Mengantar Riana

Mengantar Riana
Bab 37 Tersangka


__ADS_3

Alga baru sampai di rumah sakit, dia heran kenapa hari ini banyak polisi yang berkeliaran di area rumah sakit namun dia nampak cuek dan terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan santai. Setelah sampai di ruangan dia bekerja dia langsung disapa oleh Lina seorang suster yang kemarin menolong Sandra saat pingsan di mushola.


"Pagi Alga !"


Ucap Suster Lina dengan ramah. Alga hanya tersenyum dan langsung duduk disebuah sofa lalu dia mengambil gadgetnya yang ada di saku depan bajunya.


"By the way Lina, kenapa banyak polisi dimana-mana ?"


Alga bertanya tanpa menoleh pada Lina, tangan dan matanya masih fokus memainkan gadgetnya.


"Oh kau belum tau ya, ada berita heboh dirumah sakit !"


Lina sedikit menekan kata-katanya, Alga hanya tersenyum mendengarnya.


"Ada penemuan mayat di septiktank belakang !"


Masih ada tekanan di nada suara Lina, namun itu tak membuat Alga tersenyum lagi, bahkan langsung memucat dan berhasil membuat gadgetnya terjatuh dari tangannya karena kaget.


"Ma..Mayat !"


Suara Alga tergagap dan sedikit bergetar.


"Mayat siapa ?"


Alga mencoba bertanya walau dia sudah menduga.


"Masih belum tau, pihak kepolisian masih tak memperbolehkan orang lain masuk area pembongkaran, namun rumah sakit ini sudah di jaga ketat, sesiapapun yang sudah memasuki rumah sakit ini, tidak boleh keluar lagi, termasuk paramedis dan karyawan rumah sakit, karena ini bisa jadi sebuah kasus pembunuhan !"


Ucap Lina panjang lebar dan menggebu-gebu, sedangkan Alga langsung panas dingin dan perutnya tersa mual, kakinya bergetar, keringat dingin membasahi mukanya. Melihat hal itu Lina jadi khawatir pada Alga.


"Ga ? Lo kenapa ? Sakit ?"


Lina menghampiri Alga yang duduk di sofa, belum juga Lina sampai di sofa tempat Alga duduk namun Lina terkejut dan histeris melihat Alga yang tiba-tiba jatuh terjerembab ke depan karena pingsan.


...****************...


Pembongkaran sudah dilakukan, nampak jelas sesosok mayat yang sudah tidak utuh karena membusuk di dalam sana, semua orang yang ada disana buru-buru menutup hidungnya, ada yang memakai masker, ada pula menutup sebagian mukanya menggunakan baju mereka.


Petugas inafis turun tangan untuk mengambil mayat itu dibawah, mereka nampak membawa kantung berwarna kuning. Sementara itu polisi langsung memanggil tukang yang membuat septiktank ini untuk dimintai keterangan. Mereka diintrogasi saat itu juga, ada sekitar lima orang tukang yang diintrogasi oleh pihak kepolisian, mereka semua menyangkal bahwa mereka tidak memasukkan mayat siapapun ke dalam septiktank tersebut sebelum mengecornya, dan mereka bercerita bahwa orang yang mengecor bagian atas septiktank bukanlah mereka.


"Pagi kami datang kesini kondisi septiktank ini sudah dicor, jadi pagi itu kami hanya meneruskan dengan mengalusi bagian atasnya saja pak, kami juga tidak tau siapa yang sudah mengecor septikthank ini !"


Tutur salah satu tukang yang menjadi kepala tukang dari keempat tukang yang lain.


"Pagi itu pada hari apa dan tanggal berapa ?"


Tanya polisi yang mengintrogasi mereka dengan nada tegas.


"Pagi itu hari selasa pak, selasa minggu lalu!"


Polisi itu nampak mengetik sesuatu di gadgetnya.


Petugas inafis menemukan sebuah gadget di saku baju mayat yang langsung dimasukkan dalam kantong plastik untuk dijadikan barang bukti, kemudian nampak juga baju yang mayat itu kenakan adalah baju seorang OG dengan papan nama bertuliskan Viviana, dan dia memang karyawan di rumah sakit tersebut. Jadi untuk data diri si mayat sudah diketahui. Tinggal mengungkap siapa pelaku yang sudah membunuhnya, dan itu bukan perkara sulit bagi pihak kepolisian.

__ADS_1


Sementara itu Sandra dan Nana kini ikut menjadi saksi atas penemuan mayat itu, Sandra nampak tegar sedangkan Nana begitu tegang saat dia dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.


"Apakah sodara mengenal siapa Viviana ?"


Ucap polisi itu pada Sandra.


"Tidak pak, saya tidak mengenal, saya tidak sengaja meminta pihak rumah sakit untuk membongkar septikthank itu karena cincin saya hanyut kesana !"


Sandra nampak tenang, dalam hati dia sudah mengutuk Alga.


Sedangkan Nana diintrogasi oleh polisi lain namun masih satu ruangan dengan Sandra.


"Apakah Viviana itu teman Anda ?"


"Benar Pak, dia teman satu sif saya !"


"Kapan terakhir anda bertemu dengan sodara Viviana ?"


"Kalau tidak salah seminggu yang lalu hari senin malam selasa jam 11 dan besoknya saya sudah tidak bertemu lagi dengannya."


Suara Nana sudah mulai bergetar menahan tangis.


"Dimana kalian bertemu dan Apa yang kalian lakukan pada jam 11 malam itu ?"


