Mengantar Riana

Mengantar Riana
Bab 44 Paranormal 2


__ADS_3

Suasana sebuah Pondok Pesantren Miftahul Hidayah pagi itu terlihat normal, para santri yang baru turun dari masjid setelah menunaikan sholat dhuha langsung bersiap pergi ke sekolah yang ada di lingkungan pesantren itu, Pondok Pesantren Miftahul Hidayah termasuk Pondok Pesantren yang cukup besar dengan ribuan santri dari berbagai penjuru daerah.


Sebuah mini bus memasuki gerbang pesantren dengan pelan dan berhenti di depan masjid. Sandra keluar dari balik kemudi disusul Suster Lina keluar dari pintu mobil sebelah.


Sejenak Sandra menatap Suster Lina dan Suster Lina pun tersenyum menatap Sandra.


Mereka berjalan beriringan menuju rumah seorang Kyai.


Rumah Kyai tampak terbuka, Sandra dan Suster Lina pun mengucap salam, dan tak lama kemudian seorang santriwati menyambut kedatangan mereka sambil bersalaman, santriwati itu pun mempersilahkan Sandra dan Suster Lina untuk masuk kedalam rumah dengan sopan.


Sandra dan Suster Lina pun duduk disebuah sofa sambil menunggu kedatangan Kyai.


"Lina, kenapa aku jadi deg-degkan begini ya !"


Ucap Sandra sambil memegangi dadanya.


"Tenang aja Dok, Insya Allah setelah ini permasalahan Dokter akan segera selesai !"


Ujar Suster Lina sambil memegang erat tangan Sandra.


Tak lama kemudia seorang lelaki bersurban datang bersama seorang wanita paruh baya, walau terlihat sama-sama berumur, namun mereka masih terlihat berkharisma, menatap wajah mereka membuat hati Sandra terasa teduh. Mereka adalah Kyai Abdurrahman dan Istri beliau Bu Nyai Fatimah pemilik Pesantren Miftahul hidayah.


Melihat kedatangan Kyai dan Bu Nyai spontan Sandra dan Suster Lina langsung menyalami mereka.


Ternyata kedatangan Sandra dan Suster Lina ke Pesantren itu untuk meminta bantuan Ruqyah kepada Kyai agar Sandra bisa terbebas dari Indigo yang dia alami, karena setelah kejadian Vivi tempo lalu, banyak arwah-arwah yang datang untuk meminta bantuan kepada Sandra, membuat Sandra semakin tertekan rasanya, dia ingin segera sembuh dan hidup normal kembali agar bisa tenang menjalani hidupnya.


Lalu Suster Lina pun menyarankan untuk melakukan rukyah saja.


...****************...


Andin sedang menyiapkan makan siang untuk suaminya, tiba-tiba terdengar sebuah ketukan pintu dan salam dari luar, Bik Sri pun langsung sigap membuka pintu.


Dua orang lelaki dengan pakaian serba hitam, seorang yang lain memakai accecories yang begitu mencolok, kalung bermata batu berwarna merah menyala sedangkan jarinya terdapat beberapa cincin dengan bermacam batu berbagai warna, dari merah, hijau sampai ungu sudah seperti pelangi di jarinya, sedangkan temannya tak memakai accecories apapun, hanya kepalanya memakai sebuah udeng berwana merah tua.


Andin sedikit mengerutkan keningnya melihat penampilan mereka, dan bertanya-tanya dalam hatinya, siapa mereka sebenarnya. Bik Sri menghampiri Andin setelah mempersilahkan kedua tamu itu duduk.


"Non ! Mereka paranormal yang bisa memagari rumah ini !"


Ujar Bik Sri sambil menyunggingkan senyumnya. Saat ini mereka berada di ruang tengah.


"Mereka ? Yang benar saja Bik ! Aneh banget, mana kaya pelangi lagi, tuh ditangannya !"


Andin tak yakin dengan penampilan mereka.


"Ehh ! Jangan salah Non, mereka itu hebat, sakti mandra guna deh pokoknya !"


"Helehhh, terserah deh pokoknya, Mama mana ? Panggilin Mama gih ! Dia udah tau belum ?"


"Udah Non ! Malah kata Nyonya, terserah Bibik gitu katanya !"


Prosesi pemagaran rumah pun dilaksanakan oleh kedua paranormal itu. sedangkan Andin, Mama, Bik Tirah dan Bik Sri hanya menonton mereka yang sedang berkomat-kamit membacakan mantra, entah apa yang mereka baca, terdengar sangat aneh dan tak bisa dipahami oleh Andin maupun Mama.

__ADS_1


"Bisa tolong ambilkan Air 'genthong' taruh dalam wadah "


Ucap Paranormal itu, kepada Bik Sri.


