab Alga sedikit gagap dan langsung mengecek Hp nya.


"Oh iya, ini ada tujuh panggilan tidak terjawab ya, maaf ya, ada apa Vi ?"


Vivi terkejut mendengar Alga yang memanggilnya hanya dengan nama, biasanya Alga memanggilnya Sayang, apa mungkin karena ada wanita disebelah Alga ini, siapa wanita ini, Vivi tak pernah melihat sebelumnya.


"Vivi mau ngomong sesuatu mas, mas ada waktu nggak ?"


"Nanti ya, aku masih ada urusan !"


Makin mencelus hati Vivi karena tak ada lagi nada mesra dari mulut Alga untuknya, Vivi hanya bisa menahan gemuruh dihatinya yang rasanya ingin meledak.


"Ya udah mas Vivi tunggu ya !"

__ADS_1


Vivi pun langsung pergi dari tempat itu, tak terasa lelehan air mata pun menganak sungai dipipinya.


Bersambung....


__ADS_2