
•
•
•
"Aida?"
Aida tiba-tiba terhenyak, dia kira dia melamun, rupanya ini kenyataan, Aida terdiam sejenak, dia menatap Reza.
Reza kecil yang sudah sangat pintar, sedang Darion masih berdiri dihadapannya, pesawat Aida akan berangkat sebentar lagi, tapi rupanya Aida memilih melewatkan pesawat ini dan liburannya walaupun dia sudah memesan hotel di kota tujuannya.
"Mama, aku lapar," ujar Reza pada Aida.
Aida menatap Reza. "Mama?"
"Tante, bukan Mama kamu," lanjut Aida yang membuat Reza cemberut.
Sangat imut dan manis sampai Aida tidak tega padanya, Reza memeluk kaki Aida dan menyandarkan kepalanya di paha Aida yang sedang duduk. "Kata Papa Ion, Mama tuh Mama aku, Mama aku kan dua."
"Dua?"
"Mama Agnes dan Mama Aida," jawab Reza dengan perasaan innocent yang sangat tulus dan menggemaskan. "Mama, aku lapar."
Aida berdiri dan meraih tangan Reza, oke ini masih sulit dijelaskan Dengan kata-kata, Darion datang bersama Reza dan Reza memanggilnya Mama.
•
__ADS_1
Kini Aida, Darion dan Reza duduk di sebuah bangku taman, Reza sedang berada di pangkuan Aida memakan sebuah toppoki yang dia beli.
"Kak Ion, sudah selesai tugasnya?" tanya Aida pada Darion.
Darion menatap Aida dalam kemudian menghela napas panjang. "Sudah, dan aku bertemu kekasihku disana."
Aida tersenyum walaupun hatinya sedikit sakit. "wah, siapa kak?"
"Namanya Gea, dia adalah seorang mahasiswi hukum dan sekarang sudah menjadi seorang pengacara, kami berpacaran selama dua tahun pertama, tapi semuanya harus berakhir, dia sudah menikah dengan seorang kepala desa, di desa dimana aku bertugas," jawab Darion. "Dia baik, dan sama seperti kamu, aku rasa bisa menemukan copyan kamu disana, nyatanya tidak."
"Sudah menikah, dengan kepala desa?"
"Kamu kenal Om Adam dan Tante Dikta?" tanya Darion pada Aida.
"Kenal." Kalau boleh bipolar siapa yang tidak mengenali Adam apalagi Dikta dia adalah seorang motivator pernikahan terkenal.
"Kepala Desa itu Fauzan atau Ozan, anaknya Om Adam dan Dikta, Gea menikah dengan dia, awalnya aku tidak ingin kembali kesini, tapi Gea berkata bahwa seberat apapun kita ingin melupakan seseorang tapi ketika kita masih menangis saat mengingatnya berarti dia masih segalanya."
"Dan kamu tahu siapa yang masih membuat aku menangis saat mengingatnya."
Aida diam, Darion menatap Aida sekilas, rasanya dia salah bicara, Darion kemudian mengambil gitar di punggungnya.
"Kakak bisa main gitar sekarang, kamu mau dengar?"
Aida mengangguk perlahan, rasanya lagu bisa mencairkan suasana canggung mereka.
"Maafkan aku ... Setulus hatimu."
__ADS_1
Aida terdiam, ini lagu dari sebuah Band yang sangat di sukai Aida dan liriknya sangat relate dengan kehidupan pernikahan dengan Aida dulu.
"Kepergian diriku, itu bukan keinginanku ... Terima saja ... Pilihan yang lain ... Dari orang tuamu ..."
Air mata Aida jatuh, Darion menghentikan lagunya sesaat dan menatap Aida. "Kamu gapapa?"
"Lanjut aja kak, aku kelilipan."
Darion tahu, Aida berbohong.
Darion kembali memetik gitarnya dan melanjutkan bernyanyi.
"Jangan menangis .... Atas keadaan ini ... Jika kamu menangis aku juga ikut menangis ... Terima saja ... Semua ini kulakukan untukmu."
Darion mengakhiri lagunya, dengan Aida yang menatap lurus kedepsn sedang Darion masih menatapnya lurus.
"Aida, penyesalan itu masih sama, dan kakak datang kesini dengan satu tujuan."
"Apa?" tanya Aida yang membuat Darion mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin dari sakunya.
"Maukah kamu menjadi istri, seorang Darion kembali?"
•
•
•
__ADS_1
TBC
Assalamualaikum.