Mengantar Riana

Mengantar Riana
Bab 25 Tragedi 2


__ADS_3

Riana berjalan beriringan dengan Nico, sedangkan Raka dan Bayu berjalan di belakangnya, sesampainya mereka dipersimpangan jalan, Riana sudah mau berjalan kerumah Pak Kades, namun ditahan oleh Nico.


"Riana , mau kemana ?"


"Loh ! Katanya Kak Fandi sakit, ya mau ke Kak Fandi lah "


Ujar Riana sedikit bingung.


"Sebenarnya, Fandi sekarang sedang menunggu kamu "


"Menunggu Riana ? Dimana ?"


Riana sedikit mengernyitkan dahinya.


"Itu disana, ayo ikut !"


Nico segera menggadeng tangan Riana, dan Riana yang sedikit gugup mencoba untuk melepaskan tangannya.


"Lepasin tangan aku kak !"


Namun Nico tak mendengarkan ucapan Riana, dia semakin mempercepat langkahnya, membuat Riana takut.


"Kak !! Lepasin tangan Riana !"


"Ayo ikut !!!"


Tiba - tiba Nico membentak Riana, dan Riana kini semakin takut dan yakin ada yang tidak beres dengan Nico dan teman- temannya itu.


Akhirnya Riana pun berontak berusaha melepaskan cekalan tangan Nico yang semakin kuat itu.


Riana mencoba berjongkok agar Nico tak menariknya lagi namun Raka malah menggendongnya dari belakang, karena postur Riana yang memang mungil, jadi bukan masalah bagi Raka untuk menggendong sambil berlari kecil membawa Riana ke sebuah kebun sengon yang luas itu, Riana di tidurkan disebuah posko yang ada di kebun itu. Riana berteriak sekencang- kencangnya dan berontak sebisa mungkin, namun karena tenaganya tidak cukup kuat dari ketiga lelaki itu jadi dia hanya bisa berteriak.


Bayu hanya bisa diam dan bingung memperhatikan teman- temannya itu, sungguh dia ingin lari dari situ sebenarnya.


"Eh goblok, jangan diem aja, pegang kakinya !"


Kata Nico memaki Bayu yang hanya diam saja tanpa membantu mereka.


"Gue udah sampai disini aja Nic, gue gak bisa ngelanjutin ini semua !"


Ujar Bayu dia benar- benar tak sanggup melihat itu semua.


"Kalau lo pergi, gue habisin cewek ini sekarang !!"


Bentak Nico, membuat Bayu pun urung untuk pergi, dan dia pun menuruti permintaan Nico untuk memegangi kaki Riana, namun karena Bayu melakukannya setengah hati Riana pun bisa berontak dan menendang perut Bayu, hingga dia mengaduh kesakitan, hingga membuat Nico dan Raka pun terpecah fokusnya, dan itu kesempatan untuk Riana berontak, dia menggigit tangan Nico yang menutup mulutnya, hingga Nico menjerit kesakitan, Riana pun bisa melepaskan diri dan lari dari mereka.


"Apa lagi yang kalian tunggu, cepat kejar dia, sebelum dia memberi tahu ke orang- orang goblok !!"


Bentak Nico di sela kesakitannya. Tanpa banyak pikir Raka dan Bayu pun mengejar Riana.


Riana terus berlari tak tau jalan, karena memang tak ada penerangan, yang ada hanya gelap gulita, yang dia pikirkan hanya lari dari ketiga lelaki itu.


'Kak Fandi, tolong Riana !!'


Batinnya yang hanya bisa berteriak dalam hati.


Riana mendengar suara Nico yang memanggil namanya.

__ADS_1


"Riana sayang ! Jangan lari kamu, aku pasti bisa menangkapmu !"


Teriak Nico sambil terkekeh, Riana sungguh bergidik, jijik mendengar namanya dipanggil oleh Nico. Riana tak bisa melihat apapun karena gelap saat dia lari dia tak sadar kakinya kesandung sesuatu hingga membuat dia terjerembab dan meringis kesakian, karena kakinya terkilir, dia pun tak dapat berlari dengan benar karena kakinya sungguh nyilu.


Nampak di ujung kebun Riana bisa melihat lampu dari rumah warga, walau agak jauh, dia terus berjalan cepat kesana. Riana begitu bersyukur, akhirnya dia bisa lari dari ketiga laki- laki itu.


Namun naas, Riana tak menyadari ternyata Raka sudah ada di dekatnya dan Riana pun dapat disergap oleh Raka dari belakang.


Riana kini berusaha berontak lagi dan menjerit, namun sebuah tinjuan mendarat di hidungnya hingga dia tak bisa lagi berteriak, setengah tidak sadar namun dia masih bisa mendengar, Riana merasakan ada cairan asin dan amis keluar dari hidung dan mulutnya.


"Ayo cepat bawa ke posko tadi !"


Ujar Nico pada Raka dan Bayu.


Sampai di sebuah posko mereka pun menidurkan tubuh Riana disana, Riana masih bisa bergerak dan mendengar mereka, dengan sisa tenaganya Riana pun mencoba bangkit dan berusaha untuk kabur lagi, tapi sia- sia, mereka langsung cepat tanggap karena tidak mau kecolongan lagi.


