
Sampai dirumah, Pak Rusdi marah besar kepada Riana, dia tak bisa terima jika anak semata wayangnya itu dekat dengan pemuda kota itu.
"Bapak tidak suka kamu dekat dengan dia !"
Suara Pak Rusdi begitu lantang, Riana hanya tertunduk, tak berani mengangkat wajahnya.
"Mulai sekarang kamu tidak boleh bertemu dengan dia lagi"
"Jangan Pak, Kak Fandi nggak salah apa- apa, kenapa bapak nggak bolehin Riana bertemu sama Kak Fandi ?"
"Mulai kapan kamu berani menentang omongan bapak ?"
Pak Rusdi benar- benar tidak bisa menahan amarah lagi hingga dia menggebrak meja dan Riana pun langsung memekik kaget.
...****************...
Nico sedang duduk di sebuah posko yang ada di sebuah kebun sengon milik warga, dia ditemani Raka yang sedang bernyanyi sambil memainkan sebuah guitar plong yang dia bawa dari rumahnya, suaranya memang tak yahud- yahud amat tapi cukup bisa membuat rilexs pikirannya, seakan bisa meluapakan segala isi hati melalui lirik demi lirik yang ia nyanyikan.
Nico sedari tadi hanya tersenyum- senyum, bukan karena mendengar suara Raka yang sedang menyanyi, ataupun karena menikmati lagu yang Raka nyanyikan, tapi pikirannya kini sedang menerawang sesuatu, yang entah apa itu, sejurus kemudian Nico tiba- tiba tertawa, Raka yang sedang bersenandung pun langsung berhenti karena terkejut mendengar Nico tertawa tanpa sebab.
"Apaan sih ! Udah gila lo ya ?"
"Lo tuh yang gila, enak aja !"
"Abisnya, tiba- tiba lo ketawa, gak ada angin atau hujan juga !"
"Eh... Gue punya Rencana besar, gue yakin lo suka !"
"Apa'an emang ?"
Nico celingak- celinguk takut ada orang disekitar mereka, dan akhirnya Nico membisikkan sesuatu ditelinga Raka.
"Busyett ! Gila lo ya ?"
Spontan Raka langsung memekik, membuat Nico langsung menutup mulut Raka sambil mendelik.
"Bisa gak sih lo jangan kenceng- kenceng ngomongnya ?"
"Abisnya lo gila sih !"
"Emangnya lo gak tergila- gila juga ?"
"Ya gue suka sih sama dia, tapi gak sejauh itu juga kan harus bertindak ?"
"Aduhhh kapan lagi coba, bentar lagi kita sudah pergi dari desa ini, setelah kita pulang aku jamin urusan ini akan selesai !"
Nico begitu meyakinkan Raka dengan rencananya.
Secara pribadi Raka termasuk mahasiswa yang nakal, bahkan termasuk pentolan preman dikampusnya, maklum Raka adalah korban dari orang tua yang 'Brokent Home'. Akhirnya Raka pun mau ikut kedalam rencana Nico.
"Tapi apa jaminannya ?"
"Ngapain pake jaminan segala sih, lo kan bisa enak juga nantinya !"
"Ya kalau kita ketahuan ?"
__ADS_1
"Makanya, kita lakukan malam ini, besok kita sudah pulang dari sini !"
Raka masih menimbang ucapan Nico, bagaimana pun ini termasuk kejahatan bagi Raka, karna menjurus kriminal.
"Lalu bagaimana caranya agar cewek itu bisa kita jebak ?"
"Nah itu, kita tarik Bayu juga masuk ke rencana kita !"
"Sebenernya lo tuh kenapa sih kaya dendam banget sama tuh cewek, sampe punya rencana gila kaya gini ?"
"Sebenernya gue dendam sama Fandi, bukan sama cewek kampung itu !"
"Emangnya kenapa ?"
"Udah !, lo gak perlu tau yang penting lo bisa enak- enak malam ini !"
Nico terkekeh, membuat Raka sedikit bergidik mendengarnya, dia tidak menyangka Nico bisa bertindak sejauh itu pikirannya, tapi membayangkan hal yang enak- enak itu membuat Raka pantang untuk mundur lagi.
Akhirnya mereka memanggil Bayu, dan menceritakan rencana itu.
Bayu yang dasarnya penakut sontak dia langsung menolak dengan tawaran mereka.
"Ogah gue kalau kaya begitu !"
"Goblok amat sih, masa lo gak kepengen liat tuh cewek"
Ujar Raka, Raka yang tadinya merasa ngeri dengan rencana Nico, malah ikut menggebu- gebu untuk menghasud Bayu.
"Tapi gue gak sejahat kalian juga !"
Bentak Bayu.
"Udah -udah, Bay gue ngerti sama lo, lo gak perlu ikut melakukan itu, tapi gue cuma minta tolong sama lo !"
