
Akhir-akhir ini Andin merasa sering pusing dan mual, maklum usia kehamilan Andin masih trimester pertama dan seharusnya seorang suami harus selalu memberi perhatian untuk istrinya, namun karena keadaan Andin harus menerima kenyataan bahwa dirinya memeliki suami namun serasa tak memeilikinya, Andin sudah ikhlas dan berusaha kuat menjalaninya sendiri, selain itu ada Mama, Sandra dan semua anggota keluarga yang lain yang selalu ada untuk mendukungnya dan yang pasti menyayanginya, Andin hanya memmiliki orang tua tunggal, Papa Andin sudah meninggal dulu saat Andin masih kuliyah.
Andin baru selesai memberikan obat kepada Fandi dan Fandi pun sudah mulai tertidur, dalam hati Andin begitu kasihan pada Fandi karena kini dia harus selalu rutin meminum obat anti depresan yang di resepkan Dokter, karena kalau tidak Fandi akan merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya, walau Fandi sudah rutin melakukan terapi namun masih belum ada perkembangan tentang daya ingatan Fandi, Fandi masih merasa dirinya hidup pada sepuluh tahun lalu saat masa kuliyah. Orang tua Fandi juga sudah beberapa kali mengunjungi mereka, namun karena mereka tinggal diluar kota yang cukup jauh, jadi mereka tak bisa ikut merawat Fandi, pernah dulu waktu Fandi pertama terkena musibah, orang tua Fandi ingin membawa Fandi, merawat Fandi di rumah mereka namun Andin tak setuju, karena bagaimana pun merawat Fandi adalah kewajibannya sebagai istrinya.
Fandi sudah tertidur setelah meminum obatnya. Andin pun melaksanakan sholat isya' dikamarnya. Begitu khusuk Andin sholat setwlah sholat Andin pun mengangkat kedua tangannya didepan dada unuk berdo'a, berdo'a agar selalu diberikan kekuatan dan juga kesabaran dalam menjalani semua ujian, tak lupa Andin juga berdo'a untuk kesembuhan suaminya itu. Setetes air bening yang kemudian menganak sungai dipipinya membuat Andin merasakan betapa rapuh hatinya yang sesungguhnya, ia bersimpuh di atas sajadah dengan lelehan air mata yang tak kunjung surut.
Andin, bagaimanapun dia hanya seorang wanita biasa, yang hatinya mudah rapuh namun berusaha tegar di depan semua orang, dia tak ingin orang lain mengkhawatirkannya dia hanya ingin orang sekitarnya selalu mendukungnya dan menyemangatinya, karna hanya itu yang bisa membuatnya kuat selama ini, dia yakin suatu hari kebahagiaan akan datang tepat pada waktunya.
Setelah selesai berdo'a Andin pun mengambil Al-Qur'an untuk dia baca, dia mulai membaca surat Al-Baqarah, Ayat kursi, surat An-nas, dan Al-Falaq, karena surat-surat itu dipercaya bisa untuk meruqyah rumah agar terhindar dari gangguan makhluk halus yang masuk kedalam rumah.
Begitu khusuknya Andin melantunkan ayat-ayat itu, hingga ia tak sadar Fandi terbangun dari tidurnya.
"Andin, apa yang lo lakukan ?"
Ucap Fandi, membuat Andin terkejut dan langsung menghentikan ngajinya.
"Fandi, kamu sudah bangun ?"
Andin melihat sorot mata Fandi begitu tajam menatapnya, membuat Andin langsung terkesiap dan bangkit dari duduknya.
"Hentikan Andin, aku pusing !"
"Kamu pusing karena mendengar aku mengaji ?"
Andin nampak bingung. Namun tiba-tiba Fandi berteriak-teriak seperti orang kesurupan, membuat Andin ketakutan dan lari memanggil Mamanya.
Mendengar ada suara gaduh dari kamar Andin membuat Mama langsung menghampiri Andin, Bik Tirah dan Bik Sri juga menghampiri Andin karena takut terjadi apa-apa.
"Ada apa Andin, kenapa kamu teriak-teriak ?"
Tanya Mama yang sudah sangat khawatir melihat Andin.
"Fandi Ma, dia kesurupan !"
"Apa ?"
Sepontan semuanya pun kaget mendengar Andin mengatakan hal itu, mereka pun langsung masuk kedalam kamar Andin untuk melihat kondisi Fandi.
Setelah mereka sampai didalam kamar, ternyata mereka hanya melihat Fandi yang sedang tidur pulas.
"Mana ada Fandi kesurupan, kamu ngada-ngada Din, bikin Mama khawatir tau gak ?"
Andin yang melihat hal itu begitu terkejut dan bingung karena dia lihat betul ketika Fandi teriak-teriak tadi.
"Andin nggak bohong Ma, Fandi tadi teriak-teriak !"
__ADS_1
Andin pun menangis karena frustasi, jika begini terus lama-lama dia yang gila beneran.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kamu istirahat saja, uni sudah malam !"
