
Sandra turun dari mobil, matanya tak lepas dari sosok perempuan berambut panjang dengan wajah mengerikan itu, agak ragu Sandra melangkahkan kaki untuk masuk kerumah Andin, namun Sandra tetap berusaha memebuang segala rasa takutnya, dia terus berjalan sambil terus menatap kearah sosok perempuan itu, semakin Sandra mendekatinya, semakin nampak wajahnya yang mengerikan itu, matanya yang melotot tajam kearah Sandra sama sekali tak menggentarkan Sandra, Sandra terus melawan dengan terus menatapnya, hingga jarak Sandra semakin mendekatinya, sosok perempuan itu sedikit berubah tatapannya, yang awalnya dia menatap tajam Sandra, kini tatapannya berubah seperti takut dan sedikit menjauhkan diri dari depan pintu tempatnya berdiri, seakan dia memberikan jalan pada Sandra.
Sandra yang sadar akan perubahan dari sosok itu, seakan mendapatkan kekuatan untuk terus melawan makhluk halus itu dengan semakin menatapnya dengan tajam hingga nampak jelas sosok hantu perempuan itu pun menunduk tak berani menatap Sandra lagi.
Dalam hati Sandra mentertawakan hantu perempuan itu, memang benar kata Gus Husein, sesungguhnya golongan Jin dan Setan derajdnya lebih rendah dari Manusia, jadi kita tak perlu takut kepada mereka, lawan mereka dengan keberanian serta keimanan kita maka mereka tak akan mampu mengganggu kita.
Sandra pun mengetuk pintu rumah Andin tak lupa dia mengucap salam, cukup lama Sandra berdiri sambil mengetuk pintu itu hingga suara langkah kaki terdengar mendekati pintu dan membuka pintu itu, rupanya dia asisten rumah tangga keluarga Andin.
"Assalamualaikum, Bi ! Andin ada ?"
"Walikum salam, Non Andin sedang keluar dengan suaminya, katanya sih mau terapi gitu Non !"
Hati Sandra sedikit kecewa mendengarnya.
"Tapi Tante ada kan ?"
"Ada Non, tapi sedang tidak enak badan !"
"Yaudah deh, aku mau ke Tante aja Bi !"
Sandra pun memasuki rumah Andin.
Memasuki rumah Andin seakan disambut oleh beberapa makhluk halus yang berkeliaran di dalam rumah Andin, dari berbagai rupa dan bentuk mereka terlihat membaur diasana, ada yang berlarian, ada yang bertengger di tangga dan ada pula yang melayang di atap-atap rumah Andin, membuat Sandra seperti menjadi tokoh Norman di serial animasi berjudul 'Paranorman' yang selalu dikelilingi oleh makhluk-makhluk halus tak kasat mata.
Sandra mengucap istigfar berkali-kali, sebenarnya ada apa yang terjadi dirumah Andin, mengapa tiba-tiba para makhluk halus ini berkumpul disini.
Bi Sri datang membawa sebuah dupa ditangannya, nampak dupa itu mengeluarkan asap dan aroma wangi, kemudian Bik Sri menaruhnya di sebuah meja kecil di ruang tamu itu.
Dengan serentak para makhluk halus itupun menghampiri dupa itu dengan mengendus-endus asap dari dupa tersebut. Bagaikan ayam yang diberi makan, mereka begitu ramai mengelilingi dupa itu.
Sungguh Sandra dibuat bergidik melihatnya, Sandra juga merasa aneh, mengapa Bik Sri membakar dupa dirumah Andin, apa mungkin dia sengaja untuk memberi makan para makhluk halus itu.
"Bik, ngapain naruh dupa disitu ?"
Tanya Sandra sedikit marah pada asisten rumah tangga itu.
"Loh, Non Sandra ini gimana sih, ini untuk mengusir makhluk halus, dirumah ini sedang diganggu makhluk halus Non !"
"Mengusir apanya, ini malah mengundang mereka untuk datang kerumah ini !"
"Tidak Non, kata Ki Ageng ini adalah dupa pengusir makhluk halus !"
"Apa ? Jadi ini dupa dari paranormal ?"
__ADS_1
"Iya Non, Ki Ageng tuh paranormal hebat, sakti mandra guna !"
"Astaugfirullahal adzim ! Itu perbuatan syirik Bik !"
Sandra benar-benar sudah tak sabar lagi, dia pun mengambil dupa itu lalu kemudian membuangnya didepan rumah, membuat para makhluk halus itupun berlarian mengejar asap dari dupa itu.
"Eh Non, jangan Non, jangan dibuang dupanya !"
Bik Sri memekik sambil berlari untuk mengambil dupa yang sudah Sandra buang itu.
"Ada apa sih kok ribut-ribut ?"
