
Fandi sudah berada diruang UGD disebuah rumah sakit, dia begitu bersikukuh bahwa sebenarnya dia tidak apa-apa, ada seorang wanita yang lebih parah kondisinya daripada Fandi sendiri, namun nampaknya para suster itu masih tetap menangani Fandi dengan berlebihan seakan luka Fandi begitu parah.
"Maaf Suster kemana wanita yang tadi bersama saya, dia lebih parah lukanya daripada saya !"
Ujar Fandi, dia begitu risih saat seorang suster mengelap kepalanya dengan kapas.
"Maaf Tuan, tidak ada wanita yang bersama Tuan sebelumnya, Tuan hanya sendiri."
"Tidak mungkin, dia bahkan satu ambulance dengan saya tadi !"
Fandi masih bersikukuh, sedangkan Suster itu hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap temannya yang lain dengan muka bingung. Seorang Suster yang lain mengambil sebuah perban untuk menutup luka yang ada di dahi Fandi, dengan seketika Fandi menolak.
"Tidak perlu suster, saya tidak apa-apa sungguh !"
"Tapi Tuan luka Tuan harus ditutup dan diobati !"
"Saya tidak luka !"
"Tuan terluka, dan lukanya lumayan dalam."
Akhirnya Fandi hanya bisa diam dan pasrah saat Suster itu membalut lukanya dengan sebuah kasa.
Tak lama kemudia Andin datang dengan ditemani Mamanya, nampak wajahnya sedih dan khawatir melihat kondisi suaminya itu dengan dahi diperban.
"Sayang, bagaimana kamu bisa seperti ini ?"
Andin langsung membaur kearah Fandi, namun herannya Fandi seketika menolak pelukan darinya, Andin hanya bingung kenapa suaminya itu tidak mau dia peluk.
"Andin, sejak kapan lo manggil gue dengan sebutan 'Sayang' ?"
Ujar Fandi nampak bingung.
"Sayang, kenapa kamu bilang gitu, aku ini istrimu !"
Seketika raut wajah Andin nampak sedih. Mendengar itu sontak Fandi tertawa.
"Apa-apaan sih lo, jangan bercanda deh !"
Andin pun langsung menangis karena Fandi tak mau mengakui siapa dirinya.
"Suster, ada apa sebenarnya dengan suami saya, mengapa dia tak mengenali saya ?"
Ucap Andin sambil menangis tergugu.
"Sabar Andin !"
Ucap Mamanya sambil memeluk putrinya itu.
"Bagaimana Andin bisa sabar melihat kondisi Fandi seperti ini Ma !"
"Sepertinya Tuan Fandi ini mengalami amnnesia Nyonya, akibat benturan dikepalanya ini !"
Ucap Suster itu dengan nada sopan, wajahnya cukup manis dengan papan nama bertuliskan Raisha didadanya.
"Lalu bagaimana ini suster, bagaimana caranya agar suami saya ini bisa ingat kembali ?"
__ADS_1
"Kami akan memeriksa lebih lanjut lagi keadaan Tuan Fandi, jadi Nyonya sabar dulu menunggu hasil dari pemeriksaan lanjutan dan hasil rontgennya !"
Andin hanya mengangguk pasrah mendengar penjelasan dari suster cantik itu.
"Transient Global Amnesia"
Itu hasil dari analisis Dokter yang menangani Fandi, yang membuat Andin bingung karena dia tak paham penyakit apa itu.
"Penyakit apa itu Dokter ?"
"Suatu penyakit hilangnya memeory ingatan !"
"Jadi suami saya hilang ingatan ?"
"Iya, tapi tak semua memory ingatannya hilang, karena Transient global amnesia ini adalah hilangnya suatu memory ingatan tertentu secara total, walaupun kejadiannya baru dia alami, Amnesia jenis ini disebabkan karena adanya cedera yang berhubungan dengan kepala akibat terlalu sering melakukan aktivitas yang berat, ditambah lagi dengan adanya benturan !"
Andin mengangguk-angguk.
"Suami saya ingat siapa nama saya, tapi dia lupa bahwa saya adalah istrinya."
Ucap Andin sedikit murung.
"Iya, karena ingatannya berada di masa lalu dan dia kehilangan memorynya dimasa sekarang !"
"Lalu saya harus bagaimana Dok ?"
"Nyonya harus sabar, buat Tuan Fandi ingat dengan masa sekarang secara perlahan, jangan dipaksa, kalau bisa bawa dia ditempat-tempat yang pernah Nyonya datangi bersama suami Nyonya !"
"Apa tak ada obatnya Dok ?"
Andin merasa cemas karena kondisi Fandi.
Ucap Dokter itu menjelaskan secara panjang lebar.
