
Aida berdiri di depan pintu apartemen dimana tempat dirinya dan Darion selama ini tinggal, Aida menatap dalam-dalam ruangan tersebut benar-benar pergi meninggalkannya.
"Aida!" Darion meraih tangan Aida dan menahannya. "Kamu yakin?"
"Ketika aku saja tidak punya tempat dihati Kak Ion, aku rasa tidak ada yang perlu kita pertahankan."
Darion menarik tangan istrinya itu dan memeluknya dalam, Darion mencium keningnya dan menangkup wajah Aida.
"Saya minta maaf."
"Tidak perlu minta maaf kak, ini sudah takdir kita kan?" Aida berusaha keras menahan air matanya.
Kenapa perpisahan begitu menyakitkan. "Mungkin kita tidak akan bersama lagi, tapi saya mohon simpanlah saya dihati kamu, saya akan ada disana selamanya."
Aida tersenyum, ia meraih tangan Darion dan menyalaminya sebagai istri yang baik, Darion ikut menangis, Aida diam sejenak.
Hembusan angin di sekitar mereka menjadi saksi dan semuanya menjadi satu dalam perasaan yang bimbang dan keliru.
"Aida, saya TALAK kamu!"
Duar!
Kata Talak itu akhirnya terucap, Aida menatap dengan tatapan senyum yang seolah mengartikan sesuatu yang dalam.
"Assalamualaikum."
Aida mengangkat kopernya dan menyeretnya meninggalkan apartemen itu, karena mereka hanya menikah siri jadi tidak perlu ada urusan negara dan sekarang Aida sudah resmi bukan menjadi istri Darion.
Darion menatap punggung Aida yang perlahan menghilang dari hadapannya.
Aida menyeret kopernya dengan hembusan angin yang menerpa wajahnya, wanita berhijab cream itu akhirnya menangis setelah sekian lama dia tahan-tahan tadi.
"Sa-sakit."
Aida memilih duduk dibangku halte terdekat, untungnya selama Darion bersamanya, Darion selalu memberikan Aida uang yang Aida tabung sehingga Aida setidaknya punya pegangan.
Aida membuka tasnya dan meraih isinya, sebuah foto berbingkai putih milik Darion dan dirinya.
Aida merasa bahwa ini keputusan yang tepat karena untuk apa selama ini dia menyulam kain yang rapuh seolah dia menanti hujan diterik matahari.
"Aku akan simpan kamu kak, jelas dihatiku, mungkin kita dipertemukan bukan untuk bersama."
•
•
•
2 TAHUN KEMUDIAN.
"Morning, Bu Aida!"
Aida yang di sapa oleh stafnya itu hanya tersenyum kepada mereka, Aida berjalan menuju ruangannya sendiri.
Dua tahun berlalu, Aida menjelma menjadi wanita karir yang sukses di sebuah perusahaan, Aida memanglah seorang sarjana jadi tempat dan posisi yang bagus bukanlah hal sulit bagi Aida.
__ADS_1
Pekerjaan sebagai General Manager, Aida dapat setelah setahun full bekerja sebagai kepala divisi dan ia mendapatkan promosi kenaikan jabatan.
"Bu Aida, jam makan siang nanti, klien ingin bertemu."
"Baik, kamu atur aja, nanti infokan tempatnya." jawab Aida fokus ke laptopnya.
"Baik, Bu Aida."
"Tunggu!" Aida membuka lacinya dan mengambil sebuah flashdisk. "Kamu print ini dulu yah, saya mau pulang ke rumah, data meeting siang ini kelupaan, kalau Pak Boss nanya bilang aja saya pulang dulu."
Asisten dari Aida itu mengangguk, Aida menutup laptopnya dan mengambil tasnya, dia berjalan keluar dari ruangannya, dia malah bertemu dengan sosok pria dua tahun yang lalu.
Melihat itu Aida segera bersembunyi dan tidak ada pilihan lain, dia tidak ingin Darion melihatnya, Aida masuk ke ruangan para Cleaning Service.
"Bu Aida?"
"Astaga! Stefanny saya kaget," ujar Aida pada Stefanny Cleaning Service baru disana, sebenarnya Aida menyayangkan Stefanny menjadi Cleaning Service dikarenakan dia adalah lulusan terbaik dari London.
