Mengantar Riana

Mengantar Riana
Bab 24 Tagedi 1


__ADS_3

Sore itu Pak Rusdi membuka kamar Riana, dia mengantar makanan untuk Riana di kamarnya, Pak Rusdi lupa karna saking emosinya dia sampai melupakan bahwa putrinya itu belum makan dari tadi pagi.


Dilihat oleh Pak Rusdi, Riana sedang tidur dengan posisi tengkurap dikasurnya, Pak Rusdi hanya menaruh makanan yang dia bawa itu di meja dekat tempat tidurnya tanpa membangunkan Riana, dia sungguh tak akan bisa tahan jika melihat kesedihan diwajah Riana, jadi Pak Rusdi membiarkan Riana untuk tidur karena hanya itu yang membuat dia bisa tenang, daripada harus membiarkan Riana keluar rumah dan menemui pemuda kota itu. Setelah menaruh makanan Riana, Pak Rusdi keluar dan buru- buru menutup lagi pintu kamar Riana, tak lupa dia menguncinya kembali.


Riana bangun dari tidurnya, sebenarnya sedari tadi dia hanya pura- pura tertidur, dia hanya melirik makanan yang bapak bawakan untuknya tanpa memakan sesuap pun, dia begitu enggan untuk memakannya, entah mengapa, perutnya sama sekali tidak merasa lapar, yang dia pikirkan sedari tadi hanya Fandi saja, dia berharap dia bisa bertemu Fandi saat ini. Andai saja ada keajaiban, pikir Riana.


Sore seperti ini biasanya dia habiskan waktu bersama Fandi di sungai, namun kini dia harus terkurung didalam kamar dan tak bisa berbuat apa- apa, dia begitu sedih. Pasti kak Fandi sedang menunggu ku, pikirnya. Entah sudah berapa banyak air mata Riana yang keluar, gelisah karena besok Fandi sudah pulang, dan dia belum memberi keputusan atas lamaran Fandi kemarin.


'Bapak ! Kenapa kamu tega sama Riana, kenapa begitu keras hatimu ?'


Kini air matanya mulai menganak sungai lagi.


...****************...


Di sungai desa tampak Fandi tengah termenung sambil melihat teman- temannya yang sedang mandi, mereka nampaknya begitu ceria sambil saling mencipratkan air satu sama lain. Fandi begitu gelisah, karena sehari ini dia tak menjumpai pujaan hatinya, dia yakin pasti Riana tak akan diperbolehkan lagi untuk menemuinya. Fandi begitu murung, mengingat kajadian kemarin.


Bayu tiba- tiba menghampiri Fandi.


"Termenung aja sih, gak mandi lo ?"


Fandi hanya menoleh sekilas, kemudian menatap lurus lagi, matahari mulai turun dan berwarna orange kemerahan di ufuk timur.


"Kenapa lo ?"


Yang ditanya hanya menggeleng.


"Lagi galau sepertinya !"


Bayu sebenarnya merasa gelisah dan cemas, dengan rencana Nico, dia juga merasa bersalah pada Fandi, namun mengingat ancaman Nico, dia begitu takut.


Namun toh Bayu hanya akan membantu Nico untuk menunjukkan rumah Riana saja, setelah itu dia tak akan lagi membantu Nico.


Andin datang bersama Fika, Nadia dan Risa. Mereka sudah berencana akan mandi dan mencuci pakaian di sungai, karena besok mereka sudah akan kembali ke asal kota mereka masing- masing.


Melihat Fandi yang sedang termenung Andin langsung menghampiri.


"Kok gak ikut mandi ?"


"Males, kalau lo mau mandi, yasudah mandi sana !"


"Males, kalau lo mandi baru gue mau mandi juga !"


"Ngapain lo ikut- ikut gue ?"


Sedikit sinis sama Nadia.


"Bodo amat, suka- suka gue!"

__ADS_1


"Entar bau lo !"


"Kan enak jadi sama- sama bau !"


Ucap Andin sambil terkekeh.


"Ihhh... Ogah sama cewek bau !"


"Ihhh... Emang sapa juga yang mau sama cowok bau, weekkk !"


Merekapun tertawa.


Melihat pemandangan itu membuat Nico tambah benci sama Fandi, tanpa terasa dia mengepalkan tinjunya dan matanya begitu tajam memandang kearah Fandi dan Andin" yang sedang bersenda gurau itu, hanya Raka yang paham dengan tatapan Nico, Raka memang sudah diberi tahu oleh Nico, tentang dendamnya kepada Fandi, bahkan Nico membuat cerita bahwa sebenarnya Andin adalah pacarnya dulu namun karena Fandi, Andin memutuskan hubungan mereka, dan setelah mereka putus Fandi malah mencintai gadis lain yaitu Riana. 'Wauww sungguh pengarang yang hebat sepertinya Nico 👏👏'


Maka dari itu Raka akhirnya yakin untuk membantu Nico.


