Mengantar Riana

Mengantar Riana
Bab 50


__ADS_3

Kedatangan Ki Ageng yang tiba-tiba itu sungguh membuat Mama terkejut.


"Ki Ageng, silakan masuk Ki !"


Seru Mama, semua yang ada di ruang tamu itu kini menatap Ki Ageng yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kedatangan saya kemari, saya hanya akan memberikan ini kepada Ibu !"


Ki Ageng dengan wajah datar tanpa menoleh kepada yang lain dia memberikan sebuah kotak kecil kepada Mama, dan mama dengan ragu mengambilnya.


"Pakailah benda ini sebagai sabuk untuk Ibu, sebagai pegangan, Dan ingat ! Tetap bakar dupa di sekeliling rumah ini, karena demi keselamatan kalian !"


Setelah mengatakan hal itu Ki Ageng pun pamit pulang, nampak wajah Ki Ageng menampakkan raut tak suka melihat ada Gus Husein dirumah Andin, Gus Husein menyadari hal itu, namun dia tetap tak menghiraukan tatapan dari Ki Ageng.


Setelah kepergian Ki Ageng, Mama pun membuka kotak pemberian Ki Ageng. Isinya sungguh mengejutkan, sebuah sabuk kain berwarna hijau, dan ada sebuah lipatan kecil yang kemudian dijahit dan ada sesuatu didalamnya entah apa.


Semua yang ada diruang tamu itu nampak terkejut, hanya Gus Husein yang sudah mengira dan dia nampak biasa saja. Kerena penasaran mama akan membuka lipatan yang dijahit itu, namun Bik Sri datang membawa minuman yang kemudian mencegah Mama untuk membukanya.


"Eh Nyonya, jangan dibuka, itu kalau dibuka akan hilang manfaatnya !"


Ujar Bik Sri.


"Tau aja kamu Bik, emang apa ini isinya ?"


"Itu pasti berisi kertas dengan tulisan arab, dan hizib-hizib, ini bisa menjadi jimat pegangan untuk Nyonya !"


"Oh gitu ya Bik !"

__ADS_1


Dengan polosnya Mama begitu percaya dengan omongan Bik Sri.


"Sebelumnya, maaf jika saya ikut campur tapi Sebaiknya jangan dipakai benda itu, Bu !" ucap Gus Husein.


"Kenapa Nak ?"


"Karena dalam islam segala yang disebut jimat itu syirik Bu !"


Mama sangat terkejut mendengarnya. Sedangkan Bik Sri terlihat tidak suka. Mama pun meletakkan sabuk itu agak menjauh darinya, melihat hal itu Bik Sri mengambil sabuk itu dan menyimpannya dibalik bajunya.


"Kalau Nyonya nggak mau pake sabuk ini, ya sudah biar saya saja yang make !"


Bik Sri pun pergi sambil melengos pada Gus Husein. Gus Husein merasa ada hal aneh yang ada pada Bik Sri.


"Bik Sri kenapa sih aneh banget ?"


"Ya sudah Tante, gimana kalau sekarang kita mulai saja ruqyahnya ya !" ucap Sandra sambil memberi kode pada Gus Husein agar memulai untuk meruqyah.


Gus Husein pun memulai meruqyah rumah agar bersih dari para makhluk halus yang masih berkeliaran, mulanya ia meminta segelas air, lalu ia mulai membaca ayat-ayat al-qur'an kemudian ia tuangkan air tersebut kedalam sebuah botol parfum yang ada semprotannya, kemudian Gus Husein pun menyemprotkan air itu ke seluruh rumah.


Sandra begitu takjub melihat para makhluk halus itupun nampak ketakutkan dan terlihat menjauh dari semprotan air-air itu. Ada yang teriak-teriak ada yang lari tunggang langgang dan ada yang terbang kesana-kemari.


Wanita besar dengan rambut menjuntai itupun mulai menampakkan reaksinya, nampaknya ia sedikit terganggu dengan semprotan-semprotan air itu. Ia mulai turun dari atas balkon dan hendak menyakiti Gus Husein, dan Gus Husein menyadari itu, sepertinya wanita besar berambut panjang itu adalah pimpinan dari semua makhluk halus yang ada disini. Gus Husein meminta kepada semua orang yang ada disini untuk membaca sholawat dengan khusuk agar tak terjadi hal-hal yang diinginkan.


