
"Maafkan aku Andin, aku tak bisa membohongi perasaan ku sendiri, aku tak bisa berpura-pura lagi, aku menyayangimu, namun aku tak bisa mencintaimu !"
Ucap Fandi, wajahnya nampak acuh, entah kemana rasa cinta yang dulu, kemana wajah hangat yang selalu memancarkan rasa cinta yang menggebu, mengapa kini wajahnya nampak dingin.
Andin tak bisa menahan lelehan air mata yang kini membasahi pipinya, suara tangisan kini tak bisa ditahan, Andin kini menangis tergugu dalam kesendirian, ia memacu kendaraannya dalam kecepatan lumayan tinggi, dia sudah tak perduli dengan keselamatannya, perasaan sedihnya telah menggelapkan matanya, namun suara klakson mengagetkannya, sebuah truk besar mengerem mendadak hingga terdengar suara decitan keras, hampir saja sebuah truk menabrak mobilnya.
Andin baru sadar bahwa dirinya kini berada di jalur kanan, suara makian dari sopir truk tak Andin gubris, Andin membelokkan mobilnya kejalur kiri dan menjalankan lagi mobilnya dengan kecepatan sedang, perutnya yang buncit kini terasa berkedut seperti ada sesuatu yang bergerak.
Andin pun memelankan laju mobilnya, karena gerakan itu seakan menendang dengan kuat. Andin baru sadar, bahwa ada yang harus dia perjuangkan selain cinta Fandi yang kini hilang entah kemana, ada yang harus dia jaga yaitu buah cinta yang kini berada dalam perutnya.
Andin pun beristigfar berkali-kali, hanya karena cinta Fandi dia sampai melupakan bayi yang dia kandung.
'Maafin Mama sayang, Mama akan berjuang demi kamu, Mama nggak akan menyerah dan putus asa, Mama akan kuat demi kamu'
Batin Andin, dia pun kini mulai mengemudikan mobilnya kembali, hingga diapun sampai dan membelokkan mobilnya di sebuah apartement elite.
Andin mencari sebuah benda pipih dalam tasnya, setelah menemukannya diapun langsung menelephon seseorang yang tinggal di apartement itu.
Sekitar lima menit Andin menunggu, seseorang itu kini datang, berjalan dan langsung menuju ke mobil Andin.
Sandra mengetuk kaca mobil Andin yang kemudian Andin pun menurunkan kacanya.
"Kenapa mendadak begini sih ?"
Sandra mulai ingin protes karena Andin nggak ngabari dulu kalau mau ke apartementnya, namun melihat mata Andin yang sembab Sandra pun sadar bahwa ada sesuatu yang menyebabkan Andin datang ke apartementnya.
Sandra pun masuk ke mobil Andin dan mengarahkan Andin untuk parkir di basement. Kira-kira sepuluh menit mereka pun tiba di apartement yang Sandra tempati.
"Ada apa Din, kenapa lo mendadak banget tiba-tiba dah sampe sini ? Bukan karena apa sih, lo gak biasanya aja kaya gini !"
Ucap Sandra, tangannya sibuk meracik teh.
"Sory ! Habisnya gue dah gak tau mau kemana lagi, pikiran gue dah buntu !"
__ADS_1
Terdengar nada frustasi, Andin kini merebahkan dirinya di sofa empuk milik Sandra, perutnya sedikit kram karena rasa stres yang berlebihan.
"Ada apa ? Bukannya kemarin Fandi sudah ada kemajuan ?"
Sandra berjalan menghampiri Andin sambil membawa secangkir teh, lalu meletakkan cangkir itu di meja depan Andin, dia pun duduk di sofa panjang disebelah Andin.
"Kalau capek kakinya jangan ditekuk, selonjorin aja biar kakinya nggak bengkak !"
Andinpun menuruti perintah Sandra untuk selonjoran.
"Sebenarnya ada apa ? Cerita aja sama gue !"
"Gue gak paham sama Fandi, dia seperti memiliki dua kepribadian San !"
"Maksud lo ?"