"Tapi Andin takut Ma !"
"Bagaimana kalau Bik Sri temani kamu tidur disini ya !"
Andin pun mengangguk mendengar solusi Mama.
Malam pun semakin larut, Andin yang semula tidur di sofa kini dia menemani Bik Sri tidur dibawah dengan kasur lipat, walaupun Bik Sri menyuruh Andin untuk tetap tidur di sofa Andin masih kekeuh untuk tidur dibawah, karena merasa sungkan, bagaimana pun usia Bik Sri lebih tua dari Andin.
Andin sudah memejamkan matanya, nampaknya dia sudah terlelap sedangkan Bik Sri masih berusaha memejamkan matanya, dia begitu tak terbiasa tidur di kamar yang ber AC, mau bilang pada Andin dia begitu sungkan, sebentar miring kekiri sebentar miring kekanan, Bik Sri seperti gelisah.
Tiba-tiba terdengar suara kran dari dalam kamar mandi yang ada dikamar Andin, Bik Sri kaget, ada suara kran tengah malam begini, padahal tak ada seorang pun yang ada dalam kamar mandi, dia begitu ngeri membayangkan ada hal-hal mengerikan di dalam kamar mandi, efek sering nonton film horor, Bik Sri jadi ketakutan.
Bik Sri pun menutup mukanya dengan selimut, suara air kran itu masih terdengar, Bik Sri berusaha tak peduli dan memejamkan matanya.
Suara kran kemudian berhenti, berganti suara air yang mengalir, seperti ada orang mandi dikamar mandi. Sungguh semakin berdebar jantung Bik Sri mendengar itu, mau membangunkan Andin, dia sangat sungkan, kasihan juga, akhirnya Bik Sri hanya bisa diam sambil mendengarkan suara air itu.
Tak lama kemudian terdengar suara wanita tertawa cekikikan, tapi suaranya jauh sekali, seperti di luar rumah, Bik Sri mengedip-ngedipkan matanya sambil telinganya terus fokus mendengarkan suara wanita cekikikan itu.
Bik sri membuka selimut yang menutupi mukanya, karena merasa pengap berada dibawah selimut dari tadi.
Alangkah terkejutnya Bik Sri ketika selimut itu telah terbuka dari mukanya, sesosok wajah yang sudah rusak bahkan berbelatung berada diatas wajah Bik Sri dengan posisi melayang.
Bik Sri menjerit kencang membuat Andin terbangun dari tidurnya, Fandi pun juga terbangun karena kaget.
"Ada apa Bik ?!"
Andin menepuk-nepuk wajah Bik Sri, sedangkan Fandi hanya melongo melihat Bik Sri yang masih saja histeris.
"Bik.. Ada apa ?"
Seketika Bik Sri tersadar, nafasnya begitu memburu, keringat mengucur deras dari wajahnya.
"Setan !"
Ucap Bik Sri disela nafasnya yang terengah-engah dan membuat Andin juga Fandi nampak terkejut.
"Dimana Bik ?"
"Di atas Bibik !"
"Ketindian mungkin !"
__ADS_1
Ujar Fandi sambil sedikit menguap, tidurnya kini terganggu karena mendengar suara terikan dari Bik Sri.
"Bibik ketindian ?"
Tanya Andin sambil memberikan air minum pada Bik Sri.
"Tidak Non, ada setan di atas Bibi, wanita, mukanya hancur, ketawa cekikikan !"
Ucap Bik Sri sambil melotot karena ketakutan.
"Bik Sri kenapa bisa ada disini ?"
Tanya Fandi keheranan.
"Iya, aku yang minta Bik Sri buat temani aku tidur disini !"
"Ya sudah , aku mau lanjut tidur dulu ya, masih ngantuk !"
Ucap Fandi, sambil menguap, sedangkan Andin hanya mengangguk mempersilahkan Fandi untuk tidur lagi.
"Non !"
Bik Sri memegang tangan Andin.
"Ada apa Bik !"
"Dirumah ini memang ada makhluk halusnya !"
"Ihh..! Bibik, jangan bikin Andin tambah parno deh !"
"Beneran Non ! Apa tak sebaiknya kita panggil paranormal buat memagari rumah ini Non !"
"Bikin pagar ? Bikin pagar ajaib gitu, yang gak bisa ditembus makhluk halus ?"
Tanya Andin begitu lugu, Bik Sri yang mendengar pun sedikit gemas, jika bukan majikannya mungkin sudah dijitak kepalanya saking gemesnya.
"Ya intinya yang bisa cuma paranormal Non, yang bisa memagari rumah dari gangguan setan !"
Andin hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Ngomong aja besok sama Mama, kalau Andin gak paham yang kaya begituan."
Bik Sri pun mengangguk setuju.
Akhirnya mereka pun melanjutkan tidur mereka, Bik Sri menutup mukanya dengan selimut, dia sudah tak peduli meskipun pengap, dia pejamkan matanya hingga dia pun tertidur.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa Like dan comennya 😍🙏