
Lubang itu sekitar dua meter dalamnya, secara bergantian mereka mencangkul lubang itu, mereka dapatkan cangkul itu dari rumah pak kades
Setelah selesai mereka membuat lubang, kini tiba saatnya kembali ke rencana semula.
Riana sudah pasrah, tubuhnya lunglai, karena sebelum mereka membuat lubang, Nico kembali menggagahinya lagi, seakan tak pernah puas.
Tubuh Riana kini dibopong oleh Raka.
"Udah, lempar saja dia !"
Perintah Nico.
"Jangan, biar aku tunggu dibawah !"
Dengan segera Bayu melompat ke bawah, dan Raka pun menurunkan tubuh Riana.
Setelah meletakkan tubuh Riana ditanah Bayu hendak naik lagi namun tangannya dipegang oleh Riana, wajahnya begitu pilu, seakan mengiba dan memohon pada Bayu.
"Maafkan aku Riana !"
"Kak Fandi !"
Suaranya begitu serak dan lirih.
Bayu hanya mengangguk dan menutup matanya tak tega, Bayu pun melepas tangan Riana, namun Bayu menatap Riana kembali, dia merogoh kantong celananya, sebuah jam tangan limited edition milik Nico, Bayu letakkan di dekat Riana, Bayu sengaja mencuri jam tangan itu ketika dia mengambil pacul di rumah pak kades, dia mengambilnya di tas Nico.
"Sekali lagi maafkan aku Riana, mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantumu, aku memang pecundang, maafkan aku "
Riana hanya menatap sendu dan Bayu pun segera naik.
Nico pun segera mengembalikan gundukan tanah itu kembali ke lubang, mengubur Riana hidup- hidup disana, sedangkan Bayu dan Raka saling bersitatap, mereka sama- sama merasakan penyesalan atas perbuatan mereka.
__ADS_1
...****************...
Pagi ini para Mahasiswa itu sudah bersiap dan berkemas, mereka akan kembali pulang. Fandi terlihat murung dan tak bersemangat. Jam masih menunjukkan pukul setengah delapan. Kurang satu setengah jam lagi, batinnya, dia masih menunggu dengan harap- harap cemas, sambil terus menatap jam tangannya.
Fandi menunggu datangnya Riana, karena dia berjanji untuk memberikan keputusan itu sekarang.
Hal paling dia benci adalah menunggu, namun demi Riana dia rela melakukan itu, entah segitu cintanya dia pada Riana, hingga ia bener- benar menunggu keputusan itu.
Nico sedari tadi sedang memainkan guitar milik Raka, dia bernyanyi dengan riangnya, sedangkan Raka dan Bayu hari ini menjadi super pendiam.
Andin menghampiri Fandi yang sedari tadi terlihat gelisah.
"Hey ! kenapa lo ?"
"Nunggu Riana !"
"Owhh !"
Andin memperhatikan teman- teman yang lain, Bayu dan Raka tidak seperti biasanya.
"Kalian nih pada kenapa sih, tumben gak berisik ?"
Sedangkan Raka dan Bayu hanya tersenyum .
"Nah tuh, senyumnya aja kompak, mencurigakan !"
Mendengar itu sontak Bayu dan Raka langsung terkejut.
Sedangkan Andin pun berlalu meninggalkan mereka.
Pukul sembilan, mobil yang menjemput mereka kini sudah datang, mereka pun langsung bersiap memasukkan barang- barang mereka ke mobil hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh mobilpun sudah meraung berjalan di atas aspal, meninggalkan banyak kenangan.
__ADS_1
Fandi nampak begitu sedih, ternyata Riana tak kunjung datang, perasaan cintanya masih menggantung, entah sampai kapan dia bisa move on dari Riana, karena hatinya benar- benar sudah mati rasa tanpa Riana.
...****************...
Pagi itu Pak Rusdi membuka pintu kamar Riana, dia berharap Riana sudah mau dan bisa melupakan pemuda kota itu.
Setelah pintu dibuka ternyata kamarnya sudah kosong, Pak Rusdi benar- benar terkejut dan langsung memanggil- manggil Riana.
"Riana !!"
Pak Rusdi melihat makanan yang dia bawa kemarin masih utuh tak tersentuh, hanya airnya saja yang telah habis, pikiran Pak Samsul tambah gelisah.
Netranya melihat jendela kamar Riana yang terbuka dan nampak terali bambunya pun sudah patah dan hilang. Seketika Pak Rusdi langsung lemas, kakinya gemetar dia takut Riana nekat kabur bersama pemuda kota itu.
Pak Rusdi langsung bergegas kerumah Pak Kades untuk mendatangi pemuda kota itu, bahkan kalau perlu dia akan membuat perhitungan padanya.
Sesampainya di rumah Pak Kades dia langsung disambut oleh Pak Kades.
"Assalamualaikum, Pak Kades !"
"Wa' alaikum salam, Pak Rusdi, ada apa ?"
"Saya mau bertemu mahasiswa bernama Fandi pak !"
"Ada apa pak ? Mereka sudah pulang barusan ini !"
Pak kades sedikit bingung karena tiba- tiba Pak Rusdi ingin bertemu Fandi.
Pak Rusdi pun semakin lemas dan bahkan tak bisa menyangga tubuhnya sendiri, hingga dia langsung terduduk di tanah membuat Pak Kades langsung terkejut dan memapah Pak Rusdi agar duduk disebuah kursi.
Pak Rusdi mengira bahwa Riana sudah ikut mereka untuk pergi ke kota.
__ADS_1
Bersambung....