
Hari demi hari Fandi semakin dekat dengan Riana, bahkan selalu menemui Riana ketika ada kesempatan, walau Andin sudah bisa menerima hal itu, namun dihati kecil Andin masih merasa berat menjalani hari dimana selalu melihat kedekatan Fandi dan Riana. Hal itu membuat Nico semakin getol untuk mendekati Andin lagi, ia berusaha untuk selalu memberikan perhatian kepada Andin.
"Gue lihat sekarang lo udah berubah, gak cemburu lagi ?"
Ujar Nico sedikit mencibir saat mereka sedang memetik kopi dikebun Pak Kades.
"Gak ada yang berubah dari gue, hati gue masih sama seperti dulu."
"Segitu bucinnya lo sama Fandi, ck ck !"
Andin masih diam, tak menanggapi ucapan Nico, sebenarnya Andin risih jika Nico mendekatinya, dia gak suka sama sikap Nico yang cenderung memandang remeh terhadap orang lain hanya karena dia anak orang kaya, bahkan terkesan sombong, beda dengan Fandi, meskipun dia anak orang kaya tapi gak pernah sekalipun dia bersikap merendahkan orang lain, dia membaur berteman dengan siapa saja, ke kampus hanya naik motor beda dengan Nico yang naik mobil, itu yang selalu membuat Andin menyukainya bahkan bucin sama Fandi, walau awalnya Fandi selalu cuek, tapi sekarang Fandi sudah mulai membuka hatinya meskipun hanya sebatas sahabat.
"Din , lo mau gak terima gue ? Gue janji akan ngebahagiain lo, lebih dari Fandi !"
"Sory Nic gue gak bisa "
Sikap Andin masih dingin dan terkesan mengabaikan Nico.
"Kenapa, jangan bilang lo masih cinta sama Fandi meskipun..."
"Please... Berhenti deketin gue !"
Belum selesai Nico melanjutkan kata- katanya Andin sudah memotong.
"'Gue kurang apa sama lo sih Din ?"
"Lo gak kurang apa- apa kok, gue aja yang kurang sreg sama lo !"
Ujar Andin dan berlalu meninggalkan Nico, spontan saja Nico langsung marah dan memaki Andin yang sudah pergi berlalu tanpa perduli.
"Anj1N6... !!!!"
'Ini semua gara- gara Fandi, dia selalu unggul dari gue, awas aja, gue bakal balas lo, lo harus ngerasain apa yang gue rasain'
...***********...
Tak terasa masa KKN kini sudah kurang tiga hari lagi, semua program yang mereka buat di Desa Dukuhsari ini sudah mulai berjalan dan beberapa masih dalam proses pembangunan, tapi dipastikan akan terselesaikan dalam waktu dekat ini.
Dua sejoli yang kini sedang dimabuk cinta tengah berada di sungai desa sambil menikmati sore dia adalah Fandi dan Riana, keduanya memang selalu menghabiskan sore di sungai desa. Walau tak pernah ada kata cinta yang terucap dari Fandi maupun Riana, namun sikap mereka selalu mewakili perasaan itu dengan selalu memberi perhatian satu sama lain.
"Riana !"
Kata Fandi, saat ini dia sedang tidur dipangkuan Riana.
"Hmmm !!"
"Aku akan pulang tiga hari lagi."
Riana terkejut, begitu cepat rasanya, selama ini dia begitu bahagia bisa dekat dengan pujaan hatinya itu, namun ada hal yang membuatnya takut, dikala rasa cinta yang terus berkembang namun perpisahan harus terjadi, dan rasa cinta itu harus dia pendam entah sampai kapan, walau Riana tak berharap ataupun menuntut lebih dari Fandi, namun cinta yang tumbuh dihatinya tak bisa dia bohongi, dia memang benar- benar telah jatuh hati pada Fandi, walau Fandi tak pernah mengungkapkan kata- kata cinta, tapi sikap Fandi yang penuh perhatian terhadapnya benar- benar membuat Riana bahagia.
Riana kini gelisah dan murung mengingat Fandi yang akan kembali pulang, yang entah sampai kapan dia bisa bertemu lagi dengannya.
__ADS_1
"Kenapa ?"
Tanya Fandi, seakan dia tau apa yang Riana rasakan dihatinya.
"Gak apa- apa !"
Riana mencoba menutupi kegelisahannya dengan senyuman.
"Jangan bohong !"
"Siapa juga yang bohong, ihh.. Kak Fandi ini !"
Riana masih mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Riana !"