Terdengar suara Mama Andin menuruni tangga, suaranya sedikit serak karena memang sedang tidak enak badan. Sandra pun menghampiri tantenya itu.
"Tante, Bik Sri menyalakan dupa, itu perbuatan syirik, tau gak ?"
Ucap Sandra sambil menghampiri Mama Andin dan menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Oh itu ! Itu dari Ki Ageng San ! Kemarin dia datang untuk memagari rumah ini agar tak ada makhluk halus yang mengganggu !"
"Tak mengganggu bagaimana, ini malah mereka datang semua karena mencium bau dupa yang Tante nyalakan disini, Sandra melihat dengan mata kepala Sandra sendiri bagaimana mereka berkerumun pada dupa yang menyala itu, Sandra anjurkan hentikan semua itu, lebih baik mengadakan pengajian jika memang tak mau diganggu makhluk halus !"
Ucap Sandra, dia sangat kecewa pada tantenya itu, karena masih saja dia percaya sama dukun alias paranormal itu.
"Tante, apa yang Tante lakukan itu adalah perbuatan syirik, kalau Tante mau, Sandra akan meminta tolong pada orang yang bisa meruqyah, kebetulan Sandra kenal seorang Gus, dia putra seorang Kyai !"
Kata-kata Sandra mulai melunak, bagaimana pun dia sangat menyesal karena telah kasar pada Tantenya itu.
"Baiklah, Tante akan memikirkan saranmu, hanya saja besok Kia Ageng akan kesini lagi untuk melihat perkembangan dirumah ini !"
"Sudahlah, biarkan saja Tante, bilang saja sama Dukun itu, kalau rumah ini semakin banyak gangguan setelah Tante menyalakan dupa disini !"
Terdengar suara derap kaki orang berlari dari luar rumah, tanpa menunggu lama pintu pun dibuka oleh seseorang. Bik Sri datang sambil membawa dupa yang sudah Sandra buang sebelumnya.
"Nyonya, beruntung dupa nya ketemu, gara-gara Non Sandra membuangnya !"
Ucap Bik Sri, nafasnya terlihat ngos-ngosan, dan keringat mengalir dari dahinnya.
"Biar sudah Bik, dibuang saja yang jauh, jangan dibawa masuk lagi didalam rumah !"
Ucap Mama Andin, nampaknya dia takut membayangkan para makhluk halus mengerumuni dupa itu, seperti yang Sandra ceritakan barusan, bagaimanapun Mama Andin percaya pada keponakannya itu, karena dia tau bahwa Sandra indigo dan dia yakin Sandra tidak akan bohong kepadanya.
"Lah ! Tapi Nyonya, bagaimana kalau besok Ki Ageng datang ?"
__ADS_1
"Biarkan saja, kita katakan sama dia, bahwa kita sudah tidak memerlukan bantuannya lagi !"
Terlihat wajah kecewa Bik Sri, karena bagaimanapun dia yang telah mengundang Ki Ageng untuk datang kerumah ini.
"Tapi Nya ! Saya takut kena marah sama Ki Ageng !"
"Tidak usah takut lah Bik, Bibik kan kerja sama saya, bukan sama Ki Ageng !"
Terlihat Mama Andin sedikit frustasi menghadapi asistennya itu.
Akhirnya Bik Sri pun menuruti perintah majikannya itu untuk membuang dupa-dupa dari Ki Ageng.
Tak lama kemudian Andin datang bersama Fandi, nampak wajah Fandi terlihat berbinar.
"Assalamualaikum !"
Ucap Andin, wajahnya terlihat semringah, melihat kedatangan Sandra, perut Andin kini sedikit membuncit, karena usia kandungannya sudah berjalan enam bulan.
"Walikum salam !"
Ucap Sandra dan Mama Andin secara bersamaan.
Andin dan Fandi pun duduk bersama di ruang tamu.
"Bagaimana terapinya Sayang ?"
Ucap Mama Andin.
"Alhamdulillah Ma, kata Dokter sudah ada perkembangan, Fandi mulai ingat sedikit demi sedikit."
"Alhamdulillah, apa kepalamu masih sakit sayang ?"
Ucap mama kepada Fandi, dia memang begitu menyayangi menantunya itu.
"Sudah enggak Ma !"
"Alhamdulillah, kamu sudah panggil Mama, biasanya Tante !"
Mama Andin begitu senang mendengarnya, namun beda dengan Sandra, Sandra melihat ada yang aneh, semenjak kedatangan Andin dan Fandi ada satu sosok perempuan cantik yang mengikuti mereka, tepatnya mengikuti Fandi, dia begitu nempel pada Fandi, bahkan dia seperti membisikkan sesuatu pada Fandi.
Sandra menatap tajam pada sosok perempuan itu, namun sosok itu seperti sedang mencibir pada Sandra.
Bersambung....
__ADS_1