
Andin memarkirkan mobilnya di garasi, perasaannya kini sudah mulai membaik dia sudah tak serapuh tadi, karena tekadnya yang kuat maka kini fikirannya pun otomatis menjadi positif dan semangat membara pun kini menggebu di hatinya. (dah seperti mau perang saja).
Aroma dupa menyambut penciumannya, saat dia memasuki rumahnya, membuat Andin muak dan rasanya ingin pergi dari rumah itu, namun karena rasa tekadnya yang lebih kuat dari semua itu, Andin pun melangkahkan kakinya dengan perasaan tak gentar sedikit pun.
Terlihat Fandi dan Mama tengah makan malam di meja makan ditemani Bik Sri dan Bik Tirah, walau posisi Mama sebagai majikan, dia tak pernah membedakan dirinya dengan asisten rumah tangganya dirumah, Mama selalu menganggap mereka adalah keluarga, jadi kalau waktunya makan mereka para ART selalu semeja dan semenu dengan majikannya, itu yang selalu membuat Andin terkesan dengan Mama.
"Assalamualaikum ! Mama, Sayang !"
Ucap Andin dengan ramah dan berusaha menyunggingkan senyum manisnya.
"Wa'alaiku salam, Andin sudah pulang Nak !"
Ucap Mama dengan penuh kasih sayang, sedangkan Fandi dia begitu acuh namun berusaha menampakkan semua baik-baik saja didepan Mama.
Andin langsung saja duduk sebelah Fandi dan langsung nempel, dia merapatkan kursinya dan langsung menyandarkan kepalanya di pundak Fandi, walau awalnya Fandi nampak tak suka namun karena ada Mama Fandi berusaha diam tak berontak.
"Sayang, mau dong disuapin !"
Ucap Andin begitu manja.
"Kaya anak kecil banget sih, ambil sendiri kenapa ?"
"Gak mau ah, pengennya disuapin sama suami tercinta !"
Dengan setengah hati Fandi pun menyuapi Andin, Mama begitu bahagia melihat anak dan menantunya kini kembali rukun, sedangkan Andin merasa senang.
'Aku akan ikuti aturan permainanmu Sayang, hingga hatimu kembali tertuju pada ku'
Andin tersenyum menyeringai, walau dalam hati saat ini Andin ketar-ketir karena musuhnya kali ini tak kasat mata, alias pelakor dari dunia lain.
Keesokan harinya Andin nampak gelisah seperti sedang menunggu seseorang, dia tampak mondar-mandir sambil sesekali melihat jam didinding, Mama yang melihat hal itu pun bingung melihat tingkah Andin.
"Ngapain sih mondar-mandir Din ?"
Mendengar pertanyaan Mama Andin sedikit kagok menjawabnya.
"Ems ! Ini, lagi nunggu Sandra !"
Mama semakin bingung dengan jawaban Andin.
__ADS_1
"Nunggu Sandra ? Ngapain nunggu Sandra sampe gelisah gitu kayanya ! Emang dia mau kesini ?"
"Iya Ma !"
"Gak dinas emang dia ?"
"Nggak Ma, dia hari ini kerja malam katanya !"
Mama hanya ber "Oh" saja mendengar jawaban Andin.
Tak lama kemudian dua buah mobil memasuki halaman rumah Andin, mobil yang paling depan berwarna putih, Andin tau karena itu adalah mobil Sandra namun mobil dibelakang mobil Sandra dengan warna abu-abu metalik itu mobil siapa Andin tak tau.
Sandra keluar dari balik kemudinya dan langsung tersenyum pada Andin dan dua orang lelaki keluar dari mobil abu-abu itu, sungguh Andin tak mengenalinya siapa mereka, jika dilihat dari penampilannya mereka seperti santri dari pondok pesantren karena mereka memakai sarung dan berbaju taqwa serta memakai peci.
Andin yang merasa tak mengenali mereka hanya bisa memasang wajah penuh bertanya pada Sandra, namun Sandra hanya tersenyum sambil mengedipkan mata pada Andin.
"Siapa, San ?"
Tanya Andin yang tidak tahan dengan rasa penasarannya kepada kedua lelaki di belakang Sandra itu.
"Kenalin Din, dia Gus Husein yang gue ceritain ke elo kemarin, dan disebelahnya ini namanya Ahmad, dia Santri di pondok pesantren Gus Husein !"