"Iya kak !"
"Aku mencintaimu !"
Spontan kata itupun bisa terlontar dari mulut Fandi, dan sungguh mengejutkan buat Riana, dia bingung bagaimana akan mengungkapkan kegelisahan hatinya.
Cukup lama tak ada yang memulai pembicaraan lagi, hingga Fandi bangun dari pangkuan Riana.
"Riana, maukah kamu menungguku ?"
"Menunggu apa ?"
Bagaikan angin sejuk menerpa hatinya, Riana sungguh bahagia mendengarnya, tapi apa jaminan selama dia menunggu, apakah Fandi bisa menjamin bahwa dia juga akan selalu setia menjaga hatinya selama jauh darinya, itu yang membuat Riana ragu.
"Entahlah kak, aku masih ragu !"
"Apa yang kamu ragukan ?"
"Kita akan jauh, dan aku tak tau sampai kapan kita akan berpisah !"
"Kamu cukup percaya sama aku !"
"Itu tidak cukup kak !"
"Lalu ?"
"Entahlah, sampai kapan aku bisa bertahan memendam rindu untuk....
Belum selesai Riana meneruskan kata- katanya Fandi sudah menutup mulut Riana dengan bibirnya, walau awalnya dia terkejut namun lambat laun Riana menikmati sentuhan lembut dari bibir Fandi, bermain lidah hingga gigi mereka beradu, cukup lama hal itu berlangsung hingga mereka tak sadar ada seseorang yang tanpa sengaja melihat mereka.
Andin yang awalnya ingin mencuci pakaian di sungai malah mendapati sebuah pemandangan yang tak terduga, bahkan membuat hatinya hancur berkeping- keping, dia kini memilih membuang muka karena tak kuat melihat adegan itu dan memilih pergi menjauh dengan lelehan air mata yang tak bisa dibendung lagi, Andin mempercepat langkahnya hingga baju dan peralatan mandinya jatuh tercecer dia sudah tak perduli.
Fandi dan Riana masih tetap berpagut, menikmati suara lenguhan yang tak dapat Riana tahan dari mulutnya, hingga Riana kehabisan nafas merekapun melepaskan pagutan itu.
Riana langsung diam seribu bahasa, dia tak bisa menggambarkan perasaannya.
__ADS_1
"Maafkan aku Riana !"
Fandi sungguh menyesal, karena tak bisa menahan hasratnya pada Riana.
"Tidak apa- apa kak, ini pengalaman Riana pertama kali !"
Fandi sedikit mengulas senyum karena dia orang pertama yang mencium Riana.
"Apakah kamu mau menunggu ku Riana ?"
"Boleh tidak kalau Riana menjawab ketika nanti Kak Fandi mau pulang, Riana masih mau memikirkan betul- betul apa yang menjadi keputusannya nanti !"
"Itu tidak masalah, aku akan selalu menunggu kamu Riana."
"Makasih kak, karena kakak mau menunggu Riana !"
"Iya Riana, !"
Tak lama kemudian, datang seorang lelaki tua, yang ternyata adalah Bapak Riana.
"Disini kau rupanya Riana !"
Nadanya sedikit tegas dan kaku, membuat Riana langsung terkejut dan berdiri menghampiri bapaknya.
"Bapak ! Sedang apa disini ?"
"Seharusnya bapak yang tanya sama kamu, sedang apa kamu disini ?"
"Riana cuma ngobrol kok sama kak Fandi disini pak !"
"Ayo pulang cepat, sudah jam berapa ini, sudah mau magrib !"
"Iya pak, Riana pulang !"
Ujar Riana, Riana begitu menghormati dan segan kepada bapaknaya.
"Kak Fandi, Riana pulang dulu ya !"
Ucap Riana dan Fandi pun hanya tersenyum padanya. Spontan Bapak Riana langsung menarik tangan Riana dengan kasar.
"Ayo pulang !"
Tidak ada pilihan lain selain menuruti perintah bapaknya, walau ada rasa tak enak hati pada Fandi karena bapaknya begitu menampakkan bahwa dia tak menyukai pemuda bernama bernama Fandi itu.
Tampak dari jauh seseorang menyeringai dengan begitu puasnya melihat adegan barusan, dia telah berhasil membuat citra Fandi buruk didepan bapak Riana.
Bersambung...
Jangan lupa like comennya ya sahabat Dita Feryza, semoga kalian selalu sehat dan bahagia, Love you semua😍
Salam manis dari aku😘😘
__ADS_1