"Genthong apaan sih ?"


Tanya Andin yang memang tak paham apa itu genthong, genthong adalah sebuah tempayan untuk menyimpan air.


"Disini gak pake genthong Ki ! Kalau air kran aja gak apa-apa Ki ?


"Boleh !"


Akhirnya Bik Tirah mengambil air kran yang diisikan pada sebuah wadah mangkuk besar.


Oleh paranormal itu pun, air yang di wadah itu dibacain mantra -mantra kemudian ditiup-tiup.


"Makhluk halus yang mengganggu dirumah ini, adalah dia yang datang dari masa lalu !"


Ujar paranormal itu setelah selesai meniup-niup air dalam mangkuk itu.


"Maksudnya Ki ?"


Tanya Bik Sri.


"Dia mengaku bernama Riana !"


Sungguh terkejut Andin mendengarnya, apa benar arwah Riana berkeliaran dia rumahnya dan mengganggu Fandi. Tidak, ini tak boleh terjadi, pikir Andin.


"Siapa Riana ? Kami tak kenal wanita bernama Riana !"


"Andin tau Ma !"


"Siapa Riana, Din ?"


Belum sempat Andin menjawab pertanyaan Mama terdengar terikan dari paranormal yang memakai udeng itu, matanya tiba-tiba melotot badannya bergerak-gerak tak karuan sedangkan paranormal yang satunya langsung memegang kepala temannya itu dan mengunci bagian turbuhnya agar tak berontak, nampaknya temannya itu sedang kesurupan, membuat suasana pun langsung tegang, termasuk Andin yang sudah ketakutan melihat pemandangan itu.


"Tenang, tenang, assalamualaikum, siapa ini ?"


Ucapnya, seperti sedang berkomunikasi dengan makhluk yang merasuki temannya itu sedangkan yang ditanya hanya berteriak gusar.


"Apakah kamu islam, jawab salam saya jika memang kamu muslim !"


"Walikum salam !"


Ucapnya kasar


"Siapa nama mu ?"


"Agghhh ! Aku Riana !"


Mendengar itu Andin langsung bergidik ngeri, sedangkan Mama berkali-kali mengucap istighfar dan membaca sholawat.

__ADS_1


"Kenapa kamu ganggu keluarga sini ?"


"Aku benci sama dia.!"


Ucap lelaki kesurupan itu sambil menunjuk pada Andin, membuat Andin ngeri dan sedih.


"Kenapa dia ? Orang dia baik kok !"


"Dia sudah merebut kekasih ku, aku akan merebut lagi lelaki ku itu, agghhhhrr !"


Paranormal itu pun memukul tengkuk temannya itu hingga berteriak.


Semua orang yang melihat hal itu sungguh merasa ngeri.


"Pergi kamu dari sini, kamu sudah beda alam !"


Kemudian paranormal itu pun membakar sebuah dupa dan asapnya ditaruh di dekat hidung temannya yang kesurupan itu dan tiba-tiba temannya itu pun tersadar lalu peranormal itu mengusap-usap wajah temannya sambil membacakan mantra.


Dan drama kesurupan itu pun sudah berakhir, semua orang yang menyaksikan merasa lega hanya Andin yang terlihat murung.


"Nyonya, ini untuk jaga-jaga dirumah !"


Ujar Paranormal itu sambil memberikan beberapa dupa kepada Mama.


"Tapi Mbah..!"


Ucap Mama agak kagok.


"Panggil saja saya Ki Ageng Nyonya !"


"Iya Ki Ageng, membakar dupa ini bukannya perbuatan syirik ya !"


Ucap Mama hati-hati, takut melukai perasaan Sang Paranormal.


"Ha ha ha !! Tidak Nyonya, saya juga sholat lima waktu sama seperti Nyonya kok !"


Ujar Ki Ageng sedikit mencebikkan bibirnya.


"Kalau saya tak membakar dupa ini ?"


"Konsekwensinya Makhluk halus itu tidak akan pergi dari rumah ini dan akan terus mengganggu keluarga Nyonya !"


Ucapan Ki Ageng membuat Mama resah dan membuat Andin gusar.


"Laksanakan saja apa yang saya perintahkan Nyonya, insya Allah tidak apa-apa !"


Mama hanya bisa mengangguk pasrah.


"Baiklah Nyonya saya undur diri dulu, dua hari lagi saya akan kesini lagi untuk melihat perkembangannya, dan yang harus diingat sekali lagi, bakar dupa ini !"


Perintah Ki Ageng itu bagaikan doktrin dikepala Mama dan Andin.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like, coment dan giftnya ya.😍


__ADS_2