Gus husein sendiri, ia mulai membaca ayat-ayat ruqyah dengan khusuk. Lantunan surat al-baqoroh menggema ke seluruh penjuru rumah. Mama Andin pun mulai bereaksi, dia mulai merasa tengkuknya berat dan sedikit mual, Sandra yang memahami reaksi tersebut mulai memijit-mijit leher belakang Mama Andin, dia terus menuntun Tantenya itu untuk membaca istigfhar dan sholawat.


Hingga suara jeritan terdengar nyaring di telinga Gus Husein, ternyata begitu banyaknya para makhluk halus yang ada dirumah Andin, mereka seperti lebah yang keluar dari sarangnya, terbang kesana kemari hingga menciptakan suara dengungan mengerikan. Hanya Sandra yang bisa melihat dan mendengar apa yang Gus Husein lihat dan dengarkan.

__ADS_1


Tiba-tiba suara teriakan dari arah dapur membuat terkejut semua orang. Dan Bik Tirah yang sedari tadi berada di dapur bersama Bik Sri tiba-tiba lari ketakutan sambil menutup telinganya.


"Nyonya !!" Bik Tirah lari hingga ke ruang tamu, tak ayal membuat semua yang ada di ruang tamu seketika terkejut dan ketakutan. Hanya Gus Husein yang masih khusuk dengan bacaan ayat-ayat al-qur'annya.


"Ada apa Bik ?" spontan yang ada diruang tamu itupun histeris melihat Bik Tirah yang lari ketakutan itu.


"Sri !" ucap Bik Tirah , nafasnya nampak memburu dan tersengal-sengal.


"Ada apa dengan dia ?" Mama yang semula lemas karena pusing dan mual seakan langsung sadar kembali karena saking terkejutnya melihat Bik Tirah yang ketakutan itu.


"Sri Kesu..." belum selesai Bik Tirah menjelaskan, tiba-tiba dari arah dapur Bik Sri datang dengan penampilan yang acak-acakan, rambutnya yang panjang ia gerai dan sebagian menutupi mukanya hingga hanya terlihat mata sebelahnya dan seperti hantu. Dan di tangannya memegang sebuah pisau dapur, dia mulai nyeracau tidak jelas yang membuat bulu kuduk siapa saja yang mendengarnya menjadi merinding.


Semua yang ada di ruang tamu itupun berteriak ketakutan melihat Bik Sri yang seperti hantu menakutkan itu.


"Hentikan !!!" teriak Bik Sri sambil mengacungkan pisau dapur itu, siapa pun yang melihat ini memang sungguh mengerikan dan berpotensi membahayakan.


"Kalian manusia-manusia k3paratt !!!"


Bik Sri berteriak dan memainkan pisau itu. Tiba-tiba pisau itupun Bik Sri tancap-tancapkan ke perutnya sendiri membuat semua orang langsung berteriak histeris, namun anehnya perut Bik Sri tidak terluka sama sekali, dan yang lebih ngeri Bik Sri mengiris lidahnya dengan pisau itu.


"Jangan Bik !!!!" teriak Mama dan Andin secara bersamaan, sedangkan Bik Sri hanya tertawa karena pisau itu sama sekali tak melukai dirinya.


Gus Husein masih fokus meneruskan bacaan ayat-ayat al-qur'annya. Bik Sri yang melihat hal itu ingin menyakiti Gus Husein dengan pisau yang ia pegang membuat Sandra histeris karena tak ingin Gus Husein terluka, dan seketika seorang santri yang ikut dengan Gus Husei tadi, dia langsung bertindak, dengan menyergap tubuh Bik Sri dari belakang, dia menahan tubuh Bik Sri yang berontak dengan kuatnya itu, namun dia bisa mengunci tubuh Bik Sri dan bisa merampas pisau dari tangannya, kemudian ia lempar dengan jauh pisau itu.


Bik Sri masih berteriak-teriak tak karuan, hingga membuat suasana disana menjadi semakin kacau.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2