"Iya, dia emang dah sembuh, didepan Mama dia layaknya seperti menantu, tetapi didepan gue dia gak seperti seorang suami, dia begitu dingin sama gue, bahkan yang lebih parah tadi dia bilang ke gue dia dah gak bisa berpura-pura lagi mencintai gue !"
Andin sudah tidak bisa menahan tangisannya yang tiba-tiba pecah, Sandra yang mendengar semua itu lantas memeluk Andin dan menguatkannya.
Andin hanya bisa mengangguk pasrah.
"Lalu bagaimana keadaan rumah lo sekarang ?"
"Mama sudah terpengaruh sama Ki Ageng, dia mulai suka menyalakan dupa-dupa lagi dirumah, karena dia menganggap kesembuhan Fandi karena dupa-dupa yang ada dirumah, sumpah ! Gue udah gak tahan banget berada dirumah, San !"
Andin masih menangis dalam pelukan Sandra, Sandra merasa Andin benar-benar terguncang, terlihat badannya saat ini bergetar hebat saat sedang menangis.
"Sebenarnya gue mau ngomong sesuatu sama lo waktu itu, tapi urung karena gue lihat sepertinya Fandi sudah mulai baikan !"
"Ngomong apa San ?"
"Sebenarnya gue nggak berharap lo mau percaya apa tidak, tapi ini harus gue sampaikan !"
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa Sandra ?" Andin benar-benar sudah tidak sabar.
"Sebenarnya gue lihat ada seorang wanita yang mengikuti Fandi !"
"Maksud lo ?" Andin nampak kaget mendengar perkataan Sandra.
"Iya, tapi dia wanita dari dunia lain, tak kasat mata !" Terdengar suara ******* panjang dari Andin.
"Gue sudah menduga, dia pasti Riana, karena Ki Ageng juga mengatakan hal itu !"
"Aduhh ! Pleace deh, jangan percaya sama Dukun itu, nggak ada orang mati yang arwahnya gentayangan, mereka itu hanya jin qorin !"
"Tapi kenapa Ki Ageng bisa tau Riana ?"
"Emangnya siapa sih Riana itu ?"
"Dia masa lalu Fandi !"
Suara Andin seperti bergetar kala menyebut masa lalu Fandi itu, masa lalu yang cukup membuat hati Andin remuk kala itu, yang cukup menguras kesabaran cinta Andin, namun bisa membuat Andin kuat dan tegar mempertahankan kesetiaan hatinya, kini masa lalu itu hadir kembali, dan menjadi duri dalam rumah tangganya bersama Fandi, dulu mungkin Andin bisa sabar menghadapi segala rintangan dalam mendapatkan cinta Fandi, namun kini setelah dia dapat bersatu dengan Fandi, rintangan itu kembali hadir dalam bentuk berbeda, entah Andin bisa sekuat dulu atau malah dia akan berhenti sampai disini dalam memperjuangkan cintanya.
Sandra yang mendengar cerita Andin begitu miris dan sesekali dia beristigfar, dia tak menyangka serumit itu perjalanan cinta Andin, dan dia tak menyangka tentang kasus pembunuhan Riana yang dilakukan oleh sahabat Fandi sendiri.
"Gue bener-bener gak nyangka Din, ternyata ada kisah pilu dibalik cinta lo dan Fandi !"
"Gue harus gimana San ? Apa gue harus merasakan hal yang sama saat gue mempertahankan cinta gue meski Fandi selalu acuh ke gue, Gue takut gak sekuat dulu !" Andin menangis lagi dalam pelukan Sandra.
"Siapa bilang lo gak kuat, lo sekarang lebih kuat dari dulu, lo berjuang bersama dia !"
Sandra mengelus perut buncit Andin.
"Bayi lo ini yang akan menjadi penguat lo, gue yakin, dia pasti ingin mama sama papanya bersatu, lo harus berjuang demi dia, lo gak boleh kalah sama Jin jahat itu !"
Mendengar itu Andin seperti mendapatkan kekuatan yang berlimpah, benar kata Sandra, dia harus kuat menghadapi semua ujian ini, demi bayi mungil yang ada dalam perutnya kini, dia yang berhak atas Fandi, karena dia istrinya, Andin bertekad akan terus berjuang hingga bayinya lahir kedunia.
__ADS_1
Bersambung.......