Tapi entah apa alasannya Pak Allan, Boss Aida malah memberikan Stefanny posisi sebagai Cleaning Service.
"Pria itu ngapain disini?"
"Pak Darion, Bu?" tanya Stefanny yang membuat Aida mengangguk.
"Pak Darion teman lama Pak Allan, Bu." jawan Stefanny yang membuat Aida mendelik.
"Kamu kok bisa tahu, kamu kan belum sehari kejar disini?" ujar Aida pada Stefanny.
"Hehe, Pak Darion itu mantan partner Bisnis ayah saya."
Aida lupa kalau Stefanny adalah anak orang kaya raya dulunya sebelum orang tuanya meninggal dan dia harus berakhir sebagai Cleaning Service padahal dengan latar pendidikannya Stefanny bisa dapat posisi yang lebih bagus lagi.
Aida harus menjawab apa, tidak mungkin dia mengatakan bahwa Darion mantan suaminya.
"Dengar-dengar Pak Darion sedang mencari Ibu Susu untuk anaknya, karena istri Pak Darion, Bu Agnes sudah meninggal."
"Hah! Kak Agnes meninggal!" tanya Aida tidak percaya.
"Bu Aida, kenal dengan Bu Agnes?"
"G-gak."
Aida terdiam sejenak, pasti Darion sangat kesulitan sekarang, apalagi anaknya masih kecil, terbersit rasa ingin balas Budi Aida kepada Darion yang sudah membebaskannya dari mucikari wanita malam dua tahun lalu.
"Stef, kamu ada cadangan baju cleaning service gak?"
"Hm, gak ada Bu, saya kan baru sehari kerja, saya coba liat di loker deh Bu." Stefanny berjalan menuju loker para Cleaning Service. "Ada Bu!"
"Bagus, saya pinjam yah," Aida mengambil baju itu dan masuk ke dalam toilet dia mengubah dandanannya sebagai seorang cleaning service.
"Bu Aida?"
"Kamu diem aja, ini rahasia kita!" Aida meraih pel dan ember berisi air dan berpura-pura mengepel di koridor yang akan di lewati Darion.
Berharap Darion melihatnya.
__ADS_1
"Aida!"
Tepat sekali! Aida mengangkat kepalanya itu benar Darion, wajah dua tahun lalu yang masih yang dia rindukan.
"Kak Ion?"
"Kamu jadi Cleaning Service disini?" tanya Darion yang membuat Aida mengangguk.
"Kak Ion ngapain disini?"
"Saya, ada keperluan dengan Pak Allan."
Darion hendak pergi, namun kembali berhenti ia menarik tangan Aida dan menatapnya dalam. "Saya bisa minta bantuan kamu?"
"Maksudnya?"
"Saya, ingin kamu menjadi ibu susu untuk anak saya, istri saya Agnes sudah meninggal."
"Innalilahi, T-tapi."
"Berapapun yang kamu mau, akan saya bayar, asal kamu bersedia menjadi Ibu Susu bagi anak saya, saya mohon Aida."
Aida terdiam, memang ini kan rencananya. "Kak Ion yakin?"
Darion mengangguk. "Saya, mohon."
Aida menghela napas panjang. "Aku, mau kak!"
Darion tersenyum dan refleks ingin memeluk Aida, tapi Aida segera menahannya. "Bukan mahram kak."
"M-Maaf." Darion mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu nama.
"Besok kamu, bisa datang ke alamat ini, saya tunggu, Aida."
Aida menerima kartu nama itu, Darion kemudian berlalu meninggalkan Aida, sementara Aida.
Aida bingung sendiri jadinya, dia kan sudah bekerja sebagai General Manager, apa yang akan dia katakan kepada Pak Allan kalau dia malah menjadi ibu susu.
Aida tidak memikirkan ini lebih lanjut, dia kembali ke ruangan cleaning service dan menemui Stefanny.
"Sekarang aku, paham."
Aida menatap Stefanny. "Rahasia kita yah."
Stefanny mengangguk, Aida kemudian berganti baju dan segera pulang kerumahnya mengambil data meeting yang tadi tertinggal.
•
•
•
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like
__ADS_1
Dan Komen biar semangat update
Btw Stefanny ini dari novel author yang judulnya TERPAKSA MENIKAHI CEO IDIOT.