Nico akhirnya menengahi mereka.
"Gue gak bisa tolong kalian kalau rencana kalian sejahat ini !"
"Gak, gue cuma minta tolong tunjukin rumah cewek itu ke gue !"
"Gue gak tau rumahnya !"
"Jangan bohong lo, lo kan yang waktu itu kerumah - rumah warga sama Fandi untuk mengantar undangan saat melakukan penyuluhan kita dulu !"
Nico kini mulai tidak sabar dengan Bayu.
Bayu hanya diam tak bersuara.
"Kalau lo gak mau nolong kita, jangan salahin gue kalau lo gak bakal pulang besok !"
Nico mulai mengancam, memang dasar Bayu , digertak begitu saja sudah takut, dan mau gak mau diapun ikut ke dalam rencana Nico dan Raka.
...****************...
Pagi itu Riana sudah bersiap- siap untuk ke kebun, dia sengaja berlama- lama didalam kamarnya menunggu bapaknya pergi mencari rumput, dengan begitu dia bisa keluar rumah tanpa rasa khawatir dilarang oleh bapaknya, perkara nanti bapaknya harus marah setelah dia pulang itu jadi urusan nanti, yang penting sekarang Riana bisa bertemu Fandi dan menjelaskan perasaannya yang sebenarnya.
__ADS_1
Rencana Riana hari ini, dia akan menerima cinta Fandi dan siap menunggu Fandi kembali walau apapun yang terjadi, dia yakin suatu saat nanti bapak akan luluh dengan cinta mereka dan merestui hubungan mereka.
Riana mengendap- endap, menempelkan telinganya di pintu kamarnya, sepertinya sudah sepi, Bapak sudah pergi batinnya.
Riana pun keluar dari kamar, berjalan perlahan.
"Mau kemana kamu Riana ?"
Sontak Rianapun kaget dan refleks menoleh ke belakang, ternyata bapak masih belum berangkat.
"Mau kemana kau sudah rapi begini ?"
"Ri.. Riana mau ke kebun Pak !"
Ucap Riana terbata- bata.
"Sejak kapan kamu ke kebun dengan pakaian seperti ini ?"
Bapak Riana mulai curiga, karena Riana memakai dres selutut berwarna merah jambu.
"Apa kau mau menemui pemuda kota itu, hah !!!"
Riana tak bisa menjawab pertanyaan bapaknya yang menyudutkan itu, dia benar- benar kehabisan kata- kata, mau berbohong juga percuma, bapak juga tak segampang itu percaya, akhirnya Riana memilih mengaku saja.
"Maafin Riana pak, Riana benar- benar cinta sama Kak Fandi !"
Ucapnya lirih sambil menunduk, namun bagaikan sambaran petir di telinga Pak Rusdi hingga dia sangat marah pada Riana.
"Apa kamu bilang ??!!!"
"Maafin Riana pak !"
Riana langsung bersimpuh dikaki bapaknya.
"Bangun kamu Riana, bapak tidak sudi kamu melakukan hal ini demi pemuda itu, bangun..!!"
Riana masih tetap bertahan sambil memegangi kaki bapaknya.
"Kak Fandi akan melamar Riana pak, dia sudah janji mau kembali lagi kesini !"
"Persetan..!! Segitu bodohnya kau mau dirayu olehnya, apa tidak ada pemuda lain selain dia, hah ?"
"Tapi Riana cintanya hanya sama Kak Fandi pak !"
Pak Rusdi sudah kehabisan kata- kata, dia menampar wajah Riana hingga Riana terjerembab, dan langsung menarik tangan Riana untuk masuk kekamarnya, menghempaskan tubuh Riana ke ranjang lalu kemudian mengunci pintu kamar Riana dari luar, agar Riana tidak bisa kabur lagi.
"Buka pintunya pak, Riana mohon !"
Teriak Riana sambil menggedor- gedor pintu kamarnya.
"Bapak jahat !!"
"Bapak gak sayang sama Riana !!"
Pak Rusdi hanya diam, duduk sambil menangis, menyesal karena begitu keras dia memperlakukan Riana, karena selama ini dia tidak pernah sekeras itu pada Riana, namun hanya ini yang bisa menyelamatkan putrinya dari pemuda kota itu, dia yakin pemuda bernama Fandi itu punya rencana buruk pada putrinya, karena kemarin sebelum dia menemukan Riana di sungai bersama Fandi, dia didatangi oleh pemuda bernama Nico, yang mengatakan bahwa Fandi akan menjahati Riana di sungai itu. Maka tak ayal membuat Pak Rusdi langsung marah dan melarang Riana untuk dekat- dekat dengan Fandi.
__ADS_1
Bersambung....
Like dan coment nya kakak, jangan lupa ya, biar aku tambah semangat 😘😘😘😘