Polisi itu nampak masih tegas dalam kata-katanya, tak peduli dengan Nana yang sudah mulai mengeluarkan air mata.


"Di pentry pak, Kami hanya bertemu sebentar, saya hanya mau pamit pulang dan mengambil tas saya di loker. Saya tanya dia kenapa belum pulang katanya dia masih menunggu seseorang !"


"Siapa yang dia tunggu ?"


"Kak Alga pak, dia pacar Vivi, dan setelah itu saya pamit pulang, besoknya saya sudah tak menjumpainya, dan yang membuat saya aneh memang, tas Vivi masih ada di loker !"


Pernyataan Nana itu kini membuat polisi itu manggut-manggut.


"Apa sodara mengenal Alga ?"


Masih ragu Nana untuk mengakuinya namun dia harus konsisten dengan rencana untuk menolong Vivi dan mengungkap kejahatan Alga dan akhirnya Nana pun mengangguk mantap pada polisi itu.


"Dia perawat disini pak !"


Polisi itu pun mengangguk dan merasa keterangan yang dia dapat dari Nana sudah mendapatkan titik terang dan polisi itu kini hendak menyudahi introgasinya.


"Terima kasih, karena sodara berkenan untuk kami introgasi, dan saya harap keterangan yang sodara beri adalah kejujuran dari sodara yang nantinya bisa menjadi bukti untuk mengungkap kasus ini!"


Polisi itu pun menjabat tangan Nana yang sudah dingin bagaikan es.


Nana pun menghampiri Sandra dan langsung memeluk Sandra, Nana sudah tak bisa lagi membendung tangisannya, Sandra merasakan bahwa Nana sedikit terguncang jiwanya, Sandra pun memeluk erat tubah Nana yang bergetar itu.


Setelah melakukan penyidikan pihak kepolisian pun menganalisa semua keterangan yang mereka dapat dari para tukang dan Nana. Mereka kini akan memanggil satu orang lagi, bahkan dia sebagai kunci dari kasus ini.


...****************...


Alga mengerjap-ngerjapkan matanya, ternyata dia berada disebuah ruangan rawat. Sepertinya dia berada di UGD saat ini,

__ADS_1


Dia mengumpulkan semua kesadarannya, dan dia kini mulai ingat bahwa dia tadi berada diruang kerjanya dan bertemu Suster Lina, lalu..


Alga terkejut mengingat hal itu, dia mulai bergetar lagi tubuhnya, dia tak mau ditangkap polisi dia tak mau dipenjara dia ingin kabur sekarang juga.


Alga turun dari tempat tidur dengan hati-hati, di celingak-celinguk memang sepi.


Alga ingin melangkah namun sesuatu seperti sedang menahan kakinya untuk berjalan. Alga menengok kakainya, sebuah tangan pucat sedang memegangi kaki Alga membuat Alga langsung kaget dan terpekik.


Namun setelah dilihat lagi ternyata tangan itu sudah tidak ada, Alga merasa dia sedang berhalusinasi.


Alga mulai berjalan, namun sebuah tangan menariknya dan tergulung di sebuah gorden pembatas tempat tidur, disitu Alga melihat Vivi yang menariknya, Alga berteriak kencang dia merasa sulit bernafas. Alga melihat jelas sorot mata dendam Vivi. Alga begitu ketakutan bagaikan akan dicabut nyawanya saat itu juga.


Namun sebuah tangan menepuk bahu Alga dan menyadarkan Alga yang kini ternyata masih terbaring ditempat tidur.


"Alga !"


Alga membuka matanya, nafasnya masih memburu. Dia lihat Suster Lina dan beberapa orang berseragam coklat ada sekitar lima orang.


"Alga, mereka ingin bertemu dengan mu!"


Ucap Suster Lina sambil menunjuk kelima orang berseragam coklat itu, Alga begitu shock, dan ingin kabur rasanya.


"Tidak, bukan aku yang membunuh, tidak !"


Alga memberontak saat kelima orang itu mendekatinya.


"Maaf sodara Alga, anda kami tahan atas tuduhan pembunuhan atas nama sodari Viviana, dan sekarang anda harus ikut kami kekantor untuk memberikan keterangan !"


"Tidaaaakkkk, aku bukan pembunuhnya !!!"


Alga masih berusaha memberontak walau tanganya kini sudah terborgol, dia tak mau dibawa oleh polisi itu, namun kelima polisi itupun berhasil menyeret Alga untuk ikut mereka.


Sementara itu Sandra dan Nana pun kini bisa bernafas lega, cincin berlian yang Sandra sengaja hanyutkan sudah ditemukan dan pihak rumah sakit juga sudah tidak lagi meminta uang ganti rugi untuk pembongkaran septikthank itu. Karena berkat cincin yang Sandra hanyutkan itu kini mengungkap kasus pembunuhan.


Sandra berjalan disebuah koridor, sayup-sayup terdengar suara lirih memanggilnya.


"Dokter Sandra !!"


Sandra menoleh ke sumber suara, nampak Vivi sedang berdiri di belakangnya dengan senyuman tulus.


"Terima kasih dokter !"


Setelah mengucap hal itu kini Vivi menghilang bagaikan asap yang terurai. Sandra sedikit terkejut namun dia pun melanjutkan lagi jalannya sambil tersenyum.


Bersambung...


Hay sodara-sodara !


Minal aidzin wal faidzin ya, maaf baru update lagi, 😘


Kedepannya othor usahakan akan rajin up lagi, doakan semoga tak ada halangan☺️


Aku sudah rindu komen-komen kalian 😢🤭

__ADS_1


__ADS_2