"Mau lari kemana kamu gadis manis, diam saja kamu disini, kami hanya ingin mengajakmu bersenang- senang !"


Riana sudah muak diapun meludahi wajah Nico saat itu, spontan wajah Nico pun menjadi merah padam karena marah.


"Ku4ng 4jar !!!"


Sekali lagi Nico langsung menampar wajah Riana.


"Nico, stop ! Udah berapa kali lo main tangan sama dia ?"


Bayu berusaha membela Riana.


"Apa lo ! Lo mau gue habisin nih cewek sekarang juga, hah ?"


"Udah, gue udah gak sabar pengen nikmatin dia, ayo sekarang buka aja bajunya !"


Raka dan Nico pun berusaha membuka baju Riana, hingga Riana meronta- ronta dan mereka saling tarik menarik dengan Riana, baju Riana pun tersobek- sobek sana sini hingga terlihat compang- camping. Melihat itu Nico dan Raka pun semakin bernafsu untuk menggagahi Riana.


Nico langsung menarik baju Raka.


"Gue yang akan nikmatin dia duluan, setwlah itu baru lo !"


Ujar Nico membuat Raka sedikit kecewa.


Nico sudah berusaha menindih Riana, dia tak peduli akan teriakan Riana, dia masih terus berusaha menerobos pertahanan milik Riana, hingga sekali hentakan Nico akhirnya berhasil dan puas, terdengar suara lengkingan dari mulut Riana.


"Yesss ! Akhirnya gue dapat perawan !"


Ujar Nico setelah selesai.


"Ayo, lo sekarang !"


Tunjuk Nico pada Raka, dan tanpa menunggu dua kali Raka sudah siap menerkam Riana.


Terdengar lenguhan panjang dari mulut Raka setelah dia merasakan puncak kenikmatan itu.


"Terima kasih manis, kamu benar- benar membuat ku puas !"


Ujar Raka sambil mencium kening Riana sambil menyeringai, Riana sungguh muak, namun dia sudah tidak berdaya, dia begitu lemas sekarang, bahkan berteriakpun dia sudah tak mampu.


"Ayo Bay, lo sekarang !"

__ADS_1


"Jangan Nic, gue mohon !"


"Oh, lo lebih seneng liat dia mati, oke !"


"Jangan Nic, gue mohon, oke gue lakukan, asal jangan lo bunuh dia !"


Akhirnya Bayu pun menuruti perintah Nico, dia tatap tubuh Riana yang polos itu, terdengar rintihan kecil dari mulutnya, sungguh dia tak tega sebenernya, namun Bayu adalah lelaki normal, melihat Riana yang sudah pasrah akhirnya Bayu pun menggagahinya juga.


Lenguhan panjang itupun keluar juga dari mulut Bayu, dia sudah merasakan puncak kenikmatan itu.


"Maafin gue Riana !"


Ucap Bayu setelah selesai, spontan Nico pun tertawa mendengar ucapan Bayu yang terakhir.


"Apa- apaan sih lo ! Enak ya enak aja, lo suka kan ? "


Ucap Nico sambil tertawa, dan Raka pun hanya tersenyum.


"Yaudah sekarang beresin nih cewek !"


"Yaudah ditinggal aja disini !"


Ujar Raka.


"Gak ! Kalau dia ditinggal disini gue khawatir dia pasti akan ngadu ke orang- orang besok, dan bisa berabe kita !"


"Lalu apa lagi ?"


"Bunuh dia sekarang !"


Spontan Raka dan Bayu pun langsung terkejut.


"Gila lo ya, lo bilang kita hanya akan memperk0s4 dia saja, gue gak setuju kalau harus ngebunuh, gue bukan pembunuh !"


Ujar Raka pada Nico, kini dia mulai kecewa.


"Lo yang gila, lo mau kita di penjara besok, bisa hancur masa depan kita tau !"


"Tapi perjanjiannya kan gak kaya gini Nic ! Kalau tau jadi seperti ini, gue juga ogah bantuin lo !"


Bayu hanya diam mendengar perdebatan Nico dan Raka, pikirannya kini tak karuan, antara masa depan dan Riana yang kini sudah tak berdaya, andai dia bisa mengulang kembali waktu, tentu dia tak akan melakukan hal ini terhadap Riana, namun semua sudah terjadi, hanya penyesalan yang ada.


"Kita jangan ninggalin jejak Bro.!"


Ucap Nico masih berusaha menghasut Raka, soal Bayu dia sudah tak perduli, yang penting Raka harus ada dipihaknya.


"Lalu bagaimana, gue gak suka jika harus melenyapkan nyawa seseorang "


"Kita gak usah pake kekerasan !"


"Lalu ?"


"Kita kubur dia hidup- hidup !"


Langsung merinding sekujur tubuh Raka mendengar ucapan Nico, dia tak menyangka akan seperti ini kejadiannya, tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi, yang penting dia harus selamatkan diri sendiri.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2