Mengasuh Anak Mantan Suamiku

Mengasuh Anak Mantan Suamiku
BAB 34. Penantian Lima Tahun


__ADS_3




Hari ini adalah hari akad nikah Aida dan Darion, perayaan akad nikah mereka dilakukan secara sederhana tanpa resepsi meriah dan hanya perlu kesah-an.


Yang hadir pun tidak banyak hanya kerabat dekat, teman kerja Aida dan teman kerja Darion dan keluarga Darion.


Aida sudah tidak mempunya keluarga lagi, sehingga kini dia memakai wali hakim kembali, jika dulu Aida dan Darion menikah secara dadakan dan siri, keduanya kini menikah dengan penuh persiapan dan sah secara agama, hukum dan negara.


"Bagaimana nak, Darion?" tanya penghulu tersebut kepada Darion. "Sudah siap?" tambahnya.


Darion menghela napas panjang kemudian menganggukkan kepalanya kepada penghulu tersebut.


"Ketahuilah Darion, dalam sebuah hadist menyebutkan, Rasulullah pernah bersabda bahwasanya, seorang wanita di nikahi karena empat hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah wanita yang taat beragama," jelas penghulu itu kepada Darion.


Darion mengangguk, dia sudah memantapkan keyakinannya tentang pernikahannya, dia menikahi Aida dikarenakan agamanya, Aida adalah seorang wanita yang taat beragama, kecantikan adalah bonus dari itu semua.


"Pernikahan bukan hanya sekadar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang saleh dan bertaqwa kepada Allah. Tentunya keturunan yang saleh tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Karena itu, suami maupun isteri bertanggung jawab untuk mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar, sesuai dengan agama Islam," jelas penghulu kembali yang sekaligus ustadz itu.


"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau isteri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rizki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah, dijelaskan dalam Quran surah An-nahl, ayat ke 72," lanjut pak penghulu. "Bismilah."

__ADS_1


Penghulu tersebut menjabat tangan Darion dan menatap dalam-dalam mata Darion.


Darion tampak gugup sedang Aida duduk disampingnya menggunakan cadar yang boleh dibuka saat akad mereka selesai.


"Bismilah, silakan wali hakimnya."


Penghulu tersebut memberikan mic kepada wali hakim Aida yang di ambil dari KUA setempat.


"Saudara, Darion Arham Dirgantara, saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan Saudari, Adinda Nurfaida Anhar, dengan mahar berupa ..... Dan mas kawin beserta seperangkat alat sholat, dibayar TUNAI!"


Hening.


Tidak ada kalimat dari Darion, semuanya tampak gugup, karena mereka semua tidak punya kemampuan untuk berkata-kata lagi.


Hening kembali.


"Bagaimana, saksi?"


"SAH!"


"Alhamdulillah."


Semuanya sontak menundukkan wajah msreka membaca doa, kini Aida dan Darion sudah sah menjadi pasangan suami istri, Darion menatap Aida air matanya jatuh, ia membuka cadar Aida kemudian mengecup kening Aida.

__ADS_1


"Silakan," Bunda Gevanya memberikan cincin nikah mereka kepada Darion.


Darion meraih satu cincin dengan tangan kanan serta tangan kirinya memegang jari Aida, setelahnya mereka memasangkan cincin itu yang membuat keduanya berakhir saling memasang cincin.


Kini keduanya sudah sah sebagai pasangan suami istri, penantian lima tahun terjawab sudah, Reza yang berada di Babah Adam langsung berlari ke arah Papa dan Mamanya.


"Papa! Adiknya mana?" tanya Reza polos yang membuat pipi Aida memerah.


Darion hanya mencubit pipi Reza pelan, setelahnya tamu undangan memberikan selamat kepada mereka.





TAMAT


Tapi boong :)


Eh TAMAT beneran deh


Bohong kok wakaka

__ADS_1


__ADS_2