"Sabar coy, nanti kita enak- enak, iya nggak ?"


Mendengar itu Nico pun menyeringai, dan menatap Raka, Raka pun menimpali dengan senyuman.


...****************...


Malam harinya, Riana mencoba mengetuk - ngetuk pintu kamarnaya. Mencoba merayu lagi bapaknya agar mau membukakan pintu kamarnya. Bagaimanapun dia harus aegera bertemu Fandi, dan memberikan keputusan padanya, agar hatinya bisa tenang dan tentram kembali.


"Pak, buka pintunya, Riana mohon pak !"


"Pak..!! Riana pingin pipis pak !! Riana mohon buka pintunya !"


Namun tetap tak ada jawaban dari bapaknya.


Hingga saking kebeletnya Riana pun harus kencing di kamarnya.


"Yaaahhhhh gak tahan deh !"


Kata Riana pada diri sendiri.


Namun tiba- tiba jendela kamarnya diketuk dari luar Riana terkejut, dan membuka jendela yang berterali bambu itu.


Nampak Nico, Raca dan Bayu sedang berdiri di balik jendela. Riana tambah terkejut melihat mereka yang ada di balik jendela kamarnya, hingga tak terasa dia membuka mulutnya dan matanya sedikit melotot.


"Riana !"


Nico menyunggingkan senyumnya.


"Ada apa kakak kemari ?"


"Ada pesan dari Fandi !"

__ADS_1


Mendengar nama Fandi sontak Riana begitu bahagia dan langsung tersenyum pada mereka.


"Bisa tidak kamu ikut kami, Fandi sedang sakit !"


Riana terkejut sekaligus khawatir mendengar Fandi sakit.


"Aku tidak bisa keluar kak, bapak gak ngijinin"


Suara Riana seperti frustasi.


"Tenang saja, kami bisa bantu kamu kok !"


Kata Raka meyakinkan Riana. Sedangkan Bayu terlihat cemas.


Mendengar itu Riana begitu bahagia, karena dia bisa bertemu Fandi sebentar lagi.


"Sebentar ya kak, tunggu sini dulu, aku mau ganti baju dulu"


Sedangkan Nico hanya mengangkat jempolnya sambil tersenyum.


Riana pun berbalik dan menutup lagi jendelanya.


Riana mengganti pakaiannya, dan menyiram bekas kencing ditubuhnya dengan air minum yang tadi bapak bawakan untuknya.


Sementara itu, Nico dan Raka menahan Bayu untuk tidak pergi dari rencana ini.


"Urusan gue sudah selesai, gue undur diri sekarang !"


"Gak semudah itu Bro, lo harus ikut juga kedalam rencana ini !"


"Lo udah janji sama gue, kalau lo hanya minta tolong tunjukin rumah Riana saja, dan gue gak mau ikut- ikut setelah ini !"


"Tidak !! Gue mau lo ikut !!"


Nico mendelik pada Bayu, Nico nyaris hampir meninju Bayu yang keras kepala itu.


Namun urung kerena Riana sudah membuka jendela kamarnya, dan melihat mereka, spontan mereka pun langsung merangkul Bayu sambil tersenyum garing pada Riana. Riana yang sedikit bingung dengan tingkah mereka akhirnya tidak memperdulikan lagi, karena pikirannya hanya satu yaitu Fandi.


"Gimana caranya aku bisa keluar dari sini kak ?"


Ucap Riana karena jendela kamar Riana ada teralinya yang terbuat dari bambu, namun itu hanya perkara mudah bagi cowok- cowok didepan Riana ini, tenaga mereka cukup kuat kalau hanya menarik terali bambu itu. Dengan menarik tiga bambu saja Riana sudah bisa keluar kamar itu, karena postur tubuh Riana yang mungil tapi sexy itu. Raka yang melihat tubuh sexy Riana saat keluar dari jendela langsung otaknya traveling kemana- mana.


Akhirnya Riana pun pergi bersama ketiga cowok itu, dia benar- benar tidak merasa curiga sama sekali dengan ajakan mereka, yang dia pikirkan saat ini hanya Fandi, dan bahagia rasanya bisa bertemu dia saat ini.


Bersambung....


Yukk langsung di like, dan kasi coment cinta...😘

__ADS_1


Kasi giftnya juga 🙃🙃🙃


__ADS_2