"Berapa lama kira-kira suami saya bisa sembuh total Dok ?"
Andin masih harap-harap cemas.
"Amnesia biasanya sembuh setelah enam hingga sembilan bulan !"
"Selama itu Dok ?"
"Nyonya harus sabar, jika obat yang saya resepkan diminum secara teratur dan dipastikan Tuan Fandi selalu mengikuti terapi, mungkin tak sampai enam bulan Tuan Fandi bisa sembuh secara total."
Ucapan Dokter itu memberikan sebuah harapan pada Andin.
"Baik Dok, saya akan berusaha melakukan semua yang Dokter sarankan."
Hari-hari berikutnya, adalah hari yang sangat berat bagi Andin, bagaimana tidak, Fandi sama sekali tak mengingat dia pernah menikah dengan Andin, walaupun Andin telah menunjukkan foto pernikahan mereka tapi Fandi masih bersikukuh dia tak mengingatnya.
Fandi hanya ingat bahwa dia dan Andin adalah sahabat. Dan yang membuat perasaan Andin hancur adalah ketika Fandi mengatakan bahwa dia saat ini mencintai seseorang bernama Riana, dia sedang menunggu sebuah jawaban dari perasaan cintanya pada Riana. Bahkan Fandi bertekad akan pergi ke Desa Dukuhsari untuk menemui Riana.
Andin hanya bisa bersabar, mungkin ini adalah ujian pernikahannya, dia tak boleh hancur, dia pernah di fase saat dia harus sabar menunggu cinta Fandi, walau kini keadaannya berbeda dia harus kuat demi calon buah hatinya.
"Jangan sekarang Fandi, sembuhkan dulu lukamu itu, jika kau mau menemui Riana"
__ADS_1
Ucap Andin, dia mencoba mengikuti alur dari pikiran Fandi, walau rasanya sesak didadanya.
"Baiklah, thanks ! Ya Andin, lo udah mau merawat gue, lo emang sahabat gue !"
Ucap Fandi tulus, dia memang selalu tulus dari dulu menyayangi Andin.
Setetes air bening keluar dari mata Andin, cepat-cepat Andin mengusapnya agar tak diketahui oleh Fandi.
"Yaudah, kamu istirahat dulu ya disini, aku mau keluar dulu !"
Fandi hanya mengangguk.
Keluar dari kamar Andin langsung menangis, Mamanya yang mengetahui hal itu langsung memeluk putrinya itu, sambil terus memberikan kekuatan agar selalu sabar menjalani ujian ini.
"Sabar ya Sayang, kamu harus kuat !"
"Iya Ma, Andin sabar kok, Andin hanya kasihan sama Fandi !"
Tak lama kemudia Sandra datang, dia baru mengetahui kabar Fandi yang kecelakaan di kantornya, dia berniat menjenguk suami dari sepupunya itu.
"Maaf Andin, gue baru denger kalau suami lo kecelakaan, lo yang sabar ya !"
Terdengar nada menyesal dari Sandra, dia memeluk sepupunya itu.
"Gimana keadaan suami lo sekarang, gue dengar dia amnesia karena kecelakaan itu ?"
Andin hanya mengagguk sambil meneteskan air mata, melihat itu Sandra memeluk Andin semakin erat.
Andin pun mengantarkan Sandra untuk melihat keadaan Fandi, ketika membuka pintu kamar yang ditempati Fandi, Sandra terkejut karena ada seorang wanita berada disamping Fandi yang sedang tertidur, wajahnya cukup cantik dan berambut panjang, dia menatap kearah Sandra dengan tatapan kosong, wajahnya putih pucat.
"Din..!"
Sandra menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam kamar, dia menarik tangan Andin untuk mengikuti langkahnya.
"Ada apa sih San ?"
Tanya Andin bingung melihat tingkah Sandra itu.
"Siapa wanita yang ada disamping suami mu itu ?"
"Wanita ! Wanita mana ?!"
Seketika Andin terkejut mendengar ada wanita di samping suaminya, diapun langsung membuka lagi pintu kamarnya, dan tak menemukan siapa-siapa disana kecuali suaminya yang sedang tertidur, Fandi begitu pulas tidurnya efek obat yang dia minum yang ada kandungan obat tidurnya.
"Mana San ? Gak ada wanita lain disini !"
"Beneran, gue tadi liat duduk disamping suami lo !"
Ucap Sandra wajahnya tak kalah serius.
"Lo jangan bikin gue takut deh, masa iya ada setan dikamar gue !"
Andin cemas dan sedikit takut.
"Gak, gak ! Mungkin gue halu !"
__ADS_1
Ucap Sandra, dia tak mau Andin merasa parno, namun dia sungguh melihat dengan jelas ada seorang wanita yang menemani Fandi barusan.
Bersambung....