Ucap Andin sambil menangkupkan tangannya didepan dada.
Merekapun memasuki rumah Andin, dengan mengucap salam. Dalam mata batin Gus Husein dia melihat para makhluk halus dirumah Andin memang sangat banyak, ada beberapa dari mereka yang terlihat takut melihat kedatangan Gus Husein, namun ada satu yang terlihat menantang, wanita tinggi besar yang bertengger di balkon lantai dua yang menghadap langsung keruang tamu. kakinya menjuntai hingga kebawah, rambutnya pun panjang hingga ke lantai bawah, dia terlihat tidak suka dengan kedatangan Gus Husein.
Sedangkan Sandra dia juga melihat yang Gus Husein lihat namun Sandra sedikit merasa takut dengan hantu wanita itu, karena wajahnya terlihat garang dan matanya melotot membeliak.
"Silakan duduk !"
Ucap Andin dengan ramah, dan merekapun duduk di sofa ruang tamu itu, Andin langsung kedapur mencari Bik Sri untuk menyuruhnya membuatkan minum.
"Apa Dokter Sandra takut ?"
Tanya Gus Husein kepada Sandra, karena dia melihat Sandra sedikit tegang. Mendengar hal itu Sandra pun tersenyum karena merasa diperhatikan oleh Gus Husein dia merasa 'so sweet' sekali.
"Maaf Gus jika diluar jam dinas, gak usah panggil saya 'Dokter' panggil saja Sandra"
Mendengar itu Gus Husein pun tersenyum sambil manggut-manggut.
__ADS_1
"Sebenarnya saya tidak takut, tapi saya melihat makhluk halus yang sedang menatap kita itu sepertinya tidak suka dengan kehadiran kita disini !"
Ucap Sandra sambil melirik kepada hantu wanita itu.
"Jangan merasa takut sedikit pun dihadapannya, dia tak akan berbuat apa-apa, jika kita takut, itu malah menjadikannya semakin kuat !"
Sandra pun mengangguk. Tak lama kemudian Andin datang bersama Mamanya, dia begitu senang melihat Sandra.
"Sandra, udah tadi Sayang ?"
"Baru datang kok Tante, oh iya, kenalin mereka teman Sandra, Gus Husein putra dari Kyai Abdurrahman dari Pesantren Miftahul Hidayah dan ini Santrinya bernama Ahmad !"
Mama Andin pun langsung menangkupkan tangannya didepan dada.
"Terima kasih rawuhnya Gus !"
Ucap Mama Andin begitu menghormati.
"Sebenarnya kedatangan Sandra dan Gus Husein kemari mau ngobrol sama Tante, ada hal yang mau Sandra omongin ke Tante."
"Soal apa ya, San ?"
Mama Andin langsung berubah serius mimik mukanya, dia benar-benar antusias ingin mendengar apapun perkataan Sandra.
Sandra pun menceritakan semua yang Andin ceritakan kemarin saat berkunjung ke apartementnya, sangat jelas sekali Mama Andin begitu terkejut mendengar cerita Sandra Dia benar-benar tidak menyangka, hal yang dia pikir baik-baik saja ternyata begitu rumit yang Andin rasakan.
Mama Andin begitu kasihan kepada Andin, bagaimana tidak, putrinya yang terlihat selalu ceria itu ternyata memendam kesedihan yang amat berat ditambah kondisi Andin yang saat ini sedang hamil.
"Jadi kedatangan Gus Husein kesini, ingin membantu untuk meruqyah rumah ini Tante, soalnya setelah Tante membakar dupa dirumah ini, para makhluk halus itu semakin banyak yang berdatangan, itu bisa jadi penyebab dan pemicu adanya beberapa masalah yang ada di rumah ini tante"
Mama Andin sudah tidak dapat berfikir lagi, fikirannya sibuk memikirkan bagaimana kondisi hati Andin saat ini, dia merangkul pinggul Andin sambil tangan yang satunya mengelus perutnya. Nampak Mama Andin meneteskan air mata karena kasihan dengan nasib anaknya itu.
Tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seseorang, tak butuh waktu lama, seseorang pun muncul dari pintu yang sedikit terbuka itu, seseorang dengan pakaian serba hitam muncul dari balik pintu itu.
"Ki Ageng !"
Seru Mama Andin.
Bersambung....
__ADS_1