
Aida berjalan meninggalkan kantor Adin dengan langkah kaki yang cepat, dia bergegas menuju halaman kantor karena dia memarkirkan mobilnya disana, sebab kantor Adin tidak memiliki basemant khusus untuk parkir mobil.
"Kak Ion, kenapa sih?" Aida menggerutu dalam hati setelah mendengar kabar ini.
Aida memilih berangkat langsung ke rumah sakit setelah menelepon tetangga Darion tadi untuk menjaga Reza sementara waktu.
Sementara itu Adin yang melihat Aida pergi, memilih masuk ke dalam mobilnya dan menyusul Aida ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit, Aida langsung berjalan menuju resepsionis disana.
"Permisi Mbak, Pasien yang baru aja dibawa atas nama Darion Dirgantara ada tidak?" tanya Aida pada penjaga resepsionis tersebut.
"Darion yah, sebentara saya cari dulu," Resepsionis tersebut tampak membuka beberapa lembaran kertas dihadapannya sebelum kembali mengangkat wajah menatap Aida. "Kayaknya gaada Bu, kalau untuk pasien yang baru di bawa itu data yang kami simpan belum ada, kalau ibu ada fotonya barangkali saya lihat tadi, soalnya ada seorang pria yang dibawa tadi."
Aida mengangguk, ia meraih ponsel di dalam tasnya kemudian mencari foto Darion, setelah menemukannya, Aida memperlihatkan foto tersebut kepada resepsionis itu.
"Ada Mbak, tadi pasien ini terkena serangan jantung, ruangannya ada di depan lorong sebelah sana," ujar resepsionis tersebut menunjuk sebuah lorong dengan tangannya.
"Serangan jantung? Kak Ion punya riwayat penyakit ini?" bisik Aida dalam hatinya.
Aida berterimakasih kepada resepsionis tersebut kemudian berjalan menuju ruangan Darion yang resepsionis tadi maksud, sementara itu Adin yang juga ada disana menyusul Aida secara sembunyi-sembunyi.
Sesampainya di ruangan itu, Aida langsung berjalan cepat menuju sebuah ranjang dimana ada Darion yang berbaring disana.
Aida meraih tangan Darion dan menatapnya dalam. "Kak Ion?"
__ADS_1
Aida menyebut lirih nama Darion yang terbaring di ranjang tersebut, Darion perlahan membuka matanya dan menatap Aida dalam.
"Ai, kamu ngapain disini?" tanya Darion yang membuat Aida menatapnya dalam.
"Tadi, ada yang ngabarin aku, kalau kak Darion masuk rumah sakit, kakak gak pernah bilang sama aku, kalau kakak ada penyakit jantung?"
Darion tampak terdiam, ia mengangkat kembali kepalanya kemudian menatap Aida dalam. "Saya mengidap ini setahun yang lalu, mungkin karena pola kerja yang berantakan."
Aida menghela napas panjang, sementara Darion dia mengambil posisi duduk, walaupun sudah ditolak oleh Aida dia tetap memaksa untuk duduk.
Kini posisi kepala Darion sudah sejajar dengan Aida yang berdiri. "Kenapa kamu panik?"
"Maksud kak Ion?"
"Yah, maksud saya kamu tidak harus sepanik itu."
Aida terdiam sesaat dia menggantung ucapannya pada Darion.
"Semua, hanya demi Reza?"
Darion menatap sesaat Aida setelah dia melontarkan kalimatnya, Aida enggan menjawab dia langsung membalikkan badannya. "Aku ngurus administrasi dulu."
Aida melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan Darion yang masih menatapnya, tak lama setelah kepergian Aida, Adin yang memang mengikuti Aida langsung masuk ke ruangan Darion.
__ADS_1
"Kau sakit atau kau hanya ingin menarik perhatian Aida?"
Darion membalikkan kepalanya dia menatap sosok suara itu yang merupakan Adin.
"Adin? Sedang apa kau disini?"
"Aku tidak ingin mengobrol banyak Darion, aku sudah tahu kalau Aida adalah mantan istrimu dan kau berusaha ingin kembali padanya, dengarkan aku bastard! Aku tidak akan membiarkan Aida jatuh kembali ke tanganmu."
Adin menarik kerah baju Darion dan menatapnya tajam, Darion menatap lekat Adin kemudian melepaskan tangan Adin.
"Apa maksudmu?"
"Kau gila! Kau sudah menceraikan Aida dulu dan kau berpikir kau masih memiliki kesempatan, apa kau sadar saat kalian berpisah, Aida Hamil-"
"Hamil? Maksudnya?"
"Sudah! Lupakan saja! Aku hanya ingin memberikan tanda perang, bahwa jika kau ingin mendapatkan Aida kau harus melewati ku dulu," ujar Adin berjalan meninggalkan Darion